Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
.
Senja telah lama tenggelam, menyisakan langit gelap yang tenang dan taburan bintang yang cahayanya sedikit pudar terhalang lampu kota.
Mobil hitam yang dikendarai Kevin melaju perlahan memasuki halaman luas rumah Dirga Wijaya. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai batu. Tak ada suara penyambutan. Tak ada aktivitas seperti biasanya.
Mobil berhenti tepat di depan teras dan mesin mobil pun dimatikan. Namun, sebelum Kevin sempat turun untuk membukakan pintu…
Ceklek.
Pintu di samping kemudi sudah lebih dulu terbuka.
Dirga turun dengan wajahnya yang datar, dingin, namun menyimpan sesuatu yang berat di dalamnya. Tatapannya kosong, seolah masih tertinggal di tempat yang baru saja ia datangi.
Di pintu bagian belakang, Putri turun perlahan, dipapah oleh Bu Rani. Wajah gadis itu tampak pucat, matanya sembab, jelas kelelahan menahan perasaan sepanjang hari.
Tak ada percakapan. Tak ada suara. Hanya langkah kaki pelan yang terdengar ketika mereka bertiga memasuki rumah. Suasana di dalam masih sama, hening. Para pelayan berdiri dengan sikap hormat, masih dengan pakaian hitam. Tidak ada yang berani bersuara.
Dirga melangkah masuk ke ruang tengah diikuti oleh Putri dan Bu Rani. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Pria paruh baya itu mengerutkan alis, memiringkan kepala, mencoba memastikan sesuatu yang masuk dalam indera pendengaran nya. Ada suara sayup-sayup, lembut, dan berirama. Seperti lantunan doa.
Dirga menoleh ke arah belakang rumah. Suara itu datang dari arah paviliun. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melangkah menuju dapur. Sepatu pantofelnya beradu pelan dengan lantai, namun tetap terdengar jelas dalam keheningan rumah.
Semakin dekat, suara itu semakin terdengar jelas. Lantunan ayat-ayat suci. Doa. Dan suara anak-anak.
Dirga berhenti tepat di ambang pintu dapur belakang. “Ada apa di paviliun belakang?” tanyanya datar, tanpa menoleh.
Kartini, yang sejak tadi berdiri di sana, langsung melihat kesempatan. Ia maju sedikit dengan wajah penuh kepura-puraan. “Saya sudah memberitahukan pada mereka untuk tidak berisik, Tuan,” ucapnya dengan nada dibuat-buat prihatin. “Tapi sepertinya Bu Amanda tidak bisa mendidik anak asuhnya.”
Ucapan itu menggantung di udara.
Pak Doni, yang juga berada di sana, memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras, namun ia tetap menjaga sikapnya. Pria dengan penutup kepala berwarna putih itu maju satu langkah.
“Maaf, Tuan,” ucapnya sopan, menundukkan kepala. “Bu Amanda sedang memimpin anak-anak asuhnya untuk mengadakan pengajian bagi almarhumah Nyonya.”
Dirga terdiam. Suasana semakin sunyi. Kalimat itu seperti menahan langkah waktu sejenak.
Putri yang berdiri di belakangnya ikut tertegun. Gadis itu menoleh pada Bu Rani. Keduanya saling berpandangan, sama-sama tidak menyangka.
Wajah Dirga perlahan berubah. Bukan marah. Bukan juga dingin seperti biasanya. Melainkan sesuatu yang lebih dalam. Tanpa sepatah katapun, Dirga melangkah keluar dari pintu dapur belakang diikuti oleh Putri dan Bu Rani.
Ketiganya menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumah utama dengan paviliun. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala temaram. Angin malam berhembus ringan, membawa suara doa yang kini terdengar semakin jelas.
Di belakang mereka, Kartini mengikuti sambil tersenyum licik. “Rasain kamu wanita kampung. Kamu pasti akan diusir,” ucapnya dalam hati.
Langkah Dirga terhenti ketika mereka sampai di teras. Matanya menyapu ke dalam ruangan paviliun, dimana meja dan kursi ditarik minggir.
Di atas lantai yang bersih, anak-anak duduk rapi membentuk lingkaran. Semua mengenakan pakaian muslim yang bersih dan sopan. Anak-anak perempuan memakai mukena sederhana, sementara yang laki-laki mengenakan baju koko dan sarung. Di tangan masing-masing tergenggam kitab suci Al-Qur’an. Di antara mereka, Amanda duduk bersimpuh memimpin doa. Lampu yang tergantung di langit-langit ruangan menerangi wajah-wajah yang khusyuk.
Dirga mengamati satu per satu. Dari Bagas dan Sinta yang sudah lebih besar, hingga Ardi yang paling kecil, semua sudah bisa membaca ayat suci dengan lancar. Tak ada keributan, tak ada kegaduhan. Yang ada hanya ketenangan. Dan doa yang mengalir tulus untuk seseorang yang bahkan belum pernah mereka kenal.
Matanya tertuju pada sosok Amanda. Untuk pertama kalinya, rumahnya yang selama ini terasa kosong semenjak kepergian sang istri, kini terasa hidup. Muncul rasa kagum dalam hatinya. Anak-anak itu, takkan bisa lancar tanpa ada yang mengarahkan. Dan itu adalah AMANDA.
Di samping Dirga, Putri menggenggam erat tangan Bu Rani dengan mata berkaca-kaca. Sesuatu yang hangat perlahan masuk ke dalam hatinya.
Sementara itu, Amanda yang masih memimpin doa, belum menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatapnya dalam diam.
Perlahan, Dirga melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruangan yang telah disulap menjadi tempat pengajian. Beberapa anak menyadari kehadirannya. Menoleh, dan sedikit tersentak. Namun, tak menghentikan bacaan.
Pak Hendra yang duduk di sisi lingkaran juga menoleh dan terkejut sesaat, namun ia tidak bersuara. Hanya menggeser sedikit posisinya, memberi ruang.
Dan sesuatu yang tak pernah dibayangkan siapa pun terjadi. Dirga ikut duduk bersila. Di lantai. Di samping Pak Hendra. Tanpa gengsi. Tanpa ragu. Tanpa sepatah kata.
Sementara Putri dan Bu Rani juga sudah mengambil tempat duduk dan bersimpuh di belakan Amanda yang sama sekali tak menyadari kedatangan mereka saking khususnya dia mengaji.
Pak Doni dan beberapa pelayan yang tadi mengiringi langkah Dirga, kini mengambil tempat duduk di teras, lalu ikut menyimak. Semua tertunduk dalam doa yang tulus.
Hanya Kartini yang diam-diam mengepakkan tangan. “Kenapa malah seperti ini? Bukankah seharusnya Ayang marah dan mengusir mereka?” batinnya semakin benci pada Amanda.
Suasana tetap sama. Tenang. Khidmat. Namun kini, ada sesuatu yang berbeda. Lingkaran itu bertambah.
Bukan hanya anak-anak dan Amanda. Tapi juga Dirga. Seorang pria yang biasanya hanya berdiri di puncak kekuasaan, kini duduk sejajar di lantai, dalam kesederhanaan yang hening.
“Shadaqallahul adzim… “
Kataman yang dipimpin Amanda selesai dan wanita itu akhirnya mengangkat kepalanya perlahan. Dan di saat itulah ia menyadari, suasana terasa lebih penuh. Lebih hangat. Matanya bergerak pelan. Lalu…
Deg.
Tatapannya bertemu dengan sosok yang tidak pernah ia duga akan berada di sana.
Dirga duduk diam dengan mata menatap lurus ke arahnya tanpa ekspresi. Namun, kehadirannya mampu menggetarkan sesuatu di dalam dada Amanda. Tenggorokan wanita itu bagai tercekat. Namun hanya sesaat, hingga ia menoleh ke belakang ketika menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.
“Putri… ?” gumamnya terkejut melihat keberadaan Putri dan Bu Rani di sana.
“Terima kasih, Bu,” ucap Putri yang langsung menghambur memeluk Amanda dengan air mata yang setelah ditahan sejak tadi.
Amanda yang tidak menduga hal itu sedikit oleng ke belakang, beruntunglah masih sempat menyangga tubuhnya menggunakan dua tangan yang bertumpu di atas lantai. Perlahan wanita itu membalas pelukan Putri, dan tanpa ia sadari air matanya ikut mengalir.
“Memiliki anak sehebat Putri, pasti karena Nyonya Susi adalah wanita yang hebat,” ucap Amanda dengan sebelah telapak tangan yang mengusap punggung Putri, dan sebelah lagi mengusap kepala Putri yang tertutup hijab hitam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya mereka berada dalam satu lingkaran yang sama. Tanpa sekat. Tanpa jarak. Hanya benang-benang tak kasat mata yang perlahan mulai bergerak mengikat.
tapi kalo cinta kok memaksa