Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Merasa Ada sesuatu
Raidan sudah tidak tahu harus mengatakan apa karena jelas apa yang dikatakan Dharma kepadanya berbeda dengan apa yang dikatakan Dharma kepada Alea.
"Kenapa untuk perjalanan bisnis saja selalu tidak tepat mengatakan pergi kemana, mas Dharma selalu mengatakan pergi ke tempat ini dan itu dan pada ujung-ujungnya ke Singapura. Memang bisnisnya di Singapura sedang mengalami apa saat ini?" tanya Alea terlihat cemberut.
"Dalam bisnis kita tidak pernah mengetahui kendala apa yang datang tiba-tiba, kita bisa saja berada di Palembang dan tiba-tiba sudah berada di Singapura karena hal mendesak, kamu juga pasti boleh menghubunginya dan masih berpikiran bahwa saat ini dia berada di Palembang," ucap Raidan seolah-olah ingin menenangkan hati Alea.
"Kamu benar! Aku memang belum menghubunginya dan. Tidak tahu sekarang keberadaannya di mana," jawab Alea.
"Kalau begitu kamu bisa kembali nanti menghubunginya," udak Raidan.
Alea hanya menganggukkan kepala menurut siapa yang dikatakan Raidan.
Jari-jari Alea di mainkan di dada bidang Raidan dengan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tadi aku mengingat satu kalimat yang kamu ucapkan kepadaku, kamu mengatakan bahwa aku adalah milikmu," ucap Alea.
"Benar! apa yang aku katakan memang benar, bahwa kamu memang hanya milikku," jawab Raidan.
"Meski aku memiliki suami?" tanya Alea.
"Walau kamu memiliki ikatan pernikahan dengan Dharma, tetapi semua tubuh kamu menjadi milikku. Aku benar bukan jika dia tidak pernah menyentuh kamu?" tanya Raidan seolah-olah memastikan pada Alea.
"Benar! Dia memang tidak pernah menyentuhku dan apalagi ketika aku hamil. Dharma mengatakan takut terjadi sesuatu pada bayiku," jawab Alea.
"Kalau apa kita lain kali jangan pernah memintanya untuk melakukan itu, aku akan sangat cemburu jika kalian menghabiskan malam bersama," ucap Raidan.
Sepertinya Raidan benar-benar terjerat dalam hubungan itu, tidak ingin wanita yang sejak pertama dia sendiri itu menjadi milik orang lain dan disentuh oleh orang lain mesti laki-laki itu adalah suaminya sendiri. Alea cukup kaget denganmu sifat posesif Raidan yang memikirkan bahwa dirinya adalah miliknya sendiri.
"Bahkan aku juga cemburu ketika saat ini kamu membicarakan dirinya, kamu begitu khawatir kepadanya," ucap Raidan.
Alea tersenyum dengan mengecup bibir Raidan.
"Jangan cemburu akan hal apapun. Kamu mengatakan bahwa aku adalah milikmu dan tekankan saja itu di dalam pikiran kamu. Raidan aku benar-benar sangat nyaman berada di sisi kamu dan jujur saja aku sangat menunggu hal ini terjadi kembali dalam hubungan kita," ucap Alea juga ternyata memiliki perasaan dan keinginan yang sama seperti Raidan.
Mendengar perkataan itu membuat Raidan tersenyum dan mencium lembut kening Alea. Keduanya kembali saling menatap begitu dalam hingga bibir Raidan mampir kembali di bibir Alea yang menjadi candunya itu.
Keduanya kembali berciuman panas dan bahkan Raidan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya dan permainan mereka dilanjutkan di balik selimut, dengan suara tawa geli yang terdengar nyaring dari mulut Alea.
Permainan kali ini diawali dengan candaan dan kembali dinikmati dengan hasrat yang membara, kembali terjadinya keringat yang bercucuran dan ditambah suara desahan dari mulut keduanya.
Tidak ada hentinya untuk pasangan itu paling melampiaskan kerinduan masing-masing dalam hubungan intim yang penuh sensasi. Alea sudah mulai kehilangan kendali dan bahkan tidak menyadari statusnya sebagai seorang istri dan begitu juga dengan Raidan mulai tidak peduli bahwa Alea adalah istri dari sahabatnya.
*****
Alea dan Raidan saat ini berada di dalam mobil dengan Raidan menyetir. Alea harus pulang malam dari kantor Raidan untuk menunggu semua karyawan pulang terlebih dahulu dan barulah dia keluar dari ruangan itu.
Sebelumnya mereka juga membersihkan ruangan tersebut karena tidak mungkin berantakan seperti itu dan pasti akan menimbulkan kecurigaan.
Raidan melihat ke arah Alea yang hanya melihat keluar jendela, wajah cantik Alea memang terlihat lelah bagaimana tidak jika Dia menghabiskan banyak waktu bersama dengan Raidan dengan tempuran di atas ranjang.
Tiba-tiba saja tangannya digenggam membuat Alea menoleh ke arah sebelahnya dan mendapatkan senyuman manis dari Raidan.
"Kamu lelah?" tanya Raidan membuat Alea melakukan kepala dengan tersenyum tipis.
"Maaf, aku terlalu banyak menghabiskan waktu kamu," ucap Raidan.
"Tidak apa-apa, aku juga menginginkan hal itu dan sepertinya bayiku juga menginginkan hal yang sama ketika ayahnya harus menyapa dirinya," jawab Raidan.
"Ayahnya, jadi kamu menganggap bahwa aku adalah ayah dari anak itu?" tanya Raidan.
"Itu adalah kenyataan dan tidak akan pernah diubah bahwa sampai kapanpun anak ini adalah anak kita berdua," jawab Alea.
Raidan tersenyum mendengarnya dengan mengusap-usap pucuk kepala Alea.
"Makasih Alea, kamu telah mengakui bahwa anak yang kamu kandung adalah anakku," ucap Raidan membuat Alea mengangguk dengan tersenyum.
Alea menjatuhkan kepalanya di bahu Raidan, tampak bermanja dan benar-benar sangat bahagia dan nyaman jika berada di samping Raidan. Alea memang begitu kesepian karena suaminya kerap kali menghabiskan waktu dengan pekerjaannya dan bahkan ketika mereka berdua juga tidak memiliki quality time bersama.
Jadi saat ini Alea hanya ingin mencari kenyamanan dan ternyata Raidan mampu memberikan semua itu kepadanya, siapa sangka saat ini hubungan mereka benar-benar sangat dekat tanpa diketahui Dharma dan seolah-olah hubungan itu adalah hubungan rahasia.
*****
Alea berada di rumahnya terlihat fokus sedang bermain ponsel dengan membuka sosial media. Alea mengerutkan dahi ketika melihat salah satu postingan media sosial dari yang dia kenal.
"Bukannya wanita ini Monica, sekretaris Mas Dharma," ucap Alea tiba-tiba saja merasa ada sesuatu pada wanita tersebut.
Wanita bernama Monica itu tampak berfoto di sebuah kapal, terlihat ada bayangan pria yang membuat Alea terus memperhatikan seolah-olah mengenal pria tersebut. Alea sampai membesarkan foto tersebut untuk memastikan.
"Cincin yang di pakai bayangan pria itu kenapa mirip dengan cincin mas Dharma," gumam Alea.
"Apa ini hanya perasaanku saja, kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak dan seperti ada sesuatu?" batin Alea penuh tanya.
Alea melihat punggung jari-jari tangannya, melihat bagaimana cincin indah itu masih terpasang di jari manis.
"Seperti ada sesuatu yang ingin aku ketahui? entahlah apakah ini hanya perasaanku saja teman-teman benar, kenapa aku merasa seperti ada sesuatu hal yang disembunyikan dariku," batin Alea.
Wajahnya seketika berubah menjadi sendu, entahlah apa yang dia pikirkan saat ini, tidak mengerti kenapa Alea sekarang benar-benar merasa takut akan sesuatu.
Banyak hal yang membuat Alea benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya yang sudah mulai tidak tenang, jantungnya sejak tadi berdebar dengan kencang.
Bersambung....