NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: pertemuan tak terduga di acara amal 2

Acara amal Glory School akhirnya usai. Para tamu mulai beranjak pergi, meninggalkan gemuruh percakapan yang perlahan mereda. Theo, yang sedari tadi sibuk berlarian mengurus berbagai keperluan panitia, kini merasa seluruh tenaganya terkuras habis. Ia mencari tempat duduk yang kosong di sudut ruangan yang agak tenang, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di sana.

Tak lama kemudian, Ibu Ratna menghampirinya. Ia melihat putranya duduk dengan punggung membungkuk, wajahnya sedikit pucat karena kelelahan. Hati Ibu Ratna terasa hangat sekaligus sedikit cemas melihat Theo. Ia segera duduk di kursi sebelah Theo, mengelus lembut kepala putranya.

"Anak ibu kelelahan ya?" ucap Ibu Ratna dengan suara penuh kasih sayang. Ia memandang Theo dengan tatapan bangga, melihat betapa gigihnya putranya dalam menjalankan tugas. "Mau ibu ambilkan minum?" tawar Ibu Ratna, siap untuk memanjakan putranya setelah seharian bekerja keras.

Theo mendongak, menatap ibunya dengan senyum kecil. "Tidak usah, Bu. Theo tidak apa-apa." Ia mencoba menegakkan punggungnya, meskipun tubuhnya masih terasa pegal. "Cuma sedikit lelah saja."

"Syukurlah kalau begitu," sahut Ibu Ratna, masih mengelus rambut Theo. "Ibu bangga sekali melihatmu hari ini, Theo. Kamu sangat membantu panitia. Ibu tahu kamu pasti berusaha keras."

Theo tersenyum lebih lebar mendengar pujian ibunya. Dukungan ibunya selalu menjadi sumber kekuatannya. "Terima kasih, Bu."

Mereka duduk dalam keheningan sejenak, menikmati momen ketenangan setelah hiruk pikuk acara. Ibu Ratna memandang sekeliling, ke arah para tamu yang masih tersisa, termasuk keluarga Wijaya yang sedang berbincang dengan kepala sekolah. Ia teringat kembali percakapan mereka beberapa bulan lalu, tawaran Pak Wijaya yang terasa begitu besar.

...****************...

"Theo," panggil Ibu Ratna lembut, "bagaimana sekolah sejauh ini? Kamu menikmati pelajaranmu?"

Theo mengangguk antusias. "Sangat menikmati, Bu! Guru-gurunya hebat, dan pelajarannya sangat menantang. Theo jadi banyak belajar hal baru." Matanya berbinar saat menceritakan pengalamannya.

"Syukurlah kalau begitu," ujar Ibu Ratna, hatinya lega mendengarnya. Ia tahu betapa beruntungnya Theo mendapatkan kesempatan ini. "Dan bagaimana dengan teman-temanmu? Ada yang sudah dekat?"

Theo terdiam sejenak, memikirkan teman-temannya. Ia memang sudah punya beberapa teman, tapi belum ada yang benar-benar dekat. Pikirannya kemudian tertuju pada Elsa. Pertemuan di perpustakaan, dan kemudian di acara ini, meninggalkan kesan yang berbeda.

"Ada... ada satu teman yang Theo rasa cukup menarik," jawab Theo, sedikit ragu. Ia tidak yakin bagaimana menjelaskan perasaannya. "Namanya Elsa. Kami bertemu di perpustakaan, lalu tadi malam kami bertemu lagi di acara ini."

Ibu Ratna tersenyum penuh arti. Ia melihat ada kilatan berbeda di mata putranya saat menyebut nama Elsa. "Oh ya? Ceritakan pada Ibu."

Theo mulai menceritakan pertemuannya dengan Elsa, dari kejadian di perpustakaan hingga interaksi singkat mereka di acara amal tadi. Ia menceritakan bagaimana Elsa sempat tersipu malu, dan bagaimana ia merasa penasaran dengan gadis itu.

Ibu Ratna mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk. Ia melihat bahwa putranya tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mulai merasakan hal-hal baru

...****************...

Saat Ibu Ratna dan Theo sedang asyik berbincang, tiba-tiba Elsa menghampiri mereka. Ia membawa dua botol air mineral di tangannya. Senyum malu-malu menghiasi wajahnya saat ia mendekat.

"Hmm, Theo," sapa Elsa dengan suara lembut, "kau pasti haus setelah seharian ini. Ini, aku bawakan untukmu." Ia menyodorkan sebotol air mineral kepada Theo.

Theo sedikit terkejut melihat Elsa datang menghampirinya, apalagi dengan membawakan minum. Ia menatap ibunya, lalu kembali menatap Elsa. "Terima kasih, Elsa."

Ibu Ratna yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka, kini tersenyum lebar. Ia memandang Elsa dari atas ke bawah, mengagumi kecantikan gadis itu. "Oooo, jadi ini yang namanya Elsa," ucap Ibu Ratna dengan nada menggoda. Ia menoleh pada Theo, matanya berbinar geli. "Wah, Theo, kamu pandai sekali mencari gadis. Cantik sekali dia."

Theo langsung merona mendengar ucapan ibunya. "Apaan sih, Bu," gumamnya pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

Elsa pun ikut tersipu mendengar pujian Ibu Ratna dan godaan Theo. Ia menunduk sedikit, merasa sedikit canggung namun juga senang.

"Saya Ratna, Ibu dari Theo," Ibu Ratna mengulurkan tangannya dengan ramah kepada Elsa. "Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung denganmu."

Elsa segera membalas uluran tangan Ibu Ratna. "Saya Elsa, Bu. Senang bertemu dengan Ibu juga." Ia merasa nyaman dengan kehangatan yang terpancar dari Ibu Ratna.

"Terima kasih banyak sudah dibawakan minum, Elsa," ujar Ibu Ratna tulus. "Kamu benar-benar perhatian."

"Sama-sama, Bu," jawab Elsa. Ia kemudian menatap Theo lagi, senyumnya kini lebih percaya diri. "Aku senang bisa membantu."

Suasana menjadi lebih cair dan hangat.

...****************...

Suasana menjadi lebih cair dan hangat. Ibu Ratna merasa senang melihat interaksi putranya dengan Elsa. Ia melihat potensi pertemanan yang baik di antara mereka, dan mungkin lebih dari itu. Theo, yang tadinya sedikit canggung, kini merasa lebih nyaman berkat sikap ramah ibunya dan keberanian Elsa.

Tak lama kemudian, bel tanda acara selesai berbunyi, menandakan bahwa para tamu undangan dan panitia bisa beristirahat. Ibu Ratna berdiri, siap untuk pulang. Theo pun ikut bangkit.

"Baiklah, Theo, ayo kita pulang" ujar Ibu Ratna.

Namun, sebelum mereka sempat beranjak, Elsa kembali menghampiri Theo. Ia terlihat sedikit ragu, namun tatapannya mantap.

"Theo," panggil Elsa, suaranya sedikit lebih pelan kali ini. Ia melirik Ibu Ratna sekilas, lalu kembali fokus pada Theo. "Anu... kalau kau tidak sibuk, besok pas jam istirahat, ada yang ingin aku bicarakan." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Kita bertemu di taman sekolah, ya?"

Theo menatap Elsa, sedikit terkejut dengan ajakan mendadak itu. Ia belum sempat bertanya lebih lanjut tentang Elsa, dan sekarang gadis itu mengajaknya bertemu. "Taman sekolah? Jam istirahat?" Theo mengulang, memastikan ia tidak salah dengar.

Elsa mengangguk cepat, rona merah kembali menghiasi pipinya. "Ya. Kalau kau tidak keberatan."

Theo tersenyum. "Tentu saja aku tidak keberatan. Sampai jumpa besok di taman sekolah."

Elsa tersenyum lega mendengar jawaban Theo. "Terima kasih," ucapnya, lalu dengan cepat berpamitan pada Ibu Ratna, "Permisi, Bu Ratna. Saya pamit dulu." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berlari kecil menghampiri keluarganya yang sudah bersiap untuk pulang.

Ibu Ratna memandang kepergian Elsa dengan senyum. Ia kemudian menoleh pada Theo, yang masih memandang ke arah Elsa pergi.

...****************...

Tentu, ini kelanjutan Bab 18:

Bab 18: Refleksi Malam dan Harapan Baru (Lanjutan)

Ibu Ratna memandang kepergian Elsa dengan senyum. Ia kemudian menoleh pada Theo, yang masih memandang ke arah Elsa pergi.

"Sepertinya kalian seumuran ya, Theo?" tanya Ibu Ratna, menyadari bahwa Elsa memiliki perawakan yang sama dengan putranya.

Theo menoleh pada ibunya, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia baru saja menyadari bahwa ia dan Elsa ternyata berada di jenjang yang sama. "Iya, Bu," jawab Theo. "Dia di kelas 10 A, dan aku di kelas 10 B."

Ibu Ratna mengangguk. "Oh, begitu. Kalian berdua sama-sama di kelas 10 ya. Baguslah kalau begitu, jadi lebih mudah untuk berteman." Ia tersenyum, membayangkan putranya dan Elsa bisa menjadi teman baik.

Theo mengangguk, pikirannya kembali pada pertemuan besok di taman sekolah. Ia merasa sedikit gugup, namun juga antusias. Apa yang ingin dibicarakan Elsa dengannya?

"Ayo kita pulang sekarang, Nak," ajak Ibu Ratna, merangkul bahu Theo.

Theo mengangguk, dan bersama-sama mereka meninggalkan gedung acara yang mulai sepi. Malam itu, Theo tidur dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa lelah karena acara, rasa bangga atas pencapaiannya, dan rasa penasaran yang besar akan pertemuan esok hari dengan Elsa.

Keesokan harinya, Theo tiba di sekolah dengan semangat yang berbeda. Ia tidak sabar menunggu jam istirahat tiba. Pikirannya terus tertuju pada Elsa, dan apa yang ingin gadis itu bicarakan.

Saat bel istirahat berbunyi, Theo segera bergegas menuju taman sekolah. Ia melihat Elsa sudah duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang, menunggu. Jantung Theo berdebar lebih kencang saat ia melangkah mendekat.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!