Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sial?
Ruangan yang tadinya dingin seketika terasa panas dan menyesakkan, Hazel menatap Gavin dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia ingin sekali berteriak, menceritakan bagaimana tersiksanya ia selama empat belas tahun ini di bawah kendali Ibunya. Ia ingin Gavin tahu bahwa kepergiannya dulu bukanlah sebuah pilihan, melainkan paksaan berkedok masa depan.
Namun, tenggorokannya terasa tersumbat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat.
Gavin yang melihat air mata Hazel perlahan melunak, amarah yang berapi-api di matanya perlahan padam dan digantikan oleh tatapan lelah penuh kepedihan. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi kayu, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja melepaskan beban berat yang menyiksa dadanya.
"Aku minta maaf, aku tahu kata maaf nggak akan pernah cukup untuk membayar waktu empat belas tahun ini. Kamu berhak membenciku, kamu berhak menganggapku egois. Tapi demi Tuhan, Gavin... aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu seperti itu," ucap Hazel di sela isaknya, suaranya terdengar begitu rapuh.
Gavin terdiam, ia menatap lampu minyak yang bergoyang ditiup angin dan membiarkan keheningan malam kembali menguasai ruangan. Keheningan kali ini terasa berbeda, tidak lagi menegangkan, melainkan sarat akan kerinduan dan luka yang sama-sama mereka simpan.
"Lupakan saja, semuanya sudah masa lalu. Sekarang kita jalani hidup masing-masing dan melupakan kenangan buruk itu, anggap saja empat belas tahun lalu adalah hari sial kita karena sudah bertemu," ucap Gavin lalu berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.
Pintu ruangan tersebut tertutup rapat seiring dengan langkah kaki Gavin yang perlahan menjauh dan menghilang di balik kegelapan malam, Hazel masih terduduk di kursinya da mematung dengan tatapan kosong ke arah pintu tripleks tersebut.
Perkataan Gavin terus berputar-putar di kepala Hazel seperti kaset rusak, "Sial?" gumam Hazel lirih dengan senyum getir yang dipaksakan.
Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas kertas pembungkus salep pemberian Gavin. Bagi Gavin, mungkin menghapus masa lalu adalah hal yang mudah setelah semua luka yang ia terima. Namun bagi Hazel, masa-masa SMA bersama Gavin adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih merasa menjadi manusia, bukan robot pajangan Mama Vivian.
Hazel menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya dan menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan ujung lengan jaket. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam, masih ada beberapa jam lagi sebelum shift piketnya selesai.
Untuk mengalihkan pikirannya yang mulai kacau, Hazel bangkit berdiri dengan agak pincang. Ia berjalan menuju lemari obat-obatan, berniat menyusun ulang botol-botol antiseptik yang sedikit berantakan. Namun baru saja ia memindahkan dua botol, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah luar, disusul dengan ketukan pintu yang sangat keras.
Brak! Brak! Brak!
"Dokter! Dokter Hazel! Tolong, Dok!" teriak orang dari luar.
Hazel tersentak kaget, ia segera membuka pintu barak medis. Di ambang pintu, berdiri Sersan Baim dengan wajah yang basah oleh keringat dan napas yang terengah-engah. Di belakangnya, dua orang prajurit tampak memapah seorang warga, seorang pria paruh baya yang terus mengerang kesakitan sambil memegangi perut bagian kanan bawahnya, wajah warga itu sudah pucat pasi dan tubuhnya menggigil hebat.
"Ada apa, Sersan? Silakan bawa masuk!" tanya Hazel.
"Ini Pak Joko, warga desa yang dekat jembatan gantung kemarin, Dok. Tadi keluarganya lari ke pos komando nangis-nangis, katanya Pak Joko mendadak pingsan setelah muntah-muntah dan kesakitan di perutnya," jelas Sersan Baim sambil membantu membaringkan Pak Joko di atas ranjang.
Hazel segera memakai sarung tangan lateks dan mengambil stetoskopnya, ua mendekati Pak Joko yang terus merintih.
"Pak Joko, bagian mana yang paling sakit? Di sini?" tanya Hazel lembut sambil menekan perlahan bagian perut kanan bawah pria itu.
"Aakhh! Iya, Bu Dokter! Sakit sekali, seperti ditusuk pisau!" jerit Pak Joko dengan air mata yang menetes di sudut matanya.
Hazel melakukan pemeriksaan fisik dengan cepat namun sangat teliti, ia memeriksa suhu tubuh Pak Joko yang ternyata sangat tinggi, mencapai 39°C. Hazel pun menekan perut Pak Joko secara perlahan lalu melepaskannya dengan cepat, dan setelah itu Pak Joko berteriak kesakitan hingga tubuhnya melengkung.
Melihat hal itu, Hazel pun mulai menyadari gejala-gejala penyakit yang dialami Pak Joko. "Sersan Baim, ini darurat. Pak Joko menderita Radang Usus Buntu Akut dan melihat kondisinya yang demam tinggi serta perut yang sudah sangat tegang, saya khawatir usus buntunya sudah pecah di dalam. Jika tidak segera dioperasi, infeksi bisa menyebar ke seluruh rongga perut dan ini bisa mengancam nyawanya!" ujar Hazel dengan nada bicara yang tegas dan penuh otoritas.
Sersan Baim langsung panik, "Tapi Dok, rumah sakit daerah yang punya fasilitas ruang operasi jaraknya empat jam dari sini lewat jalur darat! Jalur tebing yang longsor bahkan belum dibersihkan sepenuhnya. Sangat berisiko kalau harus membawa Pak Joko lewat darat malam-malam begini!" ucap Sersan Baim.
Hazel menggigit bibir bawahnya, berpikir keras. Di barak medis darurat ini, fasilitas operasi sangat minim. Mereka hanya punya peralatan bedah minor dasar. Namun, membiarkan Pak Joko menempuh perjalanan darat selama empat jam dalam kondisi usus buntu pecah sama saja dengan mengirim pria itu ke pintu kematian.
"Tidak ada waktu, Sersan. Kita harus melakukan tindakan darurat di sini untuk menstabilkannya atau kita butuh evakuasi udara menggunakan helikopter menuju rumah sakit pusat kota terdekat," ucap Hazel.
"Evakuasi udara harus mendapatkan izin tertulis dan perintah langsung dari Komandan Kompi, Dok," sahut Sersan Baim kaku.
Hazel tertegun sejenak, komandan Kompi dan itu artinya... Gavin. Baru saja satu jam yang lalu mereka terlibat adu mulut yang hebat dan Gavin memintanya untuk mengabaikan masa lalu, kini ia harus menghadap pria itu lagi dalam situasi hidup dan mati.
Hazel melepaskan stetoskopnya dan menatap Sersan Baim dengan pandangan yang tak terbantahkan, "Siapkan cairan infus tambahan dan kompres hangat untuk Pak Joko, saya yang akan menemui Kapten Gavin sekarang juga," ucap Hazel.
Belum sempat Hazel melangkah, Gavin sudah berlari ke arah mereka. Langkah kakinya yang lebar dan tergesa-gesa langsung memecah ketegangan di depan pintu barak medis, rupanya Gavin yang masih berada di sekitar pos mendengar suara teriakan panik Sersan Baim dan langsung bergegas menuju sumber suara.
Kausnya tampak sedikit basah karena gerimis mulai turun di luar. Begitu melewati ambang pintu, tatapan matanya langsung tertuju pada Pak Joko yang sedang mengerang kesakitan di atas ranjang, sikap dingin dan benci yang tadi ia tunjukkan pada Hazel menguap begitu saja, digantikan oleh sorot mata tajam seorang komandan yang siap siaga.
"Ada apa ini, Sersan?" tanya Gavin, dengan suaranya yang berat dan penuh wibawa.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak