NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 18. Ingin tahu lebih

“Mas tuh punya usaha apa aja?" tanyaku kembali dengan berjalan mengekorinya.

“Usahaku aslinya cuma punya tempat cuci segala macam. Awalnya cuma tempat cuci hasil panen, macam kentang, wortel, jahe, lengkuas, umbi-umbian yang mesti bersih kalau dipasarkan lah intinya. Tapi makin lama, udah kek menerima cucian segala macam. Mulai dari motor, mobil pribadi, mobil angkutan, sampai pernah alat berat juga. Awalnya cuma nyediain pompa air, jet washer sama kompresor udara. Sampai akhirnya lengkap dengan hidrolik motor dan mobil juga," jawabnya dengan menyetarakan langkah kakinya denganku.

Ia juga ia lebih tinggi dariku, meski aku sudah menggunakan sepatu hak tinggi sepuluh senti.

“Loh, bukannya coffee shop?" Aku merapikan hijabku karena merasa kerudung ini akan merosot.

“Nggak loh, Sayang. Itu punya ayah Wiya," sahutnya dengan tangan nakalnya yang ditempatkan di pinggangku saat kami tengah menuruni tangga.

Kalau memang usahanya hanya dari tempat pencucian saja, kenapa ia bisa sementereng ini? Apa dugaanku benar? Jika orang tuanya masih memberinya uang jajan?

"Terus penghasilan Mas dari mana aja?” Aku menurunkan tangannya dari pinggangku, sedangkan aku lebih memilih memegang lengannya saat menuruni tangga.

Aku bukan model profesional, aku takut jatuh juga dengan sepatu tinggiku ini saat menuruni tangga. Jika menaiki, menurunku masih lumayan mudah.

"Kami dari masa sekolah udah terbiasa dengan berkas-berkas perusahaan, kami pun bisa membereskan data di berkas yang acak-acakan bahkan terpisah itu jadi rapi dan jadi suatu laporan lengkap. Kami dari kecil mainannya udah microsoft excel. Nah, lepas rampung dari situ kami dapat imbalan. Dari ngurusin usaha ayah Wiya pun, ya tentunya Mas dapat gaji,” terangnya yang membuatku manggut-manggut.

Kami sudah sampai di parkiran saja, guys. Aku segera melepaskan tangannya, agar terhindar dari tuduhan. Aku hanya membutuhkan bantuannya saja untuk menuruni tangga, bukan karena aku ingin menggandeng dirinya.

Jadi, intinya dirinya dan saudaranya itu sudah diberi pekerjaan sejak kecil.

“Kalau orang kaya, uang saku pas sekolah pasti gede ya?" tanyaku sebelum masuk ke dalam mobil yang ia bawa.

Untuk ukuran laki-laki dua puluh lima tahun, dengan ia memiliki usaha sendiri di tengah keluarga kayanya saja itu sudah bagus. Ia punya inisiatif artinya, ia tidak melulu bergantung pada keluarganya.

“Apanya? Waktu Mas SD tuh wajib bawa air minum dari rumah dan bekal. Sampai pernah diledekin teman terus, akhirnya malu untuk makan bekal dan sengaja buang isi bekal pas jalan pulang sekolah. Tapi ternyata dari uang saku aja nggak cukup buat perut ini kenyang, makanya lepas itu udah bodo amat tetap makan bekel meski di-bully juga. Uang saku malah gedean anak pedagang sarapan ketimbang Mas, entah dikasih orang tuanya entah ngambil sendiri, tapi uang sakunya bisa sampai lima belas ribu. Sedangkan, Mas paling gede itu delapan ribu. Sepuluh ribu sih, tapi dua ribunya Mas sengaja tabungin ke guru. Pas SMP naik dua belas ribu, nambah tinggi kelasnya naik dua ribu. Sampai kuliah, dikasih dua puluh lima ribu sehari. Sebenernya udah punya uang sendiri dari hasil nyusun laporan segala macam, tapi tetap Mas ambil dua puluh lima ribu sehari itu,” ungkapnya begitu detail dengan kendaraan yang perlahan keluar area penginapan ini.

“Maaf, Mas. Memang keluarga Mas pelit? Atau memang kuncinya orang kaya harus perhitungan?" tanyaku tanpa rasa tidak enak sedikit pun.

Ia manggut-manggut, terlihat tengah berpikir sesaat. Ia tampan loh meski dengan anting di alisnya itu, guys. Mana rambutnya sedikit ikal, khas sekali dengan karakter laki-laki brengsek.

"Pelit??? Ah, nggak juga. Kau datang langsung minta uang pun pasti dikasihnya, tapi ditanyain untuk apa uangnya. Kalau perhitungan, ya memang. Karena kebutuhan rumah tangga, uang saku itu ada hitungan tiap bulannya. Jadi ayah Wiya tetap kek gajian tiap bulan, maksudnya ngasih ibu tuh ya secukupnya kebutuhan aja. Kebutuhan rumah tangga sama kebutuhan ibu itu dipisah, misalnya untuk makan bersama sebulan ini sepuluh juta, untuk ibu lima juta sebulan. Jadi sebulan ibu nerima uang lima belas juta. Kalau memang kurang, ya ada komunikasinya lagi. Nanti pasti kok dikasih lagi. Kek misalnya lagi ada yang sakit, lagi ada keperluan untuk urusan sekolah tahun ajaran baru, atau lagi nambah personil lagi. Jadi nggak pelit karena tetap dikasih, tapi ya perhitungannya tuh kek gitu,” ungkapnya sembari menyalakan rokoknya dan menurunkan jendela mobilnya.

Oh jadi orang kaya dari turunan itu ada management uangnya ya? Tidak asal beli foya-foya setiap hari. Aku mengira jika sudah banyak uang bisa checkout setiap hari dan bisa makan di luar terus.

“Tapi Mas betah tinggal di rumah dengan semuanya ada hitungannya itu?" Biasanya kan anak muda itu tidak suka dengan aturan di rumah.

“Kan punya uang sendiri, Sayang." Nada bicaranya begitu lembut, tidak seperti saat semalam.

“Jadi intinya anak disuruh ngerjain kerjaan perusahaan itu karena memang butuh orang? Atau karena nggak mau gaji orang?" tanyaku dengan alisku yang naik sebelah dengan melirik ke arahnya.

“Biar kita punya basic saat diberi tanggung jawab. Bukan sekali dua kali aja Mas buat data yang salah, tapi dari kecerobohan itu Mas tau cara menangani kesalahan itu. Kalau ngomong pahitnya, kita bisa lanjutin usaha keluarga kalau orang tua udah wafat. Karena kita dari kecil udah dikasih hidangan yang kek gitu, bahkan sampai sekarang. Tapi terang aja, Mas selalu nolak kalau suruh buat laporan keuangan. Karena pernah salah data. Untungnya kan usaha keluarga, jadi uangnya tetap aman biarpun dalam data uangnya ada sedikit tapi ternyata aslinya lebih dari itu,” ujarnya tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Ia fokus pada jalanan dan rokoknya saja.

Aku suka setiap kali berdialog dengannya karena caranya menjelaskan itu begitu rinci.

"Katanya uangnya aman kenapa takut?” Aku fokus menoleh ke arahnya terus sejak tadi.

"Karena dituduh sama sepupu bahwa Mas nilep uang perusahaan. Kalau para orang tua sih santai aja, karena mungkin paham seketat apa output perusahaan. Tapi ya karena tuduhan itu jadinya bikin trauma, kek dituduh mencuri tuh. Sampai dibilang dasar keturunan kriminal! Nyesek betul dengernya. Kalau misalnya ngatain Mas nggak apa, tapi ini bawa orang tua.” Terasa sekali emosinya dari ceritanya itu.

"Pas dikatain kek gitu, ayah Wiya tau nggak?” Aku mengikuti penyebutan kakeknya mas Barraq seperti mas Barraq menyebutnya.

"Tau, beliau orang paling santai. Padahal dulu Mas tau sendiri, kalau emosinya gampang naik. Sama saudaranya sendiri pun adu jotos. Ayah cuma bilang, iya kami keluarga penjahat, kau harus hati-hati sama kami. Ayah ngomong gitu sambil ketawa tipis. Nah, kebetulan lagi sepupu yang bilang kek gitu tuh anaknya TNI. Ayahnya sepupuan sama ayah Wiya,” ucapnya dengan menunjuk tak tentu arah seolah orang tersebut ada di hadapan kita.

Kakeknya seperti itu dengan saudaranya. Ayahnya seperti itu dengan anaknya sendiri, ya mas Barraq sendiri maksudnya. Adu jotos sesukanya, babak belur nanti dibawa ke rumah sakit sendiri.

Hidup emosi nomor satu, akibat biar dipikirkan belakangan.

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!