Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Bayang Masa Lalu dan Perisai Masa Depan
Karya Vian's
Perjalanan belanja kali ini benar-benar menguras energi Savya. Arka tidak berbohong soal tenaganya, tapi ia lupa menyebutkan kalau mulutnya juga tidak bisa diam. Sepanjang menyusuri lorong, Arka terus memberikan komentar pada setiap barang yang ia masukkan ke troli, membuat beberapa ibu-ibu menoleh sambil tersenyum geli.
Kehebohan memuncak saat mereka sampai di kasir.
"Mbak Bos, tenang! Serahkan pada tangan terampil ini!" seru Arka dengan suara lantang. Ia mulai menata kotak-kotak susu di atas ban berjalan dengan kecepatan tinggi, seolah sedang ikut perlombaan. "Satu, dua, tiga... hap! Lihat, Mbak! Formasinya sempurna, kasirnya pasti terkesima melihat kerapian ini!"
"Arka, tolong... suaramu kecilkan sedikit," bisik Savya sambil menunduk, mencoba menahan malu saat melihat kasir supermarket mulai tersenyum simpul menatap tingkah karyawannya itu.
Setelah drama pembayaran yang diwarnai Arka yang hampir salah mengambil uang kembalian orang lain karena terlalu bersemangat, mereka akhirnya bergerak menuju pintu keluar. Arka mendorong dua troli sekaligus dengan gaya heroik, seolah-olah ia sedang membawa harta karun yang sangat berharga.
"Misi sukses, Mbak Bos! Tidak ada korban jiwa, dan semua susu selamat!" Arka tertawa lebar, bersiap melangkah keluar menuju udara pagi.
Namun, langkah Savya mendadak mati. Tubuhnya mendadak kaku, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika sebuah suara yang sangat ia kenali menusuk gendang telinganya.
"Astaga, Savya? Benar-benar kamu?"
Savya mendongak dan langsung terpaku. Di depannya berdiri Katya, wanita yang selama ini ia hindari. Katya berdiri dengan gaya angkuh, menatap Savya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak pernah berubah.
"Aku hampir tidak percaya mataku sendiri," lanjut Katya tanpa memberi jeda bagi Savya untuk bernapas. Senyumnya tampak sinis dan tajam. "Jadi sekarang kesibukanmu begini? Menghabiskan waktu pagi di supermarket, mengurusi barang-barang berat, dan..." Katya melirik Arka dengan pandangan jijik, "...bekerja kasar seperti ini?"
Savya meremas pegangan tasnya, wajahnya perlahan pucat. Ia tidak menyangka akan bertemu Katya di tempat seperti ini, apalagi dengan serangan kalimat yang langsung menghantam harga dirinya.
"Katya... aku—"
"Dulu kamu setidaknya masih punya sedikit martabat untuk menjaga penampilan," potong Katya cepat, suaranya sengaja dikeraskan hingga beberapa orang yang lewat mulai menoleh penasaran. "Sekarang? Kamu tampak seperti pelayan yang sedang kebingungan membawa belanjaan majikannya. Apa ini hidup baru yang kamu banggakan itu, Savya? Benar-benar menyedihkan."
Savya terdiam membisu. Kalimat tajam Katya barusan benar-benar seperti bayangan gelap yang tiba-tiba datang menelan semua keceriaan yang sempat ia rasakan pagi ini. Di depan pintu supermarket yang ramai, Savya merasa benar-benar terpojok.
Savya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Meski jemarinya masih bergetar di balik tali tas, ia mendongak, menatap mata Katya dengan tatapan yang ia usahakan setenang mungkin.
"Aku tidak merasa ini menyedihkan, Katya," ucap Savya dengan suara rendah namun stabil. "Aku bekerja untuk usahaku sendiri. Membeli kebutuhan kedai bukan hal yang memalukan bagi seseorang yang tahu caranya menghargai kerja keras."
Katya tertawa remeh, suara tawanya terdengar sumbang di antara suara otomatis pintu supermarket. "Usaha sendiri? Maksudmu kedai kecil di pojokan itu? Savya, itu bukan kerja keras, itu namanya putus asa."
Arka, yang sedari tadi berdiri mematung sambil memegangi troli, mulai merasakan atmosfer yang tidak beres. Ia melihat wajah Savya yang memucat dan bagaimana wanita asing di depannya ini terus mengeluarkan kata-kata beracun.
Arka tidak tahu siapa Katya, tapi dia tahu satu hal: Bosnya sedang diserang.
Tiba-tiba, Arka melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Savya dan Katya. Ia menatap Katya dengan ekspresi yang sangat... aneh. Bukan marah, tapi lebih seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang sangat ajaib sekaligus mengenaskan.
"Wah, wah, wah!" Arka berseru, suaranya sengaja dibuat lantang sampai orang-orang yang baru mau masuk supermarket berhenti melangkah. "Mbak Bos, maaf saya potong sebentar. Ini tadi Mbaknya bilang apa? Kerja kasar?"
Arka menoleh ke arah Katya, matanya menatap tajam ke arah tas bermerek yang ditenteng Katya.
"Mbak yang cantik tapi kurang piknik ini pasti belum tahu ya?" Arka mulai beraksi dengan gaya bicara seperti pembawa acara kuis. "Mbak Bos saya ini bukan lagi kerja kasar, Mbak. Beliau ini lagi latihan angkat beban buat persiapan kompetisi 'Pengusaha Sukses Paling Rendah Hati Sejagad'. Lah Mbak sendiri, pagi-pagi dandanannya kayak mau kondangan tapi kok mainnya ke lorong susu? Apa jangan-jangan Mbak ini maskot baru supermarket ini ya? Yang kalau ditekan tombolnya langsung keluar suara-suara sindiran?"
Beberapa pengunjung yang lewat mulai menahan tawa. Wajah Katya memerah seketika. "Apa kamu bilang?! Heh, asisten rendahan, jangan ikut campur!"
"Waduh, galak banget! Mbak, hati-hati," Arka mundur satu langkah dengan gaya dramatis, seolah ketakutan yang dibuat-buat. "Jangan marah-marah terus, nanti bedaknya retak lho. Itu di pojok mata Mbak kayaknya ada yang luntur, apa itu sisa-sisa rasa iri yang nggak tertampung ya?"
"KAMU—!"
"Sssttt!" Arka menaruh telunjuk di bibirnya, membuat Katya semakin mendidih. "Malu, Mbak. Dilihatin banyak orang. Masa cantik-cantik hobinya nindas orang di depan umum? Apa Mbak kurang kasih sayang ya di rumah? Atau jangan-jangan Mbak ini lagi cari perhatian karena nggak ada yang mau dengerin cerita Mbak selain rak-rak supermarket ini?"
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik. "Eh, itu siapa sih?" "Iya, kok marah-marah gitu sama orang lagi belanja?" "Kasihan banget mbaknya itu dihina-hina."
Katya merasa telinganya panas. Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya, apalagi oleh orang yang ia anggap "asisten rendahan" seperti Arka. Ia melihat ke sekeliling, dan menyadari bahwa dialah yang sekarang menjadi tontonan yang memalukan, bukan Savya.
"Cukup!" teriak Katya, suaranya melengking tajam. "Kamu pikir dengan pelayan konyol ini kamu bisa terlihat hebat, Savya? Jangan lupa, kamu itu tetap saja pecundang yang lari dari kenyataan. Apa kamu lupa bagaimana hancurnya kamu saat semua orang tahu siapa kamu sebenarnya di masa lalu? Kamu itu cuma benalu yang sekarang mencoba hidup di tumpukan sampah!"
Mendengar itu, Arka hendak kembali membalas, namun Savya menyentuh lengan Arka, memintanya untuk diam.
Savya menarik napas dalam. Matanya menatap Katya dengan kejernihan yang tidak disangka-sangka. "Jika masa lalu adalah satu-satunya senjata yang kamu punya untuk menjatuhkanku hari ini, Katya... maka itu artinya kamu yang sebenarnya terjebak di sana, bukan aku."
Savya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang. "Terima kasih sudah mengingatkanku seberapa jauh aku sudah melangkah dari orang-orang seperti kamu."
Kalimat tenang Savya justru menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa kesabaran Katya. Merasa sindirannya hanya dianggap angin lalu, Katya kehilangan akal sehatnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, matanya menyalang penuh kebencian, dan dengan sekuat tenaga ia hendak melayangkan tamparan keras ke wajah Savya.
Savya memejamkan mata, bersiap menerima hantaman itu.
Namun, tamparan itu tidak pernah sampai.
Sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan Katya di udara dengan sangat kuat hingga Katya tersentak. Suasana mendadak hening seketika.
Savya membuka matanya perlahan dan mendapati sesosok tubuh tinggi sudah berdiri di sampingnya, menjadi pembatas yang kokoh antara dirinya dan kemarahan Katya.
Valerius berdiri di sana. Tatapannya dingin, setajam es yang sanggup membekukan siapa pun yang melihatnya, namun ekspresi wajahnya tetap tenang—ketenangan yang sangat mengintimidasi.
..." Story by Vian's"...