NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 [ Apa Rencana Kean? ]

Disalah satu kediaman mewah, kemewahan menyertai kehidupan keluarga ini, lampu kristal bergelantungan megah di langit-langit rumah bak istana, dinding marmer berkilau memantulkan cahaya hangat malam itu, dan setiap sudut ruangan dipenuhi barang-barang mahal yang menjadi lambang kesuksesan.

Namun sayangnya, dibalik segala kemewahan yang memanjakan mata, ada kehampaan besar yang tak pernah mampu mereka tutupi. Kehidupan bahagia mereka belumlah sempurna tanpa hadirnya sosok anak yang selama bertahun-tahun dirindukan. Kesunyian malam terasa begitu menusuk.

"Sayang...."

Suara berat penuh kelembutan itu memecah keheningan. Sosok tangan kekar melingkari pinggang sang Wanita yang sedang menangis lirih di sofa ruang keluarga.

Tubuhnya bergetar menahan sesak, sementara genggaman tangannya memegang erat sebuah album foto keluarga.

Didalam album itu terdapat potret kebahagiaan sederhana. Seorang Ayah. Seorang Ibu. Seorang anak perempuan kecil berumur sekitar lima tahun. Dan seorang anak laki-laki kecil seusia dengannya. Foto-foto itu dipenuhi tawa, pelukan, dan kebahagiaan yang kini hanya tinggal kenangan yang menyakitkan.

"Kamu masih belum melupakan putri kita? Ini sudah belasan tahun, kamu lupakan ya."

Suara lelaki itu terdengar hati-hati, seolah takut salah mengucap satu kata saja.

Namun kalimat itu justru membuat tangisan sang Wanita pecah semakin hebat.

"Tapi itu sangatlah sulit... ketika masih balita aku menggendongnya dalam dekapanku... Aku tidak pernah membiarkan dia terluka sedikitpun biarpun aku yang terluka... tapi... Satu kesalahanku... Satu kecerobohan aku... Putri ku terlepas dari tangan dan penjagaanku...."

Air matanya jatuh semakin deras.

Tangannya mencengkram album itu semakin erat hingga jemarinya memutih.

"Aku yang teledor! Aku yang salah! Aku tidak pantas disebut sebagai Ibu, aku tidaklah pantas!"

Tangisannya pecah begitu pilu hingga membuat hati siapa saja ikut terasa sesak mendengarnya.

Lelaki bertubuh kekar dengan aura berwibawa itu langsung menarik tubuh sang Istri kedalam pelukannya. Dekapan hangatnya begitu erat, seakan ingin melindungi perempuan itu dari rasa sakit yang selama ini menghantui.

Ia tak membiarkan sang istri terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.

"Kamu tidaklah salah." Suara berat Kennan terdengar tegas namun lembut.

"Selama bertahun-tahun kamu membesarkannya seorang diri... tanpa didampingi Suami... kamu bisa melakukan itu semua... Aku akui kamu sangatlah hebat, kamu mommy yang hebat... Kamu janganlah menyalahkan diri lagi, aku tidak suka." Tatapannya melembut penuh kekaguman pada sosok istrinya.

"Tapi...."

"Cukup!"

Nada suara Kennan meninggi untuk pertama kalinya, jarinya menyentuh bibir manis sang Istri hingga berhenti bersuara.

Bukan karena marah. Melainkan karena ia tak sanggup melihat wanita yang sangat dicintainya terus menyiksa diri dengan rasa bersalah.

Kennan membalikkan tubuh sang Istri perlahan. Jemarinya mengusap air mata di pipi Kyara dengan penuh kasih sayang dan ketulusannya, lalu memberikan kecupan manis pada keningnya.

Keduanya kembali berpelukan mesra.

Namun dibalik pelukan itu, masih ada tangisan haru yang tak kunjung berhenti menghiasi malam mereka.

Tok... Tok...

Suara ketukan pintu tiba-tiba memecah suasana. Pelukan mereka perlahan terlepas.

"Siapa?" tanya Kyara kepada sang Suami sambil mengusap sisa air matanya.

"Lebih baik kita buka," timpal Kennan.

Dengan langkah perlahan Kennan membuka pintu itu. Dan saat pintu terbuka...

Belum ada sepatah kata pun terucap.

Tubuh Kyara langsung mendapatkan pelukan hangat dari seseorang.

Seseorang itu tak lain adalah Cantika.

Gadis itu memeluk Kyara begitu erat seakan dirinya sedang hancur dan kehilangan tempat untuk bersandar .

Tangisannya pecah semakin menjadi-jadi.

Tubuh wanita yang bahkan belum lama ia kenal kini menjadi tempat ternyaman baginya untuk meluapkan seluruh rasa sakitnya.

"Sayang... Kamu kenapa?" panik Kyara sambil memegang wajah Cantika. "Apa yang terjadi...? Siapa yang menyakiti kamu...? Siapa?"

Nada suaranya dipenuhi kepanikan seperti seorang ibu sedang mengkhawatirkan sosok Putri kandungnya. Namun Cantika tak kunjung menyudahi tangisannya. Ia hanya terus menangis tersedu-sedu sampai bahunya bergetar hebat.

"Aku akan ambilkan air," ucap Kennan yang ikut merasa khawatir.

Kennan segera menuangkan segelas air putih lalu memberikannya pada Kyara.

Dengan penuh kelembutan Kyara menyuapi Cantika minum sedikit demi sedikit, sementara gadis itu masih sesenggukan tanpa mampu menjelaskan apapun.

Beberapa menit berlalu.

Tangisan Cantika akhirnya perlahan mereda.

Namun tubuh Kyara masih menjadi sandaran Cantika, seolah-olah wanita itu benar-benar sosok ibu yang selama ini menenangkan ketika seluruh luka yang diderita putri kandungnya.

"Kamu sudah membaik?"

Cantika mengangguk kecil. Ia terlihat begitu manja kepada Kyara, meskipun pertemuan mereka barulah beberapa hari ini. Namun ada kedekatan aneh dan kehangatan yang begitu alami diantara keduanya, seolah ada ikatan yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

"Tan... Apa gadis sepertiku tak layak dicintai?" suara Cantika terdengar penuh luka.

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening. Kyara menatap wajah Cantika lekat-lekat, membelai wajah itu dan kembali memeluknya.

"Siapa yang bilang? Biar Tante sunat," jawabnya mencoba bercanda demi mencairkan suasana.

Detik itu pula lirikan mautnya menyambar arah sang Suami.

Kennan yang duduk disamping langsung mengerut pasrah.

"Cantika bodoh! Cantika bodoh karena tidak bisa menjaga hati... Cantika juga sangat bodoh percaya dengan mudah perkataan seseorang..." Air matanya kembali menetes dari pelupuk matanya.

"Cantika tanya pada Tante... apa Cantika bodoh?" Kyara terdiam sesaat.

"Entah Tante tidak tau akan menjawab apa... Sebaliknya Tante tanya? Kebodohan apa yang kamu maksud?" Cantika menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seakan malu mengatakannya.

"Cantika bodoh karena membiarkan lelaki kejam itu menyentuhku... Lebih bodohnya lagi aku menyetujuinya karena permintaan istri pertamanya."

DEG.

Kalimat itu membuat wajah Kyara berubah drastis. Wanita itu sontak berdiri dari duduknya. Cantika sendiri terkejut melihat reaksinya.

"Katakan!" suara Kyara meninggi.

"Kamu bilang kamu memberikan keper4wanan kamu padanya?"

Cantika dengan polos mengangguk pelan.

"Astaga apa kamu sudah gila?!" Kyara sampai memegang kepalanya sendiri.

"Kamu bilang Lelaki itu kejam dan bajingan! Lalu kenapa dengan mudahnya kamu malah merelakan keper4wanan kamu untuknya?! Ini sangat bodoh! Maaf jika Tante memberikanmu umpatan!"

Emosinya ikut naik. Kyara sampai memijat pelipisnya saking tak percayanya dengan pengakuan Cantika.

"Lalu apa dia bisa menerima?"

Cantika hanya menggeleng pelan.

Kyara langsung memahami semuanya.

Dan detik itu pula emosinya benar-benar meledak.

Brak!

Telapak tangannya menghantam meja keras hingga gelas diatasnya bergetar.

Kennan sontak terkejut lalu segera berusaha menenangkan sang Istri.

"Apa didunia ini semua lelaki itu sama?!" ucap Kyara penuh emosi dan kekecewaan.

"Tenang... Kamu jangan mengingatkan aku dengan kejadian dimasalalu... sudah ya."

Kennan memegang bahu sang Istri lembut, kalimat itu membuat Kyara terdiam seketika.

"Om memiliki ide..." timpal Kennan mencoba mengalihkan suasana.

"Kenapa kamu tidak berpura-pura menggodanya? Biasanya Lelaki akan mudah oleng jika menerima godaan."

Detik itu pula dua pasang mata langsung menatap tajam kearah Lelaki berwajah maskulin itu..

"Godaan?! Apa maksudmu malah menyuruhnya menggoda? Dia masih kinyis-kinyis gini belum tau lagi hal begituan,"protes Kyara tak percaya

"Dulu kamu juga masih kinyis-kinyis lalu kenapa berani menggodaku?" ledek Kennan yang jahil sambil mencolek hidung sang Istri. Seketika pipi Kyara memerah malu.

"Sudah! Kenapa malah mengingatkan?!" balasnya sambil menyenggol lengan sang Suami.

Kennan hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Sementara Cantika yang sejak tadi murung mulai sedikit teralihkan.

"Jadi... Apa yang harus Cantika lakukan?"

"Aku punya ide."

Sahutan suara baru, detik itupun ketiganya menoleh bersamaan.

Dari arah tangga terlihat sosok Kean berjalan mendekat dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.

Tatapannya terlihat serius. Namun dibalik itu, tersimpan rencana yang entah akan membawa masalah baru... atau justru menjadi awal pembalasan Cantika.

BERSAMBUNG

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!