"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Macan Gudang
Gisel duduk di kubikelnya yang tepat berada di depan pintu ruangan kerja Adrian yang megah. Konsentrasinya buyar total. Sejak ia menginjakkan kaki di lobi kantor tadi pagi, ponselnya tidak berhenti bergetar karena notifikasi grup WhatsApp karyawan yang heboh membagikan potongan video Budi semalam.
Di video 15 detik itu, terlihat jelas Adrian menggendong Gisel ala bridal style keluar dari restoran karena heels-nya patah. Wajah Adrian yang biasanya datar tanpa ekspresi terlihat sangat panik dan protektif, sementara Gisel menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada bidang sang bos.
Gisel menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi "Gue bisa gila! Beneran bisa gila kalau begini terus! Budi sialan... kenapa pake di-live segala sih?!"
Tiba-tiba dari arah lift, Budi dan Hadi muncul dengan gaya mengendap-endap seperti agen rahasia yang gagal menyamar. Budi memakai kacamata hitam besar, sementara Hadi membawa tumpukan map besar untuk menutupi wajahnya.
Budi setengah berbisik heboh, langsung menghampiri meja Gisel "GISEEEEL SAYANGKUH! Ya ampuuun, sekretaris kesayangan eke! Lo liat nggak video semalem dapet berapa likes di grup lambe korporat?! Tiga ratus, say! Rekor nasional!"
Hadi menepuk jidatnya "Bud! Lo mau kita didepak ke basement beneran ya?! Gisel udah mau nangis gitu lo malah bahas likes!"
Gisel menatap Budi dengan mata menyala-nyala "MAMI! HAPUS NGGAK VIDEO ITU SEKARANG JUGA SEBELUM GUE BANTING MOUSE INI KE MUKA LO?!"
"Aduuuh, telat say! Videonya udah di-download sama anak divisi keuangan! Lagian lo harusnya bersyukur, Say! Sekarang satu kantor tahu kalau pangeran es batu kita punya hati selembut sutra buat sekretaris cantiknya!" Ucap Budi dengan gaya khas kemayunya.
Gisel tidak tahan lagi. Daripada meladeni Budi yang makin ngawur, ia harus langsung menyelesaikan masalah ini pada sumbernya Adrian Bramantyo.
Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, Gisel mencetak lembar jadwal harian (daily schedule) Adrian untuk hari itu yang sebenarnya baru akan ia serahkan siangnya. Ia menyambar kertas yang masih hangat dari printer itu dan menggunakannya sebagai "tiket masuk" darurat.
Gisel berdiri tegak, menatap Budi dan Hadi "Kalian berdua, diam di sini dan jangan berisik. Gue mau urus si Kulkas itu!"
BRAAAK!
Gisel mendorong pintu kayu jati besar ruangan Adrian tanpa mengetuk terlebih dahulu sebuah tindakan yang sangat ilegal bagi seorang sekretaris.
Adrian yang sedang duduk tenang membaca laporan di tabletnya langsung mendongak. Ia sedikit terkejut melihat sekretaris pribadinya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah merah padam.
Adrian meletakkan tabletnya, menatap Gisel dengan tenang "Sela. Masuklah. Saya tidak tahu kalau menyerahkan jadwal harian saya butuh gebrakan pintu sekeras itu."
Gisel berjalan cepat menuju meja Adrian, membanting kertas jadwal itu di atas meja kerja kaca yang mengkilap.
"BAPAK!!! Tolong jelasin ke saya, kenapa Bapak nggak langsung nyuruh admin IT buat hapus video gila itu semalem?! Bapak sengaja ya ngebiarin video itu jadi tontonan satu kantor?!"
Adrian bersandar di kursi kebesarannya. Ia menatap kertas jadwal yang dibawa Gisel, lalu beralih menatap mata Gisel yang menyala-nyala. Senyum tipis yang sangat menyebalkan bagi Gisel namun sangat mematikan terukir di bibirnya.
"Duduk dulu, Sela. Emosi membuat aliran darahmu terlalu cepat, tidak baik untuk penyembuhan kakimu yang semalam terkilir." Ucap Adrian dengan tenang.
"BAPAK! Jawab pertanyaan saya! Jangan dialihin ke kaki!" Ucap Gisel dengan nafas memburu.
Adrian merendah suaranya terdengar sangat santai namun penuh dominasi.
"Kenapa saya harus menghapusnya? Video itu tidak melanggar hukum. Lagipula, bukankah di draf blogmu kamu pernah menulis 'Sesekali, biarkan dunia tahu kalau kamu dimiliki oleh seseorang yang rela menjagamu'. Saya hanya sedang mewujudkan mimpimu di dunia nyata, Sela."
Gisel langsung mematung. Kata-katanya tertahan di tenggorokan. Sialan! Bosnya ini beneran menggunakan isi otaknya untuk mengunci argumennya sendiri!
Gisel berdiri mematung di depan meja kerja Adrian. Kata-kata bosnya yang mengutip draf blog pribadinya barusan benar-benar mengunci lidahnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena marah, tapi juga karena kombinasi rasa malu dan gugup yang bercampur aduk.
Melihat senyum tipis Adrian yang tampak sangat puas dengan kemenangannya, Gisel tidak tahan lagi. Ia harus keluar dari ruangan ini sebelum pertahanannya benar-benar runtuh dan ia berakhir "meleyot" di depan sang CEO.
Dengan gerakan cepat, Gisel berbalik badan dan menghentakkan kakinya menuju pintu kayu jati besar itu.
Gisel tidak membuang waktu untuk mengetuk atau memberikan aba-aba. Ia langsung menarik gagang pintu dan membukanya dengan sentakan yang sangat kuat!
BRAAAAK!
"Aaaaaakh!!!" Teriak Budi dan Hadi bersamaan.
Gisel terlonjak kaget. Di ambang pintu, dua sosok pria dewasa tampak tidak siap dengan gravitasi yang tiba-tiba hilang. Budi dan Hadi, yang sejak tadi menempelkan telinga mereka di pintu untuk menguping dengan sangat khusyuk, langsung kehilangan tumpuan dan terjungkal ke depan!
Gubraakk!
Budi mendarat dengan posisi telungkup di atas karpet mahal ruangan Adrian, sementara Hadi yang mencoba berpegangan pada vas bunga besar di dekat pintu justru berakhir menindih punggung Budi. Kacamata hitam bermotif macan tutul milik Budi yang dipakai Hadi terlempar entah ke mana.
Gisel menatap kedua sahabatnya itu dengan mata melotot dan wajah yang masih merah padam setengah karena ucapan Adrian tadi, setengah lagi karena menahan emosi melihat kelakuan mereka.
Gisel berkacak pinggang "MAMI! MAS HADI! Kalian berdua beneran ya! Kurang kerjaan banget sih pake nguping segala?!"
Budi mengaduh kesakitan sambil mencoba merangkak bangun dari bawah tindihan Hadi "Aduuuh! Pinggang eke yang aduhai ini mau patah, Hadidit! Singkirkan badan lo yang berat kayak tumpukan ban truk ini dari atas eke, say!
Hadi bangkit dengan cepat sambil membetulkan kemejanya yang kusut, wajahnya yang biasanya berusaha dingin kini terlihat sangat canggung
"S-sori, Mbak Sel... Kita berdua cuma mau memastikan keadaan lo aman terkendali di dalem. Refleks aja tadi telinga nempel di pintu."
Budi sambil duduk di lantai mengelus pinggangnya "Iya say! Lagian lo buka pintunya kenceng bener kayak lagi razia kos-kosan! Tapi bentar deh... eke fokus sama muka lo dulu."
Budi menyipitkan matanya, menatap wajah Gisel lekat-lekat dari bawah.
"Wah, wah, wah! Liat tuh, Dit! Mukanya Gisel merah padam bukan kayak orang marah yang mau ngajak baku hantam! Ini mah merah padam karena abis digombalin maut sama Pak Bos Kulkas! Hayo ngaku lo berdua ngapain aja di dalem?!" Goda Budi dengan khasnya yang konyol.
Sebelum Gisel sempat melayangkan pukulan menggunakan map jadwal harian ke arah Budi, sebuah dehaman berat terdengar dari arah dalam ruangan.
”Isss kenapa sih kalian berdua —“ ucap Gisel terhenti dengan tangan yang menggantung di udara mendengar suara deham dari Adrian.
Ehem.
Adrian berdiri di dekat meja kerjanya, melipat tangan di dada sambil menatap pemandangan kacau di depan pintunya dengan alis terangkat sebelah.
"Budi, Hadi. Saya tidak tahu kalau fasilitas karpet di ruangan saya jauh lebih nyaman daripada kursi kerja kalian di bawah." Ucap Adrian santai.
Hadi langsung berdiri tegak dengan sikap sempurna ala militer, sementara Budi dengan cepat bangkit dan langsung merapikan poni serta pakaiannya dengan gaya centil yang dibuat-buat.
"Eh... Pak Bos kesayangan eke! Selamat pagi, Pak! Ini tadi... eke sama Mas Hadi cuma lagi tes akustik pintu ruangan Bapak! Ternyata kedap suara banget ya, Pak! Bagus banget buat kalau Bapak mau... ehem, pacaran privat sama sekretaris dadakan Bapak ini!" Ucap Budi
Adrian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menyembunyikan senyum geli yang hampir terbit melihat kelakuan tim sukses "silent support"-nya itu.
Hening seketika.
Kata-kata Budi tentang "pacaran privat" yang disambut senyum tipis penuh kemenangan dari Adrian benar-benar menjadi sumbu pendek yang membakar habis sisa-sisa kesabaran Gisel. Cukup sudah semalaman ia dijadikan bahan tontonan, cukup sudah pagi ini ia digoda habis-habisan di grup WhatsApp kantor, dan sekarang? Bosnya sendiri dengan santainya mengutip isi blog pribadinya di depan dua kompor gas ini!
Saraf "Macan Gudang" dalam diri Gisel yang selama ini ia coba tekan demi profesionalitas sebagai sekretaris dadakan, akhirnya meledak sempurna.
Gisel berbalik badan dengan sangat cepat. Ia tidak lagi menatap Adrian sebagai seorang atasan yang berkuasa, melainkan sebagai seorang pria menyebalkan yang perlu diberi pelajaran sopan santun.
BRAKK! Gisel membanting tumpukan map jadwal harian yang dipegangnya ke atas meja kerja kaca Adrian hingga menimbulkan suara benturan yang keras.
Gisel berkacak pinggang, matanya menyala menatap tajam langsung ke manik mata Adrian.
"BAPAK!! CUKUP YA! Bapak beneran keterlaluan tahu nggak?! Saya diam dari semalam bukan berarti Bapak bisa seenaknya memperlakukan saya kayak boneka pajangan buat bahan tontonan satu kantor!"
Budi yang baru saja mau berdiri tegak langsung refleks berjongkok kembali di belakang kaki Hadi, menggunakan tubuh Hadi sebagai tameng pelindung dari amukan Gisel.
Budi berbisik histeris sambil memeluk paha Hadi) "Aduuuh! Hadidit! Macan Gudang lepas beneran! Pawangnya nggak kuat nahan ini mah!"
Hadi hanya bisa berdiri mematung dengan mata melotot, menelan ludah dengan susah payah "Mati gue... ini rekor pertama ada karyawan yang berani ngebentak Pak Adrian sedekat ini..."
Adrian yang awalnya berdiri santai dengan tangan dilipat di dada, sedikit terkejut. Namun, ia tidak mundur selangkah pun. Ia justru melangkah maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka terkikis tipis.
Adrian dengan suaranya tetap tenang, namun tatapannya mengunci mata Gisel "Sela, jaga bicaramu. Kita masih di lingkungan kantor."
"BODO AMAT SAMA KANTOR, PAK! Bapak yang mulai duluan! Bapak sengaja kan nggak nyuruh tim IT buat hapus video semalam?! Bapak sengaja ngebiarin harga diri saya jatuh di depan semua divisi?! Dan yang paling parah... Bapak berani-beraninya ngebongkar isi draf blog pribadi saya di depan Budi sama Hadi! Itu privasi saya, Pak! PRIVASI!" Ucap Gisel dengan menahan emosi hingga matanya berkaca-kaca.
Dada Gisel naik turun karena emosi yang meluap-luap. Setitik air mata yang sedari tadi ia tahan karena rasa malu yang luar biasa, akhirnya lolos begitu saja di sudut matanya.
Melihat air mata itu jatuh, ekspresi dingin dan angkuh di wajah Adrian runtuh seketika. Kilatan panik dan rasa bersalah yang sangat nyata langsung menggantikan tatapan tajamnya. Sang "Kulkas" beneran mati kutu melihat "Macan"-nya menangis.
Adrian mendadak melunak drastis, tangannya bergerak refleks ingin menghapus air mata Gisel tapi tertahan di udara "Sela... saya tidak bermaksud—"
Gisel menepis tangan Adrian dengan kasar sebelum sempat menyentuh pipinya "Nggak usah pegang-pegang! Mulai hari ini, balikin saya ke bagian staf gudang logistik lagi! Saya nggak mau jadi sekretaris Bapak lagi! Urus aja jadwal Bapak sendiri!"
Gisel berbalik dengan cepat, menyenggol bahu Hadi yang masih mematung, dan berlari keluar dari ruangan itu sambil mengusap air matanya.
Pintu ruangan CEO tertutup perlahan. Meninggalkan keheningan yang luar biasa canggung di dalam ruangan mewah itu.
Budi perlahan melepaskan pelukannya dari paha Hadi, lalu berdiri tegak sambil merapikan pakaiannya yang sempat acak-acakkan. Ia melirik Adrian yang masih berdiri mematung menatap pintu, lalu beralih menatap Hadi.
Budi dengan auaranya pelan dan sangat hati-hati, gaya kemayunya hilang seketika digantikan nada serius seorang sahabat "Pak Bos... maafin kelakuan Gisel barusan ya, Pak. Tapi jujur... kali ini Bapak emang kelewatan. Gisel itu aslinya rapuh banget kalau soal perasaan. Bapak nggak bisa terus-terusan nembak dia pake cara intimidasi begini..."
Hadi yang biasanya takut pada Adrian, kali ini mengangguk setuju dengan ucapan Budi. "Budi bener, Pak. Kali ini... Bapak harus bener-bener minta maaf secara tulus sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang CEO."
Adrian terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat ditepis oleh Gisel, menyadari bahwa taktik "menguasai" yang biasa ia gunakan di dunia bisnis, justru menghancurkan hati wanita yang paling ingin ia lindungi.
**
Adrian masih berdiri mematung di dekat meja kerjanya, menatap pintu kayu jati yang baru saja dibanting sekretaris dadakannya. Rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayap di dadanya.
Namun, sebelum Adrian sempat merenungi dosanya lebih dalam, keheningan itu dipecahkan oleh suara tepukan keras di bahu Hadi.
Hadi berbalik badan, menatap Budi dengan mata melotot penuh emosi yang tertahan "Tuh kan, Bud! Apa gue bilang dari semalem?! Ini semua gara-gara kelakuan ajaib lo yang pake acara live Instagram segala! Gisel sampai nangis begitu, lo tega banget sih?!"
Budi yang tidak terima disalahkan, langsung berkacak pinggang sambil mengibaskan saputangan sutranya "Heh, Hadidit! Jangan sembarangan ya! Mulut lo lemes bener kayak cucian basah! Eke kan niatnya baik, mau mengabadikan momen bersejarah emansipasi wanita di mana seorang asisten digendong manja sama CEO Sultan!"
"Niat baik gundulmu! Itu namanya eksploitasi privasi temen sendiri, Budi! Sekarang liat akibatnya, Gisel ngamuk, Pak Adrian stres, dan lo... lo hampir bikin pinggang gue patah tadi pas lo tindih!" Tegas Hadi
Budi mencibir sambil melambaikan tangannya yang lentik di depan wajah Hadi "Aih! Bilang aja lo sirik karena semalem nggak ada yang gendong ala bridal style kan?! Lagian ya, video itu kan dapet likes banyak! Semua orang di kantor ngedukung kapal 'Bos Adrian-Gisel' berlayar! Bahkan ada yang bikin grup Telegram 'Pasukan Pengawal Kulkas dan Macan' tahu!"
Hadi menepuk jidatnya dengan sangat kencang sampai berbunyi plak! “Budi... lo bener-bener pembawa bencana nomor satu di perusahaan ini! Kalau sampai kita berdua dipecat dan dilempar ke luar jendela lantai 40 gara-gara video lo, gue bakal hantuin lo seumur hidup!"
Budi menjulurkan lidahnya mengejek "Wleeek! Biarin! Yang penting eke tetep jadi wingman paling hits se-SCBD!"
Di tengah perdebatan sengit yang sangat tidak berbobot namun sangat berisik itu, Adrian Bramantyo hanya bisa berdiri terpaku.
Pria yang biasanya mengendalikan rapat-rapat direksi bernilai miliaran rupiah dengan satu jentikan jari itu, kini menatap kedua bawahannya dengan tatapan kosong. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Marah? Tapi apa yang mereka katakan ada benarnya. Tertawa? Tapi situasinya sedang sangat tidak mendukung.
Adrian menatap Budi yang sibuk membetulkan letak poninya yang berantakan, lalu menatap Hadi yang wajahnya merah padam menahan emosi.
Adrian membatin dengan pasrah sambil memijat pangkal hidungnya “Bagaimana bisa perusahaan raksasa ini tetap berdiri kokoh kalau lingkaran dalam saya isinya dua bocah ajaib yang hobi bertengkar memperebutkan 'hak siar' romansa saya begini?”
to be continue