Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan di Atas Kebohongan
Sektor Tujuh malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Bukan cahaya ungu dari kapal induk Architects, melainkan cahaya kembang api dan lampu-lampu pesta yang dinyalakan oleh warga untuk merayakan keselamatan mereka. Musik terdengar dari bar-bar di sudut jalan, dan layar-layar raksasa di pusat kota terus-menerus memutar ulang rekaman saat Valerius menebas The Arbiter menjadi dua.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Arthur berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi orang-orang yang bersorak. Ia mengenakan tudung jaketnya, mencoba menjadi sekecil mungkin agar tidak tersenggol oleh orang dewasa yang sedang menari nari. Di tangannya, ia memegang sebuah kantong belanjaan berisi dua kotak susu stroberi yang ia beli dari mesin penjual otomatis yang untungnya tidak hancur.
"Lihat itu! Pahlawan kita!" seorang pria berteriak sambil menunjuk layar besar di atas gedung.
Arthur mendongak sekilas, menatap wajah Valerius yang tampak gagah di layar tersebut. Ia hanya mendengus pelan. Ia tahu bahwa saat ini, Valerius kemungkinan besar sedang berada di ruang medis GDC, mencoba menenangkan sarafnya yang hampir putus karena ketakutan.
Langkah kaki Arthur membawanya kembali ke apartemen nomor 402. Begitu ia membuka pintu, aroma sup ayam yang hangat langsung menyambutnya. Clara sedang duduk di sofa, menatap televisi dengan wajah yang masih pucat namun terlihat lega.
"Arthur! Syukurlah kau pulang!" Clara langsung berlari dan memeluk Arthur erat-erat. "Aku melihat berita! Sekolahmu rusak parah karena serangan itu! Aku benar-benar takut terjadi sesuatu padamu saat aku tidak bisa menghubungimu."
"Aku bersembunyi di bunker sekolah, Kak," bohong Arthur dengan nada yang sangat meyakinkan. "Paman berbaju emas itu datang tepat waktu. Semuanya meledak di langit, jadi kami di bawah aman-aman saja."
Clara melepaskan pelukannya, menatap mata Arthur seolah sedang mencari tanda-tanda trauma. Namun, ia hanya menemukan tatapan bosan yang biasa. "Kau benar-benar anak yang tenang, ya? Semua orang di gedung ini menangis histeris, tapi kau pulang seolah-olah baru saja selesai bermain kelereng."
Arthur hanya mengedik kan bahu, lalu berjalan menuju dapur untuk menaruh susunya. "Aku lapar, Kak. Apa sup nya sudah matang?"
Kontras antara pertempuran menghancurkan dimensi beberapa jam lalu dan percakapan tentang sup ayam adalah sesuatu yang selalu dinikmati Arthur. Ini adalah jangkar yang membuatnya tidak kembali menjadi entitas dingin yang tidak peduli pada kehidupan. Baginya, satu mangkuk sup buatan Clara jauh lebih berharga daripada tahta di pusat galaksi.
Sementara itu, di Markas GDC Sektor Satu, Valerius sedang duduk di meja kerjanya yang luas. Di depannya berdiri Jenderal Marcus dan beberapa pejabat tinggi pemerintah yang terus memberikan pujian tanpa henti. Mereka membawakan dokumen-dokumen promosi, kontrak iklan, dan undangan jamuan makan malam bersama Presiden Global.
"Komandan Valerius, serangan Anda tadi benar-benar di luar nalar!" seru Jenderal Marcus dengan mata berbinar. "Menghancurkan kapal induk dimensi dengan satu tebasan? Itu akan tercatat dalam buku sejarah sebagai momen paling heroik umat manusia!"
Valerius hanya mengangguk kaku. "Terima kasih, Jenderal. Tapi saya butuh istirahat. Tekanan dari serangan itu cukup menguras energi saya."
Begitu para pejabat itu keluar dari ruangannya, Valerius langsung merosot di kursinya. Ia mematikan lampu ruangan dan membiarkan kegelapan menyelimutinya. Tangannya masih gemetar. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat bayangan Arthur yang melayang tenang di depan meriam raksasa.
Pintu ruangannya terbuka perlahan. Silas masuk tanpa mengetuk, wajahnya tampak sangat lelah. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan analisis terbaru tentang sisa-sisa The Arbiter.
"Bagaimana?" tanya Valerius dengan suara serak.
"Bersih," jawab Silas pendek. "Seluruh logam cair kapal itu menguap menjadi partikel oksigen dan nitrogen. Tidak ada puing yang jatuh ke pemukiman. Arthur melakukan pekerjaan yang sangat rapi. Terlalu rapi untuk ukuran pahlawan mana pun."
Valerius tertawa getir. "Tentu saja. Dia menghapus kiamat seolah sedang menghapus papan tulis sekolah. Dan sekarang, aku harus menghadiri pesta rakyat sebagai pencuri pujian paling sukses di dunia."
Silas meletakkan tabletnya di meja. "Jangan mengasihani diri sendiri, Komandan. Tanpa sandiwara ini, dunia akan hancur karena kepanikan. Tapi ada masalah baru. Sensor di Pasifik... Jembatan itu tidak menutup setelah kapal induknya hancur. Justru sebaliknya."
Valerius berdiri tegak kembali. "Apa maksudmu?"
"Jembatan itu mulai memancarkan frekuensi yang berbeda," Silas mengaktifkan proyeksi hologram di tengah ruangan. "Ini bukan lagi portal transportasi. Ini adalah saluran transmisi massa. Architects sedang mencoba menarik 'sesuatu' yang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari kapal induk tadi."
"Protokol Genesis," bisik Valerius, mengingat peringatan dari intelijen bayangan Arthur. "Arthur bilang mereka akan mengirim 'Sang Penghancur Dunia'. Apa itu sebuah senjata? Atau monster?"
"Kami belum tahu," jawab Silas. "Tapi suhu di laut Pasifik sekarang sudah cukup untuk melelehkan timah. Dan yang lebih aneh lagi, gravitasi di seluruh dunia mulai berfluktuasi. Di beberapa tempat, benda-benda mulai melayang selama beberapa detik sebelum jatuh kembali."
Valerius mengepalkan tangannya. "Kita tidak punya waktu lagi untuk berpesta. Berapa lama sampai hal itu keluar?"
"Estimasi Arthur adalah dua hari," Silas menatap Valerius dengan serius. "Tapi melihat percepatan energi ini, mungkin hanya sisa dua puluh empat jam. Kita harus memberitahu Arthur sekarang juga."
Kembali di apartemen nomor 402, Arthur baru saja selesai menghabiskan sup nya. Ia duduk di balkon, menatap kerlip lampu kota yang damai. Namun, ketenangannya terusik saat indranya menangkap sebuah perubahan di atmosfer.
Udara di sekitarnya mendadak terasa sangat tipis. Sebuah getaran yang sangat halus, menyerupai suara bisikan ribuan orang yang tersiksa, merambat melalui frekuensi ruang. Ini bukan lagi serangan fisik. Ini adalah serangan terhadap jiwa planet.
Arthur berdiri, tatapannya menjadi sangat tajam. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah koin emas kecil, sebuah artefak kuno yang ia simpan sebagai alat komunikasi darurat. Koin itu mulai memanas.
"Arthur? Ada apa?" tanya Clara yang baru saja selesai mencuci piring. Ia melihat Arthur berdiri kaku di balkon.
Arthur menoleh, senyum polosnya kembali terpasang. "Tidak ada, Kak. Hanya melihat kembang api di kejauhan. Tapi sepertinya aku harus mengerjakan tugas sekolahku sekarang. Besok mungkin sekolah akan diliburkan karena perbaikan, jadi aku ingin menyelesaikannya lebih awal."
Clara tersenyum bangga. "Anak pintar. Belajarlah yang rajin. Aku akan membuatkan mu susu cokelat hangat sebentar lagi."
Arthur masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia segera duduk di lantai, menyilangkan kakinya, dan meletakkan koin emas itu di depannya. Ia menutup matanya, melepaskan kesadarannya menuju dasar laut Pasifik.
Di dalam batinnya, Arthur melihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Di dasar laut yang gelap, portal ungu itu kini sudah sebesar gunung. Dari dalamnya, muncul sebuah struktur berbentuk piramida hitam yang terus memanjang ke atas. Piramida itu bukan terbuat dari logam, melainkan dari massa gelap yang menyerap cahaya dan kehidupan di sekelilingnya.
"Genesis," sebuah suara bergema di dalam pikiran Arthur. Bukan suara dari Architects, melainkan suara dari kehendak alam semesta yang sedang menangis.
Architects tidak mengirimkan senjata. Mereka sedang mengirimkan sebuah benih yang jika mendarat di bumi, akan mengubah seluruh materi biologis menjadi kristal energi yang akan mereka panen. Manusia, hewan, tumbuhan... semuanya akan menjadi bahan bakar bagi dimensi mereka.
"Jadi kalian benar-benar ingin memanen planet ini," bisik Arthur dalam kegelapan kamarnya. Matanya terbuka, bersinar dengan cahaya keemasan yang murni. "Kalian pikir aku akan membiarkan kalian menyentuh satu butir debu pun di rumah baruku?"
Arthur merasakan getaran di pintunya. Clara sedang mengetuk, membawa segelas susu cokelat. Arthur segera menormalkan matanya dan membuka pintu.
"Ini susumu, Sayang," ujar Clara sambil meletakkan gelas itu di meja belajar. "Tidur yang nyenyak ya setelah mengerjakan tugasmu."
Arthur menatap susu cokelat itu, lalu menatap Clara. Ia baru saja menyadari bahwa tugasnya sebagai Sovereign kini bukan lagi soal membunuh kebosanan, melainkan menjaga senyum sederhana wanita di depannya ini.
"Kak," panggil Arthur saat Clara hendak keluar.
"Ya?"
"Terima kasih untuk sup nya. Itu enak sekali," ucap Arthur dengan tulus.
Clara tertawa kecil. "Sama-sama, Arthur. Kau anak yang baik."
Setelah pintu tertutup kembali, Arthur meminum susunya dalam satu tegukan. Ia merasa energinya kembali penuh. Ia mengambil tas sekolahnya, memeriksa isinya sekali lagi. Heart of Gaia masih berdenyut di sana, siap untuk babak final yang akan menghancurkan segala kepalsuan yang telah ia bangun.
Di luar, langit mulai berubah warna menjadi merah tua, sebuah pertanda bahwa protokol Genesis telah memasuki fase atmosfer. Masyarakat yang tadi berpesta kini mulai merasa gelisah. Musik-musik di bar terhenti. Orang-orang mulai menatap langit dengan rasa takut yang baru.
"Pertunjukan akan segera dimulai," gumam Arthur sambil duduk di meja belajarnya, membuka buku PR bahasa Inggrisnya.
Ia mulai menuliskan kalimat pertama untuk tugasnya: "Cita citaku adalah memastikan dunia tetap ada agar aku bisa melihat hari esok."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Sang Sovereign, itu adalah deklarasi perang paling mematikan yang pernah ia buat dalam sejarah eksistensinya.