seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Malam itu, Mansion Maheswara terasa begitu sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang memecah keheningan di kamar utama yang luas. Kamar itu masih menyimpan aroma kayu jati tua dan parfum melati yang samar—aroma yang selalu mengingatkan Dinda pada ibunya. Namun kini, ia tidak lagi berada di sana sebagai putri kecil yang bermanja; ia adalah seorang istri.
Dinda berdiri di dekat jendela, jemarinya meremas kain gorden sutra. Ia masih mengenakan gaun putih sederhananya, namun riasannya sudah ia hapus, menyisakan wajah pucat yang tampak sangat rapuh. Di belakangnya, ia bisa mendengar langkah kaki Alan yang mendekat.
"Dinda," panggil Alan lembut.
Dinda tersentak kecil, bahunya menegang. Ia berbalik perlahan, menundukkan kepala, tak berani menatap mata pria yang kini menjadi suaminya itu. "I-iya, Tuan?"
Alan menghela napas panjang, langkahnya terhenti tepat di depan Dinda. Ia meraih tangan Dinda, namun dengan cepat Dinda menariknya kembali karena refleks ketakutan. Alan terdiam sejenak, ada kilat kepedihan di matanya melihat penolakan itu, namun ia mencoba maklum.
"Kita sudah menikah, Dinda. Secara sah," ucap Alan dengan nada rendah. "Berhentilah memanggilku 'Tuan'. Aku bukan atasanmu lagi. Aku suamimu."
Dinda menggigit bibir bawahnya. Lidahnya terasa kelu. Selama ini, sebutan 'Tuan' adalah benteng pertahanannya untuk menjaga jarak profesional dan kekuasaan di antara mereka. Menghancurkan benteng itu terasa seperti menyerahkan seluruh jiwanya.
"Tapi... saya tidak terbiasa," bisik Dinda.
"Panggil Alan saja. Seperti teman, atau seperti... orang yang kau percayai," pinta Alan lagi.
Dinda menggeleng pelan. Baginya, memanggil nama saja terasa terlalu lancang untuk pria sekuat Alan, namun memanggil 'Tuan' juga terasa ganjil di dalam kamar pengantin mereka. Ia teringat bagaimana ibunya dulu memanggil ayahnya dengan penuh hormat namun hangat.
"Bolehkah... bolehkah saya memanggil dengan sebutan Mas?" tanya Dinda hampir tak terdengar. "Rasanya lebih... pantas untuk saya."
Alan tertegun. Kata 'Mas' terdengar begitu asing namun sangat manis saat keluar dari bibir Dinda. Sebutan itu mengandung penghormatan sekaligus kedekatan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari wanita mana pun, termasuk Sofia yang selalu mendidiknya dengan kekakuan.
"Mas?" Alan mengulanginya, sebuah senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di wajahnya. "Jika itu membuatmu merasa lebih nyaman, aku tidak keberatan. Apapun, asal jangan Tuan."
"Terima kasih... Mas Alan," ucap Dinda pelan, wajahnya sedikit merona karena canggung.
**
Alan melangkah ke arah ranjang besar di tengah ruangan, lalu duduk di tepinya. Ia menepuk tempat di sampingnya. "Kemarilah. Duduklah sebentar. Kita perlu bicara, bukan sebagai bos dan karyawan, tapi sebagai dua orang yang akan berbagi hidup."
Dinda melangkah ragu, duduk di ujung ranjang dengan jarak yang cukup jauh dari Alan. Ia terus menatap jemarinya sendiri.
"Dinda, aku tahu pernikahan ini diawali dengan hal yang buruk. Aku tahu kau mungkin membenciku, atau setidaknya takut padaku," Alan bicara dengan nada yang sangat jujur. "Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun malam ini. Aku ingin kita membangun kembali apa yang hancur, dimulai dari rumah ini."
Dinda menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Alan. "Kenapa Mas melakukan semua ini? Memberikan perusahaan, rumah... bahkan melawan Nyonya Sofia?"
Alan menatap langit-langit kamar. "Mungkin karena aku ingin menebus sesuatu yang bahkan kau sendiri belum tahu, Dinda. Atau mungkin... karena aku memang sudah kalah pada perasaanku sendiri sejak pertama kali melihatmu."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Rasa canggung itu masih ada, berat dan menyesakkan, namun sebutan 'Mas' yang baru saja disepakati seolah menjadi jembatan kecil di atas jurang perbedaan mereka.
"Istirahatlah," ucap Alan akhirnya, ia berdiri dan mengambil bantal serta selimut tambahan. "Aku akan tidur di sofa panjang itu. Aku tidak ingin membuatmu merasa terancam di malam pertama kita di rumah orang tuamu."
Dinda tertegun melihat Alan yang begitu mengerti. "Mas... Mas tidak harus begitu. Ini kamar Mas juga sekarang."
Alan tersenyum hambar sambil berjalan menuju sofa. "Aku ingin kau tidur nyenyak malam ini tanpa rasa takut, Dinda. Itu sudah cukup bagiku untuk sekarang. Selamat malam, Istriku."
Dinda menatap punggung Alan yang berbaring di sofa. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena kebingungan yang luar biasa. Ia berada di rumah masa kecilnya, menikah dengan pria yang menghancurkannya, namun pria itu justru memberikan rasa aman yang tidak ia sangka.
**
Malam yang semula sunyi itu pecah seketika. Langit di atas Mansion Maheswara seolah terbelah oleh kilatan petir yang menyambar-nyambar, diikuti oleh deru hujan yang menghantam atap seng dengan bising yang memekakkan telinga.
DUARRR!
Satu dentuman petir yang sangat keras menggetarkan kaca-kaca jendela, dan dalam sekejap, seluruh mansion itu tenggelam dalam kegelapan total. Listrik padam.
"AAAKKKHHH! TIDAK! JANGAN!"
Jeritan melengking Dinda memecah kegelapan di dalam kamar utama. Ia terbangun dalam keadaan syok, napasnya memburu, dan tangannya meraba-raba udara dengan kalap. Trauma masa kecil saat kecelakaan orang tuanya yang terjadi di tengah badai seolah bangkit kembali. Bagi Dinda, kegelapan adalah maut.
Alan yang tertidur di sofa panjang langsung terjaga. Ia menyalakan senter dari ponselnya dan bergegas menghampiri Dinda. "Dinda! Aku di sini! Tenang, Dinda!"
Dinda tidak menjawab, ia hanya terisak histeris. Begitu melihat cahaya ponsel Alan, ia langsung menghambur, memeluk lengan pria itu dengan erat, kuku-kukunya mencengkeram lengan baju Alan hingga berbekas.
*
Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang berlari terburu-buru. Cahaya senter yang goyang menyapu lantai koridor. Itu Dika. Wajahnya pias, ia tahu betul kakaknya memiliki fobia akut terhadap gelap dan petir sejak kematian ayah dan ibu mereka.
"KAK DINDA! KAKAK DI MANA?!" teriak Dika dengan suara parau, ia menggedor pintu kamar utama. "KAK, JANGAN TAKUT! DIKA DI SINI!"
Pintu terbuka. Alan dan Dinda melangkah keluar. Cahaya senter Dika langsung menyorot ke arah mereka. Langkah Dika terhenti seketika. Jantungnya serasa diremas melihat pemandangan di depannya: Dinda sedang memeluk lengan Alan dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di balik bahu pria itu, sementara tangan Alan merangkul pinggang Dinda untuk menopang tubuh kakaknya yang lemas.
Dika menurunkan senternya perlahan. Cahayanya kini hanya menyinari lantai. Ia terdiam. Ada rasa perih yang asing menghujam dadanya—ia baru saja tersadar bahwa perannya sebagai pelindung tunggal kakaknya telah berakhir. Kakaknya sudah menjadi milik orang lain.
"Dika..." suara Dinda bergetar, ia mencoba melepaskan pegangannya, namun petir kembali menggelegar dan ia kembali meringkuk di dekapan Alan.
Dika menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya. Ia menatap Alan dengan tatapan yang sangat tajam di bawah temaram cahaya senter. "Jaga dia, Alan," ucap Dika, kali ini tanpa embel-embel 'Tuan' atau kebencian yang meledak, melainkan sebuah instruksi dingin dari seorang laki-laki kepada laki-laki lain. "Kakak takut gelap. Dia bisa pingsan kalau terlalu lama ketakutan. Jangan lepas tangannya."
*
Tak lama kemudian, seorang ART datang tergesa-gesa membawa dua lampu emergency yang cukup terang, memberikan sedikit kelegaan pada atmosfer yang mencekam itu.
"Mas Dika, ini lampunya. Maaf, sepertinya gardu di depan tersambar petir," lapor ART itu.
Alan mengambil salah satu lampu dan menatap Dika. "Sudah larut, Dika. Kembali ke kamarmu dan istirahatlah. Aku yang akan menjaga kakakmu sekarang. Percayalah padaku, dia aman."
Dika menatap kakaknya sekali lagi, melihat bagaimana Dinda perlahan mulai tenang dalam perlindungan Alan. Dengan berat hati, Dika mengangguk. "Kalau Kakak butuh apa-apa, teriak saja. Kamarku cuma di sebelah."
Setelah Dika berlalu, Alan membimbing Dinda kembali ke dalam kamar. Suara hujan masih menderu di luar. Alan meletakkan lampu emergency di atas nakas, menciptakan pendar cahaya kuning yang hangat di seluruh ruangan.
Dinda duduk di tepi ranjang, masih gemetar. Alan duduk di sampingnya, membiarkan tangan Dinda tetap menggenggam jemarinya.
"Tidurlah di sini, di kasur," ucap Alan pelan. "Aku akan menjagamu sampai pagi."
Dinda menatap ranjang besar itu, lalu menatap Alan. Ia tahu ia tidak mungkin membiarkan Alan kembali ke sofa di tengah badai seperti ini sementara ia ketakutan setengah mati. "Mas... Mas Alan... tidur di sini saja. Tapi..."
Dinda menunduk, suaranya mengecil. "Tapi tolong... jangan lakukan itu. Saya... saya belum siap. Saya masih takut."
Alan menatap mata Dinda yang berkaca-kaca. Ia melihat trauma yang mendalam di sana, bukan sekadar penolakan biasa. Alan mengulurkan tangan, mengusap rambut Dinda dengan sangat lembut—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Aku berjanji, Dinda," bisik Alan. "Malam ini, tujuanku hanya menjagamu dari gelap dan petir. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari sekadar menggenggam tanganmu jika kau butuh. Aku ingin kau tahu bahwa kau bisa mempercayaiku."
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berbaring di tempat tidur yang sama sebagai suami istri. Ada jarak di antara mereka, namun tangan mereka saling bertautan di atas sprei. Dinda memejamkan mata, perlahan rasa kantuk menjemputnya di tengah deru badai, merasa sedikit tenang karena ada sosok yang menjaganya di balik kegelapan.
***
Bersambung...