NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Terbentuk

Sore menjelang.

Langit mulai berubah warna saat aku akhirnya sampai di rumah.

Motor kupelankan saat masuk ke halaman, lalu berhenti di garasi.

Mesin kumatikan.

Hening.

Beberapa detik aku hanya duduk diam.

Pikiranku masih tertinggal di bengkel tadi.

Perlahan, aku turun.

Mataku langsung tertuju pada motorku.

Si 73 biru.

Aku mendekat.

Menatapnya lebih lama dari biasanya.

Tangkinya.

Rangkanya.

Semua masih sama seperti dulu.

Tapi entah kenapa…

rasanya sekarang berbeda.

Tanganku menyentuh bagian tangki pelan.

Dingin.

Biasa.

Tapi di kepalaku—

mulai muncul bayangan.

Kalau bagian ini diubah…

Kalau bentuknya dibuat lebih ramping…

Kalau warnanya—

Aku berhenti.

Menarik napas pelan.

Takut keburu lupa.

Bayangan itu masih belum jelas.

Tapi ada.

Dan aku nggak mau hilang begitu saja.

Aku menatap motor itu sekali lagi.

Lalu berbalik masuk ke dalam rumah.

Ruang tengah terasa hangat.

Lampu sudah menyala.

Ibu duduk santai di sofa, menonton TV.

Aku melangkah masuk.

“Rendraa…” panggil ibu.

“Iya, Bu,” jawabku sambil berjalan mendekat.

“Dari mana kamu? Kok baru pulang?” tanyanya.

Aku menggaruk kepala sedikit.

“Hmm… pulang sekolah tadi, teman ngajak main ke rumahnya,” jawabku santai.

Ibu mengangguk kecil.

“Oh… tadi Cila ke sini, kayaknya nyari kamu. Tapi langsung pulang lagi,” katanya.

Langkahku sempat terhenti.

“…Cila?” gumamku pelan.

“Iya,” lanjut ibu. “Mungkin nggak tahu kamu ke mana.”

Aku diam sebentar.

Ada rasa aneh lewat.

Sedikit kaget.

Sedikit… senang.

Tapi juga—

entah kenapa—

kayak ada yang terlewat.

“Oh… ya udah,” jawabku akhirnya.

“Rendra ke kamar dulu ya, Bu.”

Ibu hanya mengangguk.

“Iya.”

Aku langsung berbalik.

Langkahku sedikit lebih cepat.

Bukan karena terburu-buru.

Tapi karena pikiranku mulai penuh lagi.

Tentang bengkel.

Tentang motor.

Tentang bayangan yang tadi sempat muncul—

dan belum sempat kutangkap sepenuhnya.

--

Sampai di depan kamar, aku berhenti sebentar.

Tanganku memegang gagang pintu.

Diam.

Sekejap.

Bayangan Cila sempat lewat.

Datang ke rumah.

Nyari aku.

Lalu pulang.

Aku menghela napas pelan.

“…nanti aja,” gumamku.

Aku membuka pintu.

Masuk.

Dan menutupnya perlahan.

Tapi sebelum melakukan apa pun—

aku memutuskan satu hal.

Mandi dulu.

Biar kepala lebih segar.

Karena aku tahu—

malam ini,

aku nggak mau kehilangan ide itu.

--

Setelah mandi, aku memakai baju santai.

Kaos tipis dan celana pendek.

Badan terasa lebih ringan.

Kepala juga sedikit lebih segar.

Aku duduk di tepi kasur.

Mengambil ponsel.

Menatap layar sebentar.

Lalu mengetik.

“Cilaa…”

Pesan terkirim.

Aku menunggu.

Beberapa detik.

Belum ada balasan.

Aku menghela napas pelan.

Tanganku meraih kertas, pensil, dan beberapa alat lain di meja.

Aku pindah duduk ke kursi belajar.

Menariknya sedikit mendekat.

Lalu duduk.

Pikiranku kembali ke bengkel tadi.

Motor itu.

Tangkinya.

Bentuknya.

Detailnya.

Aku membuka browser di ponsel.

Mencari.

C70.

Beberapa gambar muncul.

Aku memperhatikan satu per satu.

Mencari bentuk dasar.

Referensi.

Aku mulai menggambar.

Pelan.

Bagian demi bagian.

Garis awal.

Rangka.

Tangki.

Aku berhenti sebentar.

Menghapus sedikit.

Menggambar lagi.

Tapi lama-lama…

rasanya mulai ribet.

Gambarnya belum jelas.

Pikiranku keburu lari ke mana-mana.

“Ah…”

Aku menghela napas pelan.

Dan saat itu—

getar.

Ponsel di sampingku bergetar.

Aku langsung melirik.

Cila.

“Iya…”

Aku tanpa sadar tersenyum kecil.

Cepat-cepat kubuka.

Jari-jariku langsung mengetik.

“Lagi ngapain…”

Terkirim.

Tidak lama—

balasan muncul lagi.

“Lagi bosen…”

Aku diam.

Menatap layar.

Bosen.

Entah kenapa…

kata itu terasa punya arti lebih.

Aku melirik kertas di depanku.

Gambar yang belum jadi.

Masih berantakan.

Lalu kembali ke ponsel.

Pikiranku mulai bercabang lagi.

Fokus ke ini…

atau—

ke dia.

Aku diam cukup lama.

Mungkin beberapa menit.

Tanpa sadar hanya menatap layar.

Sampai akhirnya—

getar lagi.

Pesan baru.

“Ehm, sibuk ya”

Aku terdiam.

Jantungku sedikit berdebar.

Refleks.

Tanpa banyak berpikir lagi—

aku mengambil keputusan.

Aku berdiri.

Meraih tas.

Memasukkan laptop yang selama ini bahkan belum pernah benar-benar kupakai.

Sekalian.

Siapa tahu…

aku bisa lanjut di sana.

Dan—

mungkin…

dia juga bisa lihat.

Atau bahkan bantu.

Aku kembali mengambil ponsel.

Mengetik cepat.

“Aku ke rumah kamu ya…”

Kukirim.

Tanpa menghapus.

Tanpa ragu lagi.

Dan berjalan keluar kamar.

--

Setelah itu, aku langsung ke rumah Cila lewat pintu halaman belakang.

Seperti biasa.

Pintu besinya terbuka.

Aku masuk.

Dan benar saja—

Cila sudah duduk di sofa belakang.

Seolah memang sedang menunggu.

Aku mendekat.

“Tumben, papa kamu ke mana?” tanyaku santai.

“Nggak tahu, belum pulang,” jawabnya. Lalu matanya turun ke arah tas yang kubawa. “Ngapain kamu bawa tas?”

Aku sedikit nyengir.

“Ada deeh… nanti kamu bantu, ya,” ucapku.

Cila mengernyit kecil, tapi nggak banyak tanya.

Aku langsung menaruh tas di meja.

Menggesernya sedikit lebih dekat ke bangku.

Lalu kubuka.

Laptop.

Aku keluarkan dan langsung kubuka di atas meja.

Layarnya menyala.

“Aku tuh mau ubah tampilan motor aku,” kataku sambil mulai membuka beberapa gambar referensi. “Kira-kira bagusnya gimana menurut kamu?”

Cila langsung mendekat.

Lebih dekat dari biasanya.

Dia membungkuk sedikit, fokus ke layar.

Aku bisa merasakan lengannya menyentuh lenganku.

Pelan.

Hangat.

Aku sempat diam.

Menoleh sedikit.

Wajahnya dekat.

Sangat dekat.

Matanya fokus ke layar.

Aku menarik napas pelan.

Wangi khasnya…

entah kenapa selalu sama.

Dan selalu bikin dadaku terasa penuh.

Nyaman.

Aku kembali ke layar.

Berusaha fokus.

Kursor mulai bergerak.

Aku mencoba menggambar ulang konsepnya.

Mengubah bentuk.

Menambah detail.

“Hmm… kalau yang ini terlalu rame, nggak sih?” kata Cila sambil menunjuk layar.

Aku melirik.

“Yang mana?”

“Itu… yang bagian sini. Coba lebih simpel deh.”

Aku mengangguk.

Menghapus sedikit.

Mengganti garisnya.

“Kalau gini?”

Cila memperhatikan lagi.

“Kekecilan,” katanya santai.

Aku sengaja memperbesar.

Lebih ekstrem.

“Kalau gini?”

Dia langsung ketawa kecil.

“Ih, itu mah jadi aneh!”

Aku ikut nyengir.

“Ya siapa tahu unik.”

Cila geleng-geleng kepala, masih sambil ketawa.

“Unik sih… tapi nggak enak dilihat.”

Aku kembali mengubah.

Sedikit demi sedikit.

“Kalau ini?”

“Hmm…” Cila mendekat lagi, matanya menyipit sedikit. “Mending yang tadi… tapi bagian depannya jangan terlalu tinggi.”

Aku mengikuti.

Menggeser.

Mengatur lagi.

“Terus warna?” tanyaku.

Cila berpikir sebentar.

“Jangan terlalu banyak warna. Dua atau tiga aja. Biar kelihatan clean.”

Aku mengangguk.

Masuk akal.

Kami terus mencoba.

Ganti.

Hapus.

Tambah.

Sesekali aku sengaja bikin yang aneh.

Dan setiap kali itu terjadi—

Cila pasti bereaksi.

Kadang ketawa.

Kadang protes.

Kadang cuma geleng kepala.

Dan entah kenapa…

aku menikmati itu.

Bukan cuma karena motornya.

Tapi karena momen ini.

Duduk berdampingan.

Dekat.

Tanpa jarak.

Tanpa canggung.

Waktu terasa jalan lebih cepat.

Tanpa sadar, desain di layar mulai terbentuk.

Lebih rapi.

Lebih jelas.

Lebih… “punya arah”.

Aku berhenti sebentar.

Menatap layar.

Lalu melirik ke arah Cila.

“Gimana?”

Cila memperhatikan beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Ini sih… bagus.”

Aku tersenyum kecil.

“Fix ya?”

Cila ikut tersenyum.

“Iya. Ini aja.”

Aku mengangguk.

Menatap layar sekali lagi.

Entah kenapa—

kali ini rasanya beda.

Bukan cuma karena desainnya jadi.

Tapi karena…

aku nggak ngerjain ini sendirian.

Aku mengangguk.

Menatap layar sekali lagi.

Desainnya belum sempurna.

Masih banyak yang harus diperbaiki.

Tapi…

sudah cukup jelas arahnya.

Aku menutup laptop perlahan.

Melirik ke arah Cila yang masih duduk di sampingku.

“Thanks ya,” ucapku santai.

Cila tersenyum kecil.

“Iya.”

Sederhana.

Tapi cukup.

Aku berdiri, merapikan tas.

Sebelum pergi, aku sempat menoleh lagi.

Cila masih di situ.

Duduk santai.

Seperti biasa.

Dan entah kenapa…

rasanya tempat ini selalu sama.

Nyaman.

Aku melangkah pulang lewat pintu belakang.

Udara sore mulai berubah.

Sedikit lebih dingin.

Di kepalaku…

bukan cuma soal motor lagi.

Tapi juga—

besok…

aku bakal bawa ini ke bengkel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!