Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pengadilan Hati dan Tatapan Sang Penguasa
Pagi itu, langit Jakarta tampak seputih kapas yang dicelupkan ke dalam pemutih—steril, pucat, dan tanpa nyawa. Cahaya matahari yang berusaha menembus kaca jendela unit 1401 terasa menyilaukan namun tidak memberikan kehangatan. Aku berdiri di depan cermin besar di kamarku, menatap bayangan seorang wanita yang mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam.
Tidak ada gaun sutra. Tidak ada hiasan rambut yang rumit. Tidak ada aroma lavender yang biasanya dipaksakan Ayah untuk kupakai agar aku terlihat seperti "putri porselen" yang sempurna.
Aku meraba pergelangan tangan kiriku. Bekas lecet imajiner dari alkohol medis yang digunakan Ayah tiga tahun lalu seolah kembali berdenyut. Di sana, di bawah kulit yang pucat, aku tahu nama Devan pernah terukir dan dihapus secara paksa. Hari ini, aku akan membawa nama itu, bersama dengan seluruh fragmen kaca dan memori yang telah kusatukan, ke hadapan pria yang mencoba menghancurkannya.
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan. Sandi itu.
Aku segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Devan berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja hitam formal yang sedikit ketat di bagian bahu, menonjolkan postur tubuhnya yang tegap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan seluruh wajahnya yang tegas. Namun, matanya tetap sama—sekelam malam dan penuh kewaspadaan.
"Sudah siap?" tanya Devan rendah. Tatapannya menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat persetujuan di matanya saat melihatku tidak lagi mengenakan pakaian pilihan Ayah.
"Aku siap," jawabku mantap. "Kau melihat bayangan itu lagi semalam?"
Wajah Devan mengeras. Ia melirik ke arah unit 1403, tempat tim Satria bersiap. "Satria bilang itu mungkin hanya efek kelelahanmu, tapi aku tidak percaya. CCTV di lorong ini mengalami glitch selama tiga menit tepat saat kau melihat sosok itu. Seseorang telah meretas sistem keamanan Kejaksaan."
"Dokter Frans..." bisikku, rasa dingin kembali merayapi tengkukku. "Jika dia bisa masuk ke sini, berarti dia bisa masuk ke mana saja."
Devan melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma mint dan parfum maskulin yang segar dari tubuhnya. Ia meletakkan tangannya di bahuku, memberikan remasan yang memberikan kekuatan.
"Dia tidak akan bisa menyentuhmu hari ini, Anya. Jaksa Satria sudah menambah personel pengawalan. Dan yang paling penting... kau tidak lagi sendirian di dalam kepalamu. Ingat itu."
Aku mengangguk, menghirup napas panjang untuk menenangkan detak jantungku yang mulai liar. Kami berjalan menuju lift, dikawal oleh empat orang intelejen berpakaian sipil yang tampak sangat siaga. Sepanjang perjalanan menuruni gedung, keheningan lift hanya dipecahkan oleh suara dengung mesin dan napas kami yang teratur.
Gedung Pengadilan Negeri tampak seperti monumen beton yang dingin di tengah kemacetan kota. Kerumunan wartawan sudah berkumpul di gerbang luar, namun mobil SUV hitam yang membawaku meluncur masuk melalui jalur khusus rubanah.
Jaksa Satria menunggu kami di depan pintu lift khusus saksi. Ia terlihat luar biasa lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang semakin jelas, namun lencana jaksanya tetap berkilat penuh otoritas.
"Persidangan hari ini bersifat tertutup untuk umum karena melibatkan saksi kunci di bawah perlindungan," ujar Satria saat kami berjalan menyusuri koridor pengadilan yang berbau buku tua dan lantai lilin. "Hendra Kusuma sudah ada di dalam. Pengacaranya sedang mencoba mengajukan eksepsi agar kesaksianmu dianulir karena alasan kondisi kejiwaan yang tidak stabil."
"Dia masih menggunakan kartu itu," desisku pedas.
"Tentu saja," Satria berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar yang dijaga ketat. "Baginya, kau adalah aset yang sedang mengalami kerusakan fungsi. Dia akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa ingatanmu hanyalah delusi."
Satria menatapku lekat-lekat. "Anya, begitu kau masuk ke sana, dia akan mencoba mengintimidasi dirimu tanpa kata-kata. Dia akan menggunakan kasih sayang palsunya sebagai senjata. Bisakah kau bertahan?"
Aku melirik ke arah Devan yang berdiri tepat di sampingku. Devan tidak boleh masuk ke ruang sidang sebagai saksi sampai jadwalnya tiba, namun ia menggenggam tangan kiriku erat-erat sebelum aku melangkah masuk.
"Ingat fragmen kaca itu, Anya," bisik Devan di telingaku. "Gunakan itu untuk merobek topengnya."
Pintu terbuka. Udara di dalam ruang sidang terasa sangat dingin, nyaris membekukan. Aku melangkah masuk, dan seketika itu juga, duniaku menyempit pada satu titik.
Di kursi terdakwa, duduklah Hendra Kusuma.
Ia tidak memakai baju tahanan oranye yang kumal. Entah bagaimana, kekuasaannya masih mampu memberinya hak untuk mengenakan setelan jas wol berwarna abu-abu gelap yang tak bercela. Rambutnya tertata rapi. Ia duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura seorang raja yang sedang duduk di singgasananya, bukan seorang kriminal yang sedang diadili.
Saat matanya bertemu dengan mataku, hatiku mencelos. Tidak ada kemarahan di sana. Yang ada hanyalah tatapan penuh cinta yang sangat dalam, sangat hangat, dan sangat manipulatif. Tatapan yang selama sembilan belas tahun membuatku percaya bahwa ia adalah satu-satunya pelindungku di dunia ini.
"Anya... putriku," suaranya menggema lembut di ruangan yang sunyi itu, melanggar protokol persidangan.
"Terdakwa harap diam," tegur Hakim Ketua dengan ketukan palu yang keras.
Aku duduk di kursi saksi yang berada tepat di tengah ruangan, menghadap ke arah majelis hakim namun juga bisa melihat Hendra dari sudut mataku. Satria mulai membacakan berita acara pemeriksaan, namun aku hampir tidak mendengar suaranya. Fokusku terpecah oleh cara Ayah menatapku—ia terus memberikan senyum tipis yang seolah berkata: Ayah memaafkanmu, Sayang. Kembalilah pada Ayah.
"Saksi Anya Kusuma," suara Hakim Ketua menarikku kembali. "Apakah Anda merasa cukup sehat untuk memberikan kesaksian hari ini?"
Aku menarik napas panjang. "Saya sehat, Yang Mulia. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, saya benar-benar sehat."
Persidangan pun dimulai. Satria mulai mengajukan pertanyaan tentang malam kecelakaan itu. Aku menceritakan semuanya. Tentang rencana pelarianku dengan Devan. Tentang bagaimana Ayah mengejar kami dengan mobil pengawal. Tentang benturan keras yang memutarbalikkan dunia kami.
"Keberatan, Yang Mulia!" pengacara Hendra, seorang pria paruh baya dengan suara melengking, berdiri. "Saksi menderita amnesia disosiatif kronis menurut rekam medis Dokter Frans Sugiarto. Apa yang ia ceritakan hanyalah hasil konstruksi ingatan palsu yang mungkin disuntikkan oleh pihak-pihak yang ingin menyudutkan klien kami."
Aku mengepalkan tangan di atas meja saksi.
"Ingatan saya bukan palsu," suaraku keluar dengan nada yang sangat stabil, lebih stabil dari yang kubayangkan. "Ingatan saya memang dihapus. Secara medis. Oleh Dokter Frans atas perintah ayah saya sendiri."
Ruang sidang seketika gaduh dengan bisikan-bisikan dari staf pengadilan. Hendra Kusuma masih mempertahankan ekspresi tenangnya, namun aku melihat urat di rahangnya mulai menonjol.
"Saksi punya bukti?" tanya Hakim.
Aku menatap Hendra lurus-lurus. "Saya punya bekas luka di pergelangan tangan kiri saya yang sengaja dikikis dengan alkohol medis agar nama orang yang saya cintai hilang dari sana. Saya punya fragmen kaca dari mobil yang sengaja Ayah tabrakkan ke arah saya. Dan saya punya suara di dalam kepala saya yang akhirnya bisa mengenali kebenaran dari kebohongan."
Hendra tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang sangat elegan, namun di telingaku terdengar seperti desis ular.
"Anya, Sayang," Hendra bicara lagi, kali ini dengan nada yang penuh belas kasihan yang dibuat-buat. "Ayah melakukan semuanya untuk melindungimu. Kau masih terlalu muda saat itu untuk memahami bahwa anak laki-laki itu—si Devan—hanyalah sampah yang ingin memanfaatkan harta kita. Ayah tidak menghapus ingatanmu, Ayah hanya membantumu melupakan trauma agar kau bisa bahagia."
"Bahagia?!" teriakku, meledak karena muak. "Bahagia dalam penjara kaca beraroma lavender?! Bahagia sementara Devan harus hidup di bawah tanah seperti tikus karena fitnahmu?! Kau tidak melindungiku, Ayah. Kau hanya ingin memiliki kendali penuh atas properti milikmu yang bernama Anya!"
Palu hakim kembali diketuk berkali-kali. "Saksi harap tenang!"
Aku mengatur napasku yang memburu. Aku melirik ke arah pintu keluar. Di sana, melalui celah kecil di kaca pintu, aku melihat mata Devan. Ia masih di sana. Menungguku.
Aku kembali menatap Ayah. Kali ini, ketakutanku sudah hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah tekad yang tajam seperti porselen yang pecah.
"Yang Mulia," ujarku dengan suara yang jernih. "Saya ingin menyerahkan bukti tambahan yang selama ini disembunyikan oleh terdakwa. Sebuah rekaman audio dari ponsel saya yang sempat retak namun berhasil dipulihkan oleh tim forensik digital Kejaksaan semalam."
Wajah Hendra seketika pucat pasi. Topeng ketenangannya retak.
Satria melangkah maju dan memutar rekaman tersebut melalui pengeras suara ruangan.
“Anya?! Anya, apa yang terjadi?! Nya, kau di sana?! Tahan, aku datang sekarang! Jangan ke mana-mana, aku mohon tunggu aku!” — Suara Devan yang panik terdengar di ruangan.
Lalu, disusul oleh suara pintu yang didobrak, suara hujan yang bising, dan suara berat yang sangat kukenal:
“Ambil dia, Frans. Pastikan dia tidak ingat apa pun tentang malam ini. Terutama tentang anak pembunuh itu. Jika ia bangun dan masih menyebut namanya, naikkan dosisnya sampai otaknya bersih.”
Keheningan yang mematikan jatuh di ruang sidang. Suara Hendra Kusuma yang dingin dan tanpa belas kasihan di rekaman itu menjadi paku terakhir bagi kerajaannya.
Hendra Kusuma merosot di kursinya. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat Ayah terlihat sangat tua. Sangat lemah. Dan sangat menyedihkan.
Setelah persidangan ditunda untuk pemeriksaan bukti audio, aku keluar dari ruangan dengan kaki yang terasa ringan namun gemetar karena luapan emosi. Begitu pintu terbuka, Devan langsung menerjang maju dan menangkapku dalam pelukannya.
Ia tidak peduli pada tatapan para pengawal atau staf pengadilan. Ia membenamkan wajahnya di leherku, dan aku bisa merasakan tubuhnya yang besar sedikit bergetar.
"Kau melakukannya, Anya," bisiknya parau. "Kau benar-benar melakukannya."
"Kita melakukannya, Devan," balasku, membalas pelukannya dengan kekuatan penuh.
Namun, di tengah momen kemenangan itu, aku merasakan sebuah tatapan yang menusuk dari kejauhan koridor. Aku melepaskan pelukanku sedikit dan menoleh.
Di ujung koridor yang remang-remang, Dokter Frans berdiri dengan jas putihnya, menatap kami dengan senyum miring yang menyeramkan. Ia tidak sedang dikawal. Ia tampak bebas bergerak di area pengadilan ini. Sebelum aku sempat berteriak, ia menempelkan jari telunjuknya ke bibir—isyarat untuk diam—lalu menghilang di balik lift.
"Devan... itu dia," bisikku ketakutan, menunjuk ke arah lift.
Devan langsung menegang, namun saat tim Satria mengecek ke sana, koridor itu sudah kosong.
Malam itu, kembali ke apartemen, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di balkon, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang kini terasa seperti jebakan cahaya. Memori masa SMA kembali berkelebat di kepalaku—sebuah memori tentang bagaimana Ayah pertama kali menunjukkan sisi "penguasa"-nya kepadaku, jauh sebelum kecelakaan terjadi.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. RUANG MAKAN MEWAH - MALAM HARI (MASA LALU)
Filter visual sangat tajam dan kontras. Suasana ruangan sangat mewah, hanya diterangi oleh lampu gantung kristal yang besar. ANYA (14 tahun) sedang makan malam bersama AYAH (Hendra Kusuma).
Anya secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas kristal mahal hingga pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.
ANYA
(Gemetar, ketakutan)
"Maaf, Yah... Anya nggak sengaja."
Hendra tidak marah. Ia justru meletakkan garpu dan pisaunya dengan sangat tenang. Ia berdiri dan berjalan mendekati Anya. Ia mengambil sebuah pecahan kaca yang paling tajam dari lantai.
HENDRA
"Kau tahu kenapa gelas ini pecah, Anya?"
ANYA
"Karena... Anya kurang hati-hati?"
HENDRA
(Menatap pecahan kaca itu dengan saksama)
"Bukan. Karena ia rapuh. Dan di dunia ini, benda yang rapuh tidak punya hak untuk ada kecuali ia dijaga oleh tangan yang kuat."
Hendra menggenggam pecahan kaca itu hingga telapak tangannya sedikit berdarah, namun ia tetap tersenyum pada Anya.
HENDRA (CONT'D)
"Kau adalah gelas kristal Ayah yang paling mahal, Anya. Ayah akan memastikan tidak ada satu pun debu yang menyentuhmu. Dan jika kau berani memecahkan dirimu sendiri... Ayah akan merakitmu kembali dengan cara apa pun, meski itu harus menyakitimu. Karena kau adalah milik Ayah."
Kamera fokus pada mata Hendra yang memancarkan kegilaan kontrol yang absolut, sementara Anya kecil hanya bisa menatap tangannya yang berdarah dengan kengerian yang tak terucapkan.
Layar perlahan memudar menjadi warna merah pekat, transisi ke wajah Anya masa kini yang menatap tangannya sendiri di balkon apartemen.
FADE OUT.
Aku menutup mataku erat-erat. Ayah bukan mencintaiku; ia mencintai ide tentang kesempurnaanku yang berada di bawah kendalinya.
"Porselen itu sudah pecah, Ayah," bisikku pada angin malam. "Dan pecahannya akan memastikan kau tidak pernah bisa menggenggamku lagi."
Tiba-tiba, pintu unitku diketuk dengan sangat keras dari luar. Bukan tiga kali ketukan Devan. Melainkan gedoran brutal yang beruntun.
"NONA ANYA! BUKA PINTUNYA! INI DARURAT!" suara salah satu tim intelejen Satria terdengar panik.
Aku berlari membukanya. Polisi itu terengah-engah.
"Ada apa?!"
"Terdakwa Hendra Kusuma... beliau baru saja dilarikan ke rumah sakit. Seseorang menyelundupkan racun ke dalam sel sementaranya di pengadilan tadi."
Duniaku kembali berputar. Permainan catur ini belum selesai. Ia baru saja memasuki fase yang jauh lebih gelap.
[BERSAMBUNG KE BAB 19]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??