Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Menciptakan Tegangan
"Kak Gerry!"
Emeery mengulang panggilan itu untuk yang kesekian kali, tapi Gerry masih saja asyik dengan pikiran liarnya. Sampai akhirnya tangan Emeery melepas genggaman, baru pria itu tersadar dan langsung memalingkan muka.
Gerry menelan ludah, malu sendiri dengan bayangan yang ada di dalam otaknya hanya gara-gara sang istri memang pakaian dinas malam. Padahal sejak tadi dia sudah mencemooh, nyatanya semua itu di luar ekspektasi dan kendalinya.
"Aku minta maaf, tapi tadi aku pikir itu kamu, makanya aku langsung keluar buat nemuin. Lagian kalo kimononya dipake jadi tertutup kok," ujar Emeery mengaku salah tapi masih mencari pembelaan. Dan entah kenapa Gerry tak suka mendengarnya.
Gerry kembali menatap Emeery, tapi kali ini dengan sedikit picingan dan tangannya bergerak cepat menaikkan kimono yang sempat jatuh ke lengan.
"Sama aja! Namanya baju buat tidur ya buat di kamar aja, nggak ada acara keluar-keluar nemuin yang lain, apalagi itu cowok," cerocos Gerry, lagaknya seperti suami yang sedang cemburu. Namun, jika ditodong pertanyaan seperti itu, dia pasti takkan mengaku.
Tanpa menunggu jawaban Emeery, Gerry langsung berjalan ke sudut ruangan. Tempat dia menyimpan flashdisk, karena sebenarnya tujuan utama dia kembali ke kamar adalah mengambil benda tersebut.
"Iya-iya, nggak lagi-lagi. Tapi ...."
Gerakan tubuh Gerry langsung terhenti, dia membalik badan dan kembali berhadapan dengan Emeery yang selalu punya bantahan.
"Tapi apa?" sungutnya.
"Kakak bersikap kayak gini karena udah cinta sama aku?"
Jleb!
Pertanyaan itu langsung tembus ke dada Gerry hingga ia tercenung beberapa saat. Otaknya berputar-putar mencari jawaban, seakan pertanyaan itu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Cletak! Tangan Gerry menyetil dahi Emeery hingga gadis itu mengaduh dan terperangah.
"Ngaco! Belajar lagi sana gimana jadi istri yang baik," imbuh Gerry seraya melangkah pergi. Dia kembali ke ruang kerja, meninggalkan Emeery dengan tampang cengo.
"Ini termasuk K*DRT bukan sih? Aku kan cuma nanya, malah dibales begini," gerutu Emeery. Sambil memegangi jidatnya, dia naik ke atas ranjang dengan kaki yang menghentak-hentak karena kesal.
Sedangkan Gerry yang kini sudah duduk kembali di meja kebesarannya malah jadi kepikiran kejadian tadi. Bayangan wajah Emeery, bagian-bagian tubuhnya yang putih, seakan berputar memenuhi kepala.
Hingga 30 menit berlalu Gerry tak bisa fokus pada pekerjaannya. Dia menarik diri dari hadapan komputer dan menghela napas panjang serta kasar.
"Sial, kenapa jadi nggak konsen gini ya?" gumam Gerry sambil mengusap-usap dagu. Kopi di atas meja sudah tandas, bukti bahwa sedari tadi dia lebih banyak kepikiran istri kecilnya.
Akhirnya Gerry meraih ponsel, ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh kedua sahabatnya. Kebetulan Ghara dan Edo sedang lembur, tapi mereka memilih mengerjakannya di basecamp. Tanpa ba bi bu, Gerry beranjak dan mengambil kunci motor.
Malam itu tanpa sepengetahuan Emeery dia keluar untuk sekedar melepas bayangan yang tak seharusnya hadir dan menciptakan hasratt yang membumbung tinggi.
Dedaunan di jalan berhembus ketika motor yang dinaiki Gerry lewat. Hingga tak butuh waktu lama pria itu tiba di basecamp yang selalu menjadi tempat pelarian sejak mereka masih muda.
Ceklek!
Saat pintu terbuka orang yang ada di dalam langsung mengalihkan atensi mereka ke arah Gerry yang berwajah bimbang. Ghara dan Edo saling tatap, mereka seakan berkomunikasi melalui mata.
"Ngapa lu? Demen banget kabur-kaburan dari bini, padahal seharusnya penganten baru kan lagi anget-angetnya," tanya Ghara sekaligus melayangkan cibiran.
"Gue sama Merry belum sampe tahap itu," jawab Gerry, dia masih berdiri dan memegang gagang pintu, entah kenapa tubuhnya tertahan di sana dan enggan untuk duduk.
Dahi kedua sahabatnya langsung berkerut.
"Lah kenapa? Jangan bilang karena lu masih belum move on," balas Edo, tubuhnya yang semula lurus ke depan kini sudah menyamping dan menatap Gerry dengan seksama.
"Lagian sama aja kali, Ger, mau sekarang ataupun nanti. Siap nggak siap, pernikahan lu udah terjadi, move on atau belum, bini lu yang sekarang ya si Dede Gemes itu, lu mau bertingkah kayak apalagi?" timpal Ghara, kali ini jawabannya sedikit lebih waras dan mampu membuka pikiran Gerry.
Benar juga, apa yang dia tunggu? Jatuh cinta pada Emeery dulu baru melakukan semua rutinitas layaknya suami istri sungguhan? Lantas harus berapa lama lagi? Bukankah seharusnya dia yang lebih dewasa membimbing Emeery dan mengajaknya belajar membina rumah tangga.
'Ck, kenapa gue jadi beg0 gini?'
"Udahlah, Ger, lupain Mona dan buka lembaran baru. Kasihan kalo anak bocah suruh nunggu dan mahamin lu. Jangan kayak ABG labil deh, anak lu udah dua," sambar Edo, ikut menyadarkan sahabatnya yang sedang hilang arah.
Pikiran Gerry yang sedang kusut seperti menemukan benang merahnya. Namun, dia masih terbengong di pintu hingga Ghara dan Edo geleng-geleng kepala.
"Ger!" panggil kedua pria itu, Gerry langsung mengangkat kepala. Namun, bukan tanggapan atas nasihat-nasihat yang keluar dari mulutnya, dia justru pamit pergi lagi.
"Gue balik dulu," katanya langsung menutup pintu tanpa menunggu jawaban. Ghara dan Edo yang ada di dalam saling pandang dan sama-sama cengo.
"Lah?"
Sementara itu di bawah langit yang telah menggulung bumi dengan kegelapan, Gerry menancap gas lagi. Bukan untuk pergi ke suatu tempat, melainkan dia pulang ke rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.
Namun, saat dia datang Emeery sudah tertidur dengan posisi menyamping. Gerry naik ke atas ranjang, mengintip dari belakang tubuh Emeery dengan hati-hati. Masih ada bekas kemerahan di dahi gadis itu, yang membuat perasaan bersalah muncul di dada Gerry.
Dia menyibak sedikit rambut Emeery yang tergerai di antara bagian leher, hingga tercium aroma sampo yang gadis itu kenakan, karena jarak mereka memang sangat dekat.
"Maafin gue ya," bisik Gerry, entah sadar atau tidak mengatakan itu.
Tangan Gerry terangkat, ingin menyentuh wajah tenang Emeery ketika tidur. Namun, Emeery malah mengigau dengan membalik badan dan melingkarkan tangannya di pinggang Gerry. Seketika Gerry langsung jadi patung.
"Kalo dia K*DRT lagi, aku bakal lapor Daddy," gumam Emeery sambil mengusak-ngusakkan wajah di dada bidang suaminya. Hingga menciptakan tegangan, tapi bukan listrik.