Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~18 Serasa dan perasaanya yang terpendam
Malam cukup larut, namun Pangeran Serasa masih memutar-mutar cangkir anggurnya di tangan.
Hatinya entah menggapa cukup remuk saat melihat Layla dan Raja Gustaf berpandangan.
"Saat lamaran di Candra, calon suami memasangkan gelang di tangan calon istrinya... Itu yang memakaikannya aku! Kaka sama sekali tidak mau hadir! Tapi sekarang?! Wanita yang ia nikahi sebagai aliansi itu ia kagumi di depan semua orang..." Serasa mengenggam erat cangkir di tangannya.
Cairan merah di dalam cangkir itu bergetar, tanda betapa erat genggaman tangan Serasa. Tatapannya kosong, tertuju pada bayangan api lilin yang menari-nari di dinding ruang kerjanya. Di luar jendela, angin malam bertiup dingin, seolah ikut membawa serta rasa sakit yang menggerogoti dadanya sejak sore tadi.
Ia teringat kembali lima hari silam, saat ia dan rombongan Jaya Wijaya tiba di Kerajaan Candra. Langit waktu itu kelabu, sama kelabunya dengan hatinya. Raja Gustaf menolak keras datang sendiri. Baginda mengirim Serasa sebagai wakil—adik laki-laki satu-satunya, yang selalu disuruh menyelesaikan urusan yang Gustaf anggap tidak penting atau membebani.
“Pernikahan ini cuma akal-akalan politik saja,” begitu kata Gustaf waktu itu dengan nada meremehkan. “Aku tidak perlu datang. Kau saja yang mewakili. Pasangkan gelang itu, tanda tangani persetujuannya, lalu bawa dia ke sini saat waktunya tiba.”
Dan Serasa melakukannya. Ia yang berdiri di hadapan ayah Layla, Raja Batara. Ia yang menatap wajah gadis muda itu—yang masih polos, matanya berbinar namun penuh ketakutan akan masa depan yang belum diketahui. Ia yang memegang tangan mungil Layla, yang dingin dan gemetar, lalu memasangkan gelang emas berukir daun melati ke pergelangan tangannya.
Saat jari-jarinya bersentuhan dengan kulit halus itu, ada sesuatu yang bergetar di dada Serasa. Sesuatu yang ia coba kubur dalam-dalam, karena ia tahu gadis itu adalah calon istri kakaknya sendiri. Sejak hari itu, Layla bukan sekadar nama dalam perjanjian, tapi sosok yang diam-diam ia perhatikan, ia lindungi dari jauh, dan... ia cintai dalam diam.
“Kakak sama sekali tidak peduli waktu itu,” gumam Serasa pelan, suaranya parau tertahan emosi. “Baginda menganggap Layla sebagai barang tukar, sebagai pengikat perdamaian yang kaku. Baginda bahkan sempat berniat menjauhkannya, mengurungnya, atau membiarkannya hidup sepi di sudut istana ini.”
Ia meletakkan cangkir itu ke meja dengan agak kasar, membuat sisa anggurnya tumpah membasahi permadani.
“Tapi sekarang?” Serasa menggeleng keras, matanya memerah menahan sakit hati. “Sekarang... setelah dia berani menahan pedang di dadanya. Sekarang setelah dia bicara lantang di pengadilan. Sekarang setelah dia membuktikan keberanian yang bahkan aku dan kakakku tak miliki... Kakak malah mengaguminya? Mengangkatnya setinggi langit? Memandangnya seolah dia satu-satunya wanita di dunia ini?”
Bayangan tatapan Gustaf kepada Layla sore tadi, dan tatapan Layla yang mulai melembut kepada kakaknya, kembali berputar tajam di kepalanya.
Serasa ingat betul bagaimana Layla menatap Gustaf tadi malam saat di kamar raja. Ada rasa hormat, ada rasa terima kasih, dan perlahan tumbuh rasa percaya yang tak pernah ada. Padahal, selama dua hari ini, Serasa-lah yang selalu ada di dekatnya. Serasa-lah yang memberi peringatan, yang menjaga jarak aman, yang memastikan tidak ada orang yang menyakiti hatinya lebih dalam lagi.
“Aku yang ada di sampingmu sejak awal, Layla...” batinnya perih. “Aku yang mengantar lamaran itu. Aku yang membawamu ke istana ini. Aku yang diam-diam berdoa agar kakakku tidak menyakitimu. Tapi kenapa... kenapa hatimu malah jatuh pada orang yang paling kau benci? Pada orang yang sama sekali tidak menginginkanmu di awal?”
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan yang mulai pengap itu. Rasa iri yang selama ini ia simpan rapat, rasa cemburu yang ia sangka bisa ia kendalikan, kini meledak hebat. Lebih sakit lagi rasanya karena ia tahu, Gustaf layak mendapatkan kekaguman itu hari ini. Kakaknya telah berubah. Gustaf telah mengakui kesalahan, telah membuka hatinya, dan itulah yang membuat Layla luluh.
Namun bagi Serasa, itu seperti kehilangan sesuatu yang sudah lama ia miliki, meski sebenarnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
“Besok...” bisiknya, menatap ke arah jendela yang mengarah ke sayap utara, tempat kamar Layla berada. “Besok aku akan ikut serta dalam rombongan ke Candra. Aku akan melihat kakakku berjalan bergandengan tangan denganmu sebagai suami istri yang bahagia di depan rakyat dua kerajaan.”
Ia menunduk, memegangi dadanya yang terasa sesak seolah terhimpit batu besar.
“Apakah aku kuat menahan rasa ini terus-menerus, Layla? Apakah aku harus selamanya menjadi pengantar, menjadi penyambung pesan, menjadi penolong di belakang layar... sementara kau semakin bersinar di sisi orang lain?”
Di keheningan malam itu, Pangeran Serasa sadar satu hal: perjalanan ke Candra besok bukan hanya perjalanan politik atau perjalanan pulang bagi Layla. Tapi bagi dirinya, itu adalah perjalanan terakhir untuk benar-benar melepaskan harapan yang sudah lama ia genggam. Atau... justru menjadi titik di mana ia tidak sanggup lagi menahan perasaannya sendiri.
Angin kembali berhembus, membuat lilin di mejanya hampir padam. Serasa kembali duduk, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu ukir itu. Wajahnya yang tampan kini tampak lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena pertempuran batin yang tak ada habisnya.
Dan di sudut lain istana, dalam kegelapan yang lebih pekat, Ratu Yasmin tersenyum mendengar bisikan-bisikan kecil tentang perasaan sang Pangeran. Benih kecemburuan bukan hanya tumbuh di hatinya saja, ternyata ia bukan satu-satunya yang sakit hati melihat kebahagiaan Layla.
"Ternyata... aku punya sekutu tanpa harus mencarinya," batin Yasmin licik. "Cemburu adalah senjata paling tajam. Dan Pangeran Serasa... kau akan sangat berguna untuk rencanaku besok." diam-diam, Ratu Yasmin menguping tentang keluhan Serasa, dan perasaanya pada Layla.