NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Hukum Rimba dan Bunga Es

Hutan Terlarang di utara Kota Qingyun bukanlah tempat bagi manusia biasa. Pohon-pohonnya menjulang tinggi seperti raksasa kuno, akarnya yang sebesar batang pohon melilit tanah seperti ular raksasa. Kabut tebal menyelimuti lantai hutan, membawa serta bau lembap, tanah busuk, dan aroma logam—bau darah beast yang telah lama kering.

Lin Fan merangkak masuk ke dalam semak belukar lebat, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena kelelahan ekstrem. Efek Pil Pemulih Luka Grade Tinggi sudah mulai memudar, meninggalkan rasa nyeri tumpul di seluruh persendiannya. Tulang rusuk patahnya masih belum sembuh sempurna, membuat setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk jarum.

"Aku harus menemukan tempat berlindung," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Dan air bersih."

Ia tidak bisa tinggal di dekat permukaan tanah. Beast tingkat rendah seperti Serigala Bayangan atau Ular Racun Berjumbai aktif di malam hari. Ia membutuhkan ketinggian.

Dengan sisa tenaga Qi-nya, Lin Fan memanjat sebuah pohon raksasa berdiameter tiga meter. Kulit kayunya kasar dan licin karena lumut, tapi cengkeraman Teknik Napas Besi membantunya menempel kuat. Ia naik hingga mencapai dahan utama, sekitar dua puluh meter dari tanah, di mana cabang-cabangnya membentuk platform alami yang terlindungi oleh dedaunan lebat.

Di sana, ia beristirahat sejenak. Dari posisinya, ia bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas. Hutan ini gelap, sunyi, dan mematikan. Tapi bagi Lin Fan, ini adalah kelas pelatihan terbaik. Di kota, dia dibatasi oleh aturan, moral, dan pengamatan orang lain. Di sini, satu-satunya hukum adalah: Membunuh atau Dimakan.

Lin Fan membuka tas ruang penyimpanan buatannya. Ia mengeluarkan isi curiannya satu per satu.

Tumpukan Batu Spirit Tingkat Menengah bersinar redup di kegelapan. Ada juga beberapa bahan obat langka: Akar Ginseng Seribu Tahun (Grade Menengah), Bunga Es Kristal, dan Jantung Beast Api Kecil.

Matanya tertuju pada Bunga Es Kristal. Bunga ini berwarna biru pucat, kelopaknya transparan seperti kaca, dan memancarkan hawa dingin yang menusuk. Dalam alkimia konvensional, bunga ini digunakan untuk menyeimbangkan elemen api yang terlalu kuat atau mengobati luka bakar internal.

Tapi Lin Fan memiliki ide lain.

Manik Giok di Dantian-nya bereaksi terhadap hawa dingin bunga itu. Itu bukan reaksi penolakan, melainkan ketertarikan.

"Jika Manik Giok bisa memurnikan energi api menjadi netral," batin Lin Fan, "bisakah ia memurnikan energi es menjadi sesuatu yang lebih tajam? Lebih terkonsentrasi?"

Lin Fan mengambil Bunga Es Kristal itu. Ia tidak memakannya langsung. Sebaliknya, ia mengambil pisau kecilnya dan mengiris kelopak bunga itu menjadi serpihan halus. Ia menaruh serpihan itu di telapak tangannya, lalu menutupinya dengan tangan lainnya.

Dengan fokus penuh, ia mengalirkan Qi-nya ke bunga itu, bukan untuk menyerapnya, tapi untuk mendorong esensinya masuk ke dalam Manik Giok melalui meridian khusus di telapak tangannya yang terhubung ke Dantian.

Prosesnya menyakitkan. Rasa dingin yang ekstrem membeku darahnya seketika. Jari-jarinya menjadi kaku, kulitnya membiru. Tapi Lin Fan menahan sakit itu, memaksa energinya mengalir.

Masuk.

Serpihan Bunga Es Kristal larut menjadi aliran energi biru murni yang masuk ke dalam Manik Giok.

Manik Giok bergetar. Cahaya putihnya berubah sebentar menjadi biru keperakan, lalu kembali putih. Namun, ada perubahan. Energi yang keluar dari Manik Giok sekarang memiliki sifat baru: Dingin yang Tajam.

Lin Fan menarik napasnya. Udara di sekitarnya berkabut. Ia mengangkat tangannya, dan melihat uap es tipis keluar dari pori-pori kulitnya.

Dia mencoba memusatkan energi baru itu ke tinju kanannya.

Crack.

Lapisan es tipis terbentuk di atas kepalan tinjunya, memperkuat struktur tulang dan menambah efek pembekuan pada serangan.

"Ini..." Lin Fan tersenyum lelah. "Teknik Tinju Panas digabungkan dengan Es Manik Giok? Tidak, ini berbeda. Ini adalah Tinju Embun Beku."

Serangan fisik yang keras, ditambah dengan efek pembekuan yang bisa memperlambat aliran darah dan Qi musuh. Kombinasi yang mematikan.

Namun, eksperimen itu menghabiskan hampir semua sisa Qi-nya. Lin Fan merasa pusing. Ia perlu tidur. Tapi dia tidak bisa tidur nyenyak di hutan liar.

Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki berat di bawah pohonnya.

Grusak. Grusak.

Bukan manusia. Langkah kakinya empat, berat, dan disertai suara desisan.

Lin Fan mengintip ke bawah melalui celah daun.

Di sana, berdiri seekor Beruang Baja Punggung Duri. Beast tingkat menengah, setara dengan kultivator Tahap Qi Level 5-6. Tubuhnya ditutupi bulu kasar yang keras seperti kawat baja, dan sepanjang punggungnya tumbuh duri-duri tajam berwarna hitam.

Beast itu mengendus-ngendus udara, hidungnya bergerak-gerak. Ia mencium bau darah Lin Fan.

Lin Fan mengerutkan kening. Dia tidak punya kekuatan untuk bertarung melawan beast ini secara langsung. Tinju Embun Bekunya mungkin bisa melukainya, tapi kulit beast itu terlalu keras. Dan jika dia gagal, beast itu akan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.

Dia harus menghindar.

Tapi Beruang Baja itu sudah mendongak. Matanya yang kecil dan jahat menatap lurus ke arah dahan Lin Fan. Ia mengaum, suara yang mengguncang daun-daun di sekitar, lalu mulai memanjat batang pohon dengan cakar besarnya yang mencengkeram kayu.

Pohon itu bergetar hebat.

Lin Fan panik. Dia terjebak di atas. Jika dia turun, dia akan bertemu beast. Jika dia tetap di atas, beast akan mengejarnya.

Satu-satunya jalan keluar adalah ke atas, ke dahan-dahan yang lebih kecil yang tidak bisa menopang berat beruang itu.

Lin Fan melompat ke dahan samping, lalu ke dahan lain, bergerak cepat seperti monyet. Beruang itu mengikuti, menghancurkan dahan-dahan kecil dengan mudah, terus mendekat.

Jarak antara mereka semakin sempit. Lima meter. Tiga meter.

Lin Fan melihat sebuah dahan besar di depan, tapi di ujungnya, terdapat sarang lebah raksasa. Lebah Hutan, bukan Lebah Batu, tapi sengatnya tetap beracun dan menyakitkan.

Ini pilihan gila.

Lin Fan tidak punya pilihan. Dia melompat ke arah sarang lebah, berguling di atas dahan, dan sengaja menabrak sarang itu.

Krakk!

Sarang pecah. Ratusan lebah berukuran kepalan tangan keluar, marah dan bingung.

Beruang Baja, yang sedang fokus mengejar mangsa, tiba-tiba dihujani oleh kawanan lebah. Beast itu mengaum kesakitan saat sengatan-sengatan lebah menembus celah-celah bulunya yang kurang terlindungi di wajah dan perut.

Beruang itu kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset, dan ia jatuh dari pohon dengan berat badan ratusan kilogram.

BOOM!

Tanah bergetar saat beruang itu menghantam lantai hutan. Ia menggeliat-geliat, mencoba mengusir lebah-lebah yang terus menyengat.

Lin Fan, yang bersembunyi di balik dahan tebal di pohon sebelah, menghela napas lega. Dadanya sesak. Dia selamat. Untuk saat ini.

Tapi keributan itu pasti menarik perhatian beast lain. Atau lebih buruknya, manusia.

Lin Fan tahu dia harus pindah lagi. Dia tidak bisa tinggal di satu tempat terlalu lama.

Dia melompat turun dari pohon, mendarat dengan ringan di tanah, dan segera berlari lebih jauh ke dalam hutan, menuju area yang lebih gelap dan berbatu.

Di tengah lariannya, ia merasakan getaran aneh di Dantian-nya. Manik Giok berdenyut hangat, menunjuk ke arah tertentu. Arah barat laut.

Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang memanggil Manik Giok.

Lin Fan berhenti. Instingnya berkata itu berbahaya. Tapi rasa ingin tahunya, dan kebutuhan akan kekuatan, lebih besar.

"Dunia ini kejam," bisiknya pada diri sendiri. "Tapi aku akan belajar untuk menjadi lebih kejam."

Ia mengubah arah, mengikuti panggilan Manik Giok, masuk lebih dalam ke dalam kegelapan Hutan Terlarang.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!