Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dan saat suasana begitu hening, suara langkah kaki itu perlahan mendekat ke arah gubuk, bersamaan dengan bau amis yang bunga cium tadi.
Alfin langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah bunga, memberikan isyarat agar ia tetap diam. Melihat itu bunga mengangguk kecil, menutup mulut nya rapat rapat dengan tangan kanannya.
“Benar benar menyebalkan, para warga dan pendatang itu sudah membentengi rumah mereka dengan pelindung. Ini tidak bisa dibiarkan” Sosok itu berteriak murka dan menoleh ke batang pohon yang berlubang.
“Seharusnya aku sudah makan, tapi karena para pendatang dan tua bangka itu lah, mereka membuat ku harus kelaparan” dengan langkah yang besar dan panjang, sosok itu duduk di dekat pohon besar yang berlubang.
Ia mengulurkan tangannya dan mulai mencakar cakar bagian yang bolong, kau serpihan batang pohon itu lah yang akhirnya ia makan.
“Lumayan buat ganjel perut, dari pada gak makan sama sekali. Nanti bisa kurus aku ini”
Sedangkan itu dari dalam gubuk tua Alfin dan bunga menyaksikan semua nya dengan perasaan campur aduk.
Mereka sama sekali tidak ada keberanian untuk bicara sedikit pun, dan hanya bisa diam sampai waktu yang tepat.
Di tengah tengah situasi yang tidak memungkinkan nya bicara atau pun bergerak bebas. Alfin melihat ada sesuatu yang aneh di belakang nya.
Dengan hati hati Alfin membalikkan badannya, untuk sesaat Alfin terdiam sejenak.
Ada pintu lain di dalam gubuk? …
Alfin langsung menyenggol lengan bunga dengan pelan, menyuruh nya melihat apa yang ada di belakangnya.
Walaupun Alfin tidak mengatakan apapun, namun hanya dari tatapan matanya saja bunga sudah bisa mengerti maksud Alfin.
Dan saat bunga menoleh kebelakang, ia mengerutkan keningnya, seolah ekspresi wajah nya seperti bertanya-tanya. Kenapa bisa ada pintu lagi? Ini mencurigakan.
Dengan rasa penasaran yang besar, Alfin memutuskan diri nya yang harus bertindak. Tidak mungkin ia membiarkan bunga melakukanya, dengan kondisi bunga seperti itu.
Saat Alfin perlahan merangkak menuju pintu di belakangnya, secara tidak sengaja ia menginjak paku dan membuat nya merintih pelan.
“Awww .. sakit-”
Dan benar saja suara itu langsung menarik perhatian sosok besar tersebut, telinga nya langsung menegang seolah mencari asal sumber suara itu.
Melihat situasi yang genting seperti itu bunga, spontan menirukan suara burung yang biasa ia dengar di hutan saat berburu dengan sang ayah waktu kecil.
“Ouh, burung … tapi gpp lah tangkep aja, buat makan” Sosok itu mulai bangkit dan berjalan menuju sekitar gubuk tua.
“Iya, lumayan banyak banget burung nya yah”
Sosok itu langsung menangkap beberapa burung yang ternyata sedang bertengger di belakang gubuk tua.
Dan tanpa lama sosok itu menelan burung yang di mangsa nya secara bulat bulat, tanpa dikunyah. Sehingga cipratan darah nya merembes kemana mana.
Bunga yang mencium aroma itu ia tidak bisa menahan diri untuk muntah, tapi dengan cepat Alfin membekap mulutnya dari belakang.
Bunga meremas kuat-kuat jaket yang ia pakai, menahan gejolak mual hebat di perutnya.
“Tahan sebentar lagi yah, please” bisik Alfin tepat ditelinga bunga, mendengar itu bunga diam dengan wajah yang sudah hampir seperti mayat.
Dari dalam Alfin bisa mengintip dibalik dinding yang terbuat dari anyaman bambu, ia melihat sosok itu sudah selesai dengan makanan nya.
Lagi lagi situasi tegang membuat mereka harus diam dan tidak boleh sembarang bergerak, jika tidak ingin tewas oleh sosok tersebut.
__________________________________
Di tengah ketegangan yang dirasakan oleh Alfin dan bunga, tidak jauh di kampung juga mulai menyebar puluhan bahkan ribuan lembing.
Hewan kecil berwarna hitam yang memiliki bau sangat tidak enak, dan kedatangan nya bukan lah tanpa sebab begitu saja.
Melainkan sebagai pertanda awal dari akan ada saatnya teror yang lebih menyeramkan melanda kampung kembali, seperti dulu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi semua warga, para guru dan murid cowok berkumpul tepat di depan rumah nek wekar yang jaraknya tidak jauh dari kediamannya istri almarhum pak gusto.
Para warga mulai menyadari jika di sepanjang jalan mulai dipenuhi oleh lembing.
Melihat fenomena itu sebagian besar warga berasumsi bahwa kedatangan lembing ini adalah sebuah malapetaka yang tidak bisa ditolak mentah-mentah.
“Pak, ini kok kampung kita kedatangan lembing lagi sih?”
“Iya nih pak, jangan sampai seperti kejadian puluhan tahun lalu lagi deh, kapok banget saya”
Oceh para ibu ibu mencurahkan kekhawatiran nya dengan kedatangan lembing ini.
Melihat itu pak Bayu menoleh ke belakang menatap lurus nek wekar. Nek wekar yang paham dengan tatapan pak Bayu.
Dengan tertatih nek wekar berjalan berdiri di samping pak Bayu. Ia mengetukan tongkat jalannya di tanah. “Mohon perhatian nya semuanya”
Yang tadinya para warga sibuk melontarkan kekhawatiran nya, mendengar ucapan nek wekar mereka dengan kompak langsung diam.
Setelah dirasa situasi sudah cukup tenang, nek wekar mulai mengatakan beberapa hal penting. “Kita semua sudah tahu lembing bukan datang dengan kebaikan, mereka adalah pertanda buruk”
“Saya mengerti kita semua sampai sekarang masih sangat takut kejadian puluhan tahun itu terulang kembali, tapi percayalah sama Gusti Allah yang maha melindungi, selama kita yakin itu semua akan berjalan baik baik saja”
Para warga mulai merenungkan sejenak dengan apa yang dikatakan oleh nek wekar.
Pak Bayu menghela nafas lega, jika tidak ada mertuanya ini mungkin ia akan kewalahan sekarang menghadapi semuanya.
“Ibu percaya kamu bisa menyelesaikan semua ini, ingat jangan takut untuk bertindak nak” gumam nek wekar tanpa menoleh ke arah pak Bayu, namun tatapan matanya tertuju pada Joko yang ada rombongan nya.
Pak Bayu memperhatikan tatapan nek wekar yang ternyata begitu fokus ke satu titik, saat ia ikut menoleh ke arah yang di lihat nek wekar.
“Loh, itu Joko Mak. Murid kegiatan juga dia-”
“Sampah tetap lah sampah” potong nek wekar dengan suara yang ketus, ada nada emosi halus di suara nya.
Seolah ia sangat membencinya.
Pak Bayu mendengar itu sedikit terkejut, karena tidak biasanya nek wekar marah sampai seperti itu nya ke seseorang.
Paling hanya marah sebentar lalu sudah ia maafkan, tapi pak Bayu merasa amarah ini berbeda sekali.
Nek wekar dengan ekspresi yang masih tidak bersahabat ia berjalan menuju masuk, namun ia bergumam kecil yang masih dapat didengarkan oleh pak Bayu.
“Dasar ayah dan anak sama saja, sama sama sampah jelek. Joko gustino duro, duro sampah”
Pak Bayu merasa menoleh melihat nek wekar sudah berjalan masuk kedalam rumah, tidak mau membuang waktu lebih lama lagi akhirnya pak Bayu langsung melanjutkan apa yang tertunda.
“Baik, bapak bapak, ibu ibu dan hadirin sekalian. sebelum kita melakukan pencarian Alfin dan bunga. Mari lah kita semua berdoa kepada Allah SWT agar dipermudah pencairan ini, berdoa dalam hati dimulai” titah nek wekar mendudukkan kepala dengan tangan menengadah.
Diikuti oleh yang lainnya, dan selesai berdoa. Pak Bayu baru mengambil alih pencarian ini.
“Bagian pencarian ini kita bagi jadi tiga regu, regu A cari dari sini sampai ujung kampung, regu B dari sini sampai depan gerbang masuk kampung. Lalu terakhir regu C akan mencari di luar kampung”
Setelah mendengar instruksi dari pak Bayu, para warga mulai menyebar ke titik yang sudah ditentukan tadi.
Pak yahman, pak Yanto, pak Rusdi, Bagas, Farhan, Dimas, Joko, Andi , Eko, serta beberapa warga yang lain pergi menuju gardu masuk kampung.
Di sepanjang perjalanan menuju gardu, semuanya mulai memanggil nama Alfin dan bunga.
“Alfin … bunga dimana kalian?” Kata kata itu terus menerus diulang, sambil memukul-mukul kentongan yang terbuat dari kayu.
Dari sudut matanya Bagas ia tidak sengaja melihat joko yang terlihat seperti orang sedang panik, bahkan berkeringat seperti itu.
‘mungkin aja si Joko ini kecapean kali yah? … Tapi kan ini kita baru mulai pencairan nya, masa iya sih dia udah langsung capek’
Walaupun mereka janggal dengan itu bagas memilih diam dan tetap fokus pada tujuan awal mencari keberadaan Alfin dan bunga.
Langkah demi langkah mereka lewati sampai tidak terasa, kini mereka sudah berada di gardu masuk kampung.
Hembusan angin dingin langsung menerpa mereka, membuat bulu kuduk berdiri begitu saja.
“Astaghfirullah, ada lembing pak” ujar salah satu warga menunjuk ke arah pohon besar di dekat jalan
Di pohon besar tersebut ribuan bahkan puluhan lembing hinggap di batang pohon, sampai seluruh batang pohon kini terlihat warna hitam.