NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Bab 6. Belajar Hidup Tanpa Rangga

"Aku tak akan kembali."

Kalimat itu keluar pelan, tanpa suara tinggi, tanpa tangisan yang meledak. Justru terlalu tenang sampai terdengar asing di telinga Celsi sendiri.

Dia berdiri di depan Rangga sambil memegang koper yang sudah terisi sebagian hidupnya. Baju. Dokumen. Beberapa barang kecil yang dulu ia beli bersama suaminya. Lucu juga. Bertahun tahun menikah, ternyata yang bisa dibawa pergi cuma sedikit.

Rangga berdiri diam.

Tidak mendekat.

Tidak menahan.

Tatapan lelaki itu terlihat lelah, tapi tidak ada rasa panik. Tidak ada ketakutan kehilangan.

Dan itu lebih menyakitkan.

"Kamu serius?" tanya Rangga akhirnya.

Celsi menatapnya lama. Tatapan yang dulu selalu penuh cinta, sekarang tinggal sisa lelah dan kecewa.

"Aku udah terlalu lama serius sama orang yang ternyata nggak serius jagain pernikahan ini."

Rangga membuka mulut, seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi Celsi sudah berjalan melewatinya.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

Dia masih menunggu.

Satu kalimat.

Jangan pergi.

Maafin aku.

Tetap di sini.

Apa pun.

Tapi tidak ada.

Maka pintu itu tertutup.

Dan bersama suara pintu yang menutup, sesuatu dalam diri Celsi juga ikut selesai.

Bandung menyambutnya dengan udara dingin malam itu.

Celsi menyetir tanpa tujuan. Jalanan yang biasa terasa akrab sekarang terlihat asing. Lampu kota, kendaraan, orang-orang yang masih tertawa di pinggir jalan. Semua berjalan seperti biasa.

Seolah tidak ada yang baru saja hancur.

Dia sempat berpikir pulang ke rumah orang tuanya.

Tapi belum sanggup.

Dia belum siap mendengar pertanyaan.

Belum siap melihat tatapan kasihan.

Belum siap menjelaskan bagaimana rumah tangga yang dulu dibanggakan keluarga ternyata retak diam diam.

Akhirnya dia menyewa sebuah rumah kecil di sekitar Bandung.

Satu kamar, satu dapur, kamar mandi, dan ruang tamu kecil. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi cukup untuknya.

Malam pertama di sana terasa aneh. Tidak ada suara pintu dibuka. Tidak ada suara orang mandi. Tidak ada yang bertanya mau makan apa. Tidak ada lagi sapaan sayang. Dia harus terbiasa.

Celsi duduk di lantai sambil memeluk lutut. Lalu menangis. Dia tak ingin kembali, saat dia baru menyadari. Dia benar benar sendirian sekarang.

Hari hari berikutnya terasa berat. Bangun tidur menjadi sulit. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Kepergian benar-benar merubah segalanya.

Sebuah pesan masuk dari nomor Rangga.

"Celsi, tenangkan dirimu dulu, nanti setelah tenang kita bicara."

Hanya itu. Celsi menutup matanya, dia tak membalas. Ia butuh minum. Tangannya otomatis mengambil dua cangkir.

Lalu berhenti. Dia tertawa kecil. Dan meletakkan satu cangkir lagi. Kenapa kebiasaan itu belum juga hilang meski sudah dihianati?

Siang hari dia makan sendiri. Malam hari dia tidur sendiri. Dan ternyata kehilangan bukan cuma soal orangnya. Tapi kebiasaannya.

Ponselnya sesekali berbunyi. Lagi-lagi itu pesan dari Rangga.

Pesannya pendek.

"Udah makan?"

"Kita bisa bicara."

"Jangan keras kepala."

Celsi membaca semuanya. Lalu menghapus. Tidak dibalas. Karena sekarang dia sadar. Orang yang memilih orang lain, tidak perlu lagi dijelaskan tentang rasa sakit yang ditinggalkan.

"Celsi, kita perlu bicara. Kamu dimana?"

Pesan itu muncul lagi setelah dia memasukkan berkas perceraian di pengadilan agama. Dia tak ingin berlarut. Dia kalah.

Dua bulan kemudian proses perceraian selesai. Dia sengaja tak datang agar proses cepat dan tak ada drama. Dia sangat lelah.

Beberapa hari setelah itu, ibunya menelepon.

"Celsi."

"Iya, Bu."

Suara ibunya pelan. "Apa yang terjadi? Pulanglah."

Celsi mencengkram ponselnya kuat. Dia tau kabar itu pasti sudah sampai di telinga ibunya.

"Ibu... Maafin Celsi."

"Pulanglah, nak. Ibu ingin melihatmu. Ibu ingin ngobrol denganmu."

"Ibu, aku nggak bisa pulang. Apa... Kita bisa bertemu saja. Sama ayah juga."

Hening sesaat. "Baiklah, kamu may ketemu di mana?"

Sore itu, langit sedikit mendung. Celsi duduk sendiri di pelataran masjid agung. Tak lama sepasang suami-istri paruh baya berjalan mendekat.

"Celsi!"

"Ibu! Ayah!"

Celsi langsung berlari kecil, memeluk tubuh ibunya. Kedua wanita itu saling memeluk. Ibunya menangis pelan.

"Ibu... Kenapa ibu nangis?"

"Anak nakal! Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu enggak bilang sama Ibu?" omel wanita itu seraya memukul lengan Celsi.

Celsi ikut menangis, setelah dia cukup kuat selama ini. Tapi, di depan ibu dan ayahnya, seolah semua luruh.

"Ayah..."

Pak Burhan memeluk anaknya. "Kamu tetap anak ayah. Ayah cuma kecewa. Kenapa Rangga tidak mengembalikan kamu sama ayah. Tau-tau, kami dapat kabar."

"Maafin Celsi, yah."

Pak Burhan mengangguk. "Ayah tau, anak anak tidak salah."

"Hanya saja... Ayah kaget, Rangga mau nikah sama Vena."

"Kamu baik-baik aja, kan Celsi?" bu Burhan mengusap wajah anak gadisnya. Celsi menggeleng.

"Aku udah ngalamin ini, aku udah siap, Bu. Tapi, aku nggak bisa pulang."

"Iya, kamu enggak usah pulang. Ibu tau. Kamu yang kuat. ibu cuma enggak nyangka, ponakan ibu sendiri, adik ibu sendiri bisa berbuat sejauh itu."

Celsi menggigit bibirnya.

"Vena hamil, bu."

"Astaghfirullah. Pantas saja, mereka seperti terburu-buru." bu Burhan tampak kaget. Tapi seperti mengerti keadaan yang terjadi.

"Kamu yang kuat, ya, Celsi. Kamu anak ibu, kamu sempurna. Kamu hanya... Belum dikasih aja. Bukan karena kamu tidak sempurna. Huumm?"

Celsi mengangguk, matanya mengembun.

Hari pernikahan itu tiba.

Grup keluarga ramai.

Foto.

Ucapan.

Doa.

Ada foto Rangga.

Ada Vena.

Vena memegang perutnya.

Rangga berdiri di samping.

Dan Celsi sadar.

Lelaki itu tersenyum.

Senyum yang dulu dia kira hanya untuknya.

Dia menutup ponsel.

Lalu keluar.

Berjalan tanpa tujuan.

Sampai akhirnya berhenti di depan sebuah ruko kecil. Ada tulisan disewakan. Celsi berdiri cukup lama.

"Sepertinya, aku harus cukup sibuk untuk bertahan hidup," gumamnya pada diri sendiri.

Selama beberapa hari ini Celsi menyibukkan diri dengan membuat pesanan makanan online. Dia butuh tempat yang lebih besar dan cukup untuk membuka yang offline juga. Jadi, ia putuskan untuk menghubungi pemilik ruko kecil itu.

Dia memakai tabungan yang tersisa. Membuka usaha kecil. Makanan rumahan dan minuman. Awalnya berantakan. Kadang masakan gagal. Kadang pembeli sedikit. Kadang pulang sambil mikir apakah keputusan ini benar.

Tapi setiap hari dia belajar. Belanja sendiri. Masak sendiri. Melayani sendiri. Hari demi hari. Minggu demi minggu.

Sampai suatu sore seorang pelanggan berkata, "Besok buka lagi ya, Teh. Ayam gepreknya enak, loh Teh."

Kalimat sederhana. Tapi membuat Celsi diam.

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!