Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Arka berhenti melangkah. “Kau sendiri yang mencari mati,” gumamnya dingin.
Ia berbalik secepat kilat, mengayunkan pedang beratnya dalam satu putaran penuh tenaga.
BOOM!!
Dalam kondisi lemah karena kehilangan darah esensi, Fikri sama sekali bukan tandingan. Tubuhnya terasa seperti dihantam palu raksasa seberat ratusan ton. Darah muncrat dari mulutnya saat dadanya remuk. Ia terlempar jauh seperti kantong kain yang koyak ditiup badai.
“FIKRI!! BOCAH, KAU BERANI?!”
Raungan kemarahan yang menggetarkan arena terdengar. Tetua Faisal melesat ke udara, menembus jarak ratusan meter dalam sekejap. Ia mendarat di sisi Fikri, memeriksa lukanya, lalu menoleh dengan mata menyala penuh amarah.
“Bocah! Pertandingan sudah berakhir, tapi kau masih sengaja melukai putra Ketua Perguruan kami!”
Wibawa Tetua Faisal begitu besar hingga membuat nyali banyak orang menciut. Namun, Arka justru tertawa dingin.
“Kau buta? Dia yang menyerangku dari belakang. Apa aku harus diam saja menunggu dibunuh?”
“Bocah ingusan, kau cari mati!” Janggut Faisal bergetar. Sudah puluhan tahun tak ada yang berani bicara setajam itu padanya. Rasa malu perguruan dan kebencian pribadinya meledak. Ia melepaskan tubuh Fikri, melayang ke udara, dan mencakar ke arah kepala Arka dengan kekuatan penuh.
Itu adalah pukulan mematikan dari seorang ahli tingkat tinggi!
“Tetua Faisal, berhenti!” teriak Wayan mencoba menghalangi, namun ia terpental oleh ledakan energi Faisal.
Cakar itu mendekat. Tekanan mengerikan menyelimuti Arka seperti langit yang runtuh. Namun, Arka tidak panik. Ia mengaktifkan teknik gerak rahasianya.
RIIIP!!
Suara seperti ruang yang terkoyak terdengar. Cakar Faisal hanya meraih udara kosong—Arka telah menghilang, meninggalkan bayangan sisa yang memudar.
Faisal tertegun sejenak, lalu amarahnya semakin menjadi. Ia kembali mengunci posisi Arka, memanggil puluhan naga api ungu yang jauh lebih dahsyat.
“Berhenti!!” teriak Satya Wibowo dan Luhur Pangestu hampir bersamaan.
Namun, sebelum mereka sempat bertindak, sesosok bayangan biru es meluncur lebih cepat ke tengah arena.
KRAK—KRAK—KRAK—
Suara es membeku seketika memenuhi udara. Dalam sekejap, naga-naga api ungu itu membeku menjadi kristal es dan hancur berkeping-keping. Suhu panas yang menyengat mendadak merosot menjadi dingin yang menusuk tulang.
Seorang wanita bergaun biru turun dari langit dengan keanggunan yang tiada tara. Ia melayang di depan Arka, kakinya nyaris tak menyentuh tanah. Kecantikannya begitu dingin, begitu murni, hingga membuat dunia seolah berhenti berputar.
Luhur Pangestu terhenti di udara, matanya membelalak. "Mengapa... dia turun tangan?"
Arka menatap punggung sosok itu, hatinya bergetar hebat. Nama yang sangat ia kenal hampir saja terucap dari bibirnya, namun ia segera menahannya.
“...Peri.”
Sosok itu adalah Citra Yunanda, sang ahli dari Padepokan Awan Beku. Ia berdiri tegak membelakangi Arka, menghalangi serangan Tetua Faisal dengan tatapan mata sebening kristal es yang mampu membekukan nyali siapa pun.
"Citra, apa maksud dari semua ini?!"
Situasi telah berkembang terlalu jauh. Amarah Faisal sepenuhnya telah mengambil alih nalar dan kewaspadaannya. Ia nyaris tak lagi memedulikan akibat dari tindakannya.
Walau ia hanya pernah bertemu Citra sekali bertahun-tahun silam, ia mengenali sosok itu dalam sekali pandang. Namun, tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya bahwa sang Peri es yang melegenda itu akan tiba-tiba menyerangnya demi seorang pemuda asing.
Citra menjawab dengan suara sedingin es yang mampu membekukan udara di sekitarnya. "Sebagai Tetua Agung Perguruan Langit Membara, tidakkah kau merasa malu menyerang seorang junior tanpa alasan di depan ribuan mata?"
"Hmph!" Faisal mengerutkan kening, urat-urat di lehernya menegang. "Dia telah melukai putra Ketua Perguruan kami secara keji. Hanya dengan alasan itu saja, meski ia mati sepuluh ribu kali pun tetap belum cukup! Citra, ini urusan internal kami. Tidak pantas bagi anggota Padepokan Awan Beku ikut campur!"
"Aku pasti akan ikut campur."
Telapak tangan Citra yang putih sebening giok terangkat perlahan. Di tengahnya, sebuah cahaya biru tua berkilau samar, memancarkan hawa dingin yang mencekik.
"Bagus!" Faisal menyipitkan mata. "Sudah lama kudengar bahwa Peri Citra telah setengah langkah memasuki Alam Raja di usia muda. Hari ini, biarkan aku merasakan sendiri kemampuan nomor satu dari para Peri Awan Beku!"
Menghadapi Citra, Faisal sebenarnya cukup percaya diri. Meski keduanya sama-sama berada di ambang Alam Raja, Faisal telah berada di tingkat itu selama tiga puluh tahun penuh. Ia yakin pengalamannya jauh melampaui Citra.
"Haaah!!"
Dengan teriakan keras, sekujur tubuh Faisal meledak oleh nyala api tenaga dalam ungu yang bergelora. Kedua tangannya terangkat, membentuk pedang raksasa sepanjang lebih dari tiga puluh meter yang terbuat dari api murni. Tanpa ragu, ia mengayunkannya ke arah Citra.
Api ungu dikenal sebagai api terkuat di negeri ini. Siapa pun yang tingkatannya di bawah Alam Bumi akan hangus menjadi abu seketika jika tersentuh api ini. Mengingat Arka berdiri tepat di belakang Citra, serangan ini jelas dimaksudkan untuk menghabisi keduanya sekaligus.
Namun Citra tidak bergerak. Ia sama sekali tak berniat menghindar. Telapak tangannya berbalik ke atas—dan ia mencengkeram pedang api ungu raksasa itu dengan tangan kosong!
Clang!!
Pedang api yang membawa gelombang panas mencekik itu tiba-tiba terhenti di udara, seakan membentur penghalang tak kasatmata. Pada ujung pedang, muncul cahaya biru tua diikuti suara retakan es yang cepat—krek, krek, krek!—lapisan es membungkus pedang api itu dengan kecepatan mencengangkan. Dalam sekejap, nyala ungu yang membara berubah menjadi kristal biru yang beku.
Ping!!
Dengan satu kibasan lembut, ledakan keras mengguncang arena. Pedang api yang telah membeku itu meledak di udara, pecah menjadi serpihan kristal yang beterbangan ke segala arah.
"Apa…!?" Faisal mundur dua langkah dengan panik, buru-buru mengusir hawa dingin yang mulai membekukan tangannya.
Belum sempat ia bereaksi, sebuah tombak es sepanjang setengah kaki muncul begitu saja di hadapannya dari udara kosong. Sebelum ia sempat berkedip, tombak es itu melesat dengan kecepatan cahaya, menghantam dadanya dengan telak.
BANG!!
Bagian dada Faisal yang terkena hantaman langsung cekung ke dalam. Teriakan kesakitan bercampur darah menyembur dari mulutnya. Tubuhnya terpental seperti anak panah, terhempas jauh menabrak lantai arena, lalu terseret puluhan meter hingga meninggalkan parit panjang di lantai batu yang keras.
Arena seketika sunyi senyap. Luhur Pangestu berdiri dengan tubuh gemetar, matanya membelalak tak percaya.
"Pemampatan ruang… Ini… Ini adalah kekuatan Alam Raja yang sesungguhnya!!"
Dua kata itu—Alam Raja—bagai guntur yang menggelegar di telinga setiap orang. Seorang "Adidaya" baru telah muncul! Citra telah resmi menjadi salah satu praktisi terkuat di negeri ini, menjadikannya sosok tercepat yang mencapai tingkat legendaris tersebut dalam ratusan tahun terakhir.