NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Eddy itu siapa sebenarnya?

17.

Pria itu mendorong Tande ke samping, karena tubuhnya yang besar dan tinggi, Tande yang seorang ksatria terhuyung. Pria dengan badan besar itu mendekat ke Morline, matanya melebar seperti telur bebek, kumis dan jenggot tebal di wajahnya membuatnya terlihat lebih menyeramkan.

Morline yang ditatap seperti itu, merasa ngeri sendiri.

"Kau hanya gadis gemuk biasa! Jangan sok jadi pahlawan! Kalian juga mencurigakan sekali! Asal-usul kalian ini tak jelas! Tiba-tiba datang dan berniat membantu tanpa pamrih! Mana ada orang seperti itu di dunia ini! Lebih baik kalian pergi saja! Kami tak butuh bantuan kalian!"

Gengi segera berlari untuk menarik bahu pria itu menjauh dari Morline. Dia melirik Morline dengan isyarat mata, seakan menyuruhnya pergi, Morline memahami dan dia pergi membawa Eddy bersamanya.

Gengi menatap orang ini lekat, dia adalah salah satu pria yang berada di gua semalam. Gengi masih ingat pria inilah bicara soal pergerakan kelompok mereka. Untuk saat ini Gengi belum bisa memastikan apakah mereka bagian dari pemberontak atau tidak, karena kelompok mereka masih terbilang kecil untuk bisa menyerang kerajaan.

Namun meski begitu, raja menyarankan jika dirinya menemukan kelompok pemberontak masih bertebaran di daerah Utara, maka Gengi dan Tande harus memusnahkan mereka hingga tak tersisa.

Menatap wajahnya yang tampak garang dan seram, tingkat kewaspadaan Gengi meningkat. Dia mengetahui bahwa pria-pria ini tidak senang akan keberadaan mereka di desa ini.

Gengi melirik Tande, pria itu segera memahami apa maksudnya.

"Apa kalian lihat-lihat! Apa!? Pergi sana! Jangan datang lagi! Semua yang kalian lakukan ini sia-sia!"

"Ada apa ini Bou!?" Tiga pria membawa parang mendekat.

Tande dan Gengi bersikap waspada, mereka tak membawa pedang untuk menghindari kecurigaan. Melihat sekolompok pria tadi malam sekarang ada di hadapan mereka, Gengi merasa bahwa mereka sengaja mencari keributan dengan mereka.

"Lihat mereka! Bukankah mereka ini orang aneh! Alasannya membantu tapi malah membuat kotoran menggunung seperti itu! Apa yang di sebut membantu!" Pria bernama Bou menunjuk wajah Gengi.

Tiga pria yang membawa parang lalu mendekat, wajah mereka seakan mengancam Gengi dalam diam. Gengi tetap tenang, dia menatap tangan mereka yang membawa parang, bersikap waspada jika benda itu dilayangkan ke arahnya.

"Pergi kalian dari desa ini! Kami tak butuh kalian di sini!"

"Tapi kami berniat membantu krisis di sini. Nona Mor, punya solusi dan kita bisa bergotong-royong untuk mengatasi masalah kekeringan ini," kata Gengi.

Bou mengernyit, dia kembali bicara. "Kalian sudah janji hanya satu minggu di sini! Sekarang pergilah! Kami tak butuh kalian di sini!"

"Pergi saja! Atau kamu mengusir kalian dengan cara kasar!" Mereka menunjukkan parang di tangan mereka untuk mengancam.

Gengi maupun Tande tak mungkin membuat keributan ditempat dan waktu yang salah seperti ini, satu-satunya cara adalah mundur. Namun, mereka juga tahu, bahwa mereka tak bisa meninggalkan urusan yang belum selesai di sini. Tugas dari raja belum sepenuhnya terlaksana dan mereka harus menuntaskannya.

Gengi dilema karena ini, disatu sisi keberadaannya di sini merupakan tugas dari Cedric, tapi orang-orang di sini mengusir mereka dan menolak bantuan.

"Baiklah kami akan pergi, tapi kami perlu melakukan voting."

"Voting! Untuk apa? Kalian ini banyak alasan ya! Sebenarnya apa niat kalian kesini! Pergi saja!"

"Anda sekalian juga kenapa mengusir kami tanpa alasan! Kami hanya berniat membantu kekeringan di sini! Bukannya malah mendukung, anda sekalian justru menolak bantuan dari kami!"

Bou tersulut, dia melangkah maju tepat di depan Gengi. Wajahnya menggelap dengan mata melotot tajam. "Apa kau bilang! Katakan sekali lagi kalau kau berani! Hah!"

"Bou, sudah!" Dia ditarik oleh salah satu rekannya, mundur. Namun matanya masih menatap tajam pada Gengi.

"Bantuan apa! Kalian tak punya hal untuk melakukan itu! Yang seharusnya membantu kami adalah pihak kerajaan bukan pelajar seperti kalian! Lebih baik kalian pergi saja, sekalian kirim surat pada raja agar membantu kami!"

"Kami juga di sini atas perintah raja! Kami juga tak mau membantu orang yang tak mau dibantu!" Tande berteriak.

Gengi langsung menatapnya dan melotot padanya. Kesal karena Tande sudah keceplosan soal misi mereka.

Bou dan tiga kawannya menatap Tande. "Apa kau bilang?"

Tande menelan ludah, menyadari kesalahannya. Dia menghindari tatapan Gengi, memilih menatap pohon kering yang tampak lebih menarik. "Em, kerajaan menerapkan program baru, bagi para pelajar yang turun ke desa dan membantu warga desa, maka akan mendapatkan kompensasi atas jasanya. Jadi kerajaan tak mengabaikan kalian begitu saja, justru mereka mempedulikan rakyatnya dengan cara seperti ini." Dengan lihai, lidah Tande mampu memelintirkan kesalahannya menjadi alasan yang bagus.

"Program pelajar yang turun ke desa? Mendapat kompensasi? Jadi kalian ke sini hanya agar mendapat imbalan dari kerajaan?"

"Tidak, jika kami berhasil menyelesaikan krisis dan masalah di setiap desa, maka kami mendapat kompensasi atas kerja keras kami," jawab Tande dengan percaya diri.

Gengi memperhatikan, dalam diam cukup bersyukur mempunyai rekan dengan mulut yang pandai mencari alasan.

Tande melanjutkan lagi, "maka dari itu, kami membutuhkan kerja sama dari warga sekitar. Toh, kalau ini berhasil, kalian juga yang menikmati hasilnya bukan?"

"Itu kalau berhasil, kalau tidak bagaimana?" Bou membantah dengan pertanyaan.

Gengi mulai kesal, jika mereka terus berdebat dengan pria-pria ini maka tak akan ada habisnya. Mereka jelas memiliki tujuan lain dengan mengusir kelompok Gengi dari desa. Atau mungkin mereka sudah curiga?

"Kami tetap pada keputusan kami, kami ingin melakukan voting. Jika hasil voting lebih besar untuk kami tetap di sini, maka kami tetap di sini sampai urusan kami selesai, jika sebaliknya, kami akan pergi dengan suka rela."

Bou menatap tiga rekannya, mereka seolah berdiskusi dalam pikiran. Tiga rekannya menggeleng. "Tidak bisa! Kalian harus tetap pergi tanpa ada voting atau apapun itu! Jangan banyak alasan agar kalian tetap di sini! Ingat kalian hanyalah pendatang, kalian tak mempunyai hak di tanah ini!"

Gengi menghela nafas, ternyata cukup sulit untuk bernegosiasi dengan mereka. Dia menatap Tande, lalu menatap Bou lagi. "Kami akan pikirkan."

"Tidak perlu di pikirkan! Kalian bisa pergi dari sini! Kalau perlu pergi sekarang!"

****

"Sepertinya para pria itu berniat mengusir kalian lagi dari sini! Seharusnya aku ada di sana untuk membantu kalian, tapi justru aku tak membantu sama sekali." Eddy sudah duduk di dipan kayu, halaman rumah bersama Morline.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, keadaanmu tak sedang baik saat ini. Apa sekarang sudah mendingan?" Morline menatap kaki Eddy yang di rasa memiliki cidera, dia ingin memeriksanya tapi ingat bahwa dunianya dan dunia di sini jauh berbeda, jadi Morline harus menahan diri agar tak seenaknya.

Eddy menatap wajah Morline yang mengkhawatirkannya dengan tulus, dia tersenyum yang membuat kumisnya terangkat. "Sudah lebih baik, hanya saja masih sedikit nyeri. Terimakasih sudah membantuku."

Dari kejauhan, Tande dan Gengi berjalan dengan langkah cepat. Morline yang melihatnya segera berdiri dan menghampiri. "Apa kalian baik saja?"

"Ya." Jawab Gengi disertai anggukan. "Kami diusir oleh mereka, mereka meminta kami semua pergi dari desa ini."

"Tapi..." Sebelum Morline melanjutkan kalimatnya, Gengi sudah memotong.

"Saya tahu nona, tapi kita tak bisa memaksa mereka."

Morline terdiam, perkembangan kompos masih 3 bulan lagi. Jika mereka meninggalkan desa ini, siapa yang mengurus semua projek yang sudah mereka jalankan? Kompos bahkan belum sepenuhnya jadi, membuat sumur lalu edukasi para warga untuk menjaga tanah tetap lembab dan terhidrasi, perjalanan mereka bahkan belum sepenuhnya dimulai dan mereka harus pergi?

Sebenarnya masih ada cara lain, tapi Morline sendiri tak yakin. Karena satu-satunya pilihan adalah Eddy, hanya saja kondisinya yang tidak begitu baik membuat Morline merasa akan sangat membebani Eddy jika semuanya terlimpahkan pada pria itu.

"Apa kita harus menyerahkan semuanya pada Eddy?" Tanya Morline pada Gengi.

Gengi menatap pria berkumis dan rambut sebahu di atas dipan, memikirkan bahwa dia satu-satunya jawaban atas masalah ini, Gengi menjawab dalam kebisuan. Morline memahami itu, dia juga berpikir bahwa hanya Eddy yang bisa menggantikan mereka.

Morline memutar tubuhnya dan menghampiri Eddy, Tande dan Gengi menyusul. Mereka berkumpul di bawah atap halaman rumah.

"Eddy, kami tak bisa di sini lebih lama lagi, jadi kami menitipkan apa yang sudah kami lakukan padamu. Kompos itu dan ladang itu, tolong kau edukasi warga agar mau membantumu ya." Kata Morline.

Gangi mengangguk setuju, karena itu memang satu-satunya pilihan.

"Kalian akan pergi?"

"Yah, mungkin tak sekarang tapi kalau kami lama-lama di sini, mereka pasti akan datang lagi."

"Benar, mereka sudah mengancam kami dengan parang." Timpal Gengi.

Kelopak mata Eddy turun, bibirnya melengkung ke bawah. Meski begitu dia tetap menjawab. "Baiklah akan aku lakukan, tapi kalian tetap berkomunikasi denganku kan? Aku tak mungkin melakukan semuanya sendiri?"

"Iya, kami akan mengirim surat untuk mengetahui keadaan di sini." Morline menjawab. Tidak mungkin juga mereka meninggalkan Targus tanpa pengawasan, dengan adannya Eddy, dia merasa sangat tertolong. "Apa kalian sudah makan, mari makan. Aku akan siapkan." Morline masuk, dia melihat Nina yang sedang sibuk di dapur entah melakukan apa.

"Sedang apa?"

Bahu Nina bergetar karena terkejut, dia berbalik. "Ah, saya memasak untuk anda dan akan mengatakan makanan ini."

Morline menatap masakan yang sudah Nina buat. "Di depan ada Eddy, Gengi dan Tande, kita makan siang di sana. Buat porsinya lebih banyak. Oh ya di mana Karel?"

"Ah, dia sedang tidur. Aku menyuruhnya diam karena dia terus merengek, tapi sepertinya dia ketiduran."

Kaki gemuk itu bergerak selangka demi selangkah, lalu berlutut di depan Karel yang tidur bersandar di dinding. Dia menatap wajahnya yang jauh lebih bersih dibanding pertama kali Morline menemukannya. Kulitnya gelap dengan rambut hitam seperti dirinya.

Kelopak mata anak itu bergetar sesaat sebelum terbuka perlahan, Morline tersenyum melihatnya bangun. Karel hanya diam menatapnya, entah mungkin mengira dirinya masih bermimpi atau apa.

"Sudah bangun?"

Seketika Karel duduk tegak, Morline tertawa melihat reaksinya. Dia mengelus kepalanya dengan lembut. "Jangan takut, tadi aku berniat membenarkan posisi tidurmu tapi kau sudah terlanjur bangun. Mau makan siang bersamaku?"

Kali ini tanpa pikir panjang, Karel mengangguk setuju. Morline menyadari perubahan kecil itu, dia turut senang.

Setelah makan siang disajikan, Morline dan Nina berkumpul bersama para pria. Duduk di tepi dipan yang lebar,  mengelilingi hidangan yang telah Nina masak.

Karel di samping Morline, merasa sedikit tegang dan kikuk karena tatapan mata Gengi padanya. Anak itu bahkan tak bergerak sedikitpun karenanya.

"Gengi, silahkan makan." Morline secara tersirat meminta Gengi berhenti menatap Karel tatapan yang membuat anak itu tak nyaman. "Karel juga makan." Morline menyajikan piring untuk Karel.

"Morline." Eddy memanggil, Morline hanya berdehem pendek, "kalau aku boleh tau, siapa anak itu."

Morline menatap Gengi, meminta pendapatnya. Namun pria itu tak memberinya tanggapan sama sekali, justru asik makan bersama Tande.

Morline terbatuk ringan, "sebenarnya Karel bukan adik kandungku, tapi dia sudah aku anggap adik sendiri." Jawab Morline tak sepenuhnya berbohong.

****

Di bawah malam segelap arang, angin malam yang kencang menerbangkan jubah seorang pria. Eddy berdiri di depan gerbang desa bersama tetua di sampingnya, tali kuda ditangannya berusaha dia pegang kuat-kuat agar tak lepas.

"Tuan apa anda yakin akan pergi malam ini?"

Kepala Eddy meregang ke kanan dan ke kiri, bunyi krek dari setiap sendinya yang kaku terdengar jelas. Punggungnya yang siang tadi bungkuk terlihat lurus dan baik-baik saja. "Aku harus mencegah mereka pergi."

"Apa anda memiliki rencana?"

"Menurutmu apa aku tak punya rencana?" Jawab Eddy dengan sebuah pertanyaan. Pria itu melompat ke atas punggung kuda, kuda jantan dengan bulu hitam itu meringkik kemudian mengendus. Eddy menarik tali kudanya dan menghentak kakinya, kuda itu berlari kencang membuat debu berterbangan.

Tetua hanya menatap Eddy yang pergi, kedua tangannya yang terus bergerak bertaut di depan, alisnya melengkung ke atas serta keringat yang meluncur dari pelipisnya. Angin malam yang kencang menerbangkan ujung baju dan celananya, sang tetua lalu berbalik pergi.

Dia menatap sebentar rumah hunian Morline dan kawan-kawannya lalu bergumam. "Lagi pula kenapa kalian datang ke sini sih."

Bou sedang asik makan daging ayam hasil rampasan dari pedagang kota, ketika seseorang datang ke gubuknya dengan merusak pintu. Belum sempat Bou berteriak, pria itu menarik kerah bajunya yang menghantam wajahnya dengan tinju.

Bou yang tak pernah di pukul sebelumnya terdiam kaget, memegang pipinya yang nyeri dan panas lalu menatap pria itu dengan penuh amarah. "Siapa kau!?"

Tangan Bou melayang ke udara tapi tangannya yang besar dan kuat berhasil ditahan oleh tangan pria itu, yang justru memelintirkannya ke belakang hingga Bou menjerit kesakitan. Pria yang tak Bou ketahui itu menakan tangannya ke atas hingga terasa semakin sakit.

"Ahk! Berhenti! Siapa kau sebenarnya? Apa maumu?"

"Katakan pada para pelajar itu bahwa kau tak jadi mengusir mereka pergi."

"Itu bukan urusanmu!  Mereka menghalangi jalan kami!"

"Katakan saja! Atau aku akan membunuhmu!"

"Jangan bunuh aku! Aku adalah anggota kelompok pemberontak, kau berani! Akh! Berhenti menekan tanganku!"

"Kelompok itu sudah bubar sejak lama, sejak 3 pilar terbunuh! Jangan kau berlagak hebat! Kau tak punya kekuatan apapun selain otot bodohmu itu!" Pria itu melepaskan tangannya, belum sempat Bou bernafas lega, dia justru menendangnya hingga tersungkur ke depan. Wajahnya mencium lantai dengan dramatis.

"Pemimpin kelompokku sudah jelas menyesal mempunyai anggota sepertimu! Katakan pada mereka bahwa kau menarik semua ucapanmu hari ini! Jika tidak..." Pria itu mengeluarkan belati dari balik bajunya, "srraat!" dengan gerakan cepat tangan Bou mengeluarkan darah yang memanjang.

"Argh! Sialan kau!" Bou menekan tangannya yang berdarah, berteriak seperti nyawanya hendak di cabut.

"Ingat kata-kataku!" peringat pria itu sebelum pergi. Terdengar suara kaki kuda yang berlari menjauh.

Bou mengambil kain untuk menutup lukanya yang terus mengeluarkan darah, lalu berlari keluar berharap bisa mengetahui kemana pria misterius itu pergi. Namun sayang, dia kehilangan jejak. Pria itu telah menghilangkan bagaikan hembusan angin yang tak berjejak.

Pagi sekali, Bou dan kawan-kawannya datang ke hunian Gengi dan Tande yang terpisah dari hunian Morline. Mereka kira orang-orang itu hendak menyeret mereka keluar dari rumah dan mengusir mereka, tapi saat pintu terbuka justru wajah Bou yang penuh air mata yang mereka lihat.

Gengi menatap Tande, bertanya apakah semalam mereka melakukan sesuatu tanpa mereka sadari. Namun, semalam mereka tak minum apapun hingga tak mungkin mereka kehilangan kesadaran.

Dan sekarang apa yang terjadi? Mengapa mereka datang pada mereka dengan wajah seperti orang ketakutan.

"Silahkan kalian mau tinggal berapa lama pun , aku tak peduli! Silahkan saja!" Kata Bou, pria tinggi besar itu sekarang seperti anak kecil.

"Tunggu sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian tiba-tiba mengizinkan kami tetap tinggal?" tanya Tande.

Bou dan rekan-rekannya saling menatap, tadi malam rekan Bou juga didatangi pria misterius itu. Namun pria itu tak menemui mereka secara langsung tapi memberi ancaman dengan meletakkan kepala ketua mereka disertai pesan agar mereka berhenti mengusir Morline dan teman-temannya.

Tetua kelompok mereka adalah orang yang ingin membentuk kembali kelompok pemberontak, beberapa dengan ideologi kelompok sebelumnya yang menganut sosialisme, kelompok yang mereka dirikan merupakan kelompok radikalisme.

Itulah mengapa alasan Bou dan rekan-rekannya ingin mengusir mereka, karena takut aktifitas mereka di Targus tercium oleh Morline dan kawan-kawannya.

"Tetua desa mengancam kami agar berhenti mengganggu kalian, kalau kami mengusir kalian tanpa sebab, kami akan di usir dari desa ini. Jadi kami tak akan mengganggu kalian lagi." Jelas Bou.

Gengi dan Tande kebingungan karena perubahan mereka tiba-tiba, keduanya tak dapat mencerna apa yang sedang terjadi sebenarnya.

....

Mendapat kabar bahwa mereka tak jadi pergi dari Targus, Morline merasa lega. Kekhawatirannya semalam seketika sirna ketika Gengi dan Tande memberi kabar bahwa orang-orang itu berhenti mengusir mereka dari desa.

Namun, seperti yang dikatakan Gengi. Perubahan mendadak ini sangat mencurigakan. Gengi dan Tande juga berencana menyelidiki apa yang terjadi semalam karena tak mungkin bagi mereka berubah pikiran secepat itu tanpa didasari sesuatu.

Untuk saat ini, Morline bisa beraktivitas seperti biasa. Dia dan tetua mengumpulkan warga untuk kegiatan hari ini.

Mereka akan menanam tanah liat sebagai penampung air hujan. Ketika tanah liat di tanam, maka tanah di sekitarnya akan menyerap air dari tanah liat itu sedikit demi sedikit, tergantung kebutuhan tanah. Cara itu jauh lebih menghemat air dari pada harus menyiramnya dua kali sehari.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!