NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Jangan Mati Sekarang

Selena keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dengan kepercayaan diri yang sudah pulih. Baginya, peringatan Biru tadi hanyalah gertakan pria kaku yang terganggu karena privasinya terusik. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, Biru sedang berjuang melawan maut yang dipicu oleh hormonnya sendiri.

​Pagi ini, Selena memilih pakaian yang sangat "Bali". Ia mengenakan crochet crop top putih dengan kaitan yang agak longgar dan rok mini berbahan kain pantai yang tipis. Pakaian itu memamerkan perutnya yang rata dan kaki jenjangnya yang mulus—penampilan khas turis yang siap menaklukkan tebing Uluwatu.

​"Mas, aku sudah siap. Ayo sarapan! Aku dengar restoran di bawah punya pemandangan yang luar biasa," seru Selena ceria. Ia menghampiri Biru yang masih duduk di tepi ranjang dengan posisi kaku.

​Selena membungkuk sedikit di depan Biru untuk membetulkan tali sandalnya, tanpa sadar memberikan pemandangan yang membuat Biru harus memalingkan wajah secepat kilat.

​"Selena... apa tidak ada baju lain?" tanya Biru dengan suara yang ditekan sedalam mungkin.

​Selena mengerutkan kening, menatap pakaiannya sendiri. "Kenapa? Ini kan di Bali, Mas. Semua orang berpakaian seperti ini ke pantai. Lagipula, ini nyaman dan dingin. Kenapa? Apa aku terlihat aneh?"

​"Bukan aneh," Biru berdiri, mencoba mencari oksigen di ruangan yang mendadak terasa hampa itu. "Hanya... terlalu terbuka."

​"Cih, bilang saja kau malu punya istri yang terlalu cantik untuk dipamerkan," canda Selena sambil tertawa renyah. Ia menarik lengan Biru tanpa beban, memaksa suaminya bangkit. "Ayo! Jangan sampai kita kehabisan meja dengan pemandangan laut."

​Sentuhan tangan Selena di lengannya terasa seperti hantaman godam bagi Biru. Setiap langkah menuju restoran, Biru merasa dunianya sedikit bergoyang. Ia bisa merasakan tatapan pria-pria lain di vila itu yang tertuju pada Selena, dan itu membuat dadanya semakin sesak—kali ini karena kombinasi gairah dan rasa posesif yang meledak.

​Sesampainya di meja makan yang menghadap langsung ke samudra, Selena langsung sibuk mengambil foto pemandangan, sementara Biru duduk dengan napas yang mulai tidak beraturan.

​Dari kejauhan, Cakra yang sedang memantau dari balik pilar bangunan utama, langsung menekan tombol di tablet medisnya. Indikator detak jantung Biru di layarnya menyala merah terang.

​"Gila," gumam Cakra, rahangnya mengeras. "Nyonya benar-benar akan menghentikan jantung Tuan Biru sebelum makan siang dimulai."

​Cakra segera melangkah mendekat, namun ia terhenti saat melihat Selena tertawa lepas sambil menyuapkan sepotong buah ke arah Biru. Biru terpaku, antara ingin menolak namun tak mampu melepaskan pandangannya dari bibir Selena yang kemerahan.

​Bagi Selena, ini adalah momen liburan yang menyenangkan untuk bahan tulisan novelnya. Namun bagi Biru, setiap tawa Selena dan setiap inci kulit yang terpapar sinar matahari itu adalah serangan jantung yang sedang menghitung mundur.

Biru duduk di sana, mencengkeram garpu hingga buku jarinya memutih, berdoa agar ramuan rimpang Cakra mampu menahan ledakan yang sebentar lagi akan terjadi di dadanya.

Belahan dada Selena entah kenapa begitu menggoda dan menggangu detak jantungnya saat ini. Dan Ia, Biru Hermawan yang jarang memiliki ketertarikan pada lawan jenis kini benar-benar sedang berada dalam ujian dengan level Hots.

"Kembali ke kamar dan ganti bajumu!"

Suara Biru yang rendah namun penuh penekanan menghentikan tawa Selena seketika. Garpu yang masih memegang potongan buah naga itu menggantung di udara. Selena mengerutkan kening, menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya.

"Apa? Mas, kita baru saja duduk!" protes Selena, suaranya naik satu nada. "Jangan mulai lagi dengan sikap kaku itu. Ini Bali, bukan ruang rapat Hermawan Group."

"Kembali ke kamar, Selena. Sekarang," ulang Biru, kali ini dengan mata yang menatap tajam namun tampak bergetar.

"Ganti bajumu atau kamu tidak boleh keluar dari kamar!"

Biru mencengkeram pinggiran meja marmer itu sekuat tenaga. Di bawah meja, kakinya terasa lemas. Setiap kali angin laut meniup rambut Selena dan menyingkap sedikit kain tipis di bahunya, Biru merasa jantungnya seperti dipukul dari dalam. Ia tidak bisa berkonsentrasi, ia tidak bisa berpikir, dan yang paling parah—ia merasa sesak napas yang sangat akrab mulai merayap naik ke tenggorokannya.

"Tidak mau!" Selena bersedekap, membuat crop top-nya semakin mempertegas bentuk tubuhnya, yang justru memperburuk kondisi Biru. "Aku suka baju ini. Kalau kau malu duduk denganku, silakan cari meja lain. Aku tidak akan membiarkan integritas fashion-ku hancur hanya karena kau terlalu konservatif!"

Biru memejamkan mata. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ia tahu ia tidak punya waktu untuk berdebat.

"Cakra!" panggil Biru dengan sisa tenaganya.

Asisten setia itu muncul seperti bayangan dari balik tanaman palem, langsung berdiri di samping Biru dengan wajah yang seolah siap berperang. Matanya sempat melirik sekilas ke arah pakaian Selena, lalu kembali ke wajah pucat tuannya.

"Bawa Nyonya kembali ke kamar. Pastikan dia mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang... yang lebih tertutup," perintah Biru serak.

"Apa-apaan ini?!" Selena berdiri, wajahnya merah padam karena marah. "Mas Biru, kau tidak bisa menyuruh asistenmu untuk mengatur cara berpakaianku! Aku bukan salah satu karyawanmu!"

"Nyonya, mohon kerja samanya," suara Cakra terdengar dingin dan mutlak. Ia melangkah satu tahap ke arah Selena, menghalangi pandangan orang-orang sekitar. "Kondisi... lingkungan di sini tidak baik untuk Tuan Biru saat ini. Jika Anda tidak ingin melihat sesuatu yang buruk terjadi di tempat umum ini, saya sarankan Anda mengikuti instruksi Tuan."

Selena menatap Biru, hendak melontarkan makian, namun kalimatnya tertelan saat ia melihat Biru mencengkeram dadanya secara sembunyi-sembunyi di bawah meja. Wajah suaminya benar-benar pucat, lebih pucat dari biasanya.

Apa dia sesak napas karena marah? pikir Selena bingung.

"Hanya karena baju ini?" bisik Selena sinis, meski ada nada cemas yang mulai menyelinap. "Baik! Dasar pria aneh. Aku akan ganti baju, tapi jangan harap aku mau menemanimu sarapan lagi!"

Selena menyambar tas pantainya dan berjalan cepat menuju kamar dengan langkah menghentak. Begitu Selena menjauh, Biru langsung merosot di kursi, napasnya tersengal-sengal.

Cakra dengan sigap mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan memberikan satu pil di bawah lidah Biru. "Sudah saya katakan, Tuan. Nyonya adalah ancaman level tertinggi bagi katup jantung Anda. Intensitasnya pagi ini... hampir membuat kita berakhir di rumah sakit terdekat."

Biru hanya bisa memejamkan mata, membiarkan obat itu bekerja, sementara di benaknya, bayangan Selena dengan pakaian terbuka itu masih menari-nari, terus memicu detak jantung yang tak mau berkompromi dengan logika.

Jangan mati sekarang, bisik Biru.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!