Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Renjana
Vanya membuka matanya. Rasa sakit di kepalanya sudah mulai membaik. Seketika Vanya ingat tadi Nana menemaninya.
Vanya berusaha bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga untuk memastikan keberadaan Nana.
"Mamah, Nana kemana?"
"Kamu udah enakan sayang?" Tanya Ratih ketika mendengar suara Vanya.
Vanya mengangguk dan duduk tepat di sebelah mama nya. "Mah.. Nana udah pulang?" Vanya kembali menanyakan keberadaan Nana.
"Udah sayang, tadi abis magrib dia langsung pamit pulang"
"Vanya kamu makan dulu sana abis itu minum obat trus istirahat deh... Besok kamu sekolah kan?"
"Iya mah"
Ratih tersenyum manis. Anak perempuan satu-satunya ini memang tidak pernah membuat nya kecewa, tidak pernah membantah perkataan nya.
Vanya tertidur setelah meminum obat nya.
Ia tertidur sangat pulas, sampai ada suara yang terdengar membangunkannya. Suara yang tak asing lagi bagi Vanya, bahkan Vanya bisa merasakan orang itu menaruh punggung tangannya di dahi Vanya untuk mengecek kondisi tubuh Vanya.
"Van" suara lembut Nana menyapa Vanya yang baru saja membuka matanya.
"Na... Jam berapa?" Vanya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Jam enam kurang sepuluh menit"
"Kenapa baru bangunin, awas awas Na... Udah telat ini" Vanya berlari menuju kamar mandi.
Nana tersenyum, akhirnya ia bisa melihat Vanya kembali seperti biasanya. Nana Meninggalkan kamar Vanya, Nana menyiapkan bekal dan juga sarapan untuk Vanya.
"Na ayo jalan" Vanya berlari menuruni anak tangga dengan tangan yang masih sibuk merapihkan pakaiannya.
"Pelan pelan Vanya" Nana berjalan keluar sambil membawa dua kotak bekal milik Vanya.
Vanya menarik tangan Nana untuk segera masuk kedalam mobil. "Ayo pak kita jalan sekarang" kata Vanya kepada bapak Agus, karyawan di rumahnya yang biasa mengantarnya sejak Vanya TK.
Pak Agus menyalahkan mobil dan langsung berjalan menuju sekolah Vanya. Tepat ketika mobil berjalan meninggalkan perkarangan rumah Vanya, Nana membuka salah satu kontak makan dan mengeluarkan sepotong roti yang sudah di olesi mentega dan gula. Roti tawar dengan gula adalah salah satu makanan favorit Vanya.
Vanya makan dengan sangat lahap, bahkan ia sampai lupa menawarkan kepada pak Agus dan Nana. "Yah udah abis... Vanya blom nawarin pak Agus, maaf ya pak Agus Vanya laper soalnya hehe" Vanya terkekeh kepada pak Agus yang juga dibalas dengan tawa riang dari pak Agus.
Mobil yang di kendarai pak Agus melaju perlahan ketika sudah mendekati sekolah.
"Neng nanti pulang sekolah bapak jemput aja ya" kata pak Agus tepat ketika mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
"Gausah lah pak, Vanya pulang sendiri aja"
"Jangan neng... Nanti neng Vanya sakit lagi"
"Van udahlah nurut aja... Lo kan baru sembuh, bener kata pak Agus nanti Lo sakit lagi kalo kecapean"
Vanya terdiam, yang dikatakan Nana dan pak Agus benar. "Oke... Nanti Vanya kabarin ya kalo udah pulang" kata Vanya sambil mencium tangan pak Agus dan keluar dari mobil.
"Oke neng"
Nana mencium tangan pak Agus dan turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan " Na nanti Lo pulang bareng gue kan?" Vanya ingat ada hal yang ingin ia tanyakan pada Nana.
"Emang kenapa?"
"Kerumah gue dulu ya" kata Vanya sambil melirik ke arah Nana dan memasang wajah imutnya.
Jelas Nana tidak bisa menolak permintaan Vanya. Apalagi kalau untuk berdua dengan Vanya, ia tidak akan melewatkan kesempatan itu bahkan hanya untuk satu detik pun.