Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meredakan Ketegangan
Bab 28
: Meredakan Ketegangan
Tak heran Yan Yuxing bisa jatuh hati pada wanita ini.
Su Ye Lan memang memiliki pesona
yang sulit diabaikan oleh siapa pun.
Zhao Ruxi berusaha menekan rasa iri yang bergolak di dalam hatinya. Ia tetap menjaga sikap
tenang dan berkata dengan nada serius,
“Mohon maaf, Su Guniang. Permintaan ini bukan semata kehendakku, melainkan demi
mengikuti opini publik. Sebagai kepala harem, aku harus mewakili kepentingan semua orang.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Sekarang penyakit menyebar ke seluruh istana. Bahkan kau, yang mengaku memiliki
kemampuan medis tinggi, belum menemukan solusi. Ini jelas pertanda bencana dari langit.”
Su Ye Lan mencibir dingin.
“Alasan yang bagus. Tapi aku penasaran, di mana peramal yang mengatakan bahwa akulah pembawa malapetaka itu?”
“Peramal itu adalah ahli misterius yang sulit ditemukan. Bagaimana aku bisa tahu
keberadaannya?”
“Jadi maksudmu, tidak ada bukti bahwa akulah pembawa malapetaka?”
“Kalau bukan kau, lalu bagaimana kau menjelaskan bencana ini?” balas Zhao Ruxi tajam.
“Setiap hari ada bencana di dunia. Apakah kau bisa menjamin semuanya akan hilang jika aku
mati?” jawab Su Ye Lan tanpa gentar.
“Aku tidak bisa. Tapi sejak kau datang, istana yang damai ini terus dilanda masalah. Jika kau
tidak bisa memberi penjelasan, maka demi keselamatan semua orang, kau harus disingkirkan.”
Nada suara Zhao Ruxi tetap lembut, tetapi setiap kata yang diucapkannya menekan seperti
pisau.
Ia jelas memanfaatkan opini publik untuk menjatuhkan Su Ye Lan.
Saat Yan Yuxing hampir murka, Su Ye Lan justru melangkah maju dan berkata,
“Bagaimana kalau aku bisa menghentikan wabah ini?”
Semua orang terdiam.
Yan Yuxing dan Zhao Ruxi sama-sama terkejut.
Su Ye Lan tersenyum tipis.
“Aku ingin bertaruh. Beri aku tiga hari. Jika aku berhasil menghentikan wabah ini, maka aku
menang. Jika tidak, aku akan menerima hukuman apa pun.”
Zhao Ruxi menatapnya tajam.
“Jika kau gagal, kau bersedia dihukum sebagai pembawa malapetaka?”
“Ya.”
“Su Ye Lan!” Yan Yuxing berusaha menghentikannya.
Namun ia menggeleng pelan.
“Ini bukan lagi urusan pribadi. Ini menyangkut keselamatan seluruh istana. Jika aku mundur
hanya karena hubungan kita, aku tidak akan pernah bisa menghadapi mereka.”
Ia menatap Yan Yuxing dengan tegas.
“Mohon berikan persetujuan, Yang Mulia.”
Hati Yan Yuxing terasa gelisah.
Ia ingin melindunginya, tetapi justru perasaannya itulah yang menyeretnya ke dalam bahaya.
Tatapannya beralih ke Zhao Ruxi, penuh niat membunuh.
Namun Zhao Ruxi tetap tenang. Ia yakin dirinya akan menang.
Ia ingin melihat bagaimana Su Ye Lan bisa membalik keadaan hanya dalam tiga hari.
Begitu Zhao Ruxi pergi, Yan Yuxing langsung menarik Su Ye Lan ke arahnya.
“Kau sudah gila? Kau tahu dia menjebakmu, tapi tetap menerima taruhan itu!”
Su Ye Lan tersenyum tenang.
“Aku tahu. Justru karena itu aku harus melawannya.”
“Apakah kau benar-benar yakin?”
Ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Yan Yuxing terkejut.
“Kau serius?”
“Coba saja dulu,” jawabnya santai.
Beberapa hari kemudian, keajaiban benar-benar terjadi.
Su Ye Lan memang belum menemukan penawar racun secara langsung, tetapi ia menemukan
cara untuk mengeluarkan racun dari tubuh.
Ia meminta tabib istana membuat ramuan khusus campuran obat detoksifikasi dengan bahan
utama croton, yang dikenal dapat menyebabkan diare.
Ramuan itu diberikan tiga kali sehari.
Para pelayan yang meminumnya mengalami diare hebat, namun justru itulah yang mengeluarkan
racun dari tubuh mereka.
Dalam waktu tiga hari, kondisi para korban mulai membaik.
Pada saat yang sama, Su Ye Lan juga menemukan petunjuk penting tentang racun yang disebut
Eliminaso. racun yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, namun sangat berbahaya bagi
manusia.
Ia segera memerintahkan pemeriksaan pada sayuran di kebun istana.
Hasilnya mengejutkan.
Racun itu ternyata berasal dari tanah kebun.
Para pelayan yang mengonsumsi sayuran dari sana keracunan, bahkan sampai meninggal.
Beruntung, kebun tersebut hanya digunakan untuk memasok makanan para pelayan, bukan
keluarga kerajaan.
Dengan sumber racun ditemukan dan dihentikan, wabah pun berhasil dikendalikan.
Rumor tentang “pembawa malapetaka” langsung runtuh.
Dengan dukungan Yan Yuxing, semua gosip pun dibungkam.
Nama Su Ye Lan langsung melambung tinggi.
Dari yang sebelumnya dituduh sebagai pembawa bencana, kini ia dipuji sebagai penyelamat istana.
Para pelayan yang diselamatkan olehnya memujanya sebagai tabib ajaib.
Hal ini membuat Zhao Ruxi hampir meledak karena marah.
......................
Di Istana Harpa Bertatahkan, ia menghancurkan berbagai perabot tanpa peduli siapa pun di
sekitarnya.
Ia tidak pernah menyangka Yan Yuxing, yang selama enam tahun hidup seperti pertapa akan
berubah hanya karena seorang wanita.
“Apakah dia sudah melupakan Shen Lanrou?” gumamnya dingin.
Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Akhirnya, setelah menenangkan diri, ia diam-diam menulis surat, mengikatnya pada kaki merpati
pos, dan membiarkannya terbang pergi.
Matanya dipenuhi perhitungan.
......................
Setelah semua mereda, Yan Yuxing membawa Su Ye Lan keluar istana dengan alasan menepati
janji kepada Buddha di Kuil Putuo.
Alasan yang sempurna.
Selama enam tahun, ia sering pergi ke sana untuk berdoa demi kesembuhan matanya.
Kini, setelah penglihatannya pulih, ia punya alasan untuk kembali.
Namun Su Ye Lan tidak senang.
“Kau sendiri yang berjanji pada Buddha. Apa hubungannya denganku?” katanya kesal.
“Kau yang menyembuhkan mataku dan menyelamatkan istana. Tentu aku harus membawamu
untuk menerima berkah,” jawab Yan Yuxing santai.
“Hmph. Kalau tidak salah, aku ini masih buronan pengadilan, bukan?”
Tatapan Su Ye Lan tajam, tapi Yan Yuxing hanya tersenyum.
Seolah semua itu sama sekali tidak penting baginya.