Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beras Kuning Lagi
Malam itu Suwanto tidur cepat, dan alarm di HP disetel jam 2.30 pagi, dan tepat jam 2.30 pagi Suwanto terbangun karena bunyi alarm di HP-nya itu. Setelah cuci muka dan gosok gigi, Suwanto berjingkat dan menuntun motornya menjauh dari rumah, dan setelahnya meluncur ke rumah Randy, akhirnya rumah itu ketemu juga.
Berbekal informasi alamat Randy yang berhasil dia peroleh dari Mulan, dia mengaktifkan Google Maps.
“Rand, jangan harap lu jadi sama adikku,” kata Suwanto dalam hati. “Maafkan koko, Lan. Koko terpaksa harus ngelakuin ini.”
Sekitar 60 meter sebelum sampai rumah Randy, dia mematikan mesin motornya dan menuntun pelan-pelan supaya tidak membangunkan pemilik rumah. Dan Suwanto mengendap dekat pagar rumah Randy dengan memakai helm full-face dan jaket hitam serta melumuri plat nomor motornya dengan abu, supaya tidak dikenali kalau ada kamera CCTV di sekitar rumah Randy.
Tiba-tiba sebuah bunyi “krek” memecah keheningan pagi itu. Rupanya Suwanto menginjak sepotong ranting kering yang jatuh di aspal depan rumah Randy. Dan Suwanto pun meneruskan langkahnya dengan hati-hati, semakin mendekati pagar rumah Randy.
Rumah itu masih tampak sepi, dan belum ada kegiatan, lalu dia mengeluarkan kotak kecil berisi beras kuning pemberian Mbah Sembur Getih. Suwanto kemudian mengucapkan beberapa mantra yang disuruh Mbah Sembur Getih lalu mengambil selembar kertas kecil di dalam kotak tadi yang sudah ditulisi aksara aneh dengan tinta merah. Ia melipat kertas itu sekecil-kecilnya, lalu dimasukkan ke dalam celah pagar rumah Randy, tepat di depan pintu utama.
Ketika selesai melakukan ritual itu, mendadak ada bunyi “Srek!” yang membuat Suwanto refleks berjongkok agar tubuhnya tertutup pintu pagar. Kayaknya itu mama Randy yang bangunnya paling pagi dan segera membuka gorden.
“Hampir aja ketahuan,” kata Suwanto dalam hati yang buru-buru menuntun motornya menjauh dari rumah Randy.
Setelah dirasa agak jauh, Suwanto menstarter motornya dan dikendarainya pulang dengan perasaan lega karena semuanya lancar bercampur dengan perasaan bersalah karena dia paham Randy adalah anak yang baik, dan adiknya sangat mencintai dia.
“Tapi gua gak punya pilihan lain,” lamun Suwanto yang sudah memasuki gang-gang di kawasan Petak Sembilan.
Tinggal di rumah Randy, mama Randy agak merinding ketika dia menemukan butiran beras kuning saat hendak menyapu halaman rumahnya. Untuk sesaat dia mengamati butiran beras berwarna kuning itu, tapi akhirnya mencuekkan hal itu dan terus menyapu.
“Paling muntahan burung,” pikir Mama Randy dalam hati dan mengumpulkan butiran-butiran beras kuning itu bersama kotoran lainnya ke dalam pengki, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Di rumahnya di kawasan Petak Sembilan, Suwanto telah kembali ke rumahnya dan sedang berbaring di ranjang miliknya sambil pikirannya menerawang ke mana-mana.
“Kita lihat keampuhan Mbah Sembur Getih itu, apakah dia benar-benar sakti,” kata Suwanto dalam hati. “Kalau berhasil, aku akan pinjam uang lagi, sepuluh juta aja, biar digandakan Mbah Sembur Getih jadi seratus juta. Tapi pinjam ke siapa? Masak ke Rody lagi? Pinjaman gua ke Rody sudah banyak, apa dia masih mau kasih pinjaman lagi?
“Ah, sebodo teuing,” kata Suwanto, kali ini terucap dengan suara pelan pada dirinya sendiri. “Itu nanti pikirin belakangan, yang penting santet ini dulu. Berhasil nggak?”
Jam baru menunjukkan pukul lima, tapi Mulan sudah keluar dari kamarnya dan sudah rapi berseragam putih abu-abu dan memakai pita kuning. Manis sekali.
“Kok tumben pagi-pagi sudah siap berangkat sekolah, Lan?” tanya Mama Mulan sambil memanaskan makanan semalam untuk sarapan.
“Masih nanti kok, Ma, berangkatnya,” jawab Mulan berseri-seri. “Hari ini ada upacara di sekolah, jadi harus berangkat pagian.”
“Hubunganmu dengan Randy bagaimana, Lan?” tanya Cu Niang dengan tiba-tiba sambil meniup kopinya. Dia sudah merasa anaknya itu ada hubungan spesial dengan Randy.
“Jalani dulu, Pa,” jawab Mulan.
“Kamu harus ingat, keluarga kita dan Randy banyak perbedaannya,” kata Cu Niang alias papa Mulan itu. “Dan keadaan ekonomi keluarga kita juga begini, papa cuma jualan kue.”
“Moga-moga nggak jadi masalah, Pa,” jawab Mulan pelan. “Mulan sih belum pernah ketemu keluarga Randy, tapi kalau kata Randy keluarga Randy bukan tipe yang nuntut macam-macam, Pa.”
“Ya, semoga saja,” kata Cu Niang sambil menyeruput kopinya.
Suwanto yang tidak tidur di kamarnya menguping pembicaraan Mulan dengan papanya itu, lalu dia mengetik pesan kepada Rody:
“Bro, lu harus cepat bertindak, kayaknya adik gua sudah jadian sama Randy.”
“Brengsek, lu sebagai kokonya ngapain aja? Masa nggak bisa ngatur adik lu?” balas Rody.
“Kok jadi gua? Lu yang nggak hoki, kok gua yang disalahin?” gerutu Suwanto dalam hati.
Lalu masuk lagi balasan, “Gua siapin plan B. Ingat deal kita tetap berlaku.”
“Yoi, bro,” balas Suwanto dalam pesannya kepada Rody.
“Gini aja, ntar sore gua main ke rumah lu, dan ajak adik lu ikut ketemu sama gua,” kata Rody lagi dalam pesannya.
“Siap, bro!” balas Suwanto. Suwanto sengaja tidak memberi tahu Mulan soal rencana kedatangan Rody, karena dia tahu Mulan tidak begitu suka sama Rody yang bermulut besar itu. Dia pun sebetulnya juga tidak terlalu suka sama Rody, hanya karena utangnya saja dia harus berbaik-baik sama Rody.
Sepanjang hari itu, jadwal kuliah Randy memang sangat panjang, lalu dia mengirim pesan WhatsApp kepada Mulan:
“Sayang, hari ini aku nggak bisa mampir ke rumahmu, ya. Jadwal kuliah padat sampai sore.”
“Gombal ah, pakai sayang-sayang segala. Bukan ngapel ke cewek lain, kan?” balas Mulan dalam pesannya.
“Ya nggaklah, aku bukan tipe cowok kayak gitu. Dan aku manggil sayang biar romantis, kayak di film-film drakor,” balas Randy dengan emotikon ketawa yang dibalas dengan emotikon hati. Setelah itu Randy kembali sibuk dalam kegiatan perkuliahannya, sedang Mulan sibuk membungkus kue yang barusan diantar untuk persiapan ayahnya jualan besok.
Akhirnya Rody datang juga sambil membawa dua bungkusan besar, dari luar terbaca “Chapon et la Chocolaterie”, sebuah cake yang mahal dan mewah di Jakarta.
“Mobil gua parkir di lapangan situ ya, bro,” kata Rody mulai dengan bualannya. “Dan ini ada cake dari Chapon et la Chocolaterie buat kalian semua.”
“Sh, nggak usah repot-repot,” kata Suwanto.
“Nggak apa-apa, mumpung gua ada kangtao sedikit, bisa ngoleh-ngolehin yang rada mahal sesekali,” ujar Rody dengan gaya angkuhnya.
“Nggak pergi-pergi?” tanya Rody basa-basi.
“Kan nungguin elu,” jawab Suwanto sambil tertawa ngakak. Rody yang bersama Suwanto ada di ruang tamu bisa melihat Mulan yang sedang sibuk membungkus kue di meja makan. Rody kemudian memberi kode kepada Suwanto agar mengajak adiknya itu ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
“Lan, sini, ini ada Rody pengin ngobrol sama elu,” kata Suwanto.
“Ini lagi sibuk, ko, mbungkusin kue-kue yang mau dijual besok,” jawab Mulan tanpa mengalihkan pandangannya. “Ntar nggak selesai, kasihan papa besok.”
“Ntar gua bantuin,” kata Suwanto memaksa. “Ntar koko bantuin.”
“Bangsat, gua jadi kacung si Rody nih kalau gini caranya,” maki Suwanto dalam hati.
Dengan malas Mulan berjalan pelan ke arah Suwanto dan Rody yang tengah asyik ngobrol itu. Dari raut mukanya, jelas Mulan nggak suka diajak nimbrung dalam obrolan Suwanto dan Rody.
“Duduk sini aja,” kata Suwanto menggeser duduknya ke pinggir, jadi Mulan nggak punya pilihan duduk di tengah-tengah di antara Suwanto dan Rody.
Mulan tampak merasa tidak nyaman dan sedikit curiga terhadap Rody, tapi dia pendam saja, karena tidak enak sama kakaknya.