NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Cakrawala yang Terbakar

​Suara sirine darurat melolong panjang, membelah kegelapan malam di Markas Omega dengan nada yang mengerikan. Cahaya lampu sorot yang tadinya menyisir hutan kini berputar liar, sesekali menangkap bayangan-bayangan hitam yang melompat melewati tembok beton setinggi sepuluh meter. Markas yang tadinya merupakan simbol ketertiban militer kini berubah menjadi kuali kekacauan. Aku berlari menembus koridor terbuka, tangan kiriku menggenggam erat pergelangan tangan Kurumi, sementara tangan kananku menenteng senapan serbu HK416 yang baru saja kucuri.

​"Zidan! Mereka sudah masuk! Mereka sudah ada di dalam!" Kurumi berteriak di antara deru angin dan suara tembakan senapan mesin yang membabi buta dari menara penjaga.

​"Jangan melihat ke belakang! Terus lari ke arah hanggar Little Bird!" balasku tanpa mengurangi kecepatan.

​Logikaku menghitung setiap detik yang tersisa. Di kejauhan, pesawat kargo C-130 raksasa milik para petinggi militer sudah mulai bergerak di landasan pacu. Mereka benar-benar akan pergi, meninggalkan ratusan penyintas di barak sebagai umpan hidup. Pengkhianatan ini bukan hal yang mengejutkan bagiku; di dunia yang hancur, moralitas adalah beban yang dibuang pertama kali oleh mereka yang berkuasa.

​BRAKKKK!

​Gerbang utama baja di sektor timur hancur berkeping-keping. Sosok raksasa Tanker menerjang masuk, menghancurkan kendaraan taktis yang menghalanginya seolah-olah itu hanya mainan plastik. Di belakangnya, gelombang Crawler dan zombi biasa mengalir masuk seperti air bah hitam yang haus darah.

​"Kontak! Pukul tiga!" teriakku.

​Dua sosok Crawler meluncur turun dari atap barak, mendarat tepat di depan jalur kami. Mereka tidak menggeram; mereka langsung menerjang dengan cakar yang terhunus.

​Aku tidak berhenti berlari. Aku mengangkat moncong senapanku dan melepaskan rentetan tembakan pendek yang presisi. Trak-trak-trak! Peluru kaliber 5.56mm menghantam kepala makhluk pertama, menghancurkannya dalam sekejap. Makhluk kedua mencoba melompat ke arah Kurumi, tapi aku mengayunkan kaki kiriku, menendang dadanya dengan keras hingga dia terpental ke tumpukan tong bahan bakar.

​DOR!

​Aku menembak tong itu. Ledakan kecil tercipta, membakar makhluk itu hidup-hidup dan menciptakan barikade api sementara di belakang kami.

​"Zidan, kakimu!" Kurumi melihat darah merembes di celanaku akibat luka lama yang terbuka kembali karena gerakan kasarku.

​"Lupakan kakiku! Nyawa kita lebih penting!" kataku dingin. Rasa sakit adalah informasi, bukan penghalang. Dan informasinya adalah: aku harus mencapai helikopter itu dalam waktu kurang dari tiga menit atau kami akan terjebak dalam pengeboman pembersihan yang pasti akan dilakukan militer setelah pesawat kargo itu lepas landas.

​Kami sampai di hanggar helikopter pengintai. Suasananya sangat sepi dibandingkan bagian markas lainnya. Para teknisi dan penjaga tampaknya sudah lari menuju pesawat kargo atau tewas dalam serangan awal. Helikopter Little Bird itu duduk manis di pojok hanggar, kecil namun mematikan dengan peluncur roket dan senapan mesin di sisinya.

​"Naik ke kursi penumpang! Cepat!" perintahku sambil melompat ke kursi pilot.

​"Kamu... kamu bisa menerbangkan ini?!" Kurumi menatap panel instrumen yang rumit dengan wajah pucat.

​"Aku pernah belajar simulator penerbangan sebelum semua ini terjadi, dan logikanya tidak jauh berbeda dengan mengemudi kendaraan taktis, hanya ditambah dimensi vertikal," jawabku bohong. Sebenarnya, aku hanya mengandalkan intuisi teknisku dan manual darurat yang tertempel di dasbor. Di dunia ini, kau tidak punya pilihan selain bisa melakukan segalanya.

​Aku mulai menekan tombol-tombol startup. Mesin turbin mulai berputar, mengeluarkan suara siulan tinggi yang semakin lama semakin keras. Baling-baling di atas kepala kami mulai berputar perlahan, memotong udara malam yang pengap.

​Tiba-tiba, pintu hanggar terbuka. Tiga orang prajurit muncul dengan senjata teracung. Mereka bukan zombi; mereka adalah anak buah Mayor David yang tertinggal.

​"Turun dari sana! Itu aset militer!" teriak salah satu dari mereka, wajahnya penuh kepanikan.

​"Aset militer yang akan kalian gunakan untuk kabur sendiri?" aku balas berteriak melalui jendela kaca helikopter. Aku tidak melepaskan tangan dari tuas kendali. "Dengar, Mayor kalian sudah ada di pesawat kargo itu. Kalian ditinggalkan. Kalau mau selamat, cari kendaraan darat di hanggar sebelah. Helikopter ini milikku."

​"Bajingan! Turun sekarang atau kami tembak!"

​Prajurit itu mulai menarik pelatuk. Logikaku berbisik bahwa negosiasi telah gagal. Aku tidak ragu. Aku menekan tombol pelatuk senapan mesin yang terintegrasi di sisi helikopter.

​RATATATATATA!

​Peluru kaliber .50 menghancurkan lantai beton di depan mereka, mengirimkan serpihan batu yang membuat mereka kocar-kacir mencari perlindungan. Aku tidak berniat membunuh mereka jika tidak perlu—peluru itu terlalu berharga—tapi aku butuh mereka menyingkir.

​"Zidan! Baling-balingnya sudah cepat! Ayo terbang!" teriak Kurumi.

​Aku menarik tuas collective. Helikopter itu bergetar hebat sebelum akhirnya terangkat dari lantai hanggar. Aku mengarahkannya keluar melalui pintu besar yang terbuka, terbang rendah hanya beberapa meter di atas tanah.

​Pemandangan dari udara jauh lebih mengerikan. Markas Omega benar-benar sedang dibantai. Api berkobar di mana-mana. Aku bisa melihat ratusan penyintas berlari tanpa arah sementara para Crawler memburu mereka dari atap ke atap. Pesawat kargo C-130 di landasan pacu mulai bergerak cepat, mesin jetnya menyemburkan api yang membakar apa pun di belakangnya.

​"Mereka pergi... mereka benar-benar meninggalkan semua orang," bisik Kurumi, air mata mengalir di pipinya saat melihat barak-barak penyintas mulai dilalap api.

​"Itu adalah pilihan logis bagi mereka, Kurumi. Mengorbankan banyak orang untuk menyelamatkan segelintir 'aset berharga'. Tapi mereka melakukan satu kesalahan fatal," kataku sambil menarik tuas kendali untuk menanjak lebih tinggi.

​"Kesalahan apa?"

​"Mereka menganggap aku sebagai variabel yang bisa diabaikan."

​Aku melihat ke arah menara komunikasi pusat. Jika aku membiarkan mereka pergi begitu saja, mereka akan menutup semua akses frekuensi dan membiarkan wilayah utara tetap eksklusif bagi mereka. Aku harus memberikan 'hadiah' perpisahan.

​Aku mengarahkan helikopter ke arah tangki penyimpanan bahan bakar utama di dekat landasan pacu. Aku mengunci target dengan bidikan manual.

​"Apa yang kamu lakukan, Zidan?!"

​"Memastikan mereka tidak punya alasan untuk kembali ke sini," jawabku. Aku menekan tombol peluncur roket.

​SWOOSH!

​Dua buah roket meluncur, meninggalkan jejak asap putih di langit malam. Keduanya menghantam tangki bahan bakar dengan akurasi sempurna.

​BOOOOOMMMMM!

​Ledakan raksasa tercipta, membentuk bola api setinggi gedung pencakar langit. Gelombang kejutnya menghantam helikopter kami, membuatnya terombang-ambing di udara. Ledakan itu tidak hanya menghancurkan cadangan bahan bakar markas, tapi juga menciptakan dinding api yang menghalangi jalur zombi menuju landasan pacu... sekaligus memberikan tekanan udara yang ekstrem bagi pesawat kargo yang baru saja lepas landas.

​Pesawat C-130 itu tampak terguncang hebat, sayapnya miring berbahaya sebelum akhirnya berhasil menstabilkan diri dan menghilang di balik awan. Mereka selamat, tapi mereka baru saja kehilangan pangkalan logistik terbesar mereka di wilayah ini.

​"Sekarang, kita pergi ke utara," kataku, memutar helikopter menjauh dari Markas Omega yang sedang sekarat.

​Kami terbang menembus kegelapan. Di bawah kami, hutan pinus yang tadinya sunyi kini tampak dipenuhi dengan titik-titik api kecil. Pandanganku fokus pada kompas di dasbor. Utara adalah harapan terakhir. Suhu rendah, pegunungan tinggi, dan wilayah yang sulit dijangkau oleh massa zombi yang besar.

​Keheningan menyelimuti kabin helikopter selama beberapa menit, hanya ada suara mesin yang menderu. Kurumi tampak sudah sedikit tenang, meski tubuhnya masih gemetar.

​"Zidan," panggilnya pelan.

​"Hmm."

​"Kenapa kamu menyelamatkanku? Secara logika... aku ini beban. Aku tidak bisa menerbangkan helikopter, aku tidak sehebat kamu dalam menembak, dan aku sering ketakutan. Kenapa kamu tidak naik helikopter ini sendirian saja?"

​Aku terdiam sejenak. Tanganku tetap stabil di tuas kendali. Logikaku mencari jawaban yang paling akurat.

​"Karena di dunia yang sudah tidak masuk akal ini, memiliki satu variabel tetap yang bisa dipercaya adalah investasi yang lebih berharga daripada amunisi cadangan," jawabku datar. "Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu siapa aku sebelum semua ini terjadi. Mempertahankanmu berarti mempertahankan sedikit kewarasanku. Itu adalah strategi jangka panjang yang paling logis."

​Kurumi menatapku, lalu dia tersenyum kecil. "Strategi jangka panjang, ya? Baiklah, aku akan berusaha jadi investasi yang menguntungkan buatmu, Tuan Anti-Naif."

​Aku tidak membalas senyumnya, tapi aku merasakan beban di pundakku sedikit berkurang.

​Tiba-tiba, radio di helikopter berbunyi. Bukan dari Mayor David, tapi sebuah frekuensi terbuka yang sangat statis.

​"...sttt... ini penyintas di Sektor Pegunungan... adakah yang mendengar? Kami membangun komunitas di Puncak Frost... sttt... jika ada yang memiliki transportasi udara... kami memiliki persediaan makanan tapi sedang dikepung... sttt..."

​Aku dan Kurumi saling pandang.

​"Frost Peak," gumamku. "Itu ada di rute utara kita. Dan mereka bilang punya persediaan makanan."

​"Tapi mereka bilang mereka dikepung, Zidan. Apa kita akan menolong mereka?"

​"Kita tidak 'menolong' mereka, Kurumi. Kita akan melakukan negosiasi bisnis," kataku sambil mengubah sedikit arah terbang helikopter. "Mereka butuh daya tembak udara, dan kita butuh makanan. Itu adalah pertukaran yang adil."

​Pesawat kami meluncur menembus awan dingin. Di kejauhan, puncak gunung yang tertutup salju mulai terlihat di bawah sinar rembulan yang pucat. Markas Omega sudah menjadi kenangan pahit di belakang kami. Di depan, sebuah tantangan baru di wilayah beku sudah menanti.

​Logikaku berkata, di tempat yang dingin, darah akan membeku lebih cepat. Tapi begitu juga dengan musuh-musuh kami. Dan aku, Zidan, akan memastikan bahwa akulah yang paling dingin di antara semuanya.

​Catatan Penulis:

Chapter 17 menandai berakhirnya Arc Markas Omega dengan ledakan besar. Zidan dan Kurumi kini menuju wilayah Utara yang beku, mengejar harapan baru di Frost Peak. Bagaimana Zidan akan menghadapi komunitas baru yang putus asa? Dan apakah suhu dingin benar-benar bisa menghentikan mutasi virus? Jangan lupa Like, Favorit, dan berikan komentar kalian!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!