Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasad Ratna—3
Malam berganti. Bagas seperti biasanya duduk diteras rumah, diatas kursi kayu yang dibuatnya sendiri.
Sedangkan untuk mejanya juga terbuat dari bahan yang sama, diatasnya terdapat kopi hitam panas dan singkong rebus madu, yang masih mengepul asapnya.
Mbok Ratih sudah masuk ke kamarnyanya, ia sedang tidak enak badan, sebab itu Alawiyah yang berbelanja pagi tadi ke warung.
Alawiyah masih sibuk dengan doanya, seolah ia tak henti meminta pada Rabb—Nya untuk diberi petunjuk, tentang kesembuhan suaminya.
Bagas menghisap rokoknya, menghembuskan asap yang mengepul diudara.
Wajahnya cukup tampan, sama seperti Ratih, hanya saja kulitnya tampak eksotis, sebab terjemur matahari.
Akan tetapi, itu pula yang membuatnya semakin terlihat Macho.
Novita tampak menggeser pintu pagarnya. Ditangannya terdapat rantang berjumlah tiga rakit.
Ia tampak berjalan menuju rumah Ratih, dan Bagas menyambutnya dengan perasaan yang biasa saja, sepertinya ia sudah mati rsa, saat permasalahan kemarin dengan Ratna.
"Mas Bagas, sendiri—saja."
Novita menyerahkan rantang ditangannya kepada Bagas. "Dimakan, Ya—Mas. Itu Novita sendiri yang masak, dijamin enak, dagingnya lembut juicy mahalini Rizky Febian, bisa pesan online,"
Gadis itu menirukan salah satu artis fenomenal yang mendapat gelar komen spam di setiap postingan media sosial.
"Oh, iya. Terimakasih, Dik Novi. Baik banget." jawab Bagas berbasa-basi.
Ia mengambil rantang tersebut, dan meletakkannya diatas meja, bersebelahan dengan rokok dan ubi madunya.
"Iya, Mas. Jangan lupa juga, bagi buat adik iparnya—ya."
Novita mengulas senyum sumringah, lalu berpamitan pulang, saat melihat Suketi, Inem, Sarinah, dan Sumi yang sudah tiba di depan pagar rumah, semabri membwa mobil mewah mereka masing-msing.
Padahal jarak rumah cukup dekat, hanya sejauh empat puluh hingga seratus meter saja.
"Saya pulang, Mas. Tamu sudah datang."
Iya, Dik Nov. Terima kasih banyak," sahut Bagas.
Gadis itu melangkah pulang menemui para tamunya.
Sementara itu, Alawiyah baru saja keluar dari kamarnya. Ingin mengambil air minum.
"Roh, sini sebentar," panggil Bagas, saat melihat Alawiyah yang kelur dari kamarnya.
"Iya, Mas."
Alawiyah menghampiri.
"Ini ada makanan dari tetangga depan. Kalau kamu ragu, buang saja."
Bagas menyodorkan rantang tersebut. Ia dapat mengendus aroma gurih dan bumbu yang menggugah selera, tetapi hatinya seolah menolak.
Alawiyah mengambilnya, lalu menatap rantang tersebut.
Entah mengapa, ia merasakan getaran dan bisikan-bisikan yang memintanya untuk membuang makanan tersebut.
"Aku bawa ke dapur saja, gak enak klau dilihat sama yang memberi."
Alawiyah membawanya masuk ke dalam. Saat tiba di dapur, ia meletakkannya di atas meja, dan membuka rakit rantang satu persatu, agar mudah membuang isinya
Saat ia buka, terdapat olahan rendang, bakso daging, serta burger dengan patty yang tebal.
Seeerr
Sesaat ia merasakan jika tenggorokannya seolah hendak muntah dan menolak langsung makanan tersebut—sebelum ia memakannya.
Perlahan, ia melihat daging-daging tersebut mendadak berdarah, dan terdengar suara jerit kesakitan, yang mana suaranya mirip dengan Ratna.
Darah tersebut perlahan semakin banyak, dan mengalir hingga turun ke lantai, lalu menggenang dan membuat Alawiyah bergidik ngeri.
"Astaghfirullah."
Ia beringsut mundur, tetapi darah tersebut seolah terus mengejarnya, dengan suara pekikan kesakitan.
"Aaaargh ...." pekik Alawiyah yang seolah melihat wajah Ratna berlumuran darah.
Bagas yang mendengar suara teriakan adik iparnya, berlari mengejar ke dapur.
"Roh, kamu kenapa?"
Tanpa sadar, Alawiyah mendekap Bagas, saat wajah Ratna seolah terbang datang menyerangnya.
"Itu!" tunjuknya ke arah lantai yang penuh dengan darah.
"—itu apa?!" tanya Bagas, yang entah bagaimana tangannya sudah mendarat di punggung adik iparnya.
Sesaat Alawiyah menyadari sesuatu yang salah, lalu dengan cepat melepaskan tangan Bagas.
Menjauh dari pemuda, dan memilih masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Bagas, yang usianya sudah tiga puluh lima tahun, dan baru pertama kalinya bersentuhan dengan wanita, mendadak tremor.
Ia terdiam sejenak, menata nafasnya yang tersengal, disertai degup jantungnya yang cukup kencang.
Sementara itu, dirumah Novita, tampak terlihat suasana yang penuh kegembiraan.
"Gak biasanya Ratna plesiran sampai keluar negeri."
Ucap Sarinah,sembaru memakan burger dengan sangat lahap.
"Iya, gak mau ngajak-ngajak, kan—kita pengen juga ke sana, liat salju," sahut Suketi, yang sedang menyantap bakso, dan sudah menghabiskan tiga porsi.
"Tapi kamu pinter masak, lho—Nov." puji Inem, yamg mana tadi sudah memberi ide pada Novita.
"Kan banyak resep di internet, tinggal cari saja," sahut Novita. Ia menatap tamunya yang sangat lahap.
"Iya juga—ya. Kamu udah cocok kalau buka warung bakso, rasanya endul," puji Suketi, sembari memberikan jempol tangannya, sebagai reaksi pujian.
"Ide bagus. Saya akan coba buka warung bakso," sahut Novita cepat.
"Makasih jamuannya—ya, Nov. Enak banget." Sarinah berpamitan pulang.
Novita menganggukkan kepalanya. "Iya, makasih atas kehadirannya, ya Bi."
Sarinah menjawab dengan senyum puas, lalu berjalan keluar dari rumah Ratna.
Sedangkan Sumi, ia tampak sangat berselera dengan rendang milik tuan rumah.
"Boleh bawa rendangnya—Nov?" Sumi akhirnya masih belum puas dengan makannya.
"Oh, Boleh. Sebentar saya ambilkan.
"Wah, untuk saya juga—ya, Nov." Inem tanpan sungkan langsung menimpali.
"Boleh, sekalian untuk Bi Suketi saya bawakan juga." Novita bergegas ke dapur, lalu mengambil toples transparan, dan memasukkan masing-masing sekilo rendang, dan memberikan—kepada ketiga tamunya.
Lalu mereka berpamitan untuk pulang.
Sementara itu, waktu terus berjalan. Alawiyah merasa tak nyaman atas peristiwa yang terjadi saat tadi.
"Astaghfirullah, apa yang kulakukan? Semoga saja Mas Bagas tidak salah menduga."
Ia merasa gelisah, dan terus saja berdoa, berharap semuanya baik-baik saja.
Sesaat ia teringat ia teringat akan rendang yang berubah menjadi darah, serta jeritan kesakitan dari sosok bayangan yang jelas mirip Ratna.
"Apa yang terjadi pada wanita itu?" Alawiyah mulai cemas. "Sehari ini, ia tidak ada keluar rumah."
Alawiyah beranjak dari ranjangnya, lalu membuka tirai jendela, mengamati rumah megah nan mewah berlantai tiga itu dengan tubuhnya yang bergidik ngeri.
Suasana dilantai tiga tampak gelap, tanpa pencahayaan, dan itu sangat pamali sekali, sebab para makhluk ghaib, suka mendiami ruangan yang kosong dan gelap.
Saat di tengah pengintaiannya, ia mendengar suara yang sedang kesakitan.
"Weei, siapa yang meletakkanku disini?! Keluarin, panas—tau!" suara teriakan itu terdengar sangat jelas, dan membuat Alawiyah bergegas mencari sumbernya.
"Dimana suaranya?" ia mencari suara tersebut, dan teriakannya semakin terdengar sangat kuat.
"Weeei, buaran, lepasin! Panas!" suara itu semakin kencang, dan tampaknya ia sedang terbakar.
Alawiyah menghampiri mushab yang ia letakkan di atas meja dan merasa jika sumber suara itu berasal dari sana.
Dengan perasaan campur aduk, ia membukanya, dan tiba-tiba saja ....
Wuuuussh
Desiran angin berhawa panas melesat keluar—bersamaan dengan mushab yang tertutup, disana tempat Alawiyah menyelipkan uang pemberian Inem pagi tadi.
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣