NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DETIK DETIK DIBALIK PINTU

Suaraa ketukan selongsong cerutu pada asbak kristal di luar koridor terdengar begitu dekat, menyatu dengan derap langkah kaki Tuan Surya yang kian mendekat. Detik-detik itu terasa berjalan melambat bagai siksaan yang tiada akhir bagi Kirana. Di dalam kegelapan ruang kerja yang sunyi, ia bisa mendengar dengan jelas suara napasnya sendiri yang memburu, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdentum hebat di balik dada.

​Tertangkap di dalam ruangan ini sama saja dengan bunuh diri. Tuan Surya bukan pria naif seperti Adrian; jika pria berkuasa itu mendapati "gadis konveksi" pilihan anaknya berada di depan brankas pribadinya, ia tidak akan segan-segan menggunakan seluruh kaki tangannya di kepolisian kota untuk melenyapkan Kirana tanpa jejak.

​Dengan kecepatan berpikir yang diasah oleh kerasnya kehidupan kelab malam, Kirana membatalkan niatnya untuk keluar lewat pintu depan. Ia berbalik, menatap meja kerja kayu yang megah, lalu dengan gerakan tanpa suara menyelinap ke sudut ruangan yang paling gelap—di balik tirai marun tebal yang menutupi jendela besar menghadap ke taman samping.

​Cklek.

​Pintu kayu jati itu terbuka luas. Lampu ruangan yang tadinya temaram seketika benderang saat Tuan Surya menekan sakelar di dinding.

​Dari balik celah kecil tirai , Kirana menahan napasnya rapat-rapat. Ia melihat Tuan Surya melangkah masuk dengan wajah masam, ponselnya masih menempel di telinga. Pria paruh baya itu tampak menggerutu kasar kepada seseorang di seberang telepon.

​"Aku tidak mau tahu, Bramanto! Pokoknya malam Kamis depan, uang lima milyar dari si Jaya itu harus sudah masuk ke rekening penampungan secara tunai dan bersih," geram Tuan Surya sembari mengempaskan tubuh gempalnya ke kursi kerja kulitnya. "Inspektorat Wilayah Pusat mulai mengendus beberapa ketidaksesuaian laporan pajak di Distrik Utara. Kita tidak punya banyak waktu. Begitu uang itu ada, aku akan serahkan dokumen Amdal-nya, dan si Jaya harus segera memulai pembangunan fisik agar proyek ini terlihat legal di mata publik."

​Tuan Surya terdiam sejenak, mendengarkan jawaban dari rekan bisnisnya, lalu mendengus meremehkan. "Kelemahan hukum? Hahaha! Jangan bodoh. Surat perjanjian bawah tangan itu sudah kuatur sedemikian rupa. Jika orang-orang pusat datang mengaudit, Jaya-lah yang memegang kepemilikan mutlak atas lahan dan modal terlarang itu. Kita hanya konsultan yang tidak tahu apa-apa. Biarkan orang udik itu membusuk di penjara Valerion sementara kita menikmati hasilnya."

​Mendengar konspirasi kejam itu diucapkan langsung dari mulut sang Kepala Dinas, lapisan es dendam di hati Kirana kian menebal. Siasatnya berjalan di atas jalur yang benar. Aliansi orang-orang serakah ini sudah saling mengunci leher mereka sendiri; ia hanya perlu menjadi tangan yang menarik tuas gantungannya.

​Tuan Surya menutup teleponnya dengan kasar, meletakkannya di atas meja, lalu berdiri berjalan menuju arah lukisan pemandangan di dinding. Jantung Kirana kembali berdegup kencang. Apakah pria itu akan memeriksa brankasnya? Apakah cairan pembersih yang ia semprotkan tadi menyisakan aroma yang mencurigakan?

​Namun, sebelum Tuan Surya sempat menyentuh bingkai lukisan, terdengar suara ketukan panik di pintu ruang kerja.

​"Ayah? Ayah di dalam?" suara Adrian terdengar dari luar.

​Tuan Surya menghentikan gerakannya, menoleh ke arah pintu dengan dahi berkerut. "Masuk, Adrian. Ada apa?"

​Adrian membuka pintu dengan wajah yang tampak cemas bercampur bingung. "Ayah lihat Kirana tidak? Tadi saya dari toilet lantai bawah, tapi saat kembali ke ruang tengah, Kirana sudah tidak ada. Ibu juga bilang tidak melihatnya di dapur."

​Tuan Surya mendengus, merapikan jas rumahnya. "Mana Ayah tahu. Memangnya Ayah menjaga perempuanmu itu? Cari di halaman samping, mungkin dia sedang mencari udara segar. Rumah ini luas, anak muda."

​"Ah... iya, mungkin di taman samping," gumam Adrian, tampak lega dengan jawaban ayahnya. "Maaf mengganggu Ayah."

​Saat Adrian berbalik untuk keluar, Kirana tahu ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Jika Adrian pergi mencari ke taman samping, ia akan menemukan taman itu kosong, dan kecurigaan akan langsung mengarah ke dalam rumah.

​Dengan gerakan yang sangat halus, Kirana menggeser tirai tebal di belakangnya. Di balik tirai itu, terdapat sebuah pintu kaca geser kecil yang menghubungkan ruang kerja langsung ke taman samping. Beruntung, kunci selotnya berada di bagian dalam. Kirana membuka selot itu dengan jari yang gemetar perlahan, menggeser pintu kaca cukup luas untuk tubuhnya menyelusup keluar, lalu menutupnya kembali dengan rapat dari luar.

​Udara dingin malam Distrik Menteng seketika menerpa kulit wajah Kirana yang dipenuhi keringat dingin. Ia berjalan cepat menyusuri jalan setapak berbatu di antara tanaman hias, merapikan gaun batiknya, dan mengatur napasnya agar kembali normal.

​Saat ia berbelok di sudut , ia melihat siluet Adrian yang baru saja melangkah keluar dari pintu ruang tengah menuju taman.

​"Mas Adrian!" panggil Kirana dengan nada suara yang dibuat sedikit manja dan ceria, memecah kesunyian malam.

​Adrian tersentak, menoleh cepat, dan wajahnya langsung berseri-seri penuh kelegaan saat melihat Kirana berjalan mendekat dari arah rimbunan pohon palem. "Rana! Kamu dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana, sampai takut kamu tersesat."

​Kirana melangkah mendekati Adrian, menggenggam kedua belah tangan pemuda itu dengan kehangatan semu yang menenangkan. "Maaf ya, Mas. Tadi setelah makan malam, kepala saya agak pening lagi. Jadi saya izin ke pelayan belakang untuk jalan-jalan sebentar di taman ini mencari angin segar. Tamannya indah sekali, Mas, saya sampai lupa waktu."

​Adrian mengembus napas lega, merangkul pundak Kirana dengan erat. "Syukurlah... aku sempat berpikir yang tidak-tidak. Ayo kita kembali ke dalam, Ibu sudah memotong kue ulang tahunnya. Setelah itu, aku akan mengantarmu kembali ke kelab."

​"Iya, Mas," jawab Kirana lembut, menyandarkan kepalanya di dada Adrian saat mereka berjalan beriringan masuk kembali ke dalam rumah mewah tersebut.

​Saat melewati jendela kaca ruang kerja Tuan Surya, Kirana melirik sekilas ke dalam melalui sudut matanya. Lampu ruangan itu kini telah padam. Di dalam kegelapan tas tangannya, ponsel yang berisi foto-foto dokumen jahanam itu terasa seperti sebuah belati yang sudah terasah tajam, siap untuk ditusukkan tepat ke jantung pertahanan para musuhnya.

​Pukul sepuluh malam, sedan hitam metalik Adrian kembali berhenti di depan gerbang belakang The Velvet Rose. Sepanjang perjalanan, Adrian tidak berhenti menggenggam tangan Kirana, meracau tentang betapa bahagianya dia karena ibunya sangat menyukai kehadiran Kirana malam ini.

​"Satu bulan lagi, Rana..." bisik Adrian sebelum Kirana turun dari mobil, matanya menatap Kirana dengan binar asmara yang penuh delusi. "Begitu urusan proyek ayahku dengan Juragan Jaya selesai bulan depan, aku akan meminta izin resmi kepada Ayah dan Ibu untuk membawamu keluar dari tempat ini. Aku akan membelikanmu sebuah rumah kecil di Distrik Utara agar kamu tidak perlu bekerja seperti ini lagi."

​Kirana menatap wajah Adrian, memasang senyuman paling manis dan paling penuh kepalsuan yang pernah ia ciptakan di dunia ini. "Saya akan selalu menunggu hari itu tiba, Mas Adrian. Terima kasih atas semua kebaikanmu."

​Begitu pintu mobil ditutup dan sedan mewah itu melaju pergi meninggalkan pelataran, senyuman di wajah Kirana runtuh seketika, digantikan oleh kekosongan yang sedingin es kutub. Ia berbalik, melangkah masuk ke dalam kelab melewati koridor dapur bawah yang remang-remang.

​Di dalam kamar 303, Mbak Lastri sudah duduk menunggu di tepi ranjang dengan wajah yang pucat pasi karena cemas. Begitu melihat Kirana masuk dan mengunci pintu, Lastri langsung berdiri tegak.

​"Bagaimana, Kirana? Kamu selamat? Apakah kamu berhasil?" tanya Lastri dengan suara bergetar, menahan napas menanti jawaban.

​Kirana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekati meja rias, membuka tas tangannya, lalu mengeluarkan ponsel genggamnya. Ia membuka galeri foto dan menyerahkan benda digital itu ke tangan Lastri.

​Lastri menerima ponsel tersebut. Saat matanya melihat lembar demi lembar foto dokumen perizinan palsu, stempel dinas perpajakan, dan surat perjanjian bawah tangan yang dengan jelas mencantumkan nama lengkap Juragan Jaya beserta tanda tangannya di atas meterai, tangan Lastri gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponsel tersebut.

​"Ya Tuhan, Kirana..." bisik Lastri dengan mata terbelalak tidak percaya. "Ini... ini adalah seluruh isi brankas Surya. Kamu benar-benar berhasil mengambilnya."

​"Bukan hanya itu, Mbak," Kirana duduk di kursinya, matanya berkilat menembus kegelapan malam dari balik jendela. "Saya juga mendengar obrolan Surya dengan Bramanto malam ini. Inspektorat Wilayah Pusat sudah mulai mencium bau busuk proyek ini. Karena itu, mereka memajukan jadwal eksekusi transaksinya. Bukan bulan depan, Mbak... tapi malam Kamis depan."

​Lastri tersentak. "Malam Kamis depan? Berarti hanya tinggal beberapa hari lagi!"

​"Benar," tutur Kirana, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Waktu kita menyempit, namun situasinya menjadi jauh lebih sempurna. Aliansi mereka sedang panik, dan orang yang panik akan selalu membuat kesalahan besar. Malam Kamis depan, di Hotel Amethyst Executive, Juragan Jaya akan membawa uang tunai lima milyar itu untuk diserahkan kepada Tuan Surya dan Bramanto."

​Kirana berdiri, mengambil kembali ponselnya dari tangan Lastri, lalu menatap layar yang menampilkan tanda tangan Juragan Jaya—pria tua bangka yang telah merenggut nyawa bapaknya dalam kemiskinan dan penderitaan.

​"Mbak Lastri, siapkan rencana kita yang sempat tertunda kemarin," perintah Kirana dengan nada rendah yang mutlak. "Besok siang, kirimkan surel anonim berisi seluruh foto dokumen ini ke meja redaksi Valerion Post dan divisi penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi Daerah. Berikan mereka detail waktu, tempat, dan nomor kamar pertemuan malam Kamis depan. Kita akan membiarkan hukum Kota Valerion dan sorotan media massa meruntuhkan seluruh kesombongan uang mereka."

​Di bawah rintik gerimis yang kembali membasahi Kota Valerion, mawar yang tumbuh di dalam sangkar derita The Velvet Rose kini telah selesai menenun jaring kematiannya. Gerbang pembalasan dendam telah terbuka lebar, dan minggu depan, di bawah kilatan lampu kamera media dan borgol pihak berwenang, Juragan Jaya beserta seluruh sekutu serakahnya akan diseret masuk ke dalam lubang kehancuran yang tak akan pernah bisa mereka hindari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!