Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Rumah sakit tempat pria itu dirawat baru saja diserang." Viktor mengangkat pandangannya perlahan.
Kalimat itu membuat suasana yang sudah tegang menjadi semakin mencekam, tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik. Hanya suara hujan yang terus menghantam atap rumah tua itu, seolah ikut menambah tekanan yang memenuhi ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rania sambil menggenggam kedua tangannya erat.
"Kami belum tahu." Viktor mengusap wajahnya kasar. "Timku kehilangan kontak beberapa menit yang lalu."
"Sial!" Bintang mengepalkan tangannya.
"Aku sudah bilang ini akan terjadi." Leonard menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap Viktor dingin. "Semakin lama kalian menyembunyikannya, semakin banyak orang yang akan memburunya."
"Setidaknya aku tidak menjual siapa pun demi keselamatan diri sendiri." Viktor membalas tatapan pria tua itu tanpa berkedip.
Leonard tersenyum tipis, tetapi tidak menjawab.
Rania memperhatikan mereka bergantian. Semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin ia merasa berada di tengah permainan besar yang tidak pernah diketahuinya. Semua orang tampak memahami apa yang sedang terjadi, kecuali dirinya dan Bintang.
"Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Bintang menatap Viktor dengan rahang mengeras.
"Itu terlalu berbahaya." Viktor langsung menggeleng.
"Aku tidak bertanya." Bintang menatapnya tajam. "Aku mengatakan apa yang akan kulakukan."
"Kau tidak mengerti situasinya."
"Kalau begitu jelaskan."
Viktor mengembuskan napas panjang, tatapannya beralih kepada Rania sebelum kembali kepada Bintang.
"Jika orang-orang itu benar-benar bergerak, berarti mereka sudah tidak peduli lagi untuk tetap bersembunyi." Ia menyilangkan tangan di dada. "Dan jika mereka sudah sejauh itu, siapa pun yang mendekati anak laki-laki itu akan menjadi target."
"Termasuk kami?" tanya Rangga sambil mengangkat alis.
"Terutama kalian."
Suasana kembali hening, Bintang berjalan beberapa langkah ke arah jendela yang pecah sambil mencoba mengendalikan emosinya.
Hujan di luar semakin deras dan membuat halaman rumah tua itu terlihat suram, namun ada satu hal yang terus berputar di dalam kepalanya. Pria dalam foto itu, pria yang sangat mirip dirinya.
"Ada sesuatu yang belum kau katakan." Bintang menoleh ke arah Viktor. "Kenapa wajahnya mirip denganku?"
Viktor tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat ragu seolah pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan.
"Aku juga ingin tahu." Rania memandang Viktor lurus. "Jangan katakan kau tidak punya jawabannya."
Damar memejamkan mata sesaat sebelum mengembuskan napas panjang, ekspresinya membuat Rania semakin yakin bahwa pria itu mengetahui sesuatu yang besar.
"Kalian tidak akan menyukainya." Damar menatap lantai.
"Kami akan memutuskan sendiri apakah kami menyukainya atau tidak." Bintang menyilangkan tangan di dada.
Damar tertawa pahit, tatapannya beralih kepada Leonard yang masih duduk dengan tenang di sudut ruangan.
"Lihat?" Damar menggeleng pelan. "Mereka persis seperti kita dulu."
"Itulah masalahnya." Leonard tersenyum tipis.
"Berhenti bicara seperti aku tidak ada di sini." Rania menatap keduanya kesal.
"Kau ada di sini." Leonard mengangguk pelan. "Dan justru karena itulah semuanya menjadi rumit."
Ponsel Viktor kembali bergetar, kali ini ia langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat layar terlebih dahulu.
"Ya?" tanyanya cepat.
Tidak ada yang berbicara dan semua orang menunggu sambil memperhatikan perubahan ekspresi pria itu.
"Apa?" Viktor langsung berdiri tegak.
Jantung Rania berdegup lebih cepat.
"Ada apa?" tanyanya cemas.
Viktor tidak menjawab, ia masih mendengarkan laporan dari seberang telepon dengan wajah yang semakin gelap.
"Berapa orang?" tanyanya.
Beberapa detik berlalu.
"Lima belas?" Viktor mengumpat pelan. "Baik. Jangan bergerak. Aku akan segera ke sana."
Panggilan berakhir.
"Jangan bilang itu kabar buruk lagi." Rangga mengusap tengkuknya.
"Itu kabar yang lebih buruk." Viktor memasukkan ponselnya ke saku. "Anak laki-laki itu berhasil dibawa keluar dari rumah sakit."
"Itu terdengar bagus." Rania mengernyit.
"Dia dibawa oleh orang-orang yang menyerang rumah sakit."
Seketika suasana kembali membeku.
"Jadi dia diculik?" tanya Bintang sambil menatap Viktor tajam.
"Iya." Viktor mengangguk pelan.
"Sial." Bintang menggertakkan gigi.
Leonard tiba-tiba berdiri dari kursinya, tidak ada lagi senyum di wajah pria tua itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu malam ini, ia terlihat benar-benar serius.
"Kalau mereka berhasil mendapatkannya, semuanya selesai." Leonard menatap Viktor.
"Kau akhirnya mulai khawatir?" Viktor mengangkat sebelah alis.
"Aku selalu khawatir." Leonard mendengus pelan. "Aku hanya tidak menunjukkannya."
Damar menatap Leonard beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng.
"Aku tidak pernah menyangka akan melihat hari di mana kau terdengar seperti manusia."
"Jangan membuatku menyesal." Leonard memalingkan wajah.
Rania memperhatikan percakapan itu dengan bingung, orang-orang yang selama ini saling membenci justru terlihat memiliki ketakutan yang sama terhadap musuh yang belum pernah disebutkan namanya.
"Siapa mereka sebenarnya?" tanyanya sambil menatap Viktor.
Viktor terdiam beberapa saat, tatapannya beralih kepada Leonard lalu kepada Damar.
"Katakan saja." Leonard mengembuskan napas panjang.
"Sudah waktunya." Damar mengangguk pelan.
Viktor memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya menatap Rania.
"Orang-orang yang menyerang rumah sakit adalah kelompok yang sama dengan yang membakar rumah itu dua puluh lima tahun lalu."
Jantung Rania langsung berdegup lebih keras.
"Mereka masih hidup?" tanyanya pelan.
"Mereka tidak pernah hilang." Viktor mengepalkan tangannya. "Mereka hanya menunggu."
"Menunggu apa?" tanya Bintang.
"Menunggu kalian muncul."
Suasana menjadi semakin berat, hujan di luar masih turun tanpa tanda-tanda akan berhenti. Petir sesekali menyambar dan menerangi ruangan tua itu selama beberapa detik.
"Kita membuang terlalu banyak waktu." Bintang menatap Viktor lurus. "Di mana mereka membawa anak itu?"
"Kami belum tahu."
"Kalau begitu cari tahu."
"Timku sedang bekerja."
"Itu tidak cukup."
Rangga melangkah maju, wajahnya terlihat sama seriusnya dengan Bintang.
"Bos benar." Ia menyilangkan tangan di dada. "Kalau kita terus menunggu, kita akan selalu selangkah di belakang mereka."
Viktor terdiam karena jauh di dalam hati, ia tahu ucapan itu benar. Tiba-tiba salah satu anak buah Viktor berlari masuk dengan napas memburu, wajah pria itu pucat dan bajunya basah kuyup karena hujan.
"Tuan Viktor!" serunya sambil berhenti di depan mereka.
"Ada apa?" Viktor menatapnya tajam.
"Kami berhasil melacak salah satu kendaraan mereka." Pria itu menyerahkan sebuah ponsel.
Semua orang langsung menoleh.
"Di mana?" tanya Bintang cepat.
"Di pelabuhan tua." Pria itu menelan ludah sebelum menjawab.
Viktor membelalak. Sedangkan Leonard langsung memaki pelan.
"Itu tidak mungkin." Damar menggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Rania.
Tidak ada yang langsung menjawab, namun perubahan wajah mereka sudah cukup membuatnya sadar bahwa tempat itu bukan lokasi biasa.
"Karena..." Viktor mengembuskan napas panjang. "Pelabuhan tua adalah tempat semuanya dimulai."
Ruangan kembali hening, tidak ada seorang pun yang berbicara setelah mendengar kalimat itu bahkan Leonard terlihat kehilangan warna di wajahnya dan saat Rania hendak bertanya lagi, ponsel yang berada di tangan anak buah Viktor tiba-tiba menyala dengan sendirinya.
Sebuah video masuk dari nomor tidak dikenal, semua orang langsung menatap layar dan Bintang langsung mengambil ponsel itu dan memutar videonya.
Layar menampilkan ruangan gelap yang hanya diterangi satu lampu redup, di tengah ruangan terlihat seorang pria yang terikat pada kursi dengan wajah penuh darah.
Pria itu adalah orang yang ada di foto, pria yang sangat mirip Bintang. Kemudian seseorang melangkah masuk ke dalam video, wajahnya tidak terlihat jelas namun suara yang keluar membuat seluruh ruangan membeku.
"Kalau kalian ingin melihatnya tetap hidup," ucap sosok misterius itu sambil berdiri di belakang kursi, "datanglah ke pelabuhan tua sebelum matahari terbit."
Video berhenti dan untuk pertama kalinya malam itu... Bintang merasakan firasat buruk yang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah dihadapinya.