NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 Musuh Bebuyutan Beda Usia

“Sae. Kamu lari ke mana?”

Suara rendah pria dewasa terdengar dari belakang. Suara yang membuat udara di sekitar trotoar terasa ikut menegang.

Sae yang sejak tadi berdiri tenang di dekat Anjani perlahan menoleh ke belakang. Sementara Anjani membeku sesaat saat melihat siapa yang datang.

Ren Aksara.

Masih dengan pakaian serba hitamnya, lengkap dengan wajah dingin yang seolah diciptakan khusus untuk membuat orang lain kehilangan semangat hidup. Bedanya, sekarang lelaki itu terlihat sedikit lebih kacau.

Dasi longgar, lengan kemeja tergulung, rahangnya mengeras seperti orang yang kesabarannya baru saja diuji negara.

Tatapan tajamnya langsung jatuh pada Sae. “Kamu disuruh nunggu.”

Sae diam dua detik, lalu menjawab datar. “Aku nunggu.”

“Kamu hilang.”

“Aku pindah tempat.”

Ren memejamkan mata sebentar. Anjani hampir bisa melihat sisa-sisa kesabaran lelaki itu bunuh diri satu per satu.

“Pindah tempat tanpa bilang itu namanya hilang.”

“Aku masih di bumi.”

Anjani refleks menahan bibirnya.

Ya Tuhan…anak kecil ini benar-benar versi mini Ren Aksara. Diibaratkan Ren seperti badai musim dingin, maka Sae adalah angin dingin ukuran travel, tidak terlalu besar, tapi tetap bikin orang sakit kepala.

Ren menatap anak itu datar. “Kamu sengaja bikin Papa emosi?”

“Aku cuma jalan.”

“Kamu lari.”

“Aku jalan cepat.”

Ren bungkam, tapi tanpa menanggalkan wajah masamnya.

Sementara Anjani tampak mati-matian menahan tawa. Dan apesnya, tawanya lolos. Tawa kecil tapi cukup membuat dua pasang mata dingin itu langsung menoleh bersamaan padanya. Persis seperti adegan dua kucing liar yang merasa harga dirinya dilecehkan.

Anjani buru-buru menutup bibir. “Maaf…”

Ren mengangkat satu alis. “Lucu?”

Anjani mengangguk kecil tanpa bisa menahan senyum tipisnya. “Sedikit.”

“Bagian mana?”

“Kalian debat kayak bapak-bapak RT sama anak kontrakan yang rebutan kamar mandi.”

Ucapan jujur Anjani membuat suasana sunyi seketika. Sae berkedip pelan. Ren sendiri tampak seperti baru saja dihina dengan cara yang tidak biasa.

Dan ekspresi mereka itu justru makin lucu. Anjani sampai benar-benar tertawa kecil sekarang. Tawa pertama yang keluar tulus dari dirinya malam ini.

Ren diam, memperhatikannya beberapa detik. Tatapan lelaki itu berubah samar, menilai perempuan ini aneh.

Biasanya orang takut padanya, gugup, atau mati-matian menjaga image, tapi Anjani justru berani menertawainya langsung di depan muka. Dan lebih anehnya lagi, Ren tidak merasa tersinggung. Mode meledaknya tidak aktif.

“Aku nggak mirip Papa.” Sae tiba-tiba bicara dengan wajah datar.

Ren langsung melirik tajam. “Memangnya kenapa kalau mirip Papa?”

Sae menjawab cepat. “Galak.”

Anjani spontan menunduk menahan tawanya lagi.

Ren menatap anak itu lama. “Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?”

Sae menunjuknya sendiri. “Aku observasi.”

“Kebanyakan nonton dokumenter.”

“Aku cuma jujur.”

Ren berdecak sinis. “Jujur versi kamu menyebalkan.”

“Katanya orang hebat harus bisa menerima kritik.”

Ren kembali dibuat bungkam oleh versi mininya sendiri. Dan Anjani kali ini benar-benar gagal menahan tawanya, membiarkan lepas lebih bebas.

Astaga... Mereka seperti musuh bebuyutan beda usia. Dan yang paling lucu, keduanya sama-sama berekspresi datar saat saling menyerang. Kayak dua pengacara dingin yang lupa kalau salah satunya masih kelas satu SD.

Ren akhirnya menghela napas kasar.

“Papa tinggal ngurus kerjaan bentar, kamu udah bikin masalah.”

“Aku nggak bikin masalah.”

“Kamu lari.”

“Aku bosan.”

“Bosan bukan alasan kabur.”

Sae diam sebentar, lalu berkata tanpa rasa bersalah, “Om-om tadi lama.”

Anjani refleks batuk kecil menahan tawa.

Om-om?

Ren sampai memejamkan mata pelan. Aura lelahnya sekarang terasa seperti ayah tunggal yang sudah menyerah pada takdir. Dan Anjani melihat sisi manusiawi dari lelaki itu. Bukan CEO menyeramkan. Bukan juga pria dingin backstage tadi. Hanya seorang ayah yang sedang berdebat dengan anak kecil keras kepala.

Herannya, itu justru terlihat hangat.

“Maaf ya…” Anjani akhirnya bicara sambil menatap Ren. “Dia tadi nggak sengaja nabrak saya.”

“Saya tahu.” Jawaban Ren pendek. Tatapannya turun pada sapu tangan hitam di tangan Anjani. Dia tahu itu milik siapa.

“Sae ngasih itu?”

“Hm.”

Ren menoleh pada anak itu. “Kamu biasanya pelit.”

“Aku sopan.”

“Kamu pilih-pilih sopan.”

“Aku selektif.”

Ren mengangguk tipis. “Bagus. Besok Papa juga selektif kasih uang jajan.”

Sae langsung menatap ayahnya datar. Dan untuk pertama kalinya ada sedikit perubahan ekspresi di wajah kecil itu. Bukan sejenis panik, tapi sebentuk rasa keberatan.

“Kejam.”

Anjani spontan tertawa lagi. Benar-benar tertawa kali ini. Hangat sampai matanya sedikit menyipit. Dan tanpa ia sadari, Ren memperhatikannya cukup lama.

Perempuan ini sebenarnya cantik. Bukan cantik tipe panggung seperti Cintya. Cantiknya lebih tenang. Tipe yang baru terasa ketika dia mulai tersenyum. Sayangnya…senyum itu terlihat seperti sesuatu yang jarang dipakai.

“Papa suka ancam.” Sae tiba-tiba mengadu pada Anjani dengan nada datar.

Ren langsung melirik tajam. “Sekarang kamu fitnah Papa?”

“Fakta.”

“Kamu hidup enak.”

“Aku kurang kebebasan.”

Anjani sampai memegang perutnya kecil. Lucu sekali. Mereka benar-benar seperti tom and jerry versi mahal.

Trotoar malam itu terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa menit lalu.

Padahal orang yang berdiri di depan Anjani sekarang adalah Ren Aksara, lelaki dengan wajah semasam audit pajak mendadak.

Dan kian terasa berbeda karena bersama Sae, suasana di sekitar mereka justru terasa hidup. Atau lebih tepatnya, ribut kecil yang lucu.

Ren melirik Anjani sekilas. Tatapannya tajam seperti biasa, tapi sekarang ada sesuatu lain di sana. Seperti mengamati dan menilai.

Perempuan ini benar-benar berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ia temui. Tidak berisik, tidak menjilat, tidak mencoba menarik perhatiannya. Bahkan saat tahu dirinya CEO besar sekalipun, Anjani tetap bicara normal padanya. Pembawaannya tidak gugup, tidak centil, tidak sok manis.

Dan yang paling bikin keheranan, Sae nyaman dengannya. Padahal anak itu biasanya selektif mendekati orang seperti kucing aristokrat yang merasa dunia tidak layak menyentuh bulunya.

Tapi sekarang?

Sae malah berdiri menempel di dekat Anjani sambil sesekali menarik ujung blouse perempuan itu kecil. Kayak anak hilang yang diam-diam sudah memutuskan 'Oke. Saya adopsi Tante ini.'

Ren memejam singkat sambil membuang napas kasar. Tidak masuk akal. Namun, rasa ganjil itu nyata.

“Tante mau pulang?” Sae tiba-tiba bertanya.

Anjani mengangguk kecil. “Iya.”

“Naik apa?”

Sunyi kecil terjadi. Dan Ren langsung menangkap jeda itu. Tatapannya turun sedikit pada sepatu Anjani yang mulai lecet di belakang, lalu ke jalanan kosong, lalu ke ponsel mati di tangan perempuan itu. Lelaki itu pintar membaca situasi. Terlalu pintar malah.

“Tante ditinggal ya?”

Pertanyaan polos Sae membuat Anjani sedikit membeku.

Ren langsung melirik anaknya tajam. “Sae.”

“Aku memperhatikan.”

Sae tidak peduli dengan wajah masam ayahnya. Tatapannya tetap ke Anjani. “Mata Tante sedih,” ucapnya dengan kalimat yang lebih menohok daripada semua simpati palsu malam ini.

Anjani tersenyum kecil. “Cuma capek.”

Sae diam sebentar, lalu berkata datar,

“Kalau capek jangan jalan sendiri malam-malam.”

Cara bicaranya…Ya Tuhan. Seperti bocah kecil yang kerasukan om-om serius umur tiga puluh lima.

Anjani hampir tertawa. “Memangnya kenapa?”

“Bahaya.”

“Untuk siapa?” tanya Anjani iseng.

Sae berpikir sebentar. “Untuk semuanya.”

Ren spontan menoleh lambat pada anak itu.

Sae menunjuk mata Anjani. “Nanti Tante nangis sendiri di jalan.”

Anjani langsung kehilangan kata-kata.

Sedangkan Ren menatap Sae beberapa detik dengan wajah datar, seolah ingin membantah ucapan bocah itu. Namun di saat bersamaan, ia tampak terlalu malas untuk melakukannya. Dan yang paling menyebalkan, anak itu memang tidak salah.

Sae lalu berdiri lebih tegak sedikit. Gaya kecilnya mendadak mirip pria dewasa yang sedang mencoba terlihat bisa diandalkan.

“Kita antar Tante aja.”

Ren menoleh cepat. “Kita?”

“Iya.”

“Kamu ngajak tanpa rapat.”

“Situasi darurat.”

“Ini bukan bencana nasional."

“Tante capek. Itu bisa jadi bencana.”

Ren mengusap pelipisnya pelan. Persis seperti bapak-bapak yang sadar anaknya tumbuh jadi aktivis kemanusiaan tanpa izin.

Anjani buru-buru menggeleng. “Nggak usah repot, saya bisa—”

“Nggak bisa.” Sae memotong datar.

Anjani berkedip.

Anak itu menatapnya serius. “Tante jalannya udah kayak baterai lima persen.”

Astaga...

Ren refleks memalingkan wajah sebentar. Bukan karena marah, tapi karena ia hampir tertawa. Dan Ren Aksara tidak suka tertangkap hampir tertawa.

“Itu rude.”

“Aku jujur.”

“Kamu berlebihan.”

“Biar tidak bertele-tele.”

Anjani sampai menutup mulut menahan tawanya lagi.

Sae kembali menarik ujung lengan blouse Anjani kecil. “Udah ikut aja.” Cara ngomongnya santai dan natural kayak bocah SD yang lagi ngajak gebetan pulang bareng habis les.

Dan ironisnya, itu jauh lebih tulus dibanding semua perhatian orang dewasa yang Anjani terima malam ini.

“Aku nggak enak sama Papa kamu.”

“Nggak apa-apa.”

“Kenapa nggak apa-apa?”

Sae menjawab tanpa dosa, “Papa kesepian.”

Deg.

Ren langsung menatap anak itu. “Kamu mau hidup sampai lulus SD nggak?”

“Aku realistis.”

“Kamu fitnah ayah sendiri.”

“Kata psikolog di TV orang galak biasanya kesepian.”

“Besok TV Papa jual.”

Anjani kembali tertawa. Tawa hangat yang akhirnya membuat wajah lelahnya sedikit hidup lagi.

Dan Ren, masih diam-diam memperhatikan itu cukup lama. Perempuan ini aneh. Beberapa menit lalu matanya seperti orang yang hampir runtuh. Sekarang ia bisa tertawa hanya karena debat receh mereka.

Sementara Sae tampak puas melihat Anjani tidak sesedih tadi. Anak kecil itu lalu berkata lagi dengan nada datar paling serius sedunia, “Kalau Tante pingsan di jalan nanti repot.”

“Tante nggak akan pingsan.”

“Tadi Tante jalan zig-zag.”

“Itu karena ngantuk.”

“Nah itu.”

Anjani menyerah kalah pada logika bocah kecil ini.

Ren akhirnya membuka suara pendek, “Masuk mobil aja.” Nada suaranya tetap dingin dan galak, tapi kali ini tidak terasa menekan. Lebih seperti, lelaki yang diam-diam memang tidak keberatan dari awal.

Sae langsung mengangguk kecil puas.

Persis direktur proyek yang berhasil meloloskan proposal penting.

Dan lucunya…Ren benar-benar menuruti anak itu. Padahal aura lelaki tersebut biasanya lebih cocok membubarkan orang daripada mengantar pulang mereka.

"Ayo." Sae menarik ujung blouse Anjani.

Anjani mengangguk tipis. Ia sempat menoleh ke arah restoran, Satriya, Bella, dan Cintya ternyata sudah tidak ada di sana.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!