Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Keheningan yang dingin kembali menguasai apartemen minimalis itu setelah badai amukan Xander mereda.
Serpihan porselen dan marmer yang berserakan di atas lantai menjadi saksi bisu betapa hancurnya ego seorang Stone pagi ini.
Namun, di antara puing-puing kemarahan atas pengkhianatan Nora, ada satu penyesalan baru yang justru tumbuh jauh lebih besar, menyumbat dada Xander hingga dia hampir kesulitan bernapas.
Penyesalan itu bernama Alceena Brox Riccardo.
Bayangan wajah pias Alceena saat dibentak olehnya tadi pagi, mata indahnya yang berkilat terluka, dan sumpah serapah yang keluar dari bibir merahnya yang gemetar, kini berputar-putar di kepala Xander tanpa ampun.
Xander menyadari satu kebenaran yang menampar logikanya: Alceena tidak bersalah.
Panggilan tiga menit semalam murni sebuah kecelakaan, dan wanita itu sama sekali tidak memiliki niat licik seperti yang dituduhkannya.
Dia telah menjadikan Alceena sebagai samsak pelampiasan atas ketakutan dan rasa bersalahnya sendiri.
Tiba-tiba saja, Xander berbalik menatap sepupu mudanya. Matanya yang berbeda warna memancarkan desakan yang amat sangat kuat.
"B... Ayo antar aku kembali ke penthouse tadi," ucap Xander dengan nada suara yang cepat, sarat akan kepanikan yang tidak bisa lagi dia sembunyikan.
Braxton, yang baru saja hendak melangkah menuju kamarnya, menghentikan gerakannya.
Remaja berusia 16 tahun itu membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Xander dari balik kacamata hitamnya dengan dahi yang sedikit berkerut—sebuah ekspresi langka yang menunjukkan rasa heran dari seorang Valerio yang biasanya apatis.
"What? Kembali?" Braxton bertanya dengan nada suara datarnya yang khas, namun ada penekanan sinis di sana. "Kau bahkan belum genap satu jam berada di sini, Kak. Kau datang ke tempatku, menghancurkan dua pajangan edisi terbatas milikku, berteriak seperti orang gila, dan sekarang kau sudah mau kembali ke tempat wanita itu?"
Braxton menggelengkan kepalanya sekali, melipat kedua tangannya di dada. "Kau benar-benar tidak punya pendirian, Kak. Ke mana perginya harga diri seorang-Stone yang tadi pagi bersumpah bahwa wanita itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu?"
"Kau tidak mengerti, B!" potong Xander frustrasi, dia melangkah mendekati Braxton dan memegang kedua bahu kokoh sepupu mudanya itu, mencengkeramnya kuat.
"Aku sudah menyakiti Alceena. Aku benar-benar gila... aku dibutakan oleh kepanikan karena Nora. Aku membentaknya tadi pagi, B! Aku menuduhnya dengan hal-hal menjijikkan padahal dia tidak tahu apa-apa tentang panggilan telepon itu!"
Napas Xander tersengal, sepasang matanya menatap Braxton dengan permohonan yang amat sangat dalam.
"Dia tidak bersalah, B. Dan aku meninggalkannya begitu saja setelah mengambil kesuciannya semalam. Aku harus meminta maaf. Ayo... ayo cepat B, antar aku sekarang juga sebelum semuanya terlambat!"
Braxton menatap tangan Xander di bahunya, lalu menurunkan pandangannya ke lantai yang penuh pecahan marmer.
Dia menghembus napas pendek—sebuah tanda bahwa dia akhirnya mengalah pada kegilaan kakak sepupunya.
"Kau berutang dua vas baru dariku, Kak. Dan pastikan kali ini kau tidak meminta jemput lagi dalam waktu satu jam ke depan," ucap Braxton dingin. Dia berbalik, menyambar kembali kunci mobil sport hitamnya di atas konter dapur, dan melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menunggu Xander.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di seberang kota Los Angeles, atmosfer di dalam penthouse mewah milik Alceena terasa jauh lebih hidup, meskipun masih dilingkupi oleh sisa-sisa badai emosi.
Di dalam kamar tidur utama yang bernuansa abu-abu dan putih—kamar tidur yang semalam dipenuhi oleh desahan gairah yang intens dan dalam—Alceena dan Shireen saat ini sedang duduk bersila di atas karpet bulu yang tebal, tepat di samping ranjang besar yang sprei-nya masih sedikit berantakan.
Di hadapan mereka, sebuah meja lipat kecil dipenuhi oleh berbagai macam makanan sarapan dalam porsi yang sangat banyak.
Ada tumpukan pancake dengan siraman madu ekstra, dua piring besar waffle cokelat, roti panggang telur, sosis, hingga semangkuk besar salad buah.
Banyak sekali. Alceena memang suka sekali makan, itu adalah rahasia umum yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
Dan yang paling penting, saat berada dalam kondisi stres, tertekan, atau patah hati begini, sang diva memiliki kebiasaan meluapkan emosinya dengan cara makan dalam porsi yang gila-gilaan.
"Pelan-pelan, Alceena. Kau nanti tersedak," tegur Shireen dengan wajah ngeri melihat bagaimana sahabatnya itu memasukkan potongan sosis dan pancake ke dalam mulutnya secara bergantian tanpa jeda yang berarti.
Pipi Alceena menggembung penuh, membuatnya terlihat lebih seperti tupai yang sedang menimbun makanan daripada seorang diva pemenang Oscar.
"Tidak!" sahut Alceena dengan suara yang agak bergumam karena mulutnya penuh makanan.
Dia mengunyah dengan penuh dendam, matanya berkilat marah setiap kali mengingat kejadian tadi pagi.
"Aku lebih baik tersedak makanan mahal ini daripada hampir tersedak oleh sikap manis tiruan dari si brengsek Xander itu! Sialan pria itu! Dia pikir dia siapa bisa mengatur-atur dan membentakku di rumahku sendiri?!"
Alceena menelan makanannya dengan paksa, lalu menyambar segelas jus jeruk, meminumnya hingga tandas setengah.
"Semalam dia berbicara tentang kedewasaan, tentang melepaskan takdir dengan bijaksana... rasanya seperti mendengarkan khotbah suci dari seorang malaikat tampan! Tapi pagi ini? Dia berubah menjadi iblis Chicago yang tidak punya otak! Menuduhku sengaja mengangkat telepon wanitanya? Cuih! Menjijikkan!"
Shireen yang sedang mengunyah sepotong buah stroberi hanya bisa menopang dagu, menatap sahabatnya dengan tatapan menilai yang menggoda.
Pandangan Shireen mendadak turun, terpaku pada area leher dan tulang selangka Alceena yang menyembul dari balik jubah mandi sutra hitamnya.
Di sana, beberapa tanda kemerahan samar—jejak-jejak ciuman panas Xander semalam—masih tercetak dengan sangat jelas.
"Ouuuhhhh..." Shireen mengerucutkan bibirnya, menunjuk leher Alceena dengan garpunya.
"Lehermu masih memerah penuh tanda kepemilikan begitu, tapi bendera perangmu sudah berkibar tinggi sepagi ini? Luar biasa sekali dinamika hubungan kalian."
Wajah Alceena mendadak merona merah, namun dia dengan cepat menaikkan dagunya, mencoba bersikap acuh tak acuh. "Jangan melihat ke arah sana, Shireen! Ini hanya reaksi alergi kulit terhadap pria sialan!"
Shireen terkekeh geli, dia memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada kepo yang sangat kental.
"Katakan padaku yang sejujurnya, Alceena... terlepas dari sikap brengseknya tadi pagi, apakah dia... 'Liar' di atas ranjang semalam? Kau tahu maksudku, kan? Pria Chicago bertubuh raksasa seperti dia biasanya memiliki stamina yang tidak main-main."
Mendengar pertanyaan frontal dari sahabatnya, ego Alceena kembali bergejolak.
Dia menolak mengakui bahwa semalam dia telah melayang hingga ke langit ketujuh karena sentuhan Xander.
Dia ingin merendahkan pria itu sedalam-dalamnya demi membalas rasa sakit hatinya karena dibentak tadi pagi.
Alceena mendengus keras, lalu tertawa hambar yang dipaksakan. "Luar biasa? Hahahha! Luar biasa dari mana, Shireen?! Jangan bercanda!" Alceena mengibaskan tangannya dengan gerakan meremehkan, sementara tangan kirinya menyambar sepotong waffle besar dan memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh.
"Dia itu biasa saja! Cuma geli-geli doang di kulitku! Aku bahkan tidak merasakan apa-apa semalam, dia payah sekali! Stamina-nya payah, gerakannya payah, semuanya payah! Aku hanya berpura-pura mendesah semalam agar dia cepat selesai dan tidak mengganggu waktu tidurku, tahu!" cerocos Alceena berbohong demi gengsi, mulutnya yang penuh makanan membuat ekspresi wajahnya terlihat sangat menggemaskan dan tidak meyakinkan.
Namun, tepat saat kata 'payah' itu selesai meluncur dari bibir Alceena, sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, namun sarat akan nada menggoda mendadak terdengar memotong obrolan mereka dari arah pintu kamar.
"Oh ya? Kau tidak merasakan apa-apa dan aku payah?"
Deg.
Tubuh Alceena seketika membeku kaku di tempatnya duduk. Potongan waffle yang baru saja hendak dia kunyah mendadak terasa menyangkut di tenggorokannya.
Shireen pun ikut terlonjak kaget, menoleh dengan cepat ke arah pintu kamar utama yang terbuka lebar.
Di ambang pintu sana, berdiri sosok Xander Hayes-Stone.
Pria gila itu berdiri tegap dengan melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar pada kusen pintu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa bersalah, rasa gemas, dan kilatan gairah yang mendadak kembali menyala saat menatap Alceena.
Pria gila itu memang tahu nomor PIN pintu utama penthouse Alceena karena semalam wanita itu sendiri yang membisikkannya dengan manja semalam.
Xander sengaja langsung naik ke lantai dua karena mendengar suara tawa dan obrolan dari arah kamar.
Dan mendengar hal yang dikatakan Alceena barusan tentang dirinya yang disebut 'payah' dan 'hanya geli-geli doang' dan ditambah dengan penampilan Alceena yang saat ini sedang duduk dengan mulut penuh makanan hingga pipinya menggembung, benar-benar terlihat sangat menggemaskan di mata Xander.
Kemarahan pria itu runtuh sepenuhnya dalam sekejap, digantikan oleh keinginan kuat untuk membungkam bibir cerewet itu lagi.
Xander melangkah masuk ke dalam kamar dengan perlahan, tatapan matanya mengunci langsung ke arah sepasang mata Alceena yang kini membelalak horor karena tertangkap basah sedang membicarakannya.
Xander langsung menjawab dengan nada suara yang rendah namun terdengar begitu seksi, "Kau bilang aku payah, Nona Riccardo? Sepertinya ingatanmu perlu draf revisi. Kau lupa kalau semalam kau menangis dan memohon padaku untuk berhenti karena kau sudah tidak sanggup menahan tembakan ritmeku? Hm?"
Mendengar kalimat blak-blakan yang sangat intim itu diucapkan langsung di depan asisten pribadinya, wajah Alceena seketika meledak menjadi merah padam laksana kepiting rebus, sementara Shireen yang berada di sampingnya langsung menutup mulutnya menahan tawa histeris yang siap pecah.