Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANTU DI BALIK BENTENG BESI
Gedung pencakar langit yang menjadi pusat kendali Azrael Corps hari ini berubah menjadi sebuah benteng militer dengan sistem pengamanan siber tingkat tertinggi yang pernah ada di dunia bawah. Di dalam ruang aula utama yang berbentuk melingkar dan kedap suara, atmosfer terasa begitu mencekam hingga helaan napas para hadirin pun seolah tertahan di udara. Puluhan layar monitor raksasa bertenaga hologram mengambang di sekeliling ruangan, menampilkan grafik matriks hijau rumit dari Iron Citadel—sistem enkripsi kuantum berlapis baja yang menjadi kebanggaan sekaligus perisai digital tak tertembus milik Kaelen Azrael.
Para petinggi militer, vendor logistik kelas kakap, serta para penguasa wilayah dunia bawah duduk di kursi masing-masing dengan tatapan tegang. Mereka semua berkumpul untuk menyaksikan sesi simulasi tender jaringan satelit militer wilayah barat, sebuah aset bernilai triliunan dolar yang akan menentukan siapa pemegang otoritas absolut atas jalur pasokan gelap selama satu dekade ke depan.
Di baris paling depan, Kaelen Azrael duduk dengan tegap di kursi kebesaran yang dilapisi kulit hitam mewah. Setelan jas tiga lapis yang melekat pada tubuh berotot besarnya memancarkan aura dominan dan tirani yang dingin, sanggup membekukan seisi ruangan hanya dengan kehadirannya saja. Sepasang mata merah mautnya menatap lurus ke arah layar proyeksi utama, tempat logo megah Azrael Corps bersanding berdampingan dengan nama perusahaan baru yang mendadak menjadi buah bibir: Aletheia Tech.
"Tuan Besar, simulasi serangan dan pertahanan siber akan segera dimulai dalam hitungan mundur tiga puluh detik," bisik tangan kanan Kaelen, melangkah maju satu langkah dengan kepala menunduk dalam penuh rasa hormat. "Tim siber utama kita telah mengaktifkan seluruh protokol enkripsi kuantum dinamis pada level maksimal. Seluruh fluktuasi kode berubah setiap setengah detik. Sesuai dengan instruksi Anda, tidak akan ada satu pun celah yang bisa dimanfaatkan oleh musuh."
Kaelen tidak segera merespons. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman miring tiraninya yang penuh dengan keangkuhan mutlak. Jemari panjangnya yang dipenuhi urat keras mengetuk pinggiran kursi dengan ritme yang konstan dan mengintimidasi.
"Kita lihat saja," desis Kaelen dengan suara bariton rendahnya yang teramat seksi namun sarat akan ancaman mematikan. "Aku ingin menyaksikan sendiri seberapa tangguh hantu digital yang berani menggunakan nama 'Aletheia' ini saat berhadapan langsung dengan benteng besiku. Jika mereka hanya bermodal gertakan kosong, aku sendiri yang akan memastikan seluruh server mereka hangus terbakar hari ini."
Pada saat yang bersamaan, di dalam kamar tidur rahasia mansion mewah Azrael yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota, Valkyrae menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya yang masih terasa pegal, kaku, dan remuk akibat hantaman badai fisik semalam dipaksa untuk bangkit tegak. Dengan posisi bersandar pada kepala ranjang beludru mahal milik suaminya, Rae menarik selimut bulu tebal untuk membungkus tubuh polosnya hingga sebatas dada.
Di hadapannya, layar hologram minimalis yang dipancarkan dari smartwatch modifikasinya berpendar terang, merefleksikan ribuan baris kode biner hijau yang bergerak secepat kilat di dalam sepasang mata cokelat madunya. Jiwa montir jalanan dan hacker bar-barnya telah bangkit sepenuhnya, mengubur dalam-dalam rasa lemas raga Aurora di bawah kendali kejeniusan otaknya yang tanpa batas.
"Cyra, intersep jalur dan hubungkan aku ke dalam backdoor tersembunyi yang sudah kita tanam melalui sistem logistik keluarga Elixir kemarin malam," perintah Rae dengan nada suara yang sangat dingin, tenang, dan penuh wibawa seorang penguasa siber sejati.
"Sudah terhubung secara real-time, Bos!" sahut Cyra dari balik pelantang suara mikro tersembunyi di telinga Rae. Suaranya terdengar bergetar hebat antara rasa tegang dan panik tingkat dewa. "Tapi Rae, kau harus benar-benar berhati-hati! Layar pemantauku menunjukkan bahwa tim siber Kaelen telah mengaktifkan Iron Citadel pada level puncak. Fluktuasi algoritma kuantum mereka bergerak sangat cepat, berganti setiap nol koma lima detik! Jika kau meleset mengeksekusi kode walau hanya satu milidetik, sistem pelacak militer mereka akan langsung mengunci koordinat IP mentah dari perangkat yang kau gunakan di dalam mansion itu!"
Rae terkekeh rendah, sebuah kekehan seksi yang sarat akan intrik menantang dan keangkuhan yang luar biasa. Jemari lentiknya mulai bergerak menari dengan kecepatan tingkat dewa di atas papan ketik virtual yang mengambang di udara.
"Tenang saja, Cyra. Ini adalah panggung utamaku," desis Rae miring, sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun saat menganalisis pergerakan dinding pertahanan Iron Citadel yang berdiri kokoh bagai raksasa digital di layarnya. "Kaelen terlalu sombong dengan arsitektur pertahanannya yang kaku. Dia berpikir bahwa dengan mengubah kode setiap setengah detik, sistemnya tidak akan bisa disentuh. Dia lupa, bahwa di dalam hukum kuantum, setiap kali ada perubahan fluktuasi, selalu ada jeda mikro statis yang tercipta saat kode lama berganti menjadi kode baru. Dan jeda itulah yang akan menjadi pintu masukku."
Dengan satu hentakan jemari yang tegas, Rae mulai mengeksekusi program buatannya sendiri. "Aktifkan Aletheia Protocol. Kita mulai pertunjukannya sekarang."
Bip! Bip! Bip!
Di dalam ruang aula utama gedung Azrael Corps, sebuah bunyi alarm internal berfrekuensi rendah tiba-tiba memotong keheningan. Bunyi itu tidak melengking keras, namun cukup untuk membuat seluruh lampu indikator di meja kerja para teknisi siber berkedip-kedip dengan warna kuning pekat.
"Apa yang terjadi?!" bentak Kepala Divisi Siber Azrael Corps, seketika bangkit dari kursinya dengan wajah yang mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya. "Periksa sistem pertahanan sekarang juga! Apakah ada paket data asing atau serangan DDoS yang mencoba menembus Iron Citadel?!"
"Me-Melapor, Ketua!" salah seorang teknisi siber menjawab dengan jemari yang bergetar hebat di atas papan ketik, keringat dingin membanjiri pelipisnya. "Tidak ada serangan yang terdeteksi! Dinding pertahanan eksternal kita masih utuh seratus persen! Tidak ada enkripsi yang pecah, tidak ada alarm kebocoran data yang berbunyi!"
"Lalu kenapa indikator kendali satelit utama kita di layar tengah mendadak berubah menjadi warna abu-abu?!" teriak Kepala Divisi itu lagi, suaranya naik satu oktav karena panik.
Melihat kekacauan yang terjadi di hadapannya, Kaelen Azrael perlahan menyipitkan sepasang mata merah mautnya. Aura membunuh yang sangat pekat dan menekan seketika melesat keluar dari tubuh tegap sang tiran, mengunci pergerakan udara di dalam aula hingga beberapa pengusaha di dekatnya mulai merasa sesak napas akibat tekanan intimidasi alaminya. Mata merahnya menatap tajam ke arah layar monitor raksasa yang kini menampilkan status sistem satelit: LOGGED OUT.
"Tuan Besar... ini benar-benar di luar nalar..." bisik tangan kanan Kaelen dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat menahan ketakutan. "Perusahaan Aletheia Tech... mereka sama sekali tidak menyerang atau merusak benteng Iron Citadel milik kita. Mereka bergerak seperti hantu digital! Mereka menyelinap masuk tepat di antara jeda pergantian fluktuasi setengah detik kode kita, mengambil alih hak akses utama kendali satelit selama tiga detik penuh, dan... dan sekarang mereka sudah mengembalikan kendalinya seperti semula!"
Seluruh ruangan seketika gempar seketika. Para petinggi militer dan vendor logistik dunia bawah saling berpandangan dengan raut wajah syok yang luar biasa dahsyat. Mengambil alih sebuah satelit militer berspesifikasi tinggi tanpa merusak benteng pertahanan, tanpa meninggalkan jejak serangan, dan tanpa memicu sistem penguncian darurat adalah sebuah kejeniusan siber mutlak yang berada di luar jangkauan logika manusia biasa. Sesi simulasi tender hari ini dimenangkan secara mutlak dan elegan oleh Aletheia Tech.
Kaelen Azrael perlahan bangkit berdiri dari kursi kebesaran tiraninya. Alih-alih mengamuk gila atau menghancurkan barang-barang di sekitarnya karena kekalahan ini, sudut bibir tampan sang Raja Mafia justru perlahan terangkat ke atas. Sebuah senyuman miring yang penuh dengan kilat obsesi gila, rasa takjub yang luar biasa dahsyat, dan ketertarikan yang berbahaya terpatri jelas di wajah tampannya.
Aletheia Tech... batin Kaelen, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa lapar akan kepemilikan yang membakar seluruh kewarasannya. Kau benar-benar sebuah teka-teki yang teramat manis. Kau berhasil melompat melewati benteng besiku dan menampar wajah Azrael Corps tepat di depan para sekutuku tanpa mengalirkan setetes darah pun.
"Lacak koordinat IP mentah atau menara pemancar mana pun yang digunakan untuk mengirimkan sinyal hantu itu sekarang juga," perintah Kaelen dengan suara bariton rendahnya yang teramat berat dan sarat akan titah kematian yang mematikan. "Aku ingin tahu, siapa sosok genius di balik perusahaan itu yang memiliki nyali sebesar ini untuk bermain-main di dalam teritoriku."
Sementara itu, di balik dinding kamar tidur rahasia yang sunyi, Rae mematikan seluruh tampilan antarmuka hologram dari smartwatch-nya dengan satu lambaian tangan yang lemas. Tubuhnya seketika ambruk kembali ke atas kasur busa mahal, napasnya tersengal-sengal pendek karena energinya terkuras habis untuk melakukan peretasan dengan kecepatan penuh di bawah tekanan sistem kuantum Kaelen.
Tengkuknya terasa sedikit perih, dan raga Aurora yang lemas kembali menuntut haknya untuk beristirahat. Namun, sebuah senyuman miring penuh kemenangan yang sarat akan intrik terbit di bibir bengkaknya yang merah karena ciuman Kaelen semalam.
"Tiga detik yang sangat cukup untuk meremukkan seluruh kesombongan tiranmu, Kaelen Azrael," gumam Rae seksi dengan suara seraknya yang parau, sebelum kembali menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh polosnya.
Di balik wajah pasrahnya yang terkunci di dalam kamar ini, jiwa hacker bar-barnya justru sedang tertawa puas, bersiap menantikan kepulangan sang tiran posesif ekstrem yang dipastikannya akan membawa badai kecurigaan dan gairah baru malam nanti.