NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Badai yang Mengetuk Pintu

​Pagi hari di Hannam-dong selalu dimulai dengan ritme yang manis sejak kabar kehamilan itu datang. Di bawah pendar cahaya matahari yang lembut, Cha Jin-wook tidak pernah membiarkan Han Ji-an menyentuh lantai tanpa memastikan sepasang sepatu rumah berbulu halus sudah terpasang di kaki istrinya. Bahkan untuk sekadar turun ke meja makan, Jin-wook akan selalu menuntun jemari lentik Ji-an dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah-olah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh di dunia.

​"sayang, kau terlalu berlebihan. Aku baru hamil beberapa minggu, bukan sedang lumpuh," protes Ji-an dengan tawa kecil yang merdu saat Jin-wook menarikkan kursi makan untuknya.

​Jin-wook tidak membalas dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah tindakan yang langsung membuat pipi Ji-an merona merah. Pria bertubuh tegap itu berlutut di samping kursi Ji-an, menggenggam kedua tangannya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan hangat tepat di atas perut rata Ji-an yang masih tersembunyi di balik gaun rajut longgarnya.

​"Di dalam sini ada milikku yang paling berharga, Ji-an. Jadi tidak ada istilah 'berlebihan' dalam kamusku untuk menjaga kalian," bisik Jin-wook dengan suara beratnya yang seksi, menatap Ji-an dengan sepasang mata elang yang kini sepenuhnya dipenuhi binar kepemilikan dan cinta yang pekat.

​Jin-wook menegakkan tubuhnya, mencondongkan wajahnya untuk mencuri satu ciuman dalam di bibir manis Ji-an sebelum ia pamit berangkat ke kantor. Intensitas perhatian romantis ala drakor yang selalu Jin-wook berikan setiap pagi menjadi tameng terbaik bagi Ji-an untuk melupakan masa lalu buruknya.

​Namun, kedamaian itu pecah tepat pukul sepuluh pagi, sesaat setelah mobil Bentley Jin-wook keluar dari gerbang kompleks.

​Tok, tok, tok.

​Pintu utama penthouse diketuk dengan ritme yang terburu-buru. Sekretaris Kim melangkah masuk ke dalam ruang tengah dengan wajah yang pucat pasi, memegang sebuah map berlogo Pengadilan Distrik Pusat Seoul. Dua pengawal pribadi yang berjaga di luar tampak menegang.

​"Nyonya Besar... maaf mengganggu waktu istirahat Anda," suara Sekretaris Kim bergetar. "Baru saja juru sita pengadilan mengantarkan ini. Sebuah surat gugatan darurat atas kepemilikan aset dan pembekuan hak suara saham sepuluh persen milik Anda."

​Ji-an meletakkan cangkir teh kamomilnya dengan perlahan. Senyuman hangat di wajahnya seketika luntur, digantikan oleh ekspresi dingin yang tajam—aura Nyonya Besar Cha Group yang sesungguhnya. Ia menerima map tersebut, membukanya, dan matanya menyipit saat membaca nama penggugat di lembar pertama.

​Penggugat: Nyonya Besar Kang (Kang Myung-sook) & Saksi Administrasi: Kang Min-woo.

​Di dalam berkas itu lampirkan salinan perjanjian pra-nikah lama milik Cha Jin-wook dengan keluarga Min lima tahun lalu. Inti dari gugatan itu sangat kejam: mereka menuduh pernikahan Jin-wook dan Ji-an cacat hukum korporasi karena melanggar klausul kesetaraan status sosial, sehingga hibah saham sepuluh persen yang dipegang Ji-an harus segera ditarik kembali ke kas konsorsium di bawah pengawasan Nyonya Besar Kang sebagai wali sah yang baru ditunjuk.

​"Nyonya Besar Kang..." desis Ji-an, jemarinya meremas tepi kertas. "Serigala tua yang diasingkan ke Jeju itu ternyata masih memiliki taring."

​Yang membuat jantung Ji-an berdesir perih bukan tentang kehilangan saham, melainkan poin kedua dari gugatan tersebut. Mereka menuntut peninjauan kembali hak asuh Cha Hyun-woo, mengklaim bahwa lingkungan keluarga Jin-wook saat ini "tidak stabil secara moral" untuk membesarkan anak adopsi karena adanya manipulasi dokumen masa lalu.

​Tiba-tiba, rasa mual yang hebat kembali menghantam ulu hati Ji-an akibat syok psikologis yang tiba-tiba. Ia membekap mulutnya, tubuhnya gemetar, dan ia terpaksa bersandar pada lengan sofa untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

​"Nyonya Besar!" Sekretaris Kim panik, hendak memanggil tim medis.

​"Jangan... jangan hubungi Jin-wook dulu," sergah Ji-an dengan napas yang terengah-engah, mencoba mengendalikan emosinya demi janin di dalam perutnya. "Dia sedang memimpin rapat merger penting di kantor pusat. Jika dia tahu tentang ini sekarang, dia akan menghancurkan ruang rapat itu."

​Ji-an menegakkan punggungnya kembali, menyeka keringat dingin di dahinya. Sepasang matanya berkilat penuh amarah yang membara. Kang Min-woo dan Nyonya Besar Kang telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka: mereka mencoba menggunakan anak-anaknya sebagai pion taruhan.

​"Sekretaris Kim, siapkan mobil," perintah Ji-an, suaranya sedingin es yang mematikan. "Kita tidak akan menunggu mereka di pengadilan. Kita akan mendatangi mereka ke Jeju malam ini juga."

​Malam harinya, di sebuah restoran privat tersembunyi di kawasan tebing Pantai Jungmun, Pulau Jeju.

​Deburan ombak yang menghantam batu karang di luar terdengar seperti simfoni yang mengiringi rencana busuk di dalam ruangan. Kang Min-woo duduk di samping Nyonya Besar Kang, menikmati hidangan laut mewah dengan senyuman kemenangan yang mengembang lebar di wajahnya.

​"Surat gugatan itu pasti sudah sampai di Hannam-dong pagi ini," ujar Min-woo licik, meneguk anggur putihnya. "Aku bertaruh Han Ji-an saat ini sedang menangis histeris sembari memegangi perut buncitnya. Pemandangan yang sangat memuaskan."

​Nyonya Besar Kang tersenyum dingin, merapikan sanggul rambutnya yang kaku. "Ini baru permulaan, Min-woo ya. Begitu hak suara saham sepuluh persen itu dibekukan dalam rapat umum pemegang saham minggu depan, aku akan mengambil alih kursi dewan komisaris, dan kau... akan kubuat menjadi Direktur Pelaksana di anak perusahaan logistik kita yang baru. Kau akan kembali ke tempatmu yang dulu."

​BRAKKK!

​Pintu geser kayu restoran privat itu mendadak terbuka dengan hentakan keras yang merusak engselnya.

​Empat pengawal bertubuh kekar dengan setelan jas hitam pekat langsung melangkah masuk, membuat barikade di sisi kanan dan kiri ruangan. Suasana makan malam yang tenang itu seketika berubah menjadi mencekam.

​Dari balik kegelapan koridor, Han Ji-an melangkah masuk.

​Ia mengenakan jubah wol panjang berwarna hitam pekat yang berkibar, kontras dengan wajahnya yang luar biasa cantik namun sedingin salju musim dingin. Di lehernya, kalung berlian safir pemberian Jin-wook berkilau tajam di bawah pendar lampu ruangan. Di belakangnya, Sekretaris Kim dan tim pengacara terbaik dari Firma Hukum Cha Group berdiri mendampingi.

​Min-woo tersentak dari kursinya, wajahnya berubah pucat karena terkejut. "K-kau... Han Ji-an?! Bagaimana bisa kau ada di sini?!"

​Ji-an tidak menjawab pertanyaan Min-woo. Ia bahkan tidak sudi melirik mantan suaminya itu. Pandangan matanya yang tajam langsung mengunci sosok Nyonya Besar Kang yang masih duduk dengan tenang, meski rahang wanita tua itu tampak mengencang.

​Ji-an berjalan mendekati meja makan, menghentikan langkahnya tepat di ujung meja. Ia melempar tas tangan Hermes-nya ke atas meja dengan suara debukan yang berat, lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer, mencondongkan tubuhnya ke arah Nyonya Besar Kang.

​"Nyonya Besar Kang Myung-sook," suara Ji-an terdengar jernih, tenang, namun memiliki daya tekan psikologis yang luar biasa berat. "Tiga tahun lalu, saat Kakek mengasingkanmu ke pulau ini karena kau terbukti mencoba meracuni pikiran mendiang kakak Jin-wook, kau bersumpah tidak akan pernah mengusik garis keturunan Cha lagi demi uang saksimu yang melimpah setiap bulan. Tampaknya... udara Jeju yang segar ini membuat ingatanmu menjadi agak tumpul, hmm?"

​Nyonya Besar Kang berdiri dengan geram, memukulkan telapak tangannya ke meja. "Han Ji-an! Berani-beraninya kau datang ke teritoriku dan bicara tidak sopan seperti itu! Kau hanyalah wanita asing yang beruntung masuk ke keluarga ini karena kelengahan Jin-wook! Pernikahanmu tidak sah di mata hukum korporasi!"

​Ji-an tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang membuat bulu kuduk Min-woo meremang. Dari balik jubah hitamnya, Ji-an mengeluarkan sebuah dokumen asli berkepala surat resmi dari Kementerian Kehakiman Swiss dan Mahkamah Agung Seoul bertanggal dua tahun lalu—sebuah dokumen rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Cha Tae-sung sebelum ia dipecat.

​"Cacat administrasi, katamu?" Ji-an membuka dokumen itu dan melemparkannya tepat ke atas piring makan Nyonya Besar Kang.

​"Dua tahun lalu, sebelum Kakek wafat, beliau sendiri yang mendaftarkan pernikahan kami ke dalam lembaran negara khusus dengan klausul 'Hak Mutlak Pewaris Tanpa Syarat Status'. Artinya, seluruh perjanjian pra-nikah masa lalu dengan keluarga Min secara otomatis gugur demi hukum sejak detik aku menandatangani akta nikahku dengan Cha Jin-wook," Ji-an maju satu babak lebih dekat, matanya berkilat penuh dominasi yang mematikan.

​"Gugatan yang kalian kirimkan pagi ini... tidak lebih dari sekadar kertas sampah yang akan membuat kalian berdua dituntut atas pasal pencemaran nama baik kepala negara korporasi dan percobaan pemerasan massal. Tim hukumku sudah mendaftarkan gugatan balik satu jam yang lalu."

​Min-woo terhuyung ke belakang, bersandar pada dinding dengan tubuh yang gemetar hebat. Skenario matang yang ia bangun bersama Nyonya Besar Kang runtuh dalam hitungan menit di tangan Han Ji-an. Wanita ini selalu selangkah lebih maju, selalu memiliki perisai yang tak tertembus.

​"Dan kau, Kang Min-woo," Ji-an akhirnya mengarahkan pandangannya pada Min-woo, tatapan yang begitu dingin hingga membuat Min-woo merasa seperti serangga yang tidak berharga. "Kau mencoba menyentuh kehamilanku? Kau mencoba merebut Hyun-woo dari tanganku? Aku bersumpah... kali ini tidak akan ada lagi kapal melarikan diri ke Filipina atau Manila untukmu. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel paling gelap di negeri ini."

​Tepat saat Ji-an menyelesaikan kalimatnya, langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar dari luar koridor.

​Cha Jin-wook melangkah masuk ke dalam ruangan dengan napas yang memburu dan wajah yang dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Pria itu tampaknya langsung terbang dengan helikopter pribadi dari Seoul begitu mengetahui dari sistem pelacak bahwa istrinya pergi ke Jeju sendirian dalam kondisi hamil muda.

​Tanpa memedulikan Min-woo atau Nyonya Besar Kang, Jin-wook langsung menerobos barisan pengawal, meraih tubuh Ji-an ke dalam pelukan protektifnya yang luar biasa erat. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut Ji-an, tubuh kekarnya bergetar karena rasa takut yang amat sangat akan keselamatan istrinya.

​"Ji-an! Mengapa kau datang ke tempat kotor ini sendirian dalam kondisimu yang sekarang?! Kau ingin membuatku mati karena gila, hmm?!" bisik Jin-wook parau, suaranya dipenuhi rasa khawatir yang mendalam bercampur gairah protektif seorang suami.

​Ji-an menyandarkan tubuh lemasnya pada dada bidang Jin-wook, menghirup aroma maskulin suaminya yang seketika mengusir sisa rasa mualnya. "Aku baik-baik saja, sayang. Urusanku di sini sudah selesai. Aku sudah membersihkan tikus-tikus ini untukmu."

​Jin-wook melepaskan pelukannya sedikit, menyapu wajah pucat Ji-an dengan jemari besarnya, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang sangat intens, panas, dan penuh kehangatan drakor di bibir Ji-an di hadapan musuh-musuh mereka—sebuah deklarasi kepemilikan mutlak yang menghancurkan sisa harga diri Kang Min-woo yang menonton dari sudut ruangan.

​"Ayo pulang, Nyonya Cha. Tempat ini terlalu menjijikkan untuk calon anak kita," ujar Jin-wook dingin sembari menatap Min-woo dengan pandangan membunuh, sebelum menuntun Ji-an keluar dari ruangan dengan tangan yang merangkul pinggang istrinya posesif.

​Nyonya Cha kembali memenangkan babak krusialnya, mengubur ambisi Jeju di bawah kaki kemegahan cintanya bersama sang suami.

​Serangan dari Jeju berhasil dihancurkan secara elegan! Namun, apakah Kang Min-woo akan benar-benar menyerah, atau justru nekat melakukan aksi fisik yang berbahaya pada episode selanjutnya?

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!