NovelToon NovelToon
TAHTA DARI PARA BUANGAN

TAHTA DARI PARA BUANGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Time Travel / Fantasi
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hutan kematian

sesekali ardan menoleh ke belakang, dari kejauhan dia bisa melihat beberapa orang yang mengejarnya.

"van, kau sudah bisa menggunakan teknik yang ku berikan kemarin" tanya ardan.

"bisa, walaupun belum mengusai sepenuhnya"

ardan mengangguk sedikit, lalu pedang terbang itu mengarah ke hutan rimbun.

komandan klan wei berhenti di luar hutan.

salah satu orang di belakangnya mendekat.

"bagaimana komandan" tanyanya.

"kita kembali"

komandan itu langsung berbalik, namun di sini orang orang itu masih menatap arah kepergian ardan.

"tapi komandan, kemungkinan dia adalah orang yang di cari oleh putra mahkota"

"itu baru dugaan saja. jika kita masuk belum tentu pasukan kita akan bisa keluar dengan utuh, aku tidak akan mengambil resiko besar hanya karena menduga duga, jika kau ingin masuk maka masuklah" ucap komandan tanpa menoleh sama sekali.

setelah kepergian komandannya, mereka hanya menatap bergantian ke arah hutan dan ke arah perginya komandan.

salah satu prajurit yang sedari tadi diam, maju dan menepuk pundak prajurit tadi.

"sudahlah, benar kata komandan. hutan kematian bukan tempat yang mudah di masuki, jangan bertaruh nyawa hanya untuk yang belum pasti".

satu per satu prajurit, mulai meninggalkan tempat itu.

"mereka tak mengejar" bingung revan melihat tidak ada orang lain yang masuk ke hutan ini.

"jangan lengah" ucap ardan.

setelah masuk jauh ke dalam hutan, mereka turun dari pedang, dengan lambaian tangan pedang masuk ke dalam cincin.

"indah sekali" kagum revan melihat kadang bunga di depannya.

"jangan mendekati bunga bunga ini."

"ada apa dan" bingung revan.

"sudah ikuti saja, gunakan qi untuk menyaring udara yang masuk"

walaupun bingung, tapi revan tidak protes, ia melakukan apa yang di katakan ardan.

Di pimpin oleh ardan, mereka berjalan di pinggir padang bunga.

"sebenarnya ada apa dan" tanya revan akhirnya.

"ini adalah hutan kematian, kadang bunga ini adalah ladang bunga perebut jiwa"

"ladang bunga perebut jiwa?" ucap revan mendekat.

"hati hati" teriak ardan sembari menarik revan.

revan yang di tarik oleh ardan, menatap anak panah yang menancap ke barang pohon.

"jangan lengah, bersiaplah untuk bertarung" ucap ardan.

revan yang tertegun menatap anak panah yang hampir merenggut nyawanya langsung tersadar.

dia menoleh ke arah ardan, di sana dia melihat puluhan orang seperti zombi berjalan ke arah mereka.

"siapa mereka dan"

"mereka adalah mayat hidup, kau bersiaplah melawan mereka" ucap ardan yang kini meloncat ke belakang revan.

melihat para mayat hidup, ekspresi revan langsung berubah.

bahkan kini pedang sudah ada di tangannya.

"jiwa pedang api" gumamnya sembari terpejam.

pedang yang berada di tangan revan mulai terbakar, sampai benar benar terselimuti oleh api.

"tunggu mereka keluar, jangan ragu untuk membunuh, dan jangan terbawa emosi" peringat ardan.

"aku tau, aku juga tidak akan membiarkan emosiku membuat tubuhku mudah di kuasai" jawab revan.

setelah para mayat hidup itu keluar dari ladang bunga, revan benar benar menyerang.

ayunan demi ayunan api terlihat dari kejauhan, satu per satu mayat hidup terbelah. namun mayat hidup itu semakin lama semakin banyak juga, dan yang datang juga semakin kuat.

ardan yang melihat revan mulai kesulitan, ia mengeluarkan pedangnya juga.

tapi dia tidak langsung menyerang, pedang itu malah terbang ke sembarang arah memotong ranting ranting pohon.

Dengan tatapan yang masih ke arah para mayat hidup, ardan mengangkat tantangannya.

ranting ranting yang telah terpotong tadi melayang mengelilingi ardan.

sedangkan pedangnya malah kembali masuk ke dalam cincin.

Sedangkan pupilnya terus menatap ke arah musuh yang ada di depan.

"maafkan aku, tapi aku akan membebaskan kalian dari penderitaan" gumamnya.

beberapa jarinya kini mulai mengayun.

satu per satu ranting kayu melesat langsung bagaikan anak panah.

revan, yang kini mulai terdesak, tiba tiba mayat hidup yang dia lawan terpental ke samping dengan ranting menancap ke tubuhnya.

revan menoleh ke arah ardan, sedangkan ardan yang menyadari tatapan revan, dia hanya mengangguk sembari tersenyum.

kini, serangan revan jadi lebih berutal dari pada sebelumnya.

bahkan dia kini hanya fokus menebas dan membunuh musuh yang ada di depan, sangat berbeda dengan pertarungan sebelumnya yang harus menuntutnya waspada dari segala sisi.

perlahan, tapi pasti. satu per satu mayat hidup benar benar mati di tangan mereka.

tapi, karena para mayat hidup ini seakan tidak ada habisnya. hal ini membuat revan mulai terpancing amarah.

api di pedangnya mulai membesar, bahkan pedang yang panjangnya hanya sekitar 1 setengah meter, kini sudah mencapai 2 meter karena api yang membentuk pedang.

dengan hanya sekali ayunan, revan mampu menumbangkan beberapa mayat hidup sekaligus.

namun itu hanya terjadi beberapa kali tebasan, sebelum revan berjongkok, ia memegang kepalanya sendiri.

"iblis itu ingin mengambil alih tubuhnya lagi" batin ardan. melihat ini ardan langsung mengeluarkan pedangnya..

Dengan cepat ardan mengejar, revan yang kini mulai di serang oleh banyak mayat hidup yang mengepungnya.

bahkan ardan yang tadinya menyerang dengan satu per satu ranting, kini dia langsung mengerahkan banyak ranting sekaligus.

hal ini lumayan efektif, beberapa mayat yang sedang menyerang revan, tumbang sekaligus.

tapi sayangnya revan juga terkena serangan dari ranting ranting ini, walaupun bukan luka fatal, tapi itu cukup membuat darah segar mengalir.

karena sudah tidak ada yang mengepung lagi, ardan langsung menarik revan dan membawanya pergi, sebelum ada mayat hidup yang mendekat.

setelah itu, ardan kembali ke tempatnya tadi, dan menaruh revan di belakangnya.

revan masih terus berteriak, sembari memukul mukul kepalanya.

ardan membiarkan revan melakukan ini. bukan karena tidak peduli, tapi dia tau dia tidak bisa ikut campur.

setelah beberapa saat, akhirnya revan tenang kembali.

"sudah ku bilang, jangan terpancing emosi" ucap ardan yang masih menyerang.

"sorry dan, aku tadi kesal karena mereka tidak ada habisnya"

"tidak masalah, tapi van. apa kau bisa menahan mereka sementara, aku ingin mencari sumber mereka datang itu dari mana"

"tentu saja, aku tadi belum puas bertarung"

"ingat, jangan terpancing lagi" peringat ardan.

"tenang, kali ini aku akan lebih tenang"

setelah itu revan kembali menyerang, sedangkan ardan malah masuk ke dalam ladang bunga.

dari udara, ardan melihat deretan mayat hidup yang berjalan perlahan membentuk barisan seperti semut.

ardan mencoba mengikuti, sumber mereka. ardan yakin mereka pasti memiliki semacam pengendali.

Dari kejauhan, ardan melihat ada lubang teleportasi. dan di belakang lubang itu, ada sebuah bola yang mengalirkan cahaya aneh ke lubang teleportasi.

"pasti itu pusatnya" gimana ardan.

ardan mempercepat, kecepatannya ia mendarat tepat di dekat bola itu.

ia pun sedikit menoleh ke arah para mayat hidup, tapi anehnya mayat hidup itu tidak menyerangnya.

"mungkin, mereka tidak bisa melihatku saja" batin ardan.

ardan berpikir demikian karena para mayat hidup itu memang Memunggunginya.

tidak ingin ambil pusing, ardan langsung memegang gagang pedang.

dengan ayunan cukup, ardan langsung menebaskannya tepat ke arah bola itu.

namun saat pedangnya akan mengenai bola itu, ada tangan lembut muncul dari dalam bola dan menahan pedangnya hanya dengan 2 jari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!