Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 16
"Tunggu! Ada satu syarat lagi! Syarat yang terakhir aku ingin kita menikah!" ucap Nadhira.
Andra menghentikan langkahnya yang baru saja berjalan beberapa meter. Bahunya menegang. Dia berbalik dengan perlahan, menatap Nadhira dengan dahi berkerut dalam, seolah salah mendengar ucapan wanita itu.
"Menikah?" Andra mengulang kata itu dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.
"Dhira, apa maksudmu? Aku sudah menikah dengan Diana! Dan kamu sendiri yang meminta agar proses ini dilakukan secara medis, tanpa kontak fisik!"
Nadhira tidak mundur selangkah pun. Tatapan matanya yang tadi mati, kini mendadak menyala oleh sebuah ketegasan yang tak terbantahkan. Keberanian itu muncul murni dari nalurinya sebagai seorang wanita yang memikirkan masa depan darah daging yang akan tumbuh di dalam tubuhnya.
"Aku tahu kamu sudah menikah dengan Mbak Diana," jawab Nadhira, suaranya terdengar dingin namun bergaung kuat di lorong rumah sakit yang sepi.
"Dan aku tetap memegang teguh syaratku yang tadi. Tidak akan ada hubungan fisik di antara kita. Apalagi di lakukan tanpa cinta! Aku tak akan pernah mau. Kita bisa menikah secara siri atau sah agama di bawah tangan, tanpa publikasi, dan tanpa sepengetahuan Mbak Diana ataupun keluargamu."
Andra mengepalkan tangannya, melangkah maju kembali mendekati Nadhira. Andra tak terima kalau harus menikah dengan Nadhira. Dia tak bisa mengkhianati Diana, sekarang saja dia merasa sangat bersalah kepada istrinya. Apalagi dengan pernikahan dia dengan Nadhira. Dia hanya butuh wanita yang bisa menampung janin untuk dirinya dan Diana.
"Untuk apa, Dhira? Jika ini masalah uang, aku bisa menambah nominal kompensasimu dua kali lipat atau bahkan lebih. Terserah yang .."
"Ini bukan soal uang, Andra Antanagara!" potong Nadhira tajam, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap.
"Ini soal status anak yang akan kulahirkan! Kamu ingin aku mengandung darah dagingmu, penerus tahta keluarga Antanagara yang agung itu, bukan? Aku tidak akan membiarkan anak itu lahir ke dunia ini dengan status sebagai anak di luar nikah atau anak haram di mata agama dan hukum!"
Nadhira maju selangkah, menatap langsung ke dalam manik mata Andra yang tampak goyah. Andra tak mengira jika Nadhira akan semarah ini padanya.
"Meskipun anak ini kelak akan diserahkan kepada Mbak Diana, secara biologis dan spiritual, rahim akulah yang akan menumbuhkannya. Aku berasal dari latar belakang keluarga yang baik-baik, Andra. Aku tidak sudi menghadirkan seorang anak ke dunia ini tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah di mata Tuhan, meskipun itu hanya di atas selembar kertas rahasia. Anak itu berhak lahir sebagai anak yang sah! Walau cara kita juga tetap salah di mata Agama! Walau di benarkan secara medis! Dan sangat melukai harga diriku sebagai seorang perempuan!"
Andra tertegun. Kata-kata Nadhira menghantam logikanya dengan keras. Sebagai seorang pria dari keluarga konglomerat, Andra tahu betul betapa kejamnya dunia luar dan hukum keluarga Antanagara terhadap status asal-usul seorang anak. Jika suatu hari rahasia ini terbongkar dan anak itu terbukti lahir dari rahim wanita yang tidak memiliki ikatan pernikahan dengannya, status anak itu sebagai ahli waris Antanagara bisa hancur berantakan. Langkah Nadhira, yang awalnya terdengar gila, justru adalah perlindungan hukum dan moral yang paling mutlak untuk anaknya kelak.
"Jika kamu menolak syarat ini," lanjut Nadhira, suaranya mendatar namun penuh ancaman.
"Aku akan mengembalikan lima puluh juta rupiah ini dengan cara apa pun, bahkan jika aku harus menjual ginjal atau seluruh organ tubuhku hari ini juga. Aku tidak akan pernah menjual rahimku untuk melahirkan anak tanpa status yang jelas."
Andra menatap Nadhira lekat-lekat. Keheningan panjang membentang di antara mereka, hanya diinterupsi oleh suara sayup-sayup mesin rumah sakit dari kejauhan. Andra bisa melihat kilat keputusasaan sekaligus harga diri yang tinggi di mata sahabat lamanya. Nadhira sedang mempertaruhkan sisa kedamaian hidupnya demi menyelamatkan ibunya, namun dia juga enggan mengorbankan kesu-cian garis keturunan anak yang belum lahir itu.
Andra menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut mau pecah. Pernikahan siri rahasia. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya. Jika Diana sampai tahu, tamatlah riwayatnya. Namun, melihat Diana yang baru saja pergi meninggalkannya demi karier, dan mengingat desakan dari orang tuanya yang jatuh tempo dalam tiga bulan, Andra tahu dia sudah tidak punya ruang untuk mundur.
"Baik," ucap Andra akhirnya, suaranya berat dan penuh dengan beban keputusan yang teramat besar.
"Kita akan menikah secara rahasia. Aku akan meminta pengacara kepercayaanku untuk menyiapkan pemuka agama dan saksi yang bisa memegang rahasia ini rapat-rapat. Kita lakukan akadnya sebelum ke dokter!"
Nadhira mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Sudut matanya kembali basah, namun dia segera mengusapnya dengan kasar. Tembok pertahanannya kini telah terkunci rapat.
"Terima kasih karena masih memiliki sedikit akal sehat, Pak Andra," ucap Nadhira formal, mengembalikan jarak profesional yang dingin di antara mereka.
"Sekarang, silakan pergi. Kita bertemu lagi jam sepuluh pagi di rumah sakit yang kamu tentukan."
Andra menatap Nadhira untuk terakhir kalinya sebelum berbalik memunggungi wanita itu. Langkah kakinya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Dia tidak pernah membayangkan, demi mempertahankan pernikahannya dengan Diana. Dia justru harus mengikatkan dirinya dalam pernikahan rahasia dengan wanita lain. Sahabat masa lalunya sendiri. Sebuah benang kusut yang kini telah resmi mereka jalin bersama, siap untuk menjerat siapa saja yang bermain di dalamnya.
Nadhira yang dulu selalu dia lindungi malah pada akhirnya dirinyalah yang benar-benar menghancurkan Nadhira sampai ke titik terendahnya. Nadhira tak melihat lagi ke arah Andra dia kembali duduk dan menahan isak tangisnya.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh