Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16 Makan Siang yang tidak Profesional
“Jam dua belas?”
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Rania Azarina berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Sementara Clarissa masih berdiri di depan mereka dengan senyum tipis yang terlalu tenang.
Dan Gavin Mahendra— terlihat seolah baru saja mengatur jadwal meeting biasa.
Tidak ada ekspresi.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada rasa bersalah karena baru saja membuat suasana jadi lebih aneh.
“Jam dua belas?” ulang Gavin tenang.
Tatapannya tetap ke Rania.
Terlalu lurus.
Terlalu fokus.
Seolah benar-benar menunggu jawaban.
Rania mengerjap.
“O—oh.”
Kenapa mendadak gagap?!
“Saya sibuk.”
Jawaban refleks.
Sangat profesional.
Sangat aman.
Clarissa tersenyum kecil.
“See? She’s busy.”
Entah kenapa— Rania tidak suka nada itu.
Terlalu familiar.
Terlalu nyaman.
Seolah Clarissa merasa sudah mengenal Gavin lebih lama daripada siapa pun.
Well.
Memang mungkin begitu.
Dan anehnya— pikiran itu membuat suasana hati Rania memburuk.
Namun Gavin bahkan tidak menoleh pada Clarissa.
“Saya tunggu.”
Datar.
Sederhana.
Tapi nadanya terlalu seperti keputusan final.
Rania mengerutkan kening.
“Pak Theo bilang terlihat jatuh cinta,” lanjut Gavin santai sambil mengangkat tablet sedikit. “Kita sedang bekerja.”
Clarissa tertawa kecil.
“Oh please, Gavin.”
Tatapannya bergeser pada Rania.
“Kamu percaya alasan itu?”
Rania membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Karena masalahnya—
Ia tidak tahu.
Gavin terlihat terlalu santai.
Terlalu biasa.
Padahal semalam—
Mereka berciuman.
Dan pagi ini—
Mereka nyaris tidak bisa saling menatap tanpa canggung.
Kenapa sekarang dia terlihat normal lagi?
Apa cuma dirinya yang overthinking?
“Saya jemput jam dua belas,” kata Gavin akhirnya.
Lalu pergi.
Begitu saja.
Tanpa memberi kesempatan protes.
Clarissa berdiri beberapa detik.
Lalu mengembuskan napas kecil.
“Hm.”
Tatapannya kembali pada Rania.
“Kamu tahu?”
Nada suaranya ringan.
Tapi entah kenapa terasa seperti jebakan.
“Gavin biasanya nggak suka makan siang rame-rame.”
Rania diam.
“Oke?”
“Kalau dia ngajak makan siang…” Clarissa tersenyum tipis. “Berarti dia lagi memikirkan sesuatu.”
Lalu perempuan itu pergi.
Meninggalkan sesuatu yang sangat mengganggu di kepala Rania.
Bagus.
Sekarang dirinya overthinking.
Lagi.
Pukul sebelas lima puluh delapan.
Rania masih duduk di depan laptop.
Spreadsheet terbuka.
Proposal kampanye regional terbuka.
Tapi satu pun tidak masuk ke otaknya.
Karena otaknya sibuk memikirkan hal tidak penting.
Misalnya:
Kenapa Clarissa tahu kebiasaan Gavin?
Seberapa dekat mereka dulu?
“Tempat favorit kita” itu apa maksudnya?
Dan yang lebih mengganggu—
Kenapa dirinya peduli?
Pintu ruangannya diketuk dua kali.
Lalu—
Nisa masuk terlalu cepat.
Dengan ekspresi manusia pembawa bencana.
“Bu.”
Rania tidak mengangkat kepala.
“Kalau ini tentang foto ciuman, saya resign.”
“Lebih parah.”
Rania langsung curiga.
“Apa?”
Nisa menelan ludah dramatis.
“Pak Gavin ada di lobby.”
Sunyi.
“…Apa?”
“Beliau nungguin.”
Rania berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“Nunggu siapa?”
Nisa menatapnya seperti sedang menghadapi pasien denial stadium akhir.
“…Ibu.”
Rania langsung berdiri terlalu cepat.
“Apa maksudnya nunggu?”
“Secara literal.”
Nisa mengangkat ponsel.
Ada foto.
Gavin Mahendra.
Berdiri di lobby utama.
Masih dengan jas abu gelap.
Satu tangan di saku.
Satu tangan memegang ponsel.
Dan—
sedang menunggu.
“Kenapa dia nggak chat?”
“Tadi beliau bilang—”
Nisa berdeham, lalu menirukan suara berat ala Gavin.
“Kalau saya chat, dia akan cari alasan buat batal.”
Rania membeku.
Kurang ajar.
Dia benar.
“Bu…”
Nisa mulai tersenyum terlalu lebar.
“Ini romantis banget.”
“Kalau kamu tidak keluar sekarang, bonusmu benar-benar hilang.”
Nisa langsung kabur sambil tertawa.
Lobby kantor PT Jaya Media siang itu—
tidak lagi terasa seperti lobby perusahaan.
Lebih seperti lokasi syuting drama kantor.
Karena semua orang—
secara terang-terangan mengamati satu manusia.
Gavin Mahendra.
Direktur paling dingin se-gedung.
Yang sekarang—
berdiri menunggu istrinya seperti pacar posesif.
Satpam bahkan terlihat lebih sering melirik daripada biasa.
Dua staf HR pura-pura membeli kopi padahal sudah tiga kali lewat.
Begitu lift terbuka—
semua mata otomatis bergerak.
Rania keluar.
Dan langsung menyesal.
Karena sekarang—
setengah lobby terlihat terlalu tertarik pada hidup pribadinya.
Bagus.
Sangat bagus.
Gavin menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sepersekian detik—
Rania membenci fakta bahwa pria itu terlihat terlalu tampan.
Menyebalkan.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya pelan saat mendekat.
“Menjemputmu.”
Jawaban terlalu sederhana.
“Tahu konsep chat?”
“Kamu bakal nolak.”
…
Kurang ajar.
Benar lagi.
“Ayo.”
“Ayo ke mana?”
“Makan siang.”
“Nggak lapar.”
“Kamu belum makan dari pagi.”
Rania mengernyit.
“Kok tahu?”
Gavin mulai berjalan menuju pintu keluar.
“Karena kamu lebih galak kalau lapar.”
Rania terdiam.
Sebentar.
Lalu mengejar langkahnya.
“…Saya selalu galak.”
“Betul.”
“Kurang ajar.”
“Juga betul.”
Di belakang mereka—
grup kantor kembali meledak.
OFFICE HOT GOSSIP
Kevin:
BRO TURUN JEMPUT ISTRI 😭
Finance Team: PAK GAVIN HUMAN CONFIRMED
HR: Marriage changes people.
Nisa: BU RANIA DICULIK DIREKTUR SENDIRI
Restoran rooftop hotel tempat Gavin membawa Rania—
terlalu mahal untuk sekadar makan siang biasa.
Pemandangan kota terlihat jelas.
Suasana tenang.
Privat.
Dan sangat berbahaya untuk kesehatan mental seseorang yang sedang denial.
Rania menatap menu.
Lalu menatap Gavin.
Lalu kembali ke menu.
“Ini makan siang atau audit finansial?”
“Tenang,” jawab Gavin santai. “Perusahaan yang bayar.”
“Oh.”
“Meeting investor image.”
“…Kamu pakai alasan itu terus ya?”
“Kamu keberatan?”
Rania membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Karena anehnya—
Tidak.
“Ini terlalu fancy buat makan siang,” gumam Rania.
“Kamu belum makan proper sejak tiga hari.”
Rania menoleh.
“Kamu merhatiin?”
Gavin terlihat terlalu fokus membuka menu.
“Sedikit.”
Jawaban itu terlalu kecil.
Terlalu casual.
Dan anehnya—
itu justru lebih mengganggu.
Karena Gavin bukan tipe orang yang perhatian tanpa alasan.
Makanan datang.
Dan tanpa bertanya—
Gavin sudah memesan kopi hitam.
Tanpa gula.
Favorit Rania.
“Sejak kapan kamu tahu?” tanyanya lagi.
“Kamu selalu pesan itu waktu lembur.”
Rania membeku sedikit.
“…Kamu nginget?”
Gavin mengangkat bahu.
“Susah nggak notice seseorang yang tiap jam dua pagi masih marah sama spreadsheet.”
Oh.
Oke.
Dadanya kenapa terasa aneh lagi?
Mereka makan.
Awalnya canggung.
Parah.
Terlalu sadar tentang—
ciuman semalam.
Sampai akhirnya Gavin bicara.
“Kamu masih kepikiran?”
Rania hampir tersedak air.
“…Apa?”
“Semalam.”
Sunyi.
Sangat sunyi.
“Tidak.”
Jawaban terlalu cepat.
Gavin mengangguk pelan.
“Bohong.”
“Apa?”
“Kamu bohong kalau jawab terlalu cepat.”
Kurang ajar.
Dia mulai hafal.
Rania memalingkan wajah.
“Dan kamu?”
Kini giliran Gavin diam.
Seolah sedang mempertimbangkan jawaban.
Bibirnya baru sedikit terbuka—
“Aku udah pesenin tempat favorit kita,” suara lain muncul.
Clarissa.
Lagi.
Rania nyaris tersedak udara.
Perempuan itu berjalan mendekat dengan senyum terlalu percaya diri.
Gaun kerja navy.
Heels tinggi.
Dan aura mantan sesuatu.
Yang mengganggu.
“Aku kebetulan meeting di sini,” katanya ringan.
Bohong.
Sangat jelas bohong.
Rania tahu tipe perempuan seperti itu.
Dan mendadak—
Ia tidak suka.
Sama sekali.
Clarissa duduk begitu saja.
Tanpa diundang.
“Like old times?” tanyanya pada Gavin.
Sunyi.
Gavin menutup menu.
Lalu berkata sangat tenang—
“Tidak.”
Clarissa berkedip.
“Saya makan siang dengan istri saya.”
Hening.
Rania ikut membeku.
Pelayan bahkan ikut diam sepersekian detik.
Clarissa tersenyum kaku.
“Oh.”
Namun Gavin belum selesai.
“Dan istri saya tidak suka makan terlalu ramai.”
…
Apa?
Rania menoleh cepat.
Dia tahu?
Karena memang—
Rania tidak suka tempat terlalu ramai.
Tapi—
Sejak kapan Gavin sadar?
Clarissa tersenyum tipis.
Ekspresi pertama yang terlihat sedikit retak.
“Right.”
Tatapannya bergeser pada Rania.
“He still orders the same lunch.”
Jeda.
“Some habits never change.”
Dan pergi.
Begitu saja.
Sunyi beberapa detik.
Rania masih menatap meja.
Tidak tahu harus merasa apa.
Akhirnya—
“Kamu kasar.”
Gavin terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Barusan.”
“Kamu tidak suka dia.”
Rania langsung refleks.
“Saya tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu kelihatan mau melempar gelas.”
…
Kurang ajar.
Gavin menyesap air.
Lalu menambahkan santai—
“Lagipula saya memang mau makan siang sama istri saya.”
Jantung Rania berhenti sepersekian detik.
Karena cara dia mengucapkan kata:
istri saya
terdengar terlalu natural.
Terlalu mudah.
Terlalu—
Berbahaya.
Pelayan datang kembali.
“Pesanannya, Kak?”
Rania langsung asal tunjuk menu.
“Ini aja.”
Pelayan pergi.
Gavin melirik pilihannya.
Lalu menghela napas kecil.
“Itu spicy level lima.”
“So?”
“Kamu nggak tahan pedas.”
Rania mengeryit.
“Kamu merhatiin sedetail itu?”
Jeda kecil.
Lalu Gavin menjawab santai—
“Dari wajah kamu pas makan seblak di pantry tiga minggu lalu.”
Sunyi.
Oh.
Dia memperhatikan.
Sedetail itu?
Karena tidak ada orang-
Selama ini-
Yang memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.
Dan entah kenapa—
fakta itu membuat sesuatu di dada Rania terasa aneh lagi.
Sangat aneh.
Sangat tidak profesional.
Apalagi saat beberapa menit kemudian—
karena makanannya memang terlalu pedas—
Rania mulai batuk.
Dan Gavin langsung menggeser gelas airnya tanpa komentar.
Seolah sudah refleks.
Seolah—
Sudah terbiasa memperhatikannya.
Dan itu…
jauh lebih mengganggu daripada Clarissa.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.