NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Penerimaan

Nayra akhirnya memilih untuk menghampiri Gatra bersama Rayyan setelah bicara dengan asistennya yang bisa membuat pertemuannya di tunda setengah jam saja.

Selama pemotretan ia merasa tidak tenang sekaligus tidak sopan main menitipkan anaknya saja tanpa berbicara lebih dulu dengan pria dewasa itu.

Rayyan sudah memperlihatkan bukti chatnya dengan Gatra yang menjelaskan kalau semua itu tidak masalah, menurut Gatra dari pada diam di unitnya yang lama-lama membuatnya bosan mendingan menemani anak itu les berenang saja.

Pria itu juga menulis kalau di hari yang sama akan bertemu dengan teman-temannya tak jauh dari lokasi foto, tapi tetap saja Nayra merasa harus bicara dengan Gatra.

Sepanjang jalan kaki menuju tempat yang di maksud yang ternyata cukup jauh, Nayra bersyukur tidak membiarkan putranya pergi sendiri, mereka sudah melewati tiga ruko berbeda hingga melihat bangunan kafe.

Ma, itu Omnya." Kata Rayyan tiba-tiba saja ketika mereka sudah masuk ke dalam kafe lalu berlari kecil mendekati meja Gatra bersama sahabat-sahabatnya.

Nayra tertinggal sebenarnya sudah menduga kalau akan bertemu dengan orang yang juga di kenalinya, tapi tak benar-benar menyangka kalau dugaannya benar, mengingat mungkin saja Gatra punya teman lain.

Dengan canggung Nayra menarik kedua sudut bibirnya ketika keempat pria itu menoleh pada Rayyan, lalu pandangan mereka terhenti padanya. Ia ingin berbalik karna malu terutama pada Hakim yang di kenalnya dengan sangat baik.

"Loh bukannya Nayra yang ini sahabat adiknya Hakim?" Tanya Felix lalu mengalihkan pandangan pada sahabatnya. "Saya benar kan?"

Dirga mengangguk sependapat. "Jangan bilang anak yang di maksud Gatra itu adalah Rayyan?"

"Iya, dia orangnya..."

"Ambigu banget, Kim." Kata Gatra sambil tertawa garing, tak ingin sahabat-sahabatnya memikirkan lain-lain atau Nayra merasa tidak nyaman. "Dia orang yang nyewa unit apartemen punya Hakim yang di samping apartemen saya makanya saya jadi kenal baik mereka terutama si bocah ini."

"Iya, kami tetangga dan baik banget sama Rayyan." Rayyan membenarkan sambil tersenyum canggung. "Om, Rayyan boleh duduk di sini?"

"Duduk aja, kamu mau pesan apa?" Tanya Gatra balik tanpa menyadari kalau perhatian sahabat-sahabatnya padanya dengan tidak percaya.

"Samain aja kayak, Om."

"Ini kopi hitam jadi ngga baik buat di minum anak kecil. Mendingan kamu pilih sendiri aja." Gatra menjelaskan yang membuat Rayyan mendesah kecewa. Tak ingin membuat anak itu sedih lebih lama, apa lagi di depan ibunya, Nayra, ia memutar otak untuk menganti topik. "Oh ya, les renangnya di mulai jam berapa?"

"Tiga sore, Om."

Gatra melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul dua lewat empat puluh menit. "Masih ada beberapa menit lagi, tapi kalau ngga salah kamu sempat bilang tempat lesnya ngga jauh dari sini ya?"

"Iya, cuma lima menitan aja kalau naik mobil." Sahut Rayyan membuat Gatra mengangguk hingga tanpa sadar pandangannya melirik Nayra yang ternyata masih berdiri di tempat yang sama. Ia mengalihkan pandangan pada sahabat-sahabatnya yang sedang memperhatikannya hingga melupakan tentang Nayra.

"Kalian kenapa ngga nawarin Mbak Nayra–"

"Gila aja, Ga! Dia sama kayak Haviza masa di panggil, Mbak sih?" Protes Hakim.

"Saya ngga tahu, tapi tujuannya omongan saya bukan itu." Balas Gatra dengan nada tak bersahabat. "Kalian cowok bukan? Kenapa ngga nyuruh dia duduk?"

"Nayra kan datang ke sini bukan buat ketemu saya tapi kamu, Gatra, jadi harusnya kamu yang berinisiatif." Sahut Dirga setengah menggoda.

"Alasannya ke sini buat nemuin siapapun itu ngga penting," balas Gatra kesal. "Bukannya kalian juga kenal sama dia? Harusnya kalian juga inisiatif setidaknya basa-basi nawarinnya bukan malah diam aja."

"Baru kali ini saya dengar dia kesal karna wanita, Kim. Dulu-dulu mah mana peduli." Felix menambahkan semakin membuat Gatra kesal pada sahabatnya.

"Tapi dari pada ngomel-ngomel ngga jelas mendingan cepetan ambilkan kursi buat Nayra, Ga! Kasihan cantik-cantik tapi di biarin berdiri dari tadi." Lanjut Dirga yang semakin menguat Nayra merasa tidak enak.

Sepertinya keputusannya untuk datang ke sini salah. Nayra harusnya tadi juga mendengar larangan Rayyan yang sekarang tertawa-tawa saja padahal biasanya anak itu tidak akan senang kala mendengar sang Mama menjadi bahan candaan.

Nayra menggeleng mengabaikan keanehan putranya dan memberikan penjelasan pada mereka agar tidak semakin salah paham. "Ngga perlu, Mas Dirga, saya cuma sebentar di sini kok. Saya cuma mau bicara sama Mas Gatra tentang Rayyan–"

"Mau bicara serius ya? Kita yang pindah meja atau kamu yang pengen pinjam Gatra sebentar? Oh, ngga papa kok, lama juga bagus, kami bakal jagain Rayyan."

"Ngga perlu repot-repot, Mas. Saya cuma mau bilang makasih dan maaf banget kalau selama ini saya ngerepotin Mas Gatra karna Rayyan yang ngga bisa di bilangin."

"Saya ngga pernah merasa di repotkan, Rayyan juga bukan anak yang nakal jadi... Nayra ngga perlu merasa ngga enak." Balas Gatra cepat.

"Dari dulu Rayyan anak baik," puji Hakim yang duduk di samping kanan anak itu. "Saking baiknya dia nurut aja semua kata-kata Haviza."

"Soalnya Tante baik makanya aku juga baik sama dia," balas Rayyan.

"Saya ngga kebayang kalau sampai dia denger kamu muji kayak gitu... udah ngga tahu lagi cara ngomong senengnya." Timpal Felix juga mengenal adik Hakim.

Sementara mereka asyik dengan Rayyan, Nayra b menatap orang-orang baik pada putranya terharu. Beruntungnya ia bisa mengenal mereka yang menyayangi putranya dengan tulus. Paling beruntung lagi, memiliki sosok sahabat sepeti Haviza yang tak henti melakukan hal baik padanya hingga Nayra tak tahu cara membalasnya di kemudian hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!