Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan di batalkan
Suasana di depan kamar semakin tegang.
Lemos yang sudah tidak sabar langsung melangkah maju.
“Sebaiknya aku saja yang masuk.dia adalah putriku.Tidak masalah jika aku yang masuk."
Tanpa menunggu persetujuan siapa pun—
BRAK!
Pintu didobrak.Semua orang menahan napas.
Namun yang terlihat di dalam bukanlah Flora.
Melainkan…Nadira Bersama seorang pria asing.Pakaian mereka berantakan.Situasi di dalam kamar langsung menjelaskan segalanya.
Suasana Hening untuk beberapa saat.Lalu sebuah tamparan terdengar.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Nadira.
“Wanita murahan!” bentak Lemos penuh amarah.
Wajahnya merah padam, matanya dipenuhi kemarahan dan rasa malu.
Di luar tiba-tiba terdengar suara.“Apa yang terjadi?”
Semua orang menoleh.Flora.Dia berdiri di sana, tampak bingung.Seolah tidak tahu apa-apa.
Agnes langsung membeku.Matanya membelalak.“Ka-kamu… kenapa kamu di sini?” suaranya bergetar.
Flora mengerutkan kening ringan.“Aku tadi pusing, jadi keluar cari udara segar,” jawabnya santai. “Terus dengar ribut-ribut, jadi aku ke sini.”
Evan yang melihat Flora tanpa sadar menghela napas lega.Ketegangan di dadanya sedikit mereda.
Teriakan dari dalam kamar kembali terdengar, menarik perhatian semua orang.Satu per satu mulai masuk.Agnes pun ikut.Dan saat dia melihat isi ruangan wajahnya langsung pucat.
“Mah…?” suaranya gemetar. “Kenapa Mamah ada di sini?!”
Namun tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkan situasi itu.Beberapa tamu mulai berbisik.Dan wartawan Yang sebelumnya sudah “disiapkan” Agnes
kini bermunculan.Kamera mulai menyala.
Merekam.Mengabadikan skandal yang tidak seharusnya terjadi pada keluarga terpandang.
Agnes panik.“Jangan rekam!” teriaknya. “Keluar! Semua keluar!”
Namun semuanya sudah terlambat.Skandal itu sudah terjadi.
Di luar keramaian itu Flora hanya berdiri sebentar.Menatap dingin ke arah pintu kamar.
Lalu dia berbalik.
Garvin sudah menunggunya.Tanpa banyak kata, keduanya berjalan menjauh dari keramaian.
Mereka berjalan santai Seolah semua itu tidak ada hubungannya dengan mereka.
Setelah cukup jauh Flora tersenyum tipis.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Garvin mengangkat alis.“Untuk apa?”
Flora meliriknya.“Karena sudah membantu mengubah jalannya cerita malam ini.”
Garvin tersenyum.
Beberapa waktu sebelumnya…Saat Flora diantar ke kamar oleh pelayan dia sebenarnya tidak benar-benar pusing.Itu hanya sandiwara.Dia memang meminum minuman itu.Tapi sebelumnya, dia sudah menyiapkan penawarnya.Awalnya hanya untuk berjaga-jaga.Namun ternyata sangat berguna.
Sejak awal, Flora sudah curiga.Saat Agnes bersikeras ingin bersulang dan saat dia diam-diam memberikan minuman melalui pelayan.Flora melihat semuanya.Dan dia tidak akan tinggal diam.
Begitu Garvin keluar dari kamar,Flora langsung mengirim pesan Singkat.Dan Garvin memahami.Dialah yang membawa Nadira ke kamar itu.Dan dengan cara yang sama
memberikan minuman yang telah “disiapkan” Agnes…kepada ibunya sendiri.
Langkah Flora tetap tenang.Namun matanya dingin.Penuh perhitungan.Mereka ingin menjatuhkannya…Maka dia akan memastikan…mereka jatuh lebih dulu.
Garvin tersenyum tipis.“Kamu tidak perlu berterima kasih,” ucapnya santai. “Bahkan tanpa kamu minta, kalau aku tahu ada rencana seperti ini… aku juga akan melakukannya.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Ibu dan anak itu sudah kelewatan.”Dia menatap Flora sejenak.“Untung kamu sudah waspada dari awal,” lanjutnya. “Kalau tidak… aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu.”
Flora terdiam.Namun tatapannya sedikit melembut.Mereka berjalan hingga sampai di taman.Suasana jauh lebih tenang.Udara malam terasa dingin.
Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak dengan redup.“Aku ingin sendiri sebentar,” ucap Flora pelan.
Garvin mengangguk.Dia mengerti.Tanpa banyak tanya.Sebelum pergi, dia berhenti sejenak.“Kamu tidak sendirian,” katanya.
Flora menatapnya.Lalu mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
Garvin pun pergi.Meninggalkan Flora sendirian dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu di dalam kamar kekacauan masih berlangsung.Agnes berdiri dengan wajah pucat.
“Ini jebakan!” teriaknya. “Ibu tidak mungkin melakukan itu!”
Namun Lemos sudah tidak peduli.Wajahnya gelap.Penuh amarah dan rasa malu.
Agnes panik.Tatapannya langsung mencari satu orang Evan.Dia mendekat.
“Evan, tolong aku…” suaranya mulai bergetar. “Kita akan menikah. Kalau nama ibuku hancur, kamu juga akan ikut malu…”
Namun Evan menatapnya dingin.Sangat dingin.“Tidak akan ada pernikahan.”
Satu kalimat.Langsung memutus segalanya.
Agnes membeku.“Apa… maksudmu?” suaranya melemah.
Namun Evan sudah berbalik.Pergi.Tanpa penjelasan.Tanpa ragu.Dia bahkan tidak melihat lagi ke arah Agnes.Sebelum benar-benar menghilang, dia meninggalkan Joy.
“Bereskan.”Hanya satu kata.Namun cukup jelas.
Joy melangkah maju.Dengan suara profesional dan tegas, dia berkata“Pernikahan dibatalkan.”
Perkataan itu seperti hukuman mati bagi Agnes.namun tidak sampai disitu.kalimat selanjutnya bahkan lebih mengejutkannya.
“Ke depannya, tidak akan ada pernikahan antara Tuan Evan dan Nona Agnes.”
Kalimat itu seperti palu yang menghancurkan segalanya.Agnes langsung terjatuh lemas.
Dunianya runtuh.
Dia tidak pernah menyangka semua akan berakhir seperti ini.Matanya beralih ke arah ibunya Nadira Yang kini terlihat memohon pada Lemos.
Rasa marah kembali membara.Ini semua karena dia…Agnes mengepalkan tangan.
Dalam hati, dia menjerit Kalau bukan karena ide Mamah nya… Dia sudah jadi Nyonya Dirgantara!
Kebencian itu membesar.Namun dia menahannya.Karena sekarang Lemos masih di sana.Jika kebenaran terungkap…mereka berdua bisa benar-benar diusir.
Agnes menarik napas.Lalu perlahan mendekat.“Pah…” suaranya melemah, penuh permohonan. “Tolong… hentikan ini dulu.”
Lemos menatapnya tajam.Namun tidak langsung berbicara.
“Yang penting sekarang…” lanjut Agnes cepat, “bagaimana pernikahan ini bisa tetap dilanjutkan.”
Namun jawaban Lemos dingin.“Itu tidak mungkin.”Nada suaranya tegas.“Keluarga kita sudah dipermalukan.apakah menurut mu dia masih akan menikahi mu?"
Agnes menggigit bibirnya.Lalu dia mengambil keputusan.Keputusan yang bahkan membuat udara terasa dingin.“Masih bisa,” ucapnya pelan.
“Asalkan…” dia berhenti sejenak, “kita memutus hubungan dengan Mamah”
Nadira membeku.
“Biarkan semua kesalahan ini… ditanggung oleh Mamah saja.”
Kalimat itu jatuh seperti pisau.
Nadira membelalak.Tidak percaya.“Agnes…” suaranya bergetar. “Kamu…?”
Dia tidak pernah menyangka putrinya sendiri
akan mengorbankannya.
Lemos juga terlihat terkejut.Namun Agnes tidak berhenti.“Ini bukan hanya untuk menutupi masalah ini,” lanjutnya cepat. “Tapi juga untuk menyelamatkan perusahaan.”
Matanya serius.“Kalau ini melebar… dampaknya akan besar.”
Lemos terdiam.Dia mengerti.Sebagai seorang pengusaha dia tahu risiko itu nyata.Perlahan, tatapannya beralih ke Nadira.Dingin.Penuh pertimbangan.
Nadira mundur satu langkah.
Wajahnya pucat.Untuk pertama kalinya dia benar-benar merasa sendirian.
Lemos tidak berkata apa-apa lagi.Hanya menatap tajam…lalu berbalik Pergi.
Dengan dengusan kasar, Dia Meninggalkan ruangan itu dengan keputusan yang belum diucapkan…tapi sudah di putuskan.