Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Roland duduk dengan tenang, namun sorot matanya tampak lebih dalam dari sebelumnya.
“Micheal… kau sudah menyelidiki latar belakang gadis itu?” tanyanya serius.
Micheal tidak ragu menjawab,
“Pa, Colly Shen adalah putri kesayangan Holdes Shen dan Janetta Li.”
Wajah Roland langsung berubah. “Apa?” suaranya rendah, tapi jelas penuh keterkejutan.
Micheal melanjutkan,
“Dia datang ke negara ini untuk menuntut ilmu. Identitasnya sengaja disembunyikan demi keselamatannya.”
Tatapannya menajam.
“Coba bayangkan… jika semua yang dilakukan keluarga Long sampai ke telinga keluarga Shen.”
Roland terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Ternyata… dia adik Little Tiger,” gumamnya pelan. “Gadis itu adalah harta paling berharga bagi keluarga Shen. Tidak ada yang berani menyentuhnya.”
Ia menatap Micheal dengan serius.
“Menurutmu… mereka sudah tahu?”
“Belum,” jawab Micheal singkat. “Kalau mereka tahu, Little Tiger tidak akan diam. Dia sangat menyayangi adiknya.”
Micheal berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Colly memilih hidup mandiri di sini. Dia bekerja paruh waktu, belajar, dan terus melatih kemampuan bela dirinya. Selain itu dia lebih sering tidur di asrama dari pada di apartemen mewah miliknya."
Tatapannya dingin.
“Dia mungkin terlihat sendirian… tapi sebenarnya tidak.”
Roland mengernyit.
“Seharusnya dia punya pengawal. Tapi kenapa hanya dia yang maju sendiri?” tanyanya heran.
Micheal menjawab dengan tenang,
“Colly tidak ingin identitasnya diketahui. Kalau dia membawa pengawal, bukankah itu sama saja membuka siapa dirinya?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dingin.
“Dibandingkan Amy Long yang lebih tua dua tahun, Colly jauh lebih dewasa.” “Amy hanya mengandalkan keluarganya. Mencari masalah, tapi tidak tahu cara menyelesaikannya.”
Tatapannya menajam.
“Sementara Colly… melindungi dirinya sendiri di negara asing. Dia tidak ingin bergantung pada siapa pun, bahkan keluarganya.”
Suasana hening sejenak.
“Demi nama keluarga Mu,” lanjut Micheal, “lebih baik kita menjauh dari keluarga Long. Jangan sampai terlibat lagi.”
Roland menatapnya dalam.
“Micheal… apa kau tidak merasa berat?” tanyanya pelan.
Micheal menggeleng tipis.
“Sejak awal, Amy bukan tujuanku. Aku hanya menjalankan perintahmu saat itu.”
Kalimat itu membuat Roland terdiam. Ia menghela napas panjang.
“Micheal… mungkin kau menganggap ayahmu ini egois,” ujarnya lirih. “Demi bisnis keluarga, aku menjodohkanmu dengan gadis pembawa masalah itu.”
Micheal menatapnya tenang.
“Pa, aku dibesarkan olehmu. Aku berutang budi padamu.”
Roland tersenyum tipis, namun matanya terlihat berat.
“Walau kau bukan anak kandungku… dalam hatiku, kau sama seperti Mark.” “Kalian berdua adalah anakku. Selama ini aku mendidikmu dengan keras. Padahal aku tahu… kau lebih menyukai dunia bela diri.” “Kau suka mengajar murid-muridmu… menjadikan mereka sepertimu."
Ia menunduk sejenak.
“Tapi aku tetap memaksamu masuk ke bisnis keluarga ini…”
“Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku tidak pernah menyalahkanmu,” ucap Micheal tenang. “Mark sudah tidak ada di sini. Aku hanya ingin berbakti padamu.”
Roland terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Sudahlah. Pernikahan ini kita batalkan saja,” ujarnya tegas. “Tidak baik kalau kau terus terlibat.”
Tatapannya menjadi dingin.
“Hari ini Amy berani datang meminta bantuan pada kita. Itu sama saja membawa masalah ke keluarga Mu.” “Lihat sendiri… ayah dan kakaknya bahkan tidak berkutik di hadapan Colly Shen. Mulai hari ini, kita tidak perlu lagi berhubungan dengan keluarga Long.”
Micheal mengangguk pelan.
“Terima kasih, Pa.”
***
Mansion keluarga Long
Prang!
Sebuah gelas terlempar keras ke lantai ruang tamu, pecah berkeping-keping.
Amy berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, wajahnya penuh amarah.
“Berani-beraninya mereka memperlakukanku seperti itu!” bentaknya.
Para pelayan hanya bisa berdiri kaku. Tak satu pun berani bergerak.
Beberapa dari mereka bahkan terkena serpihan kaca di kaki, darah mulai menetes… tapi tidak ada yang berani bersuara.
Amy sama sekali tidak peduli.
“Aku, Amy Long… ditolak?!” suaranya semakin tinggi. “Micheal Xie… kau akan menyesal!”
Tangannya mengepal erat.
“Dan Colly Shen…” gumamnya penuh kebencian. “Semua ini karena kau.”
Tatapannya menjadi dingin dan berbahaya.
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang di negara ini.”
Amy mengambil lusinan gelas di atas meja, lalu melemparkannya satu per satu tanpa henti.
Prang! Prang! Prang!
Suara pecahan kaca menggema di seluruh ruang tamu.
Wajahnya memerah, napasnya tidak teratur.
Semua yang ada di hadapannya menjadi sasaran.
“Pergi! Semua pergi dari sini!” bentaknya histeris.
Para pelayan gemetar. Mereka mundur perlahan, tapi tetap tidak berani bergerak terlalu cepat.
Setiap suara langkah kecil saja bisa memicu amarahnya kembali.
Prang!
Satu gelas lagi pecah tepat di dekat kaki seorang pelayan. Darah mulai mengalir, tapi ia tetap menahan suara.
Amy tertawa sinis, matanya dipenuhi kebencian.
“Micheal… Colly Shen…” gumamnya. “Kalian berdua… akan kubuat menyesal.”
“Colly Shen… mulai besok, kau akan diusir dari kampus.” “Dan namamu… akan jadi bahan hujatan semua orang.”
Amy tersenyum tipis.
“Lihat saja nanti.”
Keesokan harinya
Asrama Colly
“Colly! Cepat bangun!”
Brak!
Pintu kamar dibuka paksa. Tannia masuk bersama Roby dengan wajah panik.
Colly masih terbaring, selimut menutupi wajahnya.
“Colly, bangun! Ada masalah besar. Kita harus ke kampus sekarang!” seru Tannia.
Colly mengerang pelan.
“Ada apa… aku masih mengantuk. Semalam aku pulang jam dua… tidur hampir jam tiga…” gumamnya malas.
“Masalah besar! Amy Long mau bunuh diri!” ujar Roby cemas.
Colly membuka sedikit selimutnya, matanya setengah terbuka.
“Lalu apa hubungannya denganku?” ucapnya datar. “Apa perlu aku yang pilihkan peti mati untuknya?”
Ia menarik kembali selimutnya.
Tannia langsung menarik selimut itu lagi dengan kesal.
“Masalahnya dia melibatkan namamu!” bentaknya. “Sekarang seluruh kampus menyalahkanmu! Bahkan beberapa dosen juga ikut percaya!”
Colly akhirnya membuka mata sepenuhnya.
Roby menambahkan cepat,
“Semua orang memihak Amy. Mereka bilang kau yang menindasnya sampai dia depresi.” “Sekarang banyak yang ingin kau dikeluarkan dari kampus!”
Ruangan menjadi hening sejenak.
Colly duduk perlahan di tempat tidur. Wajahnya masih tenang… terlalu tenang.
“Begitu ya…” gumamnya.
Lalu, dengan nada ringan dan santai, ia berkata, “Bagaimana kalau aku membunuhnya saja?”
Tannia dan Roby langsung membeku.
“Colly! Jangan bercanda seperti itu!” seru Tannia panik. “Kau harus cari cara untuk membersihkan namamu!”
“Kalau dia sudah menghasut mereka, untuk apa aku menjelaskan?” ucap Colly datar. “Mereka tidak akan percaya.”
Ia menarik selimut dan kembali berbaring.
“Tenang saja… para dosen itu, nanti aku yang akan ‘mengeluarkan’ mereka dari posisinya.”
Nada suaranya ringan, seolah bukan hal besar.
Roby langsung menarik tangannya hingga Colly terpaksa duduk kembali.
“Jangan tidur lagi!” tegurnya. “Kalau kau diam saja, kau akan kalah. Kau juga tidak mau dikeluarkan dari kampus, kan?”
Colly menghela napas panjang, jelas kesal karena tidurnya diganggu.
“…gunting,” ucapnya singkat.
Tannia mengernyit, tapi tetap mengambilkan gunting dari meja dan menyerahkannya.
Colly menerima gunting itu tanpa banyak bicara.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu mengambil sebuah kemeja panjang berwarna pink dari gantungan.
Tanpa ragu, ia mulai menggunting bagian lengan dan kerahnya.
Srek… srek…
Tannia dan Roby saling pandang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Tannia bingung.
"Bukannya kalian ingin aku bersihkan namaku," jawab Colly.
"Lalu apa hubungannya dengan mengunting bajumu?" tanya Tannia dan Roby serentak.
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄