NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: KESAKSIAN DARI MASA LALU YANG TERKUBUR

Hembusan angin yang membawa hawa dingin ekstrem dari puncak gunung mendadak terasa tertahan di udara alun-alun Desa Shrouded. Keheningan yang ganjil dan mencekam kini menyelimuti ratusan penduduk desa yang mengepung tubuh bersimpuh Mayang. Semua pasang mata, mulai dari para tetua yang tersisa, para algojo yang membawa tali tambang tebal, hingga warga jelata yang memegang obor api, kini terpaku sepenuhnya pada sosok anak laki-laki berusia tujuh tahun yang berdiri kokoh sebagai perisai hidup di depan Mayang.

Anak itu bernama Tio. Tubuhnya yang kurus dan pakaian kain lusuhnya yang kedodoran tampak bergoyang diterpa angin malam yang pekat, namun sepasang matanya yang bulat memancarkan keteguhan jiwa yang sanggup membungkam amarah massal. Warga desa saling pandang satu sama lain dengan kening berkerut dalam, merasa bingung sekaligus sangat kesal karena momentum penghakiman mereka diganggu oleh kesaksian seorang bocah yang tidak masuk akal.

"Tio! Apa yang kaukasud dengan wanita baik dari klan kabut?!" bentak sang pemimpin massa, melangkah maju satu tindak dengan rahang yang mengencang frustrasi. "Jangan membual di tengah urusan orang dewasa! Gadis di belakangmu itu, Mayang, telah bersekutu dengan pemburu kabut bernama Dion untuk meruntuhkan segel pelindung desa kita! Mereka telah mengkhianati kita semua!"

"Tidak! Kalian semua yang salah! Kalian tidak tahu apa-apa tentang Kak Dion!" teriak Tio dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, memotong ucapan pria dewasa di depannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Napas bocah itu memburu, menatap kerumunan warga dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh debu tanah. "Dua tahun lalu, saat aku tersesat di dalam hutan maut karena mengejar seekor kelinci, aku diserang oleh tiga monster The Stalker. Aku sudah mengira akan mati dikunyah oleh mereka... tapi kemudian, seorang kakak perempuan yang sangat cantik dengan sihir kabut putihnya datang menyelamatkanku!"

Mayang, yang semula pasrah menanti kematian di atas tumpukan kayu bakar, perlahan membuka sepasang mata jernihnya. Rasa sakit hati dan keputusasaan yang sempat melumpuhkan akal sehatnya akibat kepergian Dion yang tanpa kata, mendadak terusik oleh cerita Tio. Ia mendongak, menatap punggung kecil Tio dengan jantung yang mulai berdegup kencang. "Tio... apa yang kaukasud...?" bisik Mayang dengan suara yang sangat serak.

Tio menoleh sejenak ke arah Mayang, memberikan sebuah tatapan penuh keyakinan yang hangat sebelum kembali menghadap ke arah warga desa. "Kakak perempuan yang menolongku itu bernama Rhea, dia adalah adik kandung dari Kak Dion! Rhea mengobati kakiku yang terluka akibat cakar monster dengan sihir penyembuhnya yang sangat lembut. Tapi... tapi di saat kami sedang bersiap untuk pulang, sekelompok pasukan berjubah besi hitam yang dipimpin oleh Penguasa Gorgan mendadak mengepung kami!"

Suasana di alun-alun desa kian senyap, seolah-olah waktu sengaja dihentikan agar kebenaran masa lalu yang terkubur bisa merayap keluar dari balik kabut. Warga desa yang semula memegang batu dan kayu pemukul perlahan-lahan menurunkan tangan mereka, terhipnotis oleh runtutan cerita yang keluar dari mulut polos anak kecil tersebut.

"Rhea mencoba melawan mereka untuk melindungiku," lanjut Tio, suaranya mulai tersedat-sedat oleh isak tangis saat ingatan mengerikan dua tahun lalu kembali berputar di kepalanya. "Tapi karena kekuatan sihir penyembuhnya tidak sebanding dengan kekejaman pasukan besi hitam itu, Rhea akhirnya tertangkap. Dia dipukuli dan dirantai di depan mataku sendiri karena dianggap sebagai pengkhianat terbesar klan karena telah berani menolong anak manusia dari desa ini! Di saat yang sama, Kak Dion datang menerobos kepungan itu. Kak Dion mengamuk, dia bertarung seperti orang gila demi menyelamatkan adiknya, tapi... tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena jumlah musuh terlalu banyak, dan Penguasa Gorgan mengancam akan menyembelih leher Rhea di tempat jika Kak Dion tidak menyerah!"

Air mata Mayang yang sempat mengering kini kembali mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Setiap kata yang diucapkan oleh Tio terasa seperti sebuah palu gada raksasa yang menghantam seluruh asumsi buruk dan prasangka kejamnya terhadap Dion sepanjang malam ini. Dadanya mendadak terasa sesak oleh kombinasi rasa bersalah yang teramat sangat dan kepedihan yang luar biasa.

"Jadi... Dion pergi kemarin bukan karena dia mengkhianatiku...?" gumam Mayang di dalam hatinya, suaranya tercekat di tenggorokan. Mengingat bagaimana kaku dan dinginnya sikap Dion kemarin siang di hadapan Penguasa Gorgan, Mayang kini akhirnya menyadari bahwa keheningan pria itu adalah sebuah topeng keputusasaan yang teramat suci. Dion terpaksa diam dan membiarkan dirinya dibenci oleh Mayang demi melindungi nyawa adik perempuannya yang sedang disandera.

"Setelah Rhea diseret pergi ke benteng kegelapan sebagai tawanan," Tio menyeka air matanya dengan lengan baju yang lusuh, "Kak Dion tidak membiarkan penguasa itu menyentuhku. Dengan tubuh yang penuh luka dan berdarah, Kak Dion menggendongku di punggungnya, menyembunyikan keberadaanku di dalam kantung jubahnya, lalu membawaku kembali ke pinggiran desa ini secara diam-diam pada malam hari agar tidak ketahuan oleh Tetua Gidion yang kejam! Kak Dion menyelamatkanku! Dia mengorbankan kebebasan adiknya sendiri demi memastikan anak desa ini bisa pulang dengan selamat ke pelukan ibunya!"

DEG!

Kesaksian mutlak dari Tio seketika meledakkan gelombang penyesalan dan keterkejutan yang masif di seluruh penjuru alun-alun desa. Beberapa pria dewasa yang semula berdiri paling depan memegangi obor, kini mendadak menjatuhkan senjata mereka ke atas tanah dengan tubuh yang gemetar. Kebencian buta yang selama ini dipelihara oleh para tetua desa untuk mengutuk silsilah klan kabut mendadak runtuh, menyisakan sebuah kenyataan pahit bahwa pria yang mereka sebut sebagai monster justru adalah pelindung sejati yang bergerak di dalam kesunyian fajar.

"Dewa lembah... apa yang telah kita lakukan?" gumam seorang wanita tua dari kerumunan warga, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang bergetar menahan tangis. "Kita hampir saja membakar putri dari Marta, wanita yang telah bersanding dengan seorang pahlawan sejati..."

"Gidion memang mengorbankan kita... dan pemuda kabut itu justru menderita demi anak-anak kita," seru warga lainnya, memicu riak kepanikan moral di antara seluruh penduduk desa yang kini dipenuhi oleh rasa bersalah yang amat dalam kepada Mayang.

Mayang tidak lagi memedulikan riuh rendah suara warga desa di sekelilingnya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada di dalam tubuh mungilnya, ia bangkit berdiri dari atas tanah berlumpur. Jubah beludru merah tuanya yang kotor tidak lagi terasa dingin, melainkan mendadak dialiri oleh percikan energi cahaya emas fajar yang kembali meledak dengan intensitas yang jauh lebih murni dan besar dari sebelumnya. Kesalahpahaman yang sirna digantikan oleh rasa cinta yang membara dan amarah yang suci untuk merebut kembali pria yang telah menyerahkan seluruh takdir raga kepadanya.

"Dion... tunggu aku... aku akan menjemputmu di balik kabut hitam itu," bisik Mayang dengan tatapan mata yang kini berkilat keemasan sempurna, menatap lurus ke arah puncak gunung terdalam, bersiap untuk menembus benteng tirani yang sesungguhnya demi menyelamatkan belahan jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!