NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Nayla berinti kesakitan, dia tidak bisa menghindar dan benar-benar pasrah saat Endra mulai melukainya. Sedikit saja Nayla bergerak dan menolak akibatnya akan lebih fatal lagi untuk dirinya.

Darah segar banget keluar dari lengan putihnya, sedikit demi sedikit membuat senyum Endra merekah.

Gadis itu tidak berani membuka mata, Nayla rumah dengan darah. Dia benar-benar takut dengan yang namanya darah. Bibir mungil Nayla terus mengeluarkan rintihan rintihan kesakitan yang semakin membuat Endra menampilkan senyumannya.

"Cu-cukup Endra, sakit .."

Seakan menuliskan pendengaran Endra terlihat tidak peduli dan tetap melanjutkan aksi gilanya.

"Endra udah ini sakit.." Nayla memekik keras saat rasa sayatan semakin sakit dan dalam.

Tapi segalanya tangan Endra terlepas dari tangan Nayla, bahkan laki-laki itu menyudahi aksinya tapi tetap saja Nayla belum berani membuka matanya. Dia tidak mampu untuk sekedar melihat keadaan lengannya sendiri.

"Sekarang semua akan tahu kalau nggak cuma milik gue," ujar laki-laki itu diiringi kekehan.

Nayla menangis keras begitu Endra berbicara sebab tangannya semakin terasa. Jangan Nayla dia gerakan menjauh dari pandangan matanya lalu dia berusaha membuka matanya secara perlahan.

Sialnya yang pertama kali Nayla lihat adalah kater tajam yang berlumuran darah yang kini tengah dipandangi oleh Endra. Nayla seketika membuang muka, dia merasa takut.

Endra benar-benar sudah kelewatan sekarang. Ternyata sikap manusia laki-laki itu kemarin hanyalah kebohongan? Apa Nayla kamu udah dimanipulasi?

Apa mau Endra seben? Laki-laki itu tidak mau melepas Nayla tapi terus saja melukainya.

"Lo jahat, Endra!"

Endra kembali menatap Nayla." Sekali lagi manggil gue dengan sebutan itu, gue tinggalin Lo di ini!" Bentaknya dingin.

Bukannya langsung diam, Nayla dengan berani mengutarakan kesakitannya. " Lo cowok brengsek! Endra brengsek! Gue benci sama Lo!" Nayla memukul dada bidang Endra dengan satu tangannya.

Mata Endra langsung memerah, bahkan satu tangannya yang tak memegang cutter itu langsung mengepal kuat di atas kemudi. Gigi gerahamnya terlihat bergerak bermain-main di dalam mulutnya lalu sekejap tangannya mencengkram kuat dagu Nayla.

"Keluar lo sekarang juga!"teriak Andra membuat mata Nayla refleks memejam sebab wajah keduanya sangat dekat, hanya jarak satu jengkal saja.

Dengan gerakan kasar Endra langsung menghempas wajah Nayla tanpa perasaan dan membuat Nayla lagi-lagi merasakan sakit.

Cukup lama saling terdiam, Endra bergerak mendekat ke tubuh Nayla membuat gadis itu seketika menghindar. Tapi rupanya Endra membuka sabuk pengaman juga pintu untuk Nayla yang tak kunjung merealisasikan perintahnya.

Tetapan Nayla mama." Endra ini bercanda kan?"

" Keluar!" cetus Endra secara dingin dan tidak sekalipun menatap Nayla.

"Lo gak akan turunin gue di sini kan? Iya kan? Ayo pergi dari sini Endra."

Merasa muak dengan ocehan gadis itu, Endra turun dari mobilnya kemudian laki-laki itu berjalan cepat memutar kap mobil miliknya.

Laki-laki itu langsung merarik tangan Nayla supaya gadis itu cepat keluar dari mobilnya.

Nayla mengadu kesakitan sebab laki-laki itu menarik lengannya yang dipenuhi darah dan luka sayatan yang laki-laki itu ciptakan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ends menutup pintu mobilnya dengan kasar dan segera masuk kembali ke dalam mobil.

Melihat hal itu Nayla menggedor kaca mobil sambil berderai air mata, namun sayangnya Endra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat tubuh Nayla terjatuh di jalanan yang sepi.

Dingin malam menusuk kulitnya yang basah oleh darah dan air mata, tetapi Nayla tidak lagi mampu memedulikan rasa apa pun selain nyeri yang berdenyut keras di lengannya. Gadis itu masih terhuyung di tengah jalan yang sepi, tubuhnya limbung, napasnya pendek-pendek, sementara satu tangan menekan lengan yang baru saja dilukai Endra. Darah hangat terus merembes dari sobekan panjang itu, menodai seragam sekolahnya yang tadi pagi masih ia pakai dengan rapi. Kini kain putih di bagian lengan perlahan berubah merah, lalu semakin gelap, seperti noda yang sengaja dibiarkan hidup agar ia tak bisa mengabaikan apa yang baru saja terjadi.

Nayla meringis, kemudian menekan luka itu lebih kuat, seolah dengan cara itu darah bisa berhenti keluar lebih cepat. Namun yang ia dapatkan hanya rasa perih yang semakin tajam. Setiap detak jantung terasa memukul-mukul kepalanya. Setiap tarikan napas seperti menggesek luka di dalam dadanya yang tak kasatmata. Ia tidak tahu harus menangis lagi atau tidak. Air matanya sudah habis entah sejak kapan, yang tersisa hanya sesenggukan kecil yang tersangkut di tenggorokan, berat, menyakitkan, dan membuatnya terasa semakin lemah.

“Harus sampai kapan gue bertahan…?” gumamnya lirih, suaranya pecah di ujung kalimat. “Rasanya sakit banget…”

Langit malam di atasnya begitu gelap, hanya dihiasi lampu jalan yang jarang-jarang, redup, dan sama sekali tidak memberi rasa aman. Jalan itu sepi. Terlalu sepi. Hanya ada suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin, dan sesekali deru kendaraan yang lewat jauh di kejauhan tanpa memperhatikannya. Pepohonan tinggi berdiri di sepanjang bahu jalan, membuat tempat itu terasa seperti lorong tanpa ujung, seperti hutan kecil yang menelan cahaya. Nayla menoleh ke kiri dan ke kanan dengan takut, seolah berharap ada seseorang yang tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Yang ada hanya dirinya.

Sendiri.

Dengan lengan berdarah.

Dengan pipi yang masih terasa panas karena tamparan Endra sebelumnya.

Dengan hati yang remuk terlalu dalam untuk disusun ulang.

Gadis itu berusaha menggerakkan kakinya. Sedikit demi sedikit. Tubuhnya terasa berat seperti dihantam ribuan batu. Punggungnya nyeri, lututnya lemas, dan lengannya seolah tak lagi mau patuh. Ia memandang jalan di depannya tanpa benar-benar melihat. Kepalanya berputar. Dunia terasa tidak stabil, seperti tanah yang ia pijak bisa runtuh kapan saja. Ia sempat berpikir untuk duduk kembali di aspal dan berhenti bergerak. Rasanya akan lebih mudah kalau ia berhenti di sini saja. Tidak perlu lari. Tidak perlu mencari jalan pulang. Tidak perlu memikirkan Endra. Tidak perlu memikirkan papanya. Tidak perlu memikirkan rumah yang bukan rumah, cinta yang bukan cinta, dan hidup yang perlahan-lahan berubah menjadi hukuman.

Tapi Nayla tahu ia tidak bisa diam begitu saja.

Ia masih hidup.

Dan selama ia masih hidup, ia harus bergerak.

Dengan napas yang nyaris habis, ia berjalan terpincang menuju sisi jalan, mendekat ke tiang lampu terdekat. Tangannya gemetar saat ia menekan luka di lengan. Darahnya masih mengalir, tak deras, tapi cukup untuk membuatnya panik. Ia menunduk melihat noda merah itu, lalu refleks memalingkan wajah. Nayla benci darah. Bukan benci biasa, melainkan takut yang hampir membuat tubuhnya membeku setiap kali melihatnya. Dan kini darah itu berasal dari tubuhnya sendiri. Ia merasakan mual naik ke tenggorokan, tetapi menahannya mati-matian. Kalau ia muntah di sini, ia khawatir akan semakin lemah.

“Jangan pingsan… jangan sekarang,” bisiknya pada diri sendiri.

Suara itu kecil, rapuh, seperti anak kecil yang sedang menenangkan tubuhnya yang ketakutan. Namun ia tidak tahu apakah tubuhnya mendengarkan atau tidak. Pandangannya mulai berkunang. Udara malam terasa terlalu dingin dan terlalu banyak menusuk hidung. Nayla menarik ujung lengan seragamnya yang lain, lalu dengan susah payah menekan luka di lengannya dengan kain itu, berusaha membuat darahnya berhenti merembes. Tindakan itu tidak rapi, tidak benar, bahkan menyakitkan. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia tidak punya perban, tidak punya obat, tidak punya siapa-siapa.

Dan yang paling menyakitkan ia tidak punya tempat pulang.

Kalimat itu muncul begitu saja dan menghantam kepalanya dengan keras. Nayla menutup mata. Ingatannya kembali pada apartemen Marvin, pada sofa, pada kamar putih, pada pintu yang sempat dikunci dari luar, dan pada satu momen ketika ia merasa, untuk sesaat, setidaknya ia masih punya ruang untuk bernapas. Namun bahkan tempat itu pun kini terasa jauh. Mungkin Marvin memang membawanya ke sana hanya untuk menolong. Mungkin laki-laki itu benar-benar tidak jahat seperti yang selama ini ia pikirkan. Tetapi tetap saja, sekarang ia ada di sini. Di tengah jalan sepi. Disakiti oleh orang yang ia cintai. Lalu dibuang begitu saja.

Nayla tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak lucu. Tawa yang lebih mirip tangis patah.

“Gue bodoh ya…” gumamnya. “Bodoh banget…”

Bukan soal Endra yang menyakitinya. Bukan hanya soal cutter yang menyayat kulitnya. Tapi juga karena selama ini ia tetap memilih bertahan, tetap percaya pada satu orang yang berkali-kali menunjukkan bahwa cintanya bisa berubah menjadi luka. Nayla mengira ia bisa menahan semuanya karena ia mencintai Endra. Karena Endra pernah menjadi tempat ia bersandar. Karena Endra pernah melindunginya. Karena Endra pernah memandangnya seperti ia satu-satunya orang penting di dunia. Tapi malam ini, semua itu terasa seperti ilusi yang sengaja diciptakan agar ia mudah dipatahkan.

Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu mengusap air mata yang kembali jatuh. Wajahnya basah. Hidungnya merah. Rambutnya berantakan menempel di pipi. Gadis yang dulu selalu terlihat tertata kini hanya tinggal sisa-sisa seseorang yang nyaris runtuh. Meski begitu, ada satu hal yang masih tersisa dalam dirinya: keinginan untuk tidak mati di jalanan ini. Keinginan kecil, rapuh, namun cukup kuat untuk membuatnya terus berdiri.

Langkahnya mulai bergerak lagi. Pelan. Sempoyongan. Setiap beberapa detik ia berhenti untuk memejamkan mata dan menahan nyeri yang menyambar lengan serta kepalanya. Dunia di sekelilingnya terasa semakin liar. Lampu jalan melayang seperti titik-titik kabur. Suara kendaraan yang lewat sesekali terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain. Nayla menatap layar ponsel di genggamannya dengan tangan yang tremor. Ia baru ingat bahwa ponselnya masih bersamanya. Ia mencoba menyalakannya lagi, berharap, setidaknya sekali, bisa menghubungi seseorang.

Namun layarnya hanya menyala redup.

Baterai habis.

Nayla menghela napas berat. Ponsel itu mati, lagi. Seolah semesta sedang menertawakannya. Seolah tak ada satu pun yang ingin membantunya malam ini. Ia menggigit bibir, lalu menahan tangis yang mulai naik lagi. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi. Tidak ada nama yang bisa ditelepon. Bahkan kalau pun ia menekan panggilan darurat, ia tidak yakin tangannya masih cukup stabil untuk melakukannya. Lagi pula, ke mana ia harus dibawa jika ada bantuan datang? Rumah sakit? Polisi? Rumah? Tidak ada yang terasa benar.

Kembali ia memikirkan rumah.

Rumah yang seharusnya tempat ia pulang, tapi justru menyimpan luka terbesar dalam hidupnya. Papanya. Mamanya. Satu per satu ingatan itu muncul, membuat dadanya semakin sesak. Kata-kata papanya yang dingin. Pandangan mamanya yang selalu menunduk saat Nayla memohon. Keheningan di meja makan. Ruang kerja yang bau kekuasaan. Kamar yang terlalu besar namun kosong. Semua itu berputar dalam benaknya seperti potongan kaca yang tak pernah bisa disatukan lagi.

Lalu Endra.

Nama itu hadir seperti bayangan paling gelap.

Endra yang menarik tangannya.

Endra yang membentaknya.

Endra yang mengatainya murahan, jalang, cewek lemah.

Endra yang kini meninggalkannya sendirian di jalan sepi dengan luka yang masih mengucurkan darah.

Nayla berhenti berjalan.

Kakinya mendadak goyah.

Ia mematung di tengah trotoar, tubuhnya dibalut dingin, matanya menatap kosong ke depan. Air mata yang sempat reda kini jatuh lagi tanpa ia minta. Ia benci pada kenyataan bahwa kata-kata Endra terasa lebih tajam daripada cutter yang baru saja menyayat kulitnya. Luka di lengan itu sakit, ya, tapi luka di hati? Luka itu seperti dibelah lalu dibiarkan terbuka tanpa obat. Lebih menyakitkan. Lebih sunyi. Lebih memalukan.

“Aku capek…” suara Nayla hampir tak terdengar. “Aku beneran capek…”

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!