Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.
Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.
Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.
Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—
God Rank, ranah sang Dewa Perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hutan Arden
Pusaran sihir ruang dari Gerbang Transmitasi Raksasa perlahan memudar, meninggalkan rasa pening yang singkat di belakang kepala Sander Duster. Ketika kelopak matanya terbuka seutuhnya, hamparan pemandangan menara batu Elegrand Royal Academy telah lenyap sepenuhnya. Di sekelilingnya, menjulang barisan pohon purba raksasa dengan dahan-dahan legam yang saling bertautan di atas langit, menghalangi sebagian besar penetrasi cahaya matahari pagi.
Tempat ini adalah Hutan Arden. Berbeda dengan simulasi di atas kertas atau lapangan marmer akademi yang aman, atmosfer di dalam hutan latihan ini terasa luar biasa lembap, asing, dan sarat akan bau tanah basah yang pekat. Kabut tipis merayap lambat di antara semak-semak berduri, mengunci panca indra setiap murid yang baru saja mendarat di berbagai titik acak.
Sander menegakkan punggung tegapnya, mempererat cengkeraman tangan kanannya pada gagang pedang besi latihan yang sengaja ia bawa. Di atas bahu kirinya, Behemoth duduk dengan posisi melingkar yang malas, sepasang mata emas kosmiknya melirik acak ke arah kegelapan vegetasi di sekitar mereka dengan pandangan yang sangat bosan.
Di samping kanan Sander, Elena Aurelius sudah selesai menstabilkan posisi berdirinya. Zirah ringan perak murninya memantulkan pendaran cahaya minim dari celah dedaunan, sementara tangannya telah siaga menyentuh hulu rapier safirnya. Tidak jauh dari sana, Sylvia Frost berdiri dengan anggun sembari memegang buku catatan taktisnya, dan Gideon Valentine sedang memeriksa kompas navigasi mekanis miliknya dengan kerutan tipis di dahi.
"Koordinat ruang melemparkan kita tepat di Sektor Luar Hutan Arden," Gideon membuka suara dengan nada baritonnya yang halus namun sarat akan kalkulasi strategi. "Berdasarkan instruksi tertulis dari Profesor Darius sebelum keberangkatan, misi kelompok pertama kita di tempat ini sebenarnya cukup sederhana. Kita hanya diwajibkan untuk mencari dan mengumpulkan Crystal Leaf, sejenis tanaman merambat langka yang memancarkan pendaran mana murni untuk dinilai oleh tim administrasi luar."
"Misi pengumpulkan bahan, ya?" Elena Aurelius menyunggingkan sebuah senyuman jernih yang penuh dengan rasa percaya diri, melangkah mendekati sebuah batang pohon besar yang dipenuhi lumut hijau. "Jika hanya mengumpulkan tanaman, kita bisa membagi perimeter pengawasan agar proses pencarian berjalan jauh lebih cepat. Mengingat klan Duster memiliki ketahanan fisik yang tinggi, Sander bisa memimpin di jalur depan sementara aku mengamankan jalur udara dari dahan pohon."
Sylvia Frost melangkah maju dua langkah, mengalirkan setitik sirkulasi elemen es murni dari ujung jarinya yang halus untuk meredam kelembapan udara yang terlalu pekat di sekitar mereka. "Saya akan mengamankan radius belakang. Deteksi es saya bisa merasakan jika ada pergerakan benda asing yang mendekati jalur pengumpulan kita."
Sander memberikan sebuah anggukan kepala yang tegas kepada ketiga sahabatnya, lalu mulai mengayunkan pedang besinya untuk membuka jalan di antara kerapatan semak berduri. Kelompok mereka mulai bergerak perlahan, mata mereka aktif mencari pendaran warna perak kebiruan khas dari Crystal Leaf yang biasanya merambat di akar-akar pohon purba yang telah mati.
Namun, ketenangan Hutan Arden tidak bertahan lama. Baru lima belas menit mereka melangkah masuk lebih dalam, aroma udara di sekeliling mereka mendadak berubah secara drastis. Bunyi gemersik dedaunan mati tidak lagi terdengar acak, melainkan bergaung beruntun dari berbagai arah mata angin, menciptakan kepungan suara langkah kaki yang sangat rapat dan cepat.
Dari balik kegelapan semak-semak belukar, belasan pasang mata merah beringas mendadak menyala terang secara serentak. Makhluk-makhluk itu adalah monster liar berwujud reptil baring berbalut sisik legam yang dikenal dengan nama Thorn Lizard, tingkat Bronze Rank awal hingga pertengahan. Jumlah mereka yang merangkak keluar dari balik akar pohon terus bertambah hingga mencapai puluhan ekor, jauh melebihi data perkiraan jumlah monster yang biasanya dirilis oleh pihak akademi untuk area latihan luar tahun pertama.
"Jumlah mereka... ini tidak masuk accal untuk ukuran Sektor Luar!" seru Elena Aurelius, senyuman cerianya langsung lenyap, digantikan oleh kilatan fokus bertarung saat ia mencabut rapier safirnya hingga memancarkan ledakan Life Energy elemen cahaya putih keemasan yang benderang.
"Tingkat agresivitas mereka juga berada di titik ekstrem. Sepertinya ada perubahan ekosistem mendadak di dalam Hutan Arden yang gagal dideteksi oleh tim pengawas," Gideon Valentine menggeser tubuhnya dengan luwes, meremukkan tanah basah di bawah sepatunya sembari menarik sebilah belati perak dari balik jubah abu-abunya.
Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk ke dalam Elegrand Royal Academy, para siswa tahun pertama dipaksa untuk berhadapan langsung dengan bahaya nyata yang sesungguhnya. Tidak ada instruktur penengah yang akan menghentikan pertandingan saat darah mulai menetes, dan tidak ada lantai marmer yang aman untuk menahan kejatuhan mereka. Di berbagai sudut hutan yang lain, suara teriakan syok dan dentingan logam dari kelompok murid lain yang ikut tersergap mulai terdengar bergaung samar-samar menembus kepekatan udara.
Sander mengencangkan pijakan kakinya, menggunakan dorongan fisik murninya untuk menebas ekor Thorn Lizard pertama yang mencoba melompat ke arah dadanya. Bunyi benturan fisik yang keras menggema kencang, namun kulit bersisik monster tersebut jauh lebih keras dari perkiraan, membuat pedang besi latihannya bergetar hebat hingga memicu rasa kebas di sepanjang garis lengan Sander.
Atas bahu kirinya, Behemoth mendongakkan kepalanya yang berbulu hitam lebat, sepasang mata emas kosmiknya menyipit tajam melihat gelombang monster reptil yang terus berdatangan laksana air bah. Melalui ikatan mistis Resonansi Jiwa, sebuah desisan batin yang penuh akan otoritas purba menggema pekat di dalam kepala Sander.
(Sander! Binatang-binatang merangkak berlendir ini benar-benar tidak tahu diri! Mereka berani mengganggu jalur berjalan kita dengan jumlah yang begitu menjijikkan! Berikan aku kendali penuh atas wadah fisik murnimu sekarang juga agar aku bisa memicu pusaran Law of Devouring dan meremukkan seluruh esensi kehidupan mereka menjadi abu hitam dalam sekali hentakan kaki!)
(Tahan dirimu, Behemoth! Pertahankan penyamaranmu!) balas Sander secara tegas di dalam batinnya sembari memukul mundur dua ekor monster lagi menggunakan pundak tegapnya. (Jika kau melepaskan aura kosmikmu di tengah kekacauan ini, seluruh profesor di luar hutan akan langsung mengunci koordinat kita!)
Pertempuran kelompok menjadi luar biasa kacau dan liar dalam hitungan menit. Elena dan Gideon sibuk menahan gelombang utama Thorn Lizard dari arah depan menggunakan kombinasi tusukan cahaya dan tusukan belati taktis, sementara Sylvia Frost terus merilis dinding kristal es dari arah belakang untuk mencegah kelompok mereka dikepung secara mutlak.
Namun, di tengah hiruk-pikuk benturan sihir dan pekikan monster yang memekakkan telinga, sebuah pergerakan yang luar biasa senyap mendadak terjadi di atas dahan pohon purba raksasa yang berada tepat di atas posisi berdiri Sylvia. Seekor Thorn Lizard berukuran jauh lebih besar—sebuah variasi mutan tingkat puncak Bronze Rank—yang sejak tadi bersembunyi di balik dedaunan legam, mendadak melepaskan cengkeraman akarnya.
Dengan taring-taring panjang yang dilapisi riak racun hijau pekat dan cakar hitam yang mengarah lurus ke bawah, monster mutan beringas itu meluncur jatuh bebas dengan kecepatan tinggi, melepaskan sebuah serangan mendadak yang fatal yang mengincar langsung ke arah kepala Sylvia Frost yang saat itu posisinya tengah membelakangi pohon karena fokus mendukung jalur serang Elena di depan.
folback aku yah ehehe