⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Parah
Pria itu awalnya berlagak sok jagoan. Ia hanya memelototi Banyu dengan penuh amarah dan menahan rasa sakitnya dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Namun, Banyu sama sekali tidak kenal ampun. Ia langsung mencengkeram sebelah lengan pria itu yang masih utuh dan memuntirnya dengan keras. Kini, kedua lengan pria malang itu patah tak berdaya.
"Aaaargh...!" Pria itu kembali menjerit kesakitan. Keringat dingin mengucur deras menyusuri pipinya yang pucat pasi, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat tak terkendali.
Wajah Banyu sama sekali tidak memancarkan belas kasihan. Ia memperingatkannya dengan nada sedingin es, "Kalau kau masih bungkam, aku akan mematahkan keempat anggota tubuhmu. Mari kita lihat, mulutmu atau tulangmu yang lebih keras!"
Meskipun pembunuh bayaran ini termasuk preman berdarah dingin, ancaman brutal Banyu sukses menciutkan nyalinya. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya buka suara dengan gemetar, "Kami... kami adalah anggota Triad Malaysia! Kami cuma menjalankan perintah dari bos. Soal siapa dalang yang menginginkan nyawa Pak Yapto Liem, aku benar-benar tidak tahu..."
Melihat pria itu akhirnya melontarkan jawaban yang jujur, Banyu merasa cukup puas. Alasannya menggunakan metode kejam yang instan ini adalah prinsip dasar yang sama dengan taktik interogasi mendadak kepolisian sesaat setelah menangkap penjahat. Di momen inilah pertahanan psikologis lawan sedang berada di titik terendah. Banyu harus memanfaatkannya sebelum pria itu sempat menata kembali mentalnya untuk berbohong. Jika momentum ini terlewat, akan sangat sulit untuk mengorek informasi berguna darinya.
Banyu melepaskan lengannya yang patah dan kembali bertanya dengan dingin, "Siapa kontak penghubung kalian di sini? Bagaimana cara menghubunginya?"
Karena sudah menjawab pertanyaan pertama, pria itu merasa tak ada gunanya lagi melawan. Tanpa ragu, sang sopir pembunuh itu menjawab cepat, "Kontak kami bernama..."
DOR! DOR! DOR!
Tepat saat kata-kata itu menggantung di udara, rentetan tembakan dahsyat mendadak meletus dari dalam salah satu SUV. Sang sopir yang sedang diinterogasi dan tak punya pertahanan itu tertembak berkali-kali. Matanya terbelalak lebar sebelum akhirnya tubuhnya roboh ke depan, tewas seketika.
Banyu awalnya mengira setiap SUV hanya berisi dua orang. Ia sama sekali tidak menyangka masih ada satu bajingan lagi yang bersembunyi di dalam sana! Karena serangan itu terjadi sangat tiba-tiba, Banyu tak sempat menghindar. Dua buah peluru bersarang telak di tubuhnya: satu di dada kanan, dan satu lagi di bagian perut.
Banyu merasakan hantaman keras seolah tubuhnya baru saja dihantam palu godam. Momentum dari peluru itu membuatnya terhuyung dan jatuh ke belakang.
Dada dan perut adalah organ vital manusia. Orang biasa yang menderita luka tembak separah ini pasti akan langsung lumpuh dan kehilangan kesadaran. Namun, kualitas fisik Banyu yang sudah bermutasi kini menunjukkan taringnya. Ia tidak hanya mempertahankan kesadaran penuh, tetapi juga tidak kehilangan mobilitas tubuhnya. Sedetik sebelum punggungnya menyentuh aspal, pistol di tangan Banyu sudah menyalak.
Pria yang bersembunyi di dalam SUV itu sama sekali tidak menduga bahwa Banyu masih punya tenaga untuk melawan setelah tertembak dua peluru mematikan. Baru saja ia hendak melompat keluar dari mobil untuk menyelesaikan misinya membunuh Pak Yapto Liem, peluru-peluru Banyu sudah menerjangnya. Akurasi tembakan Banyu jauh di atas bajingan itu. Belasan lubang tembakan tercetak rapi di dadanya, mencabut nyawanya seketika.
Meskipun menderita luka parah, Banyu memaksa dirinya merangkak dan berdiri. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, ia memeriksa kedua SUV itu sekali lagi. Baru setelah ia memastikan seratus persen tak ada lagi musuh yang tersisa, ia mengembuskan napas lega.
Saat itu, Pak Yapto Liem juga baru keluar dari bangkai Mercedes-Benz. Selain lengan kirinya yang terkilir parah akibat tabrakan, ia tidak mengalami luka lain. Namun, saat melihat Banyu berdiri bersimbah darah, jantung taipan itu serasa berhenti berdetak. Ia buru-buru menunjuk salah satu SUV yang mesinnya masih menyala, "Banyu, cepat naik! Aku antar kau ke rumah sakit sekarang!"
Meski kebugaran fisik Banyu melampaui batas manusia normal, luka tembak yang dideritanya kali ini benar-benar serius. Ia mulai merasa pandangannya berkunang-kunang. Karena sudah mencapai batasnya, ia tak menolak tawaran Pak Yapto Liem. Namun, ia tidak lupa mengingatkan, "Jangan lupa... bawa salah satu pembunuh yang pingsan tadi... dia satu-satunya saksi hidup kita!"
Kata-kata Banyu menyadarkan Pak Yapto Liem. Pria paruh baya itu bergegas mencoba mengangkut pembunuh yang tadi dipukul pingsan oleh Banyu. Sayangnya, karena sebelah lengannya terkilir, sekuat apa pun ia menghela, ia tak sanggup mengangkat tubuh pria dewasa itu ke dalam mobil.
Melihat hal itu, Banyu dengan terpaksa turun lagi dari mobil untuk membantu Pak Yapto Liem mengangkut target mereka. Setelah berhasil melempar pembunuh itu ke kursi belakang SUV, Banyu tak lupa mendaratkan satu pukulan keras tambahan ke kepalanya. Pukulan ini dijamin akan membuat bajingan itu tertidur lelap sampai besok pagi, sehingga tak akan membuat masalah di perjalanan.
Memaksakan diri bergerak membuat pendarahan dari luka Banyu semakin deras. Ia merasa sekujur tubuhnya sangat lemas. Dengan sisa tenaga, ia duduk di kursi penumpang depan SUV, menekan luka di perut dan dadanya kuat-kuat dengan kedua tangan untuk memperlambat pendarahan.
Pak Yapto Liem melompat ke kursi pengemudi. Sambil menggertakkan gigi menahan rasa sakit dari bahunya yang terkilir, ia mengemudikan SUV itu menggunakan satu tangan. Mobil itu melaju limbung dan ugal-ugalan membelah jalanan kosong. Lebih dari dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit yang baru saja ditinggalkan Banyu belum lama ini.
Para dokter di unit gawat darurat terperanjat hebat melihat Banyu yang datang dengan kondisi mandi darah. Mereka langsung bergerak cepat menyiapkan ruang operasi darurat, sementara salah satu staf segera menghubungi polisi. Pak Yapto Liem sama sekali tidak keberatan dengan hal ini; toh, ia adalah korban konspirasi pembunuhan dan memang berencana melibatkan pihak berwajib.
Ruang operasi disiapkan dalam rekor waktu tercepat. Banyu didorong masuk di atas brankar oleh para perawat. Dua butir peluru itu masih bersarang di dalam tubuhnya dan harus segera diangkat agar nyawanya selamat.
Seorang perawat UGD menggunting pakaian Banyu, bersiap untuk membersihkan area luka sebagai persiapan sayatan pisau bedah. Awalnya semua prosedur berjalan lancar. Namun, ketika perawat itu mencoba melepaskan "liontin kecil" yang tergantung di leher Banyu, ia mendapat perlawanan sengit dari sang pasien.
Kesadaran Banyu masih sangat jernih. Tentu saja ia pantang membiarkan siapa pun mengambil Kendi Penyuling Jiwa dari lehernya! Ini adalah akar dari nyawa dan kesuksesannya; benda pusaka ini tak boleh berpindah tangan ke pihak mana pun. Meskipun sang perawat terus membujuknya bahwa logam tidak boleh dibawa ke meja operasi, Banyu dengan keras kepala meronta menolaknya. Karena kehabisan kesabaran dan berpacu dengan waktu, perawat itu akhirnya memutuskan untuk mengabaikan Banyu dan menarik kalung itu secara paksa.
Namun, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Meskipun Banyu sedang terluka parah dan kehilangan banyak darah, tenaganya masih luar biasa beringas! Tiga perawat sekaligus bahkan tak sanggup menahan tubuhnya hanya untuk melepaskan kalung tersebut. Karena perlawanan brutal itu, darah segar kembali muncrat dari luka di perut dan dadanya. Para dokter dan perawat kini mulai benar-benar panik.
Akhirnya, sang dokter bedah utama, Dr. Grant, mengambil keputusan final. Dengan tak berdaya ia menginstruksikan timnya untuk membiarkan pasien keras kepala itu menyimpan kalungnya. Barulah perdebatan itu berakhir. Sejujurnya, sepanjang lebih dari dua puluh tahun karir medis Dr. Grant, ini adalah kali pertama ia bertemu pasien senaif ini, yang rela mengorbankan nyawa hanya demi mempertahankan sebuah perhiasan kecil murah! Di dalam hati, sang dokter bule merutuk, "Orang Asia ini benar-benar gila!"
Namun, seiring pisau bedah mulai beroperasi, Dr. Grant dan timnya dihadapkan pada satu fakta yang lebih gila lagi. Walaupun temperamen pasien ini sangat konyol, vitalitas tubuhnya sungguh di luar nalar sains medis!
Pasien ini menerima tembakan telak di dada kanan yang merobek sebagian lobus paru-parunya, dan satu tembakan di perut yang melukai organ hatinya. Salah satu dari luka itu saja sudah cukup untuk mengirim orang biasa ke kamar mayat. Khususnya tembakan di bagian perut yang memicu pendarahan masif; secara teori medis, manusia normal akan mati kehabisan darah dalam waktu kurang dari sepuluh menit! Namun pria Asia ini... ia bukan hanya sanggup bertahan hidup lebih dari dua puluh menit untuk mencapai rumah sakit, tapi ia bahkan masih punya tenaga banteng untuk bergulat melawan tiga perawat di atas meja operasi! Ketahanan fisiknya benar-benar mencengangkan!
Tentu saja, berkat vitalitas yang sangat ulet itulah Banyu tak hanya berhasil mempertahankan kesadarannya sampai ke rumah sakit, tetapi juga bertahan hidup hingga operasi pengangkatan peluru dinyatakan sukses.