NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Sore itu, kediaman keluarga Margaretha dipenuhi atmosfer aneh. Pelayan-pelayan yang biasanya cekatan kini berjalan seperti menginjak kaca, pelan, takut membuat suara berlebihan. Di ruang tamu, seorang pria muda duduk dengan sikap anggun dan wibawa yang tak biasa terlihat di rumah ini.

Leon.

Dia duduk tegap di kursi utama, kaki disilangkan rapi, tatapan matanya dingin seperti memeriksa kelemahan setiap sudut ruangan. Sepotong kue tar mewah di piring kristal di depannya tak tersentuh. Cangkir teh porselen yang masih mengepulkan uap pun sama sekali tak dia jamah.

Harreta, sang nyonya rumah, berdiri agak jauh di sisinya. Tangannya menggenggam jemari sendiri, berusaha menyembunyikan gugup yang nyaris membuat tubuhnya bergetar.

"Harus berapa lama lagi aku menunggu?" suara Leon terdengar datar, namun tiap kata menancap seperti jarum dingin. Pandangannya bergeser sekilas pada arloji perak yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Sebentar lagi… sebentar lagi dia akan turun," jawab Harreta, berusaha terdengar ramah, tapi nada bicaranya sarat ketegangan. Matanya melirik cepat ke arah seorang pelayan muda di belakangnya, lalu berbisik penuh tekanan, "Cepat suruh anak itu turun. Untuk apa berlama-lama di kamar dan membuat Tuan Muda Leon menunggu?"

"Baik, Nyonya," sahut pelayan itu terbata, hendak bergegas, namun langkahnya terhenti ketika suara derap sepatu hak terdengar dari arah tangga besar.

Grace muncul.

Gaun satin biru tua membalut tubuhnya, membuatnya tampak seperti putri di pesta dansa. Wajahnya dipoles rapi dengan riasan lembut, bibirnya melengkung dalam senyum penuh percaya diri. Dia berjalan anggun, seolah setiap langkahnya sudah dihitung untuk memukau tamu istimewa ini.

"Leon… aku tidak menyangka kau akan berkunjung ke rumahku," ucapnya dengan nada manja, duduk tepat di hadapan pria itu.

Leon tidak membalas. Pandangannya tetap tenang, namun dingin. Bukan tatapan pria yang tersihir pesona seorang wanita. Dia menoleh pada Harreta.

"Biasakan kami hanya berbincang berdua saja?"

"Oh… baiklah, baiklah." Harreta buru-buru mengangguk, lalu memberi isyarat pada semua pelayan untuk keluar. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, dia sempat berbisik pada putrinya, "Bersikaplah yang manis."

Grace mengangguk singkat, matanya berbinar-binar penuh ekspektasi. Semua ini terasa seperti panggung dramanya, momen di mana Leon akan mengatakan sesuatu yang penting.

Namun, kata pertama yang keluar dari mulut pria itu menghantamnya seperti cambuk.

"Aku tidak ingin basa-basi. Hentikan kelakuanmu yang menargetkan Alma."

Senyum Grace membeku, retak perlahan. Nama itu 'Alma' terucap begitu saja dari bibir Leon. Dan entah kenapa, ada nada protektif yang membuat telinganya panas oleh rasa kesal. Dia mencoba tertawa kecil, berpura-pura tidak mengerti.

"Apa maksudmu? Siapa Alma?"

Leon mencondongkan tubuh sedikit, tatapan matanya menusuk, bibirnya membentuk senyum sinis yang tak mengandung kehangatan sedikit pun. "Jangan bermain bodoh. Kau tahu persis apa yang kumaksud."

Nada suaranya membuat darah Grace mendidih. Dia tak mengerti apa istimewanya gadis itu sampai Leon rela datang ke rumahnya hanya untuk membicarakannya.

"Gadis itu hanya… gadis jalang yang menggoda mu," ucapnya penuh amarah tertahan. "Apa yang istimewa darinya? Kalian bahkan tidak sederajat. Jangan tertipu wajah polosnya."

"Tidak sederajat?" Leon menaikkan satu alisnya.

"Ya!" Grace membalas cepat. "Keluarganya cuma pengusaha kecil. Kalau aku mau, dalam semalam saja, perusahaan mereka bisa gulung tikar. Keluarga mereka tidak pantas disandingkan dengan keluarga Margaretha."

Pandangannya penuh kebanggaan, tapi hanya sedetik sebelum Leon memutuskan untuk menebasnya.

"Kau yakin dengan perkataanmu itu?" suaranya merendah, namun tekanan di dalamnya membuat udara di ruangan terasa lebih berat.

"Tentu saja," jawab Grace tanpa ragu.

Wajah Leon kembali datar, tapi sorot matanya kini setajam bilah pisau. "Aku datang bukan untuk memperingatkanmu… tapi memerintah. Jangan sentuh Alma lagi. Jika tidak, aku pastikan keluarga Margaretha akan hilang dari peredaran. Selamanya."

Kata "selamanya" keluar dengan nada tenang, tapi mengandung ancaman yang tak bisa diabaikan. Dia berdiri, mantel hitamnya berayun mengikuti gerak tubuhnya.

Namun, sebelum benar-benar pergi, dia berhenti di ambang pintu, melirik ke belakang. "Oh, satu hal lagi… mungkin sekarang kedua temanmu sedang dalam masalah besar. Jadi jangan harap mereka bisa menolongmu."

Grace terpaku. Tubuhnya mulai bergetar, kali ini bukan karena malu, melainkan kemarahan dan sedikit rasa takut yang enggan dia akui.

Saat pintu tertutup di belakang Leon, semua emosi yang ia tahan meledak.

"AHHHHH!!!"

Suara teriakannya mengguncang ruangan. Grace meraih cangkir porselen di meja dan melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Vas bunga kristal pun jadi korban berikutnya, air dan kelopak bunga menyebar di karpet mahal.

Harreta berlari masuk kembali, terkejut melihat putrinya yang kini seperti singa terluka.

"Apa yang dia katakan padamu?!"

Grace menoleh dengan tatapan penuh dendam. "Aku akan membuat gadis itu menyesal pernah lahir ke dunia ini…"

Suara langkah pelayan terdengar di luar, tapi Grace sudah tak peduli. Dalam hatinya, amarah itu sudah berubah menjadi rencana dan Alma akan berada di pusat badai yang akan ia ciptakan.

🥀🥀🥀

Kaiden tidak mengarahkan mobilnya ke kediaman besar keluarga Morrison seperti yang seharusnya. Malam itu, ia justru menembus jalanan sunyi menuju pinggiran kota, di mana lampu jalan mulai jarang terlihat. Mesin mobil meraung pelan, menembus udara dingin yang memeluk senyap.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua yang berdiri anggun namun lapuk dimakan waktu. Arsitekturnya bergaya kolonial, namun cat dinding yang kusam dan pagar besi berkarat memberinya kesan misterius.

Keduanya turun. Udara di sekitar terasa berat, seperti menyimpan cerita lama yang enggan diungkap. Kaiden memandang sekeliling, hanya hamparan pohon tua dan beberapa villa lain yang berdiri jauh terpisah. Sunyi, terlalu sunyi.

"Kau yakin pulang ke sini?" Kaiden akhirnya membuka suara, nada suaranya lebih mirip peringatan ketimbang pertanyaan.

Alma menoleh, matanya berbinar lembut, bibirnya melukis senyum kecil. "Iya. Ini kediaman lama milik mendiang kakekku."

Kaiden menatapnya lama, mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang itu. "Tapi kau… tinggal sendirian di sini?"

Alma menggeleng pelan. "Tidak. Ada pelayan yang menunggu di dalam."

Senyum tipis terbit di bibir Kaiden, tapi tidak mengandung kehangatan. "Kegigihanmu menutupi semua ini dari orang tuamu… patut diberi penghargaan," katanya dengan nada sinis, namun tatapannya penuh campuran rasa khawatir dan penasaran.

Alma mengangkat bahu, pura-pura tidak terganggu. "Mereka tak perlu tahu. Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi rahasia."

Ucapan itu membuat Kaiden terdiam sejenak. Ada sesuatu di intonasi Alma yang membuatnya ingin bertanya lebih jauh, tapi ia tahu gadis ini pandai berkelit. Akhirnya, ia hanya menghela napas. "Baiklah. Aku pergi dulu."

Alma mengulas senyum simpul. "Hati-hati di jalan, Kaiden."

Kaiden berbalik, melangkah ke mobilnya dengan sedikit keraguan di matanya. Mesin kembali menyala, lampu depan memotong kegelapan. Perlahan, mobil itu menjauh, meninggalkan deru mesin yang semakin meredup di kejauhan.

Alma berdiri diam, memandang lampu belakang mobil Kaiden yang menghilang di tikungan. Senyum lembutnya bertahan beberapa detik, sebelum perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, dingin, dan aneh.

Ia membalikkan badan, melangkah masuk melewati gerbang villa yang berderit pelan seperti mengeluh karena disentuh. Di dalam, memang ada seseorang yang menunggunya. Tapi bukan pelayan.

Melainkan mainan barunya. Yang saat ini tengah duduk di kursi kayu dengan tubuh terikat, mata membelalak ketakutan…

🥀🥀🥀

Udara di lantai dua terasa sunyi dan dingin. Alma berdiri di depan cermin besar, jari-jarinya perlahan mengancingkan gaun putih pendek yang kini membungkus tubuhnya. Kainnya lembut, seolah tak berdosa, namun di pikirannya gaun itu memiliki fungsi lain. Kanvas suci yang siap menyerap warna merah yang kontras. Warna darah.

Di atas meja kayu tua, sebuah belati kecil berkilau dingin di bawah cahaya lampu kuning redup. Gagangnya dingin ketika Alma menggenggamnya, dan pantulan bilahnya menampakkan sepasang mata yang tak lagi memancarkan kepolosan.

Langkahnya menuruni tangga perlahan, seperti tarian ritual. Tumitnya menjejak lantai dengan suara yang nyaris tak terdengar, hanya dentingan halus logam belati yang beradu dengan jemarinya. Dia menyusuri lorong lantai satu, aroma debu bercampur lembap memenuhi udara, hingga berhenti di sebuah pintu kayu setengah terbuka.

Lampu temaram di dalam ruangan memantulkan cahaya kekuningan di dinding, menciptakan bayangan bergerigi yang menari. Di tengah ruangan, seorang gadis duduk di kursi kayu, tubuhnya terikat tali kasar. Nafasnya tersengal, pundaknya naik-turun cepat, dan matanya membelalak penuh teror.

Begitu wajah Alma muncul dari balik pintu, ketakutan itu berubah menjadi tatapan penuh benci. 'Alma! Kau jalang sialan. Ternyata kau yang melakukannya. Cepat lepaskan aku!' teriaknya lantang.

Senyum Alma melengkung perlahan, lembut namun berbahaya. "Kenapa aku harus, Luci?" suaranya mendayu, penuh nada godaan yang anehnya lebih menyeramkan daripada ancaman langsung.

"Untuk apa kau menculikku? Kalau orang tuaku tahu kau akan dijebloskan ke penjara seumur hidup" Luci mencoba meronta, suara kemarahan dan kepanikan bercampur jadi satu.

"Ohhh… aku takut sekali…" jawab Alma dengan nada santai, seolah sedang bercanda. Belati di tangannya berputar perlahan di antara jemari, kilau bilahnya memantulkan cahaya samar.

Tatapan Luci bergetar. Alma ini… bukan gadis yang dia kenal. Bukan gadis rapuh yang dia hina dan dorong tadi siang. Ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Dingin, gelap, dan mematikan.

"Nah," ucap Alma sambil melangkah maju, ujung sepatunya menyeret lantai kayu, "bagaimana kalau kita bermain? Aturannya sederhana. Aku akan bertanya. Jika kau tidak menjawab, atau jawabannya salah…" dia menghela napas panjang, "kau akan dihukum."

Luci menelan ludah, napasnya terpecah.

"Pertanyaan pertama," Alma mendekatkan wajahnya hingga napasnya menyentuh pipi Luci, "siapa yang pertama kali punya ide itu?"

"Aku… aku"

"Salah." Potong Alma cepat, senyumnya merekah. "Bukan kau. Hukuman, berarti."

Belati itu kini menelusuri garis pipi Luci, turun ke leher, hingga berhenti tepat di dada. Sentuhannya sedingin es. Luci menegang, matanya berair.

"Alma… apa yang mau kau lakukan?" suaranya pecah.

"Shhh…" Jari telunjuk Alma menempel di bibirnya, memberi isyarat diam. Lalu, tanpa peringatan, ujung belati menembus kain seragam tepat di dada kiri Luci.

"AKHHHHHH!!!" Jerit Luci menggema di ruangan, napasnya memburu, darah mulai merembes membasahi kain.

Belati itu tercabut dengan cepat. Alma menatap bilahnya yang kini dilapisi darah segar. "Dasar… iblis…" desis Luci di antara nafas terputus-putus.

"Ya…" Alma mengangguk ringan. "Kata yang indah. aku juga pernah mendengarnya dari seseorang." Dia membungkuk, menatap mata Luci yang mulai kehilangan fokus. "Kita lanjutkan permainan?"

Apa yang terjadi setelah itu hanyalah simfoni mengerikan. Jeritan terputus, suara kain robek, dentingan belati yang beradu dengan tulang, dan tawa lirih Alma yang terdengar bagai nyanyian anak kecil di tengah malam.

Beberapa menit kemudian, lantai marmer penuh dengan genangan merah gelap. Gaun putih Alma telah tercoreng bercak darah pekat yang mulai mengering. Dia duduk bersila di lantai, di hadapannya sebuah kotak besar berisi tangkai-tangkai mawar segar. Jemarinya yang berlumuran darah merangkai bunga menjadi mahkota.

Di sampingnya, tubuh Luci terbaring kaku. Luka tusuk dan sayatan menghiasi kulitnya, dan satu jari telunjuk telah hilang. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke langit-langit.

Alma bangkit, lalu memakaikan mahkota bunga itu di kepala Luci. Sejenak dia memandang karyanya dengan tatapan puas, perpaduan keindahan dan kematian.

Dari dalam tas kecil, dia mengeluarkan kamera polaroid. Klik. Satu foto. Klik. Dua foto. Dia mengambil gambar dari berbagai sudut, memastikan setiap luka, setiap tetes darah, terekam dengan jelas.

Begitu hasil cetakan foto muncul, Alma menatapnya sambil tersenyum tipis.

"Aku akan mengirimkan ini pada temanmu. Yang paling berharga. Supaya dia mengerti… bahwa ini baru permulaan."

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!