NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 15 : JATUH TEMPO DAN BADAI DI TEPI KOLAM RENANG

Waktu satu minggu yang menjadi batas taruhan besar akhirnya bergulir habis. Tujuh hari telah berlalu sejak insiden sepatu terbang di parkiran Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Berkat perawatan medis yang genius dari Dokter Radit serta ketelatenan Bi Minah di rumah, luka robek tiga jahitan di dahi Kalea Azzahra Putri kini telah mengering sempurna, menyisakan garis tipis yang nyaris tak terlihat. Begitu pula dengan sudut bibirnya yang sobek akibat tamparan Hermawan; semuanya sudah sembuh total, mengembalikan kecantikan alami pada wajah mulusnya.

Namun, kesembuhan fisik itu tidak berbanding lurus dengan ketenangan batinnya. Di dalam kamarnya yang sepi, Kalea sedang berjalan mondar-mandir di samping ranjang dengan kecemasan yang memuncak. Pagi ini adalah hari jatuh tempo utang seratus delapan puluh juta rupiah untuk ganti rugi kaca mobil Mercedes-Benz milik Radit.

Kalea menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat hingga memutih. Selama satu minggu ini, ia sudah memutar otak dan memeriksa seluruh isi rekening tabungannya. Hasilnya nihil. Sebagai seorang manajer hotel profesional, gajinya memang besar, namun uang tunai sebanyak itu dalam waktu singkat benar-benar mustahil ia kumpulkan tanpa bantuan pinjaman bank yang memakan waktu lama. Keluarga Wijaya tentu saja tidak akan sudi memberinya pinjaman sepeser pun.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Ponsel pintar di atas nakas bergetar hebat. Layar menampilkan nama kontak 'Dokter Sombong'. Kalea mendengus kesal, membiarkan ponsel itu terus berdering tanpa berniat mengangkatnya. Hanya berselang beberapa detik setelah panggilan pertama mati, ponsel itu kembali berdering untuk kedua dan ketiga kalinya. Raditya Evan Baskara berulang kali meneleponnya dengan kegigihan yang luar biasa, menuntut jawaban atas taruhan mereka.

"Kenapa dia hobi sekali meneror orang pagi-pagi begini sih?!" gerutu Kalea frustrasi, menatap ponselnya dengan pandangan bermusuhan. "Aku tidak punya uangnya! Kalau aku angkat, aku harus bilang apa pada pria arogan itu?!"

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu kamar yang terburu-buru mendadak memutus kepanikan Kalea. Pintu terbuka sedikit, menampakkan sosok Bi Minah yang masuk dengan raut wajah yang sangat pucat dan napas yang terengah-engah.

"Non... Non Kalea..." panggil Bi Minah dengan suara yang gemetar, kedua tangannya saling bertautan cemas.

Kalea langsung melangkah mendekat, memegang lengan pelayan tuanya itu. "Ada apa, Bibi sayang? Kenapa Bibi kelihatan ketakutan seperti habis melihat hantu begitu? Apa Nyonya Sarah atau Shinta membuat ulah lagi di bawah?"

"B-Bukan Nyonya atau Non Shinta, Non," jawab Bi Minah sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Di bawah... di ruang tamu utama... ada tamu yang mau bertemu dengan Non Kalea. Dia... dia Dokter Radit, Non! Dokter sombong yang waktu itu menjahit dahi Non di rumah sakit!"

"APA?!" Kalea membelalakkan mata birunya sempurna, mulutnya terbuka membentuk huruf O karena saking terkejutnya. Jantungnya rasanya melompat turun ke perut. "Dokter Radit ada di bawah?! Bagaimana bisa laki-laki sombong itu tahu alamat tempat tinggal rumahku, Bi?!"

"Bibi juga tidak tahu, Non. Tadi begitu pintu dibuka, dia langsung menyebut nama Non Kalea dan sekarang sedang duduk di sana bersama Tuan Hermawan. Mereka berdua... sepertinya sedang mengobrol serius sekali, Non. Wajah Tuan Hermawan kelihatan sangat kaku," lapor Bi Minah ketakutan.

Kalea menelan salivanya dengan berat. Sifat tangguh dan beraninya langsung bangkit, menolak untuk terlihat ciut di hadapan pria yang mencoba memojokkannya. "Ya sudah, Bi. Kalea turun sekarang. Bibi tenang saja ya, biar Kalea yang hadapi dokter gila itu."

Kalea bergegas merapikan pakaian kerjanya—setelan tunik kasual berwarna hijau botol yang dipadukan dengan jilbab segiempat voal hitam premium yang dililit rapi model ala anak muda sekarang. Ia tidak memakai riasan tebal, namun kesembuhan luka di wajahnya justru membuat mata biru jernihnya memancar sangat cantik dan menawan pagi ini.

Dengan langkah kaki yang dihentakkan tegas, Kalea melangkah turun menuruni anak tangga lantai dua menuju ruang tamu utama. Begitu kakinya menginjak lantai bawah, matanya langsung menangkap sosok Raditya Evan Baskara yang sedang duduk tegap di atas sofa beludru mewah. Pria berusia 29 tahun itu mengenakan kemeja formal berwarna hitam pekat yang lengannya digulung rapi hingga siku, memancarkan aura ketampanan yang sangat maskulin dan berwibawa. Di hadapannya, Hermawan Wijaya duduk dengan wajah datar, mendengarkan ucapan Radit dengan saksama.

"Selamat pagi, Kalea," sapa Radit dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan tenang begitu melihat kehadiran wanita bermata biru tersebut. Sebuah senyuman tipis yang memperlihatkan lesung pipi menawannya muncul sekilas, seolah merayakan kemenangan taruhan mereka.

"Pagi, Kalea. Sini duduk, Dokter Radit katanya sengaja datang ke sini untuk membicarakan urusan penting bersamamu," sahut Hermawan dengan nada suara yang datar tanpa amarah, menatap putrinya lekat.

Kalea tidak memedulikan ucapan ayahnya. Rasa kesal dan malu karena privasinya diusik membuat darah bar-barnya mendidih. Tanpa membuang waktu sepeser pun untuk berbasa-basi, Kalea melangkah cepat mendekati sofa Radit. Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan kekar Radit, lalu menarik tubuh jangkung pria itu untuk berdiri secara paksa.

"Ikut saya sekarang!" ketus Kalea dengan suara rendah yang penuh penekanan.

"Kalea! Jaga sopan santunmu pada tamu!" tegur Hermawan, namun Kalea mengabaikannya sepenuhnya.

Radit tidak memberontak; ia justru terkekeh pelan di balik tubuh tegapnya, membiarkan dirinya diseret oleh kekuatan mungil Kalea melewati pintu kaca tengah menuju area taman belakang yang sunyi dekat kolam renang berair jernih kebiruan.

Begitu tiba di tepi kolam renang yang asri, Kalea langsung melepaskan cengkeraman tangannya kasar. Ia membalikkan tubuhnya, berkicau pinggang sambil mendongak tinggi menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan pandangan membunuh. "Heh! Dokter Sombong! Anda benar-benar gila ya?! Mau apa Anda datang ke rumah saya pagi-pagi begini, hah?! Dan dari mana Anda bisa tahu alamat rumah saya?!"

Radit melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Kalea dari atas sampai bawah dengan pandangan menggoda yang sangat menjengkelkan. "Mencari alamat seorang General Manager hotel terkenal di kota ini bukan hal yang sulit bagi seorang Direktur Utama, Nona Mata Biru. Lagipula, hari ini adalah tepat satu minggu. Ponselmu sengaja dimatikan atau jarimu mendadak lumpuh sampai tidak bisa mengangkat puluhan telepon dari saya sejak subuh tadi?"

Kalea menelan ludahnya dengan gugup, memalingkan wajahnya sedikit ke arah air kolam renang untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "S-Saya sibuk! Ponsel saya tertinggal di kamar mandi tadi! Jangan menuduh saya sembarangan!"

"Oh ya? Sibuk atau karena kamu panik tidak bisa menyerahkan uang seratus delapan puluh juta tunai di atas meja kerja saya pagi ini?" skakmat Radit dengan nada suara sarkastik yang penuh kemenangan. Ia melangkah satu maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin mahalnya kembali mengurung indra penciuman Kalea.

"Saya... saya belum punya uangnya lunas!" aku Kalea akhirnya dengan nada ketus, mendongak menantang mata elang Radit dengan berani meskipun wajahnya mulai merona kemerahan. "Saya minta waktu tambahan satu minggu lagi! Anda tidak bisa memaksa saya masuk penjara hanya karena masalah sepele ganti kaca mobil!"

Mendengar pengakuan jujur yang meledak-ledak dari mulut Kalea, Radit justru mengulas sebuah senyuman jahil yang sangat menawan di wajah tampannya—sebuah pemandangan humoris yang sangat langka yang hanya muncul saat ia berhasil memojokkan wanita bar-bar ini. Radit mendadak memajukan wajah tampannya ke depan, menunduk hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, mengunci pandangan mata biru Kalea seutuhnya.

Kalea yang terkejut langsung memundurkan wajah dan tubuhnya ke belakang secara refleks. "E-Eh! Mau apa Anda?! Jangan macam-macam ya Dokter Mesum!"

"Di kamus hidup saya tidak ada istilah perpanjangan waktu, Kalea," bisik Radit dengan nada menggoda yang sangat rendah, matanya berkilat jahil menatap bibir ranum Kalea yang sudah sembuh. "Taruhan tetap taruhan. Kamu kalah pagi ini, Nona Manajer. Jadi, sesuai kesepakatan tertulis yang sudah kita buat di kafe kemarin, mulai detik ini kamu resmi menjadi tawanan pacar pura-pura seorang Raditya Evan Baskara sampai batas waktu yang saya tentukan sendiri. Paham?"

"Anda benar-benar pria yang sangat licik dan—"

"KALEA!!! APA-APAAN INI?!"

Suara teriakan bariton yang dipenuhi amarah mendadak memotong rentetan makian Kalea dari arah koridor pintu belakang. Pria itu adalah Fandi Achmad Mahendra.

Fandi yang baru saja keluar dari kamar Shinta dan bersiap menuju kantor langsung naik pitam melihat pemandangan intim di tepi kolam renang. Obsesi kotornya kepada Kalea membuat dadanya terbakar api cemburu yang luar biasa hebat saat melihat seorang pria asing setampan Radit sedang memajukan wajah menggoda adik iparnya. Sifat brengsek Fandi langsung meledak. Tanpa berpikir panjang menggunakan logika, Fandi berlari kesetanan mendekati posisi mereka, menarik bahu Radit secara paksa dari belakang, lalu melayangkan sebuah pukulan mentah tepat menghantam rahang kanan Radit.

BUGHHH!

Hantaman pukulan Fandi yang tiba-tiba membuat tubuh tegap Radit sempat terhuyung satu langkah ke samping.

"KALEA!!! KAU BERANI BERMESRAAN DENGAN LAKI-LAKI LAIN DI RUMAH INI?!" teriak Fandi murka dengan mata melotot kesetanan.

"MAS FANDI!!! STOP!!!" Kalea berteriak histeris dengan suara melengking yang menggema keras di area taman. Darah bar-barnya meledak seketika melihat Dokter Radit dipukul di depan matanya sendiri. Dengan kekuatan penuh yang dipenuhi amarah yang luar biasa, Kalea langsung merangsek maju dan mendorong dada bidang Fandi dengan sangat kuat hingga pria brengsek itu terhuyung mundur ke belakang. "JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH TAMU DI RUMAH INI, BAJINGAN!!!"

Radit menegakkan kembali tubuh jangkungnya yang setinggi 185 sentimeter dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, kaku, dan mematikan laksana es di kutub utara. Ia mengangkat tangan kanannya, menyeka sudut bibir kanannya yang mengeluarkan sedikit darah segar menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat tenang namun berbahaya. Mata elangnya berkilat memancarkan aura pembunuh yang mutlak menatap Fandi.

Fandi yang tidak terima didorong oleh Kalea justru kembali merangsek maju. Kali ini, dengan kelicikan yang luar biasa untuk mencari simpati sekaligus memuaskan hasratnya, Fandi mendadak melompat ke depan dan langsung memeluk tubuh mungil Kalea dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kalea. "Kalea... Mas melakukan ini karena Mas peduli sama kamu! Mas tidak mau kamu dirusak oleh laki-laki asing sombong ini! Lepaskan dia, Kalea... Mas mencintaimu..."

DEG!

Kalea terkejut setengah mati, matanya yang biru melotot sempurna dengan rasa jijik yang luar biasa besar memenuhi seluruh rongga dadanya atas pelukan mesum kakak iparnya di area terbuka ini. Sifat tegasnya tidak membiarkan pelecehan ini berjalan sedetik pun. Dengan sentakan kasar, Kalea menghempaskan tubuh Fandi menjauh, lalu tangan kanannya bergerak secepat kilat melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras dan telak tepat bersarang di pipi kiri Fandi.

PLAK!!!

"JANGAN PERNAH BERANI MENYENTUH KULITKU DENGAN TANGAN KOTORMU ITU, FANDI BRENGSEK!!!" bentak Kalea dengan napas memburu kesetanan, wajah cantiknya memerah padam menahan amarah yang meledak.

CEKLEK!

Di saat yang bersamaan, pintu kaca belakang rumah kembali terbuka dengan sentakan keras. Dua orang wanita melangkah masuk ke area taman dengan langkah terburu-buru yang diiringi oleh kepanikan. Mereka adalah Fitri Amelia Wijaya dan Shinta Kirana Wijaya. Rupanya, Shinta yang melihat keributan awal dari jendela kamarnya langsung berlari membangunkan Fitri dan memprovokasinya dengan aduan palsu yang kejam.

"Mbak Fitri! Lihat itu! Apa Shinta bilang benar kan?! Kak Kalea gatel banget lagi-lagi menggoda Mas Fandi di tepi kolam renang pagi-pagi begini!" provokasi Shinta dengan wajah pura-pura histeris namun bibirnya tersenyum sinis penuh kemenangan di belakang tubuh kakaknya.

Mendengar aduan adiknya dan melihat suaminya sedang memegangi pipinya yang merah di depan Kalea, Fitri yang merupakan seorang Dokter Spesialis Jantung langsung kehilangan akal sehatnya akibat cemburu yang membakar dada. Ia berlari kesetanan mendekati Kalea.

PLAK!!!

Sebuah tamparan yang tidak kalah keras dari Fitri mendarat di pipi kiri Kalea, membuat jilbab voal hitamnya sedikit bergeser. "KALEA!!! KAU PEREMPUAN MURAHAN TIDAK TAHU DIRI!!! KENAPA KAU TERUS-MENERUS MENGGODA SUAMIKU DI RUMAH INI, HAH?! APA KAU SANGAT KELAPARAN LAKI-LAKI SAMPAI TEGA MERUSAK RUMAH TANGGA KAKAKMU SENDIRI?!" jerit Fitri histeris sambil menangis dengan parau.

Kalea memegangi pipinya yang terasa panas, matanya yang berwarna biru jernih menatap Fitri dengan pandangan yang dipenuhi amarah yang membara dan kepedihan atas ketidakadilan yang ia terima kembali. Ia memalingkan wajahnya sedikit, melirik ke arah Shinta yang sedang berdiri di sudut taman sambil melemparkan senyuman sinis yang sangat lebar mengejek penderitaannya.

Rasa sabar Kalea yang menahan rahasia perselingkuhan mereka di hotel kemarin sore akhirnya runtuh sepenuhnya hari ini. Sifat bar-barnya menyala total untuk menghancurkan topeng kepalsuan mereka di depan Fitri.

"Mbak Fitri!!! Buka matamu yang buta dan bodoh itu!!!" bentak Kalea dengan suara menggelegar yang sangat menusuk, menunjuk tepat ke wajah Shinta dan Fandi bergantian. "Aku tidak pernah menggoda suamimu yang bajingan ini! Kamu mau tahu kebenaran yang sesungguhnya?! Suamimu yang terhormat ini... dia sudah berselingkuh di belakangmu selama tiga tahun ini! Dan wanita jalang yang menjadi selingkuhannya... tidak lain adalah adik kesayanganmu sendiri, SHINTA!!!"

DEG!

Bagai disambar petir di siang bolong, kalimat lantang Kalea seketika membuat suasana taman belakang membeku sedingin es. Fitri langsung menghentikan tangisnya, wajahnya memucat sempurna menatap Kalea dengan pandangan tidak percaya. Fandi langsung gemetaran di tempatnya berdiri, sementara Shinta yang rahasia busuknya dibongkar di depan umum langsung berubah merona merah padam karena murka yang luar biasa.

"KAU BOHONG, ANAK HARAM SIALAN!!!" teriak Shinta kesetanan. Dengan wajah yang dipenuhi amarah yang meledak, Shinta melompat maju, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi hendak melayangkan tamparan keras ke arah wajah Kalea demi membungkam mulut kakaknya.

Namun, sebelum telapak tangan Shinta sempat menyentuh seujung rambut Kalea, sebuah tangan kanan yang sangat besar, kuat, dan kekar mendadak bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Shinta di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat laksana jepitan besi. Pria itu adalah Raditya Evan Baskara.

Radit menepis tangan Shinta dengan gerakan yang sangat kasar, lalu menghempaskan tubuh Shinta hingga gadis seksi itu terhuyung mundur dua langkah ke belakang dan hampir saja jatuh tercebur ke dalam air kolam renang jika tidak ditangkap oleh Fandi. Radit melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuh jangkung besarnya yang setinggi 185 sentimeter tepat di depan Kalea, bertindak sebagai perisai pelindung yang mutlak yang mengurung sosok mungil pacar kontraknya dari ancaman keluarga Wijaya.

Radit menatap Shinta, Fandi, dan Fitri bergantian dengan pandangan mata elang yang sangat dingin, tajam, dan mengeluarkan kalimat yang begitu menusuk relung hati. "Jangan pernah ada satu pun tangan kotor dari manusia munafik di rumah ini yang berani menyentuh atau melukai wanita saya lagi. Satu langkah saja kalian maju, saya pastikan karir bisnis keluarga kalian di kota ini akan selesai dalam waktu dua puluh empat jam!" desis Radit dengan suara baritonnya yang berat dan penuh wibawa intimidasi kepemimpinan seorang Direktur Utama.

Shinta yang ketakutan melihat aura mengerikan Radit langsung berbalik ke arah pintu kaca, berteriak histeris memanggil bantuan ayahnya yang baru saja melangkah keluar menuju taman karena mendengar keributan besar. "PAPA!!! PAPA TOLONG SHINTA, PA!!! Lihat itu... Kak Kalea membawa laki-laki preman ke rumah kita untuk memukuli Shinta dan Mas Fandi! Kalea juga sudah memfitnah Shinta berselingkuh dengan Mas Fandi karena dia kesal ketahuan menggoda suami Mbak Fitri tadi, Pa! Pukul Kalea lagi pakai ikat pinggang, Pa! Dia sudah keterlaluan membuat aib di rumah kita!" adu Shinta dengan tangisan palsu yang dibuat-buat, memprovokasi ayahnya.

Hermawan Wijaya melangkah masuk ke area taman dengan napas yang memburu menahan emosi. Pria paruh baya itu menatap Kalea lekat-lekat dengan pandangan yang rumit. Namun, mengingat bagaimana pertemuan misteriusnya dengan Kalea di koridor sunyi tadi malam di mana ia sempat menyentuh dahi putrinya dengan kelembutan yang langka, Hermawan tidak langsung mengamuk atau meminta ikat pinggang seperti biasanya. Pria paruh baya itu justru mengembuskan napas panjang yang sangat berat dan melelahkan dari lubuk dadanya, lalu terdiam membisu menatap kekacauan di depannya dengan wajah datar yang menyimpan seribu satu beban masa lalu.

Kalea melihat sikap diam ayahnya dengan senyuman sinis yang penuh dengan kepedihan batin. "Kenapa diam, Pa? Kenapa Papa tidak langsung menamparku seperti kemarin? Apa Papa akhirnya sadar kalau anak emas Papa, Shinta, adalah ular yang sesungguhnya di rumah ini?"

Radit melangkah menengahi perdebatan keluarga tersebut, menghadap lurus ke arah Hermawan dengan wibawa mutlak seorang Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. "Tuan Hermawan Wijaya yang terhormat... Saya rasa Anda adalah pria yang cerdas untuk tidak mendengarkan bualan anak bungsumu yang tidak memiliki adab moral ini. Saya sebagai pihak luar memang tidak tahu-menahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga anak-anak Anda. Tapi jika tuduhan perselingkuhan yang dilemparkan Kalea ini benar dan Anda membutuhkan penyelidikan, saya rasa Anda tahu ke mana harus mencari faktanya daripada memukul anak Anda yang tidak bersalah secara membabi buta."

DEG!

Kalimat tegas dan dingin dari mulut Radit seketika memukul mundur mental Fandi dan Shinta. Fandi langsung jatuh lemas berlutut di atas lantai marmer dengan wajah pucat pasi seperti mayat, sementara Shinta membeku dengan bibir yang gemetaran ketakutan karena sang ayah mulai memandang mereka dengan tatapan menyelidik. Fitri Amelia Wijaya langsung kembali menangis, menatap suaminya dengan pandangan penuh keraguan yang mendalam.

Hermawan Wijaya menatap Fandi dan Shinta bergantian dengan pandangan mata yang mendadak berkilat tajam laksana badai petir yang siap meledak murka. Setelah menahan emosi yang luar biasa besar di dalam dadanya hingga urat dahinya menegang, Hermawan memilih untuk tidak memukul Kalea. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang terakhirnya yang kaku, lalu berbalik tubuh tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah yang berat—sebuah tanda bahwa ia akan mengusut tuntas kebusukan Fandi dan Shinta di ruang tertutup.

Fandi yang melihat kepergian ayah mertuanya langsung menatap Radit dengan pandangan mata yang dipenuhi amarah, dendam, dan kebencian yang mendalam karena posisinya tersudut. "Kau... kau dokter bajingan sombong! Urusan kita belum selesai!" maki Fandi dengan suara serak menahan geram.

Raditya Evan Baskara hanya melirik Fandi sekilas, lalu melayangkan sebuah senyuman mengejek yang sangat meremehkan dari bibir tampannya, memperlihatkan keindahan penuh kedua lesung pipinya yang seolah menertawakan ketidakberdayaan pria brengsek di bawah kakinya tersebut.

Radit membalikkan tubuh tegapnya menghadap lurus ke arah Kalea, meraih jemari tangan mungil Kalea dengan genggaman yang sangat erat, hangat, dan protektif yang tidak bisa dibantah. "Ayo kita pergi dari tempat terkutuk ini. Urusan kita dengan taruhan satu minggu sudah selesai, dan sekarang saatnya kamu ikut saya ke rumah untuk menemui Mommy saya sebagai bidadari bermata biru yang sah."

Kalea menatap jalinan tangan mereka, lalu menatap sisa-sisa kehancuran keluarga Wijaya di belakangnya dengan perasaan campur aduk yang dipenuhi oleh getaran kepuasan balas dendam yang baru saja dimulai.

Suasana di ruang tamu utama kediaman keluarga Wijaya masih diselimuti sisa-sisa ketegangan pasca-keributan di tepi kolam renang. Raditya Evan Baskara kembali duduk dengan tegap di atas sofa beludru mewah, sementara Hermawan Wijaya duduk di hadapannya dengan raut wajah kaku yang dipenuhi pikiran berat. Radit sengaja menunggu Kalea yang sedang kembali ke kamarnya di lantai atas untuk merapikan penampilannya sebelum mereka berangkat.

Cklek...

Pintu utama ruang tamu terbuka. Sarah Wijaya melangkah masuk dengan gaya angkuh khasnya, membawa tas jinjing mewah sehabis berkunjung dari rumah tetangga sebelah untuk bergosip. Begitu matanya menangkap sosok pria tampan bertubuh menjulang yang sedang duduk di sofanya, langkah Sarah seketika terhenti. Matanya membelalak mengenali pria tersebut. Sebagai sesama anggota perkumpulan sosialita kelas atas di Jakarta, Sarah tentu saja sangat mengenali siapa Raditya Evan Baskara—putra sulung dari Ambarwati Baskara, sahabat arisannya yang merupakan pemilik tunggal jaringan rumah sakit terbesar di negeri ini.

"Lho... Dokter Radit Baskara?" sapa Sarah dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat ramah, manis, dan dipenuhi binar hormat yang dibuat-buat. Ia bergegas melangkah mendekati sofa. "Aduh, mimpi apa keluarga Wijaya semalam sampai kedatangan Direktur Utama RS Harapan Medika sepagi ini? Jeng Ambarwati tidak bilang kalau putranya mau berkunjung ke sini."

Radit mendongak perlahan, menatap Sarah dengan sepasang mata elangnya yang sangat datar, dingin, dan kaku. Ia hanya mengangguk tipis tanpa niat untuk tersenyum. "Selamat pagi, Nyonya Sarah. Saya ke sini ada urusan pribadi yang harus diselesaikan."

Sarah mengernyitkan dahi bingung, namun ia tetap mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Hermawan. Tak berselang lama, Shinta Kirana Wijaya ikut melangkah masuk ke ruang tamu setelah berganti pakaian kasual yang rapi. Shinta langsung mengambil posisi duduk di samping ibunya. Begitu melihat ketampanan Radit dari jarak dekat—pria dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung dan memiliki lesung pipi samar—mata Shinta langsung berkilat penuh kekaguman yang bercampur obsesi. Ia berkali-kali mencuri pandang ke arah Radit, mencoba memamerkan senyuman manisnya yang paling memikat demi menarik perhatian sang Direktur Utama.

"Urusan pribadi apa ya, Dokter Radit? Kalau boleh tahu, ada hubungannya dengan bisnis rumah sakit atau butik fashion?" tanya Shinta dengan nada suara yang sengaja dibuat manja, mencoba memotong percakapan.

Radit melirik Shinta dengan tatapan meremehkan yang sangat dingin, seolah menganggap kehadiran gadis itu tidak lebih dari sekadar angin lalu. "Bukan urusan Anda, Nona," jawab Radit pendek dan telak, membuat senyuman Shinta seketika membeku canggung.

Sebelum Sarah sempat bertanya lebih jauh, suara ketukan hak sepatu terdengar nyaring dari arah koridor tangga. Semua pasang mata di ruangan itu menengok serentak.

Kalea Azzahra Putri Wijaya melangkah turun dengan keanggunan yang luar biasa memukau. Ia telah mengganti pakaiannya dengan setelan blazer kasual berwarna pastel yang dipadukan dengan jilbab segiempat voal hitam premium yang dililit sangat rapi dan modis. Sepasang high heels setinggi 5 sentimeter membungkus kaki jenjangnya, membuat postur tubuh mungilnya terlihat sangat anggun, tegas, dan memancarkan wibawa penuh seorang manajer hotel bintang lima. Wajah cantiknya yang bersih tanpa luka membuat sepasang mata birunya berkilat jernih bagaikan batu permata yang sangat langka.

Radit seketika berdiri dari duduknya, pandangan matanya terkunci sepenuhnya pada kecantikan Kalea pagi ini. Tanpa memedulikan keberadaan Hermawan, Sarah, ataupun Shinta, Radit melangkah lebar mendekati ujung tangga, lalu dengan gerakan yang sangat tegas, hangat, dan protektif, ia langsung meraih dan menggenggam erat jemari tangan mungil Kalea ke dalam genggaman tangan kekarnya.

"Kamu sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang. Mommy sudah menunggu kita di rumah," ucap Radit dengan suara baritonnya yang melembut, menatap lurus ke dalam mata biru Kalea.

Kalea tertegun, jantungnya berdegup kencang karena tindakan tiba-tiba Radit, namun ia mengangguk perlahan. "Iya, ayo."

Radit membalikkan tubuh jangkungnya, menatap datar ke arah Hermawan dan Sarah. "Tuan Hermawan, Nyonya Sarah, kami izin pamit pergi dulu. Terima kasih atas waktunya pagi ini."

Shinta yang menyaksikan bagaimana tangan Kalea digenggam begitu erat oleh pria sekelas Radit langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas sofa. Matanya menatap punggung Kalea yang berjalan menjauh dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa benci, iri, dan dengki yang teramat sangat mendalam.

"Kurang ajar! Kenapa perempuan pembawa sial itu bisa mendapatkan laki-laki sesempurna Dokter Radit?!" batin Shinta murka dengan rahang yang mengeras. Lihat saja nanti, Kalea... aku bersumpah, aku akan melakukan apa saja untuk merebut Radit dari tanganmu! Kamu tidak pantas bahagia!

...****************...

Di dalam kabin mobil mewah yang melaju membelah jalanan kota Jakarta, suasana mendadak menjadi sangat canggung. Kalea duduk di kursi penumpang sambil menatap lurus ke depan, sementara Radit fokus memegang kemudi.

"Dengar baik-baik, Kalea," Radit memecah keheningan dengan suara baritonnya yang tegas namun kaku. "Mulai detik ini, di depan Mommy dan keluarga saya, kamu harus mengubah cara bicaramu. Jangan pakai kata 'saya' atau 'Anda' lagi. Itu terlalu formal dan akan membuat Mommy curiga kalau kita cuma berpura-pura."

Kalea menoleh, mengernyitkan dahinya bingung. "Lalu saya harus pakai kata apa, Dokter Radit?"

"Pakai kata 'aku' dan 'kamu'. Dan satu hal lagi... kamu harus memanggil saya dengan panggilan 'Mas Radit'," perintah Radit datar tanpa ekspresi, seolah sedang membacakan resep obat.

Kalea langsung melongo sempurna, matanya yang biru membulat kaget. "WHAT?! Mas Radit?! Mana bisa begitu! Panggilan itu terdengar sangat menggelikan di telingaku! Aku tidak mau!" tolak Kalea ketus, sifat bar-barnya kembali muncul.

Radit melirik Kalea sekilas dari balik kemudinya, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Kamu tidak punya pilihan, Kalea. Ingat, kamu kalah taruhan satu minggu dan sekarang statusmu adalah pacar kontrak saya. Kalau kamu memanggil saya 'Dokter' di depan Mommy, permainan kita hancur seketika. Paham, Nona Manajer?"

Kalea mendengus kesal, menyandarkan punggungnya dengan pasrah. "Ya sudah, iya! Aku panggil Mas Radit! Puas kamu?!" ketus Kalea dengan wajah yang mendadak merona kemerahan karena malu.

Radit terkekeh sangat tipis. Tangan kanannya terangkat dari kemudi, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan tidak terduga, ia mengusap puncak kepala Kalea yang terbungkus jilbab hitam dengan penuh rasa gemas, membuat jantung Kalea kembali berdesir aneh. "Anak pintar. Pertahankan sikap penurutmu ini di depan Mommy nanti."

Beberapa menit kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki pekarangan kediaman megah keluarga Baskara. Begitu mobil berhenti dengan sempurna, Radit turun terlebih dahulu, berjalan memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk Kalea dengan sangat sopan.

Kalea melangkah turun, matanya yang biru bergerak dinamis mengamati arsitektur rumah mewah berlantai tiga yang sangat luas dan asri di depannya. "Rumah kamu... besar sekali, Mas Radit," gumam Kalea tanpa sadar menggunakan panggilan barunya.

Radit tersenyum puas mendengar panggilan itu. Ia melangkah mendekat, lalu kembali meraih dan menggenggam erat tangan Kalea. Kalea kembali melongo melihat tindakan itu, mencoba menarik tangannya kembali. "Heh, kenapa harus pakai gandengan tangan segala? Kan belum masuk ke dalam rumah?"

Melihat wajah melongo Kalea yang sangat menggemaskan, sifat jahil Radit mendadak bangkit. Ia memajukan wajah tampannya ke depan wajah Kalea, lalu dengan sengaja meniup wajah Kalea dengan lembut.

Fuuuh...

Kalea terkejut setengah mati, refleks memundurkan kepalanya dengan mata melotot. "Ih! Apa-apaan sih kamu?! Suka sekali meniup wajah orang!"

Radit meledakkan tawa renyah pertamanya, memperlihatkan keindahan kedua lesung pipinya yang sangat menawan. "Itu supaya kamu fokus dan tidak melamun lagi, Kalea. Ayo masuk, pasang senyuman terbaikmu." 

Radit membimbing langkah Kalea melangkah masuk menembus pintu utama ruang tamu yang luas. Namun, begitu melangkah melewati pembatas ruangan, langkah mereka berdua langsung disambut oleh pemandangan yang mengejutkan.

Di atas sofa beludru, duduk Ambarwati Baskara bersama Larasati Murni Mahendra dan Natasha Olivia Renata. Mereka bertiga tampaknya sedang mengobrol dan tertawa bersama. Kehadiran Radit yang menggandeng tangan Kalea seketika menghentikan tawa mereka. Suasana ruangan mendadak berubah menjadi sangat tegang dan sedingin es.

"Assalamualaikum," ucap Radit dengan suara baritonnya yang tegas.

"Waalaikumsalam," jawab Ambarwati, matanya langsung menyipit tajam menatap jalinan tangan putrus sulungnya dengan wanita asing di sampingnya.

Natasha yang melihat Radit membawa wanita lain langsung berdiri dari sofanya dengan wajah yang pucat menahan amarah yang meluap. Ia melangkah maju dua langkah, menunjuk tepat ke arah wajah Kalea dengan jari lentiknya. "Radit!!! Siapa perempuan berhijab ini?! Kenapa kamu berani membawanya ke rumah ini dan menggandeng tangannya di depan Mommy?!" tanya Natasha dengan suara bergetar menahan tangis.

Radit menegakkan punggung tegapnya, menatap Natasha dengan pandangan sedingin es. "Nona Natasha, perkenalkan, dia adalah Kalea Azzahra Putri. Wanita terhormat yang semalam saya ceritakan. Dia adalah kekasih saya, bidadari bermata biru yang sah yang akan mendampingi hidup saya."

"T-Tidak mungkin! Kamu pasti berbohong, Radit!" jerit Natasha hysteris, air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya.

Namun, di saat Natasha sedang menangis, Larasati Murni Mahendra—mamanya Natasha—mendadak berdiri dari sofanya dengan mata yang melotot sempurna menatap lekat ke arah wajah Kalea. Otak paruh bayanya berputar cepat mengingat memori beberapa hari lalu. Ya, Larasati pernah bertemu sekali dengan Kalea saat berkunjung ke rumah Sarah Wijaya untuk arisan sosialita.

"Jeng Ambar! Tunggu sebentar!" teriak Larasati dengan suara melengking memotong suasana, menunjuk tepat ke arah Kalea dengan pandangan penuh penghinaan yang kejam. "Saya tahu siapa perempuan bermata biru ini! Saya ingat sekarang! Dia ini adalah anak di keluarga Wijaya, sahabat arisan saya, Sarah Wijaya! Dan Anda tahu apa yang selalu dikatakan Jeng Sarah tentang perempuan ini di depan kami semua?! Sarah berulang kali menegaskan bahwa Kalea ini adalah ANAK HARAM yang tidak jelas silsilah asal-usulnya! Darah kotor pembawa sial pembawa aib yang terpaksa ditampung di rumah mereka!"

DEG!

Bagai disambar petir di siang bolong, kalimat keji tentang status "anak haram" yang keluar dari mulut Larasati seketika menggema keras ke seluruh penjuru ruang tamu mewah keluarga Baskara.

Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping tubuhnya, matanya yang berwarna biru jernih memerah padam menahan gemuruh badai emosi, sakit hati, dan amarah yang luar biasa besar karena status batinnya kembali diinjak-injak di depan orang asing.

Ambarwati Baskara yang sangat menjunjung tinggi kehormatan, status sosial, dan silsilah keluarga besar Baskara langsung berdiri dari sofanya dengan wajah yang memerah padam akibat murka yang luar biasa. Ia menatap Kalea dengan pandangan yang sangat jijik dan penuh penolakan yang mutlak.

"Raditya Evan Baskara!!! Apa-apaan ini?!" bentak Ambarwati dengan suara menggelegar, menunjuk tepat ke wajah putranya. "Kamu menolak Natasha yang terhormat dan berpendidikan tinggi hanya demi membawa seorang perempuan anak haram yang tidak jelas silsilahnya ke rumah ini?! Kamu mau merusak nama baik mendiang daddymu, hah?! Mommy tidak akan pernah sudi menerima menantu dari darah kotor seperti dia!"

Ambarwati melangkah mendekati Kalea, lalu menunjuk pintu keluar dengan pandangan mata yang sangat kejam. "Kamu perempuan murahan, keluar dari rumah saya sekarang juga! Tempat ini terlalu suci untuk diinjak oleh anak haram sepertimu! Pergi?!" usir Ambarwati tanpa belas kasihan.

Kalea menelan salivanya dengan berat, harga dirinya sebagai manajer hotel hancur berkeping-keping. Ia bersiap untuk membalikkan tubuhnya dan pergi, namun tangan kekar Radit menahan pergelangan tangannya dengan cengkeraman yang sangat kuat, menolak membiarkan wanita kontraknya pergi.

Radit melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuh jangkung besarnya tepat di depan Kalea, menghadapi ibunya sendiri dengan pandangan mata elang yang penuh dengan ketegasan mutlak dan keputusan gila yang meluar batas kesepakatan mereka.

"Mommy, tolong jaga ucapan Mommy!" bentak Radit dengan suara bariton yang berat dan berwibawa, membuat seluruh ruangan terdiam seketika. "Kalea bukan anak haram! Dan saya tidak peduli apa pun latar belakang atau apa kata orang di luar sana tentang silsilah darahnya! Dengar baik-baik, Mommy, Tante Laras, dan Natasha... Hari ini saya tegaskan, dengan atau tanpa restu dari Mommy, saya tetap akan MENIKAHI KALEA AZZAHRA PUTRI secara sah dalam waktu dekat?!"

DEG!

Kalea seketika terperanjat, matanya yang biru melotot sempurna dengan dada yang berdegup kencang karena saking syoknya mendengar penuturan nekat dari mulut Radit. Di dalam hatinya, Kalea menjerit kebingungan. Gila! Kenapa keputusan dokter sombong ini berubah sejauh ini?! Kesepakatan awal kami kan hanya menjadi pacar pura-pura untuk satu minggu! Kenapa sekarang dia malah nekat menyatakan akan menikahiku tanpa restu ibunya sendiri di depan umum?! Apa dia sudah tidak waras?!

"Radit!!! Kamu berani melawan Mommy demi anak haram ini?!" jerit Ambarwati hysteris, nyaris jatuh pingsan jika tidak ditangkap oleh Larasati.

Natasha yang mendengar bahwa Radit tetap bersikeras akan menikahi Kalea langsung kehilangan akal sehatnya akibat cemburu dan dendam yang membakar otaknya. Dengan wajah yang dipenuhi amarah yang meledak, Natasha berlari kesetanan maju mendekati Kalea. "KAU PEREMPUAN HARAM SIALAN!!! KAU SUDAH MEREBUT RADIT DARI AKU!!!" teriak Natasha, mengangkat kedua tangannya dengan kuku-kuku tajamnya yang panjang bersiap untuk mencakar habis wajah cantik Kalea.

Namun, sebelum jemari tangan Natasha sempat menyentuh wajah Kalea, Radit dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan kasar langsung memasang badan, mengangkat tangan kirinya, lalu mendorong bahu Natasha dengan dorongan yang cukup kuat.

BRUK!

Dorongan tangan kekar Radit membuat tubuh seksi Natasha terhuyung mundur ke belakang hingga jatuh tersungkur di atas lantai marmer ruang tamu, membuat tangisannya kembali pecah hysteris.

Radit kembali mengunci genggaman tangannya pada jemari Kalea, menatap lurus ke arah ibunya dengan wibawa mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Mommy... Kalea adalah wanita pertama yang berhasil mengusik ruang hati saya selama dua puluh sembilan tahun ini. Dia adalah CINTA PERTAMA SAYA yang sesungguhnya. Jadi tidak akan ada satu pun kekuatan di dunia ini, termasuk kata-kata kejam Mommy, yang bisa menghentikan saya untuk menikahinya dan menjadikannya Mommy bagi anak-anak saya di masa depan. Ayo kita pergi, Kalea."

Radit membalikkan tubuh tegapnya, menarik lembut tangan Kalea yang masih membeku linglung untuk melangkah lebar meninggalkan ruang tamu kediaman Baskara

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!