Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ambulans melaju membelah malam dengan sirine yang meraung memecah keheningan kota.
Di dalam mobil yang sempit itu, Pratama duduk membeku.
Matanya tidak berkedip sedikit pun, memandang wajah Gia yang belum sadarkan diri di atas tandu.
Kulit wajah remaja itu tampak pucat, dengan beberapa noda jelaga hitam yang mengotori pipinya.
Sebuah masker oksigen terpasang erat di hidung dan mulutnya, menyalurkan napas buatan yang sangat ia butuhkan.
Pratama menggenggam tangan kecil Gia yang dingin, menempelkannya ke dahinya sendiri sambil merapalkan doa tanpa putus. Ia baru saja hampir kehilangan Diandra untuk kedua kalinya.
Seorang perawat senior melangkah mendekati Pratama dengan ekspresi cemas.
Ia melihat asap tipis masih keluar dari sisa-sisa kain jaket di punggung sang CEO.
"Pak Pratama, mohon maaf, saya harus membersihkan luka di punggung Anda sekarang. Kainnya sudah mulai menempel pada kulit yang melepuh."
Pratama tidak bergeming, bahkan tidak menoleh. "Urus saja gadis ini dulu. Aku tidak apa-apa."
"Tapi Pak, luka bakar Anda cukup parah," bujuk perawat itu lagi. Atas isyarat tegas dari Diko yang ikut di dalam ambulans, perawat tersebut akhirnya mulai menggunting sisa jaket Pratama dengan sangat hati-hati.
Dengan gerakan cekatan, perawat memberikan obat salep khusus anti-bakteri dan kompres dingin untuk punggung Pratama guna meredakan rasa panas yang membakar, lalu menyuntikkan obat pereda nyeri dosis tinggi. Sepanjang proses yang menyakitkan itu, Pratama sama sekali tidak mengerang.
Rasa sakit di punggungnya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut kehilangan jiwanya yang berada di dalam tubuh Gia.
Sementara itu, di rumah sakit rujukan utama tempat mereka menuju, sebuah ketegangan yang jauh lebih besar sedang terjadi di area tersembunyi.
Jauh di ruang bawah tanah rumah sakit—fasilitas medis privat eksklusif dengan pengamanan tingkat tinggi milik keluarga Pratama—tubuh Diandra yang asli masih koma. Namun, ruangan itu kini dipenuhi oleh kepanikan luar biasa dari para dokter spesialis.
Kabar mengenai kondisi kritis raga asli Diandra langsung menyebar secara rahasia melalui jalur komunikasi internal ke ponsel Diko.
Sinyal EKG tubuh asli Diandra yang sempat mendatar setelah diberi kejut listrik, kini berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil.
"Detak jantung pasien VIP di ruang bawah tanah masih fluktuatif! Tekanan darahnya terus menurun drastis!" seru seorang dokter yang memantau monitor dari balik kaca pembatas.
Jiwa Diandra yang saat ini terjebak di dalam raga Gia yang sedang berjuang melawan trauma inhalasi asap, tampak beresonansi secara misterius dengan raga aslinya di bawah tanah.
Jika raga Gia menyerah malam ini, maka tubuh asli Diandra yang berada di ruang bawah tanah pun akan ikut mengembuskan napas terakhirnya. Dua raga itu kini saling menarik satu sama lain di ambang pintu kematian yang sama.
Ckiitt!
Pintu belakang ambulans dibuka paksa begitu roda-rodanya berhenti sempurna di lobi darurat Rumah Sakit Pusat.
Brankar yang membawa tubuh Gia langsung didorong dengan kecepatan penuh oleh tim medis menuju ruang resusitasi.
Pratama turun dengan langkah yang diseret, mengabaikan rasa perih luar biasa di punggungnya.
Direktur Rumah Sakit dan beberapa perawat senior segera menyambutnya dengan panik.
"Pak Pratama, kamar VIP terbaik sudah kami siapkan di lantai atas untuk Anda. Tim bedah plastik dan spesialis luka bakar sudah menunggu untuk merawat punggung Anda," ucap Direktur Rumah Sakit dengan nada cemas.
"Tidak perlu," tolak Pratama dengan suara rendah yang mutlak.
"Rawat luka saya di sini saja. Saya tidak akan pergi satu jengkal pun dari depan pintu ini."
Pratama menolak dirawat di kamar VIP dan memilih duduk di kursi besi yang dingin tepat di depan ruang resusitasi Gia.
Seorang perawat akhirnya terpaksa membalut punggungnya yang melepuh di koridor tersebut, sementara mata Pratama tetap tertuju pada kaca buram ruang resusitasi.
Di saat yang sama, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah lift khusus.
Dokter spesialis jantung yang bertanggung jawab atas raga asli Diandra di fasilitas rahasia ruang bawah tanah, berlari menghampiri Pratama dengan wajah penuh kebingungan dan keringat dingin.
"Pak Pratama, ada anomali medis yang sangat tidak masuk akal terjadi pada Ibu Diandra di bawah tanah," lapor dokter tersebut dengan suara berbisik, takut terdengar oleh orang lain.
Pratama mendongak, matanya yang merah menatap tajam.
"Apa yang terjadi?"
"Kondisi kritis Ibu Diandra sangat aneh. Beberapa menit lalu jantungnya hampir berhenti, namun sekarang detak jantung raga asli Ibu Diandra bergerak naik-turun secara fluktuatif, dan polanya selaras sempurna dengan grafik naik-turunnya napas gadis SMA yang baru saja Anda bawa ke ruang resusitasi ini," jelas dokter itu dengan tangan gemetar menunjukkan cetakan grafik medis.
"Setiap kali gadis di dalam sana kekurangan oksigen, tekanan darah Ibu Diandra di bawah tanah ikut merosot tajam. Ini menentang seluruh hukum sains!"
Mendengar laporan itu, Pratama tertegun. Genggaman tangannya mengerat.
Ia menyadari satu hal yang selama ini menjadi misteri terbesar: kedua raga ini memang telah terikat oleh satu jiwa yang sama.
Diandra tidak benar-benar meninggalkan tubuh aslinya, melainkan terhubung oleh seutas benang tak kasat mata dengan raga Gia. Jika Gia mati, Diandra pun akan lenyap selamanya.
"Lakukan apa pun! Selamatkan gadis di dalam, maka istriku di bawah tanah juga akan selamat!" perintah Pratama dengan urat-urat leher yang menegang.
Di dalam ruang resusitasi, dinding pembatas antara hidup dan mati terasa begitu tipis.
Dokter terus memompa dada Gia dan membersihkan saluran pernapasannya dari sisa jelaga hitam.
"Detak jantungnya drop! Siapkan epinefrin!"
Pratama yang menyaksikan dari balik kaca memejamkan matanya, menempelkan telapak tangannya ke kaca yang dingin.
"Jangan pergi, Diandra. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, batinnya berteriak parau.
Tiba-tiba, dari dalam ruangan, terdengar suara batuk yang lemah namun memotong ketegangan.
Tubuh mungil Gia tersentak. Dada gadis itu mulai naik dan turun secara teratur. Masker oksigennya berembun tebal.
"Pasien melewati masa kritisnya! Dia mulai bernapas spontan!" seru dokter di dalam ruangan dengan nada lega yang luar biasa.
Detik itu juga, ponsel dokter spesialis jantung yang berdiri di samping Pratama berdering nyaring.
Ia mengangkatnya, dan suara perawat dari ruang bawah tanah terdengar histeris melalui pengeras suara.
"Dokter! Keajaiban terjadi! Tepat saat grafik napas pasien di IGD stabil, monitor EKG tubuh asli Ibu Diandra di bawah tanah juga kembali stabil secara ajaib! Detak jantung dan tekanan darahnya kembali ke angka normal!"
Pratama perlahan menurunkan tangannya dari kaca, air mata kelegaannya akhirnya luruh.
Ia menatap raga Gia yang kini bernapas dengan tenang di dalam sana, tahu bahwa belahan jiwanya telah berhasil merebut kembali hidupnya dari cengkeraman maut. Namun di balik kelegaan itu, amarah Pratama kini beralih pada dalang di balik semua ini.
"Siapa pun yang berani membakar rumah petak itu, harus membayar harganya dengan darah." gumam Pratama sambi mengepalkan kedua tangannya.