Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di balik monitor
Suasana kamar yang semula hangat oleh percikan asmara yang baru tumbuh, mendadak berubah mencekam. Jam tangan perak milik Azlan—dengan kaca yang sedikit retak di bagian sudutnya—tergeletak di atas seprai putih bersih seperti sebuah saksi bisu yang bangkit dari kubur. Aira menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat. Ia ingat betul jam itu; itu adalah hadiah ulang tahun terakhir yang ia berikan untuk Azlan.
"Kak... bagaimana mungkin benda ini ada di sini?" bisik Aira dengan suara yang nyaris hilang. "Polisi bilang semua barang pribadi Azlan sudah diserahkan ke keluarga. Tapi jam ini tidak pernah sampai ke tanganku atau Baba."
Ghibran tidak langsung menjawab. Ia mengambil jam tangan itu menggunakan sapu tangan, menelitinya dengan mata tajam seorang senior editor yang terbiasa mencari lubang dalam sebuah narasi. Ia membalik jam itu, dan di bagian penutup belakangnya, ia menemukan sesuatu yang janggal. Ada sebuah goresan kecil yang membentuk pola seperti angka: 3.
"Orang ketiga," gumam Ghibran. Suaranya dingin, namun ada kemarahan yang mendidih di baliknya. "Pesan itu benar. Ada seseorang yang masuk ke ruang ICU setelah Aminah dan sebelum perawat menemukan Azlan meninggal. Seseorang yang tahu persis bagaimana cara mematikan sistem alarm monitor tanpa memicu peringatan di meja perawat."
Ghibran segera menarik tangan Aira, membimbingnya duduk di kursi kerja. "Aira, dengarkan aku. Kamu harus tetap di sini. Kunci pintu dari dalam. Aku akan ke ruang kendali CCTV pusat di lantai bawah. Ada rekaman cadangan yang tersimpan di server awan pribadi milik Azlan yang belum sempat diperiksa polisi karena terenkripsi."
"Aku ikut, Kak!" Aira memegang lengan kemeja Ghibran erat-erat. "Aku tidak mau sendirian di sini sementara hantu masa lalu itu masih berkeliaran."
Ghibran menatap mata Aira yang penuh ketakutan namun juga penuh tekad. Ia mengangguk pelan. "Baik. Tapi tetaplah di belakangku."
Ruang Kendali yang Sunyi
Mereka menyusuri koridor pesantren yang gelap, hanya diterangi oleh lampu remang-remang. Sesekali suara jangkrik di perkebunan jati terdengar, namun malam ini suaranya terasa seperti peringatan. Sesampainya di ruang kendali, Ghibran segera menyalakan monitor utama. Jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang luar biasa.
"Azlan selalu skeptis pada keamanan pesantren," ujar Ghibran sambil terus mengetik kode-kode rumit. "Dia memasang kamera tersembunyi berukuran pinhole di lubang ventilasi ICU rumah sakit karena dia merasa nyawanya terancam sejak menemukan rahasia nasab kita."
Layar monitor berkedip, lalu menampilkan rekaman hitam-putih dengan sudut pandang dari atas. Tanggalnya menunjukkan malam kematian Azlan.
Aira menahan napas saat melihat sosok tubuh Azlan yang terbaring lemah dengan berbagai selang. Di layar, terlihat Bunda Aminah masuk, wajahnya tampak kalut. Ia terlihat mengutak-atik botol infus, namun tangannya gemetar dan ia segera keluar dengan terburu-buru saat mendengar suara langkah kaki di koridor.
"Lihat itu," tunjuk Ghibran.
Beberapa menit setelah Aminah pergi, pintu ICU kembali terbuka sedikit. Seorang pria masuk. Ia mengenakan jubah asatidz yang sangat umum di pesantren ini, dengan sorban yang menutupi sebagian besar wajahnya. Pria itu bergerak dengan sangat tenang, sangat profesional. Ia tidak menyentuh botol infus. Ia justru mendekati mesin ventilator.
Dengan gerakan yang sangat halus, ia mencabut kabel sensor oksigen, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Azlan yang sedang koma. Di layar, terlihat jemari Azlan sempat bergerak sedikit—sebuah reaksi involunter atau mungkin tanda perlawanan terakhir—sebelum akhirnya garis di monitor jantung menjadi datar.
Pria itu berbalik untuk keluar, dan sesaat, kamera menangkap pantulan wajahnya di kaca monitor yang mati.
"Ya Tuhan..." Aira terduduk lemas. "Itu... itu bukan Ayah Amir. Itu bukan Paman Mansyur."
Sosok di layar itu adalah Ustadz Hanan, kepala keamanan pesantren yang selama sepuluh tahun ini menjadi orang kepercayaan Habib Fauzan. Pria yang tadi sore ikut membantu mengusir Mahendra Kencana dengan wajah yang paling tulus.
Konfrontasi di Tengah Kegelapan
"Dia masih ada di sini, Aira," desis Ghibran. "Hanan tidak bekerja untuk Aminah. Dia bekerja untuk orang yang lebih tinggi. Dia bekerja untuk menjaga agar rahasia perampasan tanah Sarah tetap aman, bahkan jika itu artinya dia harus menghabisi ahli waris Al-Husayn yang mulai vokal."
Tiba-tiba, lampu di ruang kendali padam total. Kegelapan pekat menyelimuti mereka.
"Ghibran... Aira..." suara berat bergema dari arah pintu yang terbuka sedikit. "Kalian seharusnya berhenti saat Mahendra pergi. Kalian seharusnya menikmati masa bulan madu kalian tanpa perlu menggali kuburan yang sudah tertutup rapat."
Ghibran segera menarik Aira ke balik meja server, tangannya meraba saku belakangnya, mengeluarkan sebuah senter kecil yang selalu ia bawa. "Hanan! Keluar kau! Aku tahu kau yang membunuh adikku!"
"Aku hanya menjalankan perintah, Ghibran," suara Hanan terdengar mendekat, langkah kakinya tenang dan teratur di atas lantai ubin. "Fauzan memang yang memberi instruksi awal, tapi dia tidak punya keberanian untuk menyelesaikannya. Akulah yang harus memastikan Salsabila tetap menjadi milik Al-Husayn. Dan Azlan... dia ingin mengembalikan semuanya padamu dan Aira. Itu akan menghancurkan sistem yang sudah kubangun selama sepuluh tahun."
Klik.
Cahaya senter Ghibran menyinari wajah Hanan yang kini memegang sebuah tongkat listrik tegangan tinggi. Wajahnya tidak lagi tampak tulus; matanya dingin seperti mata ular.
"Aira, lari ke arah jendela!" teriak Ghibran.
Ghibran menerjang Hanan dengan kemarahan yang sudah memuncak. Perkelahian terjadi di antara rak-rak server yang berdengung. Ghibran menggunakan segala kemampuannya untuk melumpuhkan pria yang jauh lebih terlatih dalam bela diri itu. Pukulan dan tangkisan silih berganti di dalam kegelapan yang hanya sesekali diterangi kilatan senter yang jatuh di lantai.
Aira tidak lari. Ia melihat sebuah tabung pemadam api di dekat pintu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tabung itu dan menyemprotkan isinya tepat ke arah wajah Hanan saat pria itu hendak menghantamkan tongkat listriknya ke leher Ghibran.
Pshhhhhhh!
Asap putih pekat memenuhi ruangan. Hanan terbatuk, pandangannya terganggu. Ghibran memanfaatkan momentum itu untuk memberikan satu tendangan telak ke ulu hati Hanan, disusul dengan kuncian maut di lengan pria itu hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan.
"Arghhhhh!" Hanan mengerang kesakitan saat tubuhnya dipaksa mencium lantai dingin.
"Selesai, Hanan," desis Ghibran di telinga pria itu. "Rahasia ini mati bersamamu di penjara."
Fajar yang Benar-Benar Baru
Polisi datang saat fajar mulai menyingsing. Hanan digelandang keluar, dan kali ini, Ghibran memastikan semua barang bukti digital dari server Azlan diserahkan langsung ke tim penyidik dari Polda.
Kini, benar-benar tidak ada lagi "orang ketiga". Semua pemain dalam tragedi berdarah ini telah disingkirkan dari panggung.
Pukul 07:00 pagi. Ghibran dan Aira berdiri di balkon ndalem, menatap para santri yang sedang mengaji di bawah pohon-pohon rindang. Ghibran terlihat sangat lelah, ada memar di pipinya dan perban baru di bahunya, namun matanya memancarkan ketenangan yang belum pernah Aira lihat sebelumnya.
Aira mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Ghibran dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Sudah benar-benar selesai, kan, Kak?"
Ghibran menghela napas panjang, menghirup aroma rambut Aira yang menenangkan. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. "Iya, Sayang. Sudah selesai. Tidak ada lagi hantu di bawah tempat tidur kita. Hanya ada aku dan kamu."
Aira mendongak, tersenyum manis. "Terima kasih, Kak. Untuk keberanianmu. Untuk cintamu yang menyelamatkanku berkali-kali."
Ghibran tersenyum, lalu ia mengangkat tubuh Aira dengan satu gerakan cepat, membuat Aira terpekik kaget namun tertawa bahagia. "Sekarang, bisakah kita mulai benar-benar menjadi suami istri tanpa ada yang terbunuh atau ditangkap polisi setiap hari?"
Tawa mereka pecah, menyatu dengan suara lantunan ayat suci dari kejauhan. Di atas tanah Salsabila yang kini suci kembali, cinta mereka mulai tumbuh dengan akar yang sangat kuat, ditempa oleh api pengkhianatan namun mekar dalam embun kebenaran.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂