NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sendiri Di Antara Keramaian.

Gerbang sekolah sudah terlihat dari kejauhan.

Ramai. Motor keluar-masuk, suara klakson bersahutan, murid-murid berjalan berkelompok sambil tertawa atau sekadar mengobrol ringan. Suasana yang biasanya terasa biasa saja—hari ini entah kenapa terdengar lebih bising di kepala Hana.

Motor Arga melambat, lalu berhenti di depan gerbang. Hana turun perlahan, merapikan rok dan tasnya.

“Thanks ya,” katanya pelan, menatap Arga sebentar.

“Udah… nganter.”

Arga mengangkat alis sedikit, seperti tidak terlalu menganggap itu hal besar.

“Iya,” jawabnya singkat. Lalu menambahkan, “Masuk bareng aja. Kelas kita sama arah.”

Hana sempat diam sebentar. Biasanya, ia mungkin akan menolak hal seperti itu—bilang tidak perlu, atau pura-pura ada urusan lain. Tapi hari ini…

“Iya,” katanya akhirnya.

Mereka berjalan berdampingan melewati gerbang. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak berjarak jauh. Langkah mereka pelan, menyesuaikan keramaian di sekitar.

Beberapa murid melirik sekilas. Sebagian mungkin karena Arga. Sebagian lagi… mungkin karena Hana. Atau mungkin hanya perasaan Hana saja.

Baru beberapa langkah masuk ke halaman—

“Hana!”

Suara itu memanggil dari samping. Hana menoleh. Kenzo berjalan mendekat, wajahnya seperti biasa—santai, sedikit senyum tipis di sudut bibirnya.

“Pagi,” katanya.

“Pagi kak,” balas Hana.

Ada jeda sebentar.

Lalu Hana berkata, “Eh btw… makasih ya, kemarin.”

Kenzo mengangkat alis.

“Yang mana?”

“Yang… bantuin,” jawab Hana, sedikit menghindari detail, tapi cukup jelas maksudnya.

“Oh.” Kenzo tersenyum kecil. “Kalau mau makasih, traktir aja.”

Hana sedikit terkejut, lalu refleks bertanya, “Kapan?”

Kenzo langsung tertawa pelan. “Bercanda,” katanya santai. “Nggak usah serius amat.”

Hana terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil.

“Iya…”

Di sampingnya, Arga tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam. Tatapannya sempat beralih ke Kenzo, lalu kembali ke depan. Tidak ada komentar. Tidak ada reaksi jelas. Tapi entah kenapa, suasana di antara mereka bertiga terasa sedikit… berubah.

Tidak tegang. Tapi juga tidak sepenuhnya ringan. Mereka berjalan bersama beberapa langkah. Lalu saat sampai di lorong kelas—

“Aku duluan ya,” kata Kenzo.

“Iya,” jawab Hana.

Kenzo mengangkat tangan kecil, lalu berbelok ke arah lain. Hana dan Arga melanjutkan langkah. Beberapa detik kemudian, mereka sampai di depan kelas.

“Aku ke tempatku dulu,” kata Hana pelan.

Arga mengangguk. “Iya.”

Hana masuk ke dalam. Suasana kelas sudah cukup ramai. Beberapa orang sudah duduk, sebagian masih berdiri, ada yang mengobrol, ada yang sibuk dengan ponsel. Seperti biasa. Normal. Harusnya.

Hana melangkah masuk lebih dalam. Lalu— langkahnya melambat. Matanya tertuju ke bangkunya. Ada sesuatu yang berbeda.

Nisa. Tidak duduk di sana. Sebagai gantinya— Nisa duduk di bangku lain. Di sebelah Eliza. Hana berhenti hanya untuk sebentar. Tatapannya datar. Tidak ada ekspresi lain.

Ia hanya melihat. Nisa terlihat kaku. Tangannya menggenggam ujung rok seragamnya, matanya menunduk, tidak berani menatap ke arah Hana.

Eliza di sampingnya— tenang. Seolah semuanya biasa saja. Seolah tidak ada yang berubah. Hana menarik napas pelan.

Tidak dalam. Tidak juga berat. Hanya… sedang. Lalu ia berjalan lagi. Menuju bangkunya. Duduk tanpa mengatakan apa-apa.

Hana masih duduk tanpa suara. Ponselnya masih di tangan, layar menyala, jempolnya bergerak pelan—scroll, berhenti, scroll lagi. Tidak ada yang benar-benar ia lihat. Semua hanya lewat begitu saja, seperti pikirannya yang juga tidak pernah benar-benar berhenti di satu tempat.

Tapi tetap saja— matanya sesekali terangkat tanpa sengaja. Ke arah bangku itu. Tempat yang biasanya diisi oleh Nisa. Tempat yang… dulu terasa biasa. Sekarang—

terasa jauh.

Nisa duduk di sana. Di sebelah Eliza. Tubuhnya sedikit kaku, bahunya tegang. Ia sesekali berbicara pelan, tapi lebih sering diam. Tangannya tidak berhenti bergerak kecil—merapikan buku, memainkan ujung pena, atau sekadar menggenggam sesuatu tanpa tujuan.

Seperti orang yang… tidak nyaman. Hana melihat itu. Mengerti. Tapi tetap saja— tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bisa ia lakukan

Kenapa sih bisiknya dalam hati. Bukan marah. Lebih ke… lelah.

Ia menunduk lagi, menatap layar ponselnya. Jempolnya berhenti. Diam.

"Kalau emang mau pindah… bilang aja,”

“Nggak perlu kayak gini…”

Dadanya terasa sesak. Bukan karena kejadian besar. Justru karena hal kecil. Hal-hal yang seharusnya sederhana, tapi jadi berat karena tidak pernah diucapkan. Hana menarik napas pelan. Tapi tidak terasa lega.

“Semua orang… kenapa nggak pernah bilang langsung sih…” gumamnya hampir tidak terdengar . “Harus nunggu aku ngerti sendiri terus…”

Ia tertawa kecil. Tanpa suara.

“Padahal… aku juga capek nebak.”

Pikirannya melompat. Ke tadi pagi. Ke Mama. Ke cara Mama bahkan tidak benar-benar melihatnya saat ia bicara. Ke kalimat singkat yang langsung menutup ruangnya.

“Nanti aja ya, Hana.”

Ia menelan ludah. “Lucu ya…” pikirnya. “Di rumah… nggak ada yang dengerin.” Matanya sedikit mengabur. “Ternyata di sini juga… sama aja.”

Ia mengangkat kepala lagi. Melihat sekeliling.

Teman-teman yang tertawa. Yang ngobrol tanpa beban. Yang terlihat… punya tempat untuk menjadi dirinya sendiri.

Hana mengamati mereka sebentar. Lalu bertanya diam-diam dalam hati—

Kenapa ya… gampang banget buat orang lain?

Kenapa mereka bisa bicara tanpa mikir terlalu jauh.

Kenapa mereka bisa dekat tanpa takut ditinggalkan.

Kenapa semuanya terlihat… tanpa beban

Sedangkan dirinya— setiap langkah seperti harus hati-hati. Setiap kata seperti harus dipikirkan. Setiap hubungan terasa… bisa hilang kapan saja.

Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat. Layar masih menyala. Tiba-tiba— notifikasi muncul. Dari nomor yang sama, yang menerornya kemarin dan pagi tadi.

Jantung Hana berdetak sedikit lebih cepat. Ia menatap layar itu beberapa detik. Tidak langsung membuka. Seolah berharap— kalau tidak dilihat, itu tidak nyata. Tapi tetap saja— ia tahu itu ada.

Perlahan, ia membuka notifikasi itu.

| Ini bahkan belum dimulai, kok udah nyerah?

Hana menatapnya. Diam. Ekspresinya tidak berubah. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak. Tidak nyaman. Tidak tenang. Seperti ada mata yang terus mengikuti. Seperti ada seseorang yang berdiri di dekatnya… tanpa ia sadari.

Ia mengunci layar. Cepat. Menarik napas dalam-dalam. “Udah… nanti aja,” bisiknya dalam hati. “Nggak sekarang…”

Ia meletakkan ponsel di meja. Tangannya sedikit dingin. Ia menunduk. Menatap permukaan meja yang penuh goresan kecil. Pikirannya mulai bercampur.

Tentang pesan itu. Tentang Nisa. Tentang Eliza. Tentang rumah. Tentang Ayah. Tentang semua hal yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Kalau Ayah masih ada…” pikirnya lagi.

Kalimat itu selalu kembali. Seperti tempat yang tidak bisa ia capai lagi.

“Pasti aku nggak perlu kayak gini…”

Pasti ada yang memihaknya. Pasti ada yang bertanya lebih dulu. Pasti ada yang melihat kalau dia tidak baik-baik saja— tanpa harus dia bilang.

Hana menggigit bibir bawahnya pelan. Menahan sesuatu yang ingin keluar.

“Sekarang…” pikirnya. “Nggak ada.”

Tidak ada yang benar-benar melihat. Tidak ada yang benar-benar tahu. Lebih tepatnya tidak ada yang benar-benar mau tahu.

Ia menutup matanya sebentar. Menarik napas. Dalam.

Tapi tetap terasa sempit.

“Capek banget…” gumamnya pelan

Bukan capek fisik. Tapi capek jadi orang yang bukan dirinya sendiri. Capek harus kuat. Capek harus diam. Capek harus ngerti semua orang— tanpa ada yang mencoba ngerti dia.

Matanya terbuka lagi. Kosong. Datar. Ia kembali mengambil ponselnya. Scroll lagi. Seolah itu bisa menutupi semuanya. Padahal tidak.

Suara kelas semakin ramai. Tawa terdengar lebih keras. Obrolan saling bertumpuk. Kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti tidak ada yang salah. Seperti semua orang baik-baik saja, dan di antara hiruk pikuk itu, Hana sendirian.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!