NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Hari persidangan dimulai. Atmosfer di depan Pengadilan Negeri terasa begitu berat dan tegang.

Puluhan awak media sudah berkumpul di depan gerbang, menantikan babak akhir dari kasus yang melibatkan pengkhianatan, konspirasi, dan percobaan pembunuhan ini.

Di dalam rumah, suasana terasa jauh lebih khidmat.

Zaidan memakai seragam kebesarannya, lengkap dengan atribut kepolisian yang membuatnya tampak gagah dan berwibawa.

Luka-luka di wajahnya telah memudar, menyisakan tatapan mata yang tajam dan tak tergoyahkan.

Sementara Sulfi juga sudah memakai pakaian pengacara bersama Yuana.

Mengenakan toga hitam dengan kerah putih yang kontras, Sulfi tampak bertransformasi total.

Tidak ada lagi jejak wanita desa yang sederhana; yang ada hanyalah seorang pendekar hukum yang siap menghancurkan kebohongan dengan argumen-argumennya yang mematikan.

Sebelum mereka berangkat dengan mobil terpisah demi prosedur formalitas, Zaidan melangkah mendekati Sulfi.

Ia memegang kedua bahu istrinya, menatap dalam ke mata wanita yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali itu.

Zaidan mencium kening istrinya dengan sangat lama, seolah menyalurkan seluruh dukungan dan kekuatannya.

"Kita bertemu di sana," bisik Zaidan rendah namun penuh keyakinan.

"Tunjukkan pada mereka siapa sebenarnya Sulfi Mentari."

Sulfi menganggukkan kepalanya dengan mantap. Senyum tipis yang sarat akan kemenangan menghiasi bibirnya. "Dan tunjukkan pada mereka bahwa Detektif Zaidan tidak bisa dibeli atau dihancurkan oleh siapa pun, Mas."

Mereka berdua berjalan keluar rumah dengan langkah yang selaras.

Hari ini, gedung pengadilan akan menjadi saksi bagaimana sebuah keadilan ditegakkan oleh pasangan yang dipersatukan oleh takdir yang luar biasa.

Guntur, Maya, dan Riko tidak akan tahu apa yang akan menghantam mereka di ruang sidang nanti.

Sesampainya di pengadilan, para wartawan langsung merubung, mencoba mendapatkan pernyataan dari Zaidan dan Sulfi.

Kilatan lampu kamera tak henti-hentinya menyambar ke arah mereka. Namun, Zaidan yang berjalan gagah dengan seragamnya hanya memberikan anggukan tegas, sementara Sulfi tetap tenang dan fokus, seolah tidak terganggu oleh kebisingan di sekelilingnya.

Dengan langkah yang mantap dan berwibawa, Sulfi masuk ke dalam persidangan.

Ia duduk di barisan tim pengacara, membuka map tebalnya, dan menata berkas-berkas penting yang akan menjadi senjata pamungkasnya hari ini.

Di seberang ruangan, ia melihat Maya yang tampak pucat pasi, Riko yang tertunduk, serta Guntur yang masih berusaha menunjukkan wajah angkuhnya meski tangan mereka terikat.

Suasana ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi ketika pintu samping terbuka.

Petugas pengadilan berseru dengan lantang, "Hadirin dimohon berdiri!"

Hakim mulai masuk dan semua berdiri dengan penuh hormat.

Detak jantung semua orang di ruangan itu seakan berpacu dengan suara ketukan palu hakim yang menggema saat ia duduk di kursinya.

"Sidang perkara percobaan pembunuhan dan konspirasi kriminal dengan terdakwa Maya, Riko, dan Guntur, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu sekali. Tok!

Sulfi menarik napas panjang, menatap Zaidan yang duduk di kursi saksi dengan tenang.

Pertempuran hukum yang telah ia persiapkan dengan darah dan air mata ini akhirnya resmi dimulai.

Tidak akan ada ampun bagi mereka yang telah menyentuh kebahagiaannya.

Suasana ruang sidang mendadak dingin saat Maya yang dipanggil pertama untuk memberikan keterangan di kursi terdakwa.

Dengan hem putih namun wajah yang tampak kuyu, ia melangkah maju.

Sebelum duduk, ia memandang sinis Sulfi, seolah ingin merendahkan harga diri wanita yang kini menjadi lawan hukumnya itu.

Saat Hakim Ketua mulai melontarkan pertanyaan mengenai motif di balik perintah penculikan dan penyiksaan, Maya mulai berakting.

Ia mengeluarkan sapu tangan, mencoba memancing simpati hadirin.

"Saya melakukan ini semua karena tekanan batin, Yang Mulia," ucapnya dengan suara yang dibuat bergetar. Maya mengatakan kalau ia melakukannya karena Zaidan yang berkhianat.

"Dia mengkhianati pernikahan kami dengan wanita ini! Zaidan yang pertama kali menghancurkan hati saya, sehingga saya khilaf dan kehilangan arah."

Mendengar tuduhan palsu yang memutarbalikkan fakta itu, suasana di galeri pengunjung mulai berbisik-bisik.

Zaidan yang duduk di barisan saksi hanya bisa mengepalkan tangan, menahan amarah atas fitnah yang kembali dilontarkan mantan istrinya.

Sulfi menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya dengan sangat tenang.

Ia tidak tampak marah; justru sebuah senyum tipis yang mematikan tersungging di bibirnya. Aura pengacara handalnya kini keluar sepenuhnya.

"Izin menanggapi, Yang Mulia," ujar Sulfi dengan suara yang jernih dan tegas, menggema ke seluruh penjuru ruangan.

Ia berjalan mendekat ke arah meja hakim sambil membawa sebuah map bening.

"Saudara terdakwa Maya menyebutkan tentang 'pengkhianatan' sebagai alasan tindak kriminalnya. Namun, Yang Mulia, saya memiliki bukti catatan medis dan laporan psikologis yang menunjukkan bahwa justru selama pernikahan mereka, Saudara Maya-lah yang melakukan manipulasi, bahkan bukti transfer dana kepada Riko sudah dimulai jauh sebelum Zaidan mengenal saya."

Sulfi menoleh ke arah Maya, menatapnya tepat di mata.

"Keadilan tidak bisa dibangun di atas narasi kebohongan yang emosional, Saudara Maya. Mari kita bicara tentang fakta hukum, bukan drama yang Anda ciptakan."

Maya terdiam, tatapan sinisnya perlahan berubah menjadi rasa takut saat melihat Sulfi mengeluarkan dokumen asli yang bisa menyeretnya ke hukuman maksimal.

Pertarungan di meja hijau ini baru saja dimulai, dan Sulfi tidak akan membiarkan satu pun kebohongan Maya lolos dari jeratan hukum.

Ketegangan di ruang sidang semakin memuncak setelah argumen tajam yang dilontarkan Sulfi.

Setelah Maya memberikan keterangan yang penuh drama dan kebohongan, kini giliran terdakwa kedua yang dipanggil untuk memberikan kesaksian.

Kemudian Riko yang mengatakan kalau Maya yang memerintah segala tindakan keji tersebut.

Dengan tangan yang masih terborgol dan wajah yang tampak frustrasi, Riko tidak lagi mencoba menutupi kesalahan rekannya.

Ia sadar bahwa bukti-bukti yang diajukan Sulfi terlalu kuat untuk dipatahkan.

"Saya hanya menjalankan perintah, Yang Mulia. Maya yang menjanjikan uang besar dan perlindungan jika saya berhasil melenyapkan Zaidan," ucap Riko dengan suara serak.

Ia kemudian menoleh ke arah Zaidan dengan tatapan penuh kebencian yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Di hadapan hakim, Riko mengakui motif pribadinya yang selama ini tersimpan rapi di balik bayang-bayang Maya.

"Dan ia juga membenci Zaidan," lanjut Riko dengan nada yang lebih tinggi.

"Saya benci dia bukan hanya karena uang. Saya benci kejujurannya yang sok suci itu! Dia selalu menghalangi langkah kami di lapangan, dan melihatnya hancur di sel kemarin adalah kepuasan bagi saya."

Mendengar pengakuan jujur namun penuh dendam dari Riko, suasana sidang menjadi riuh oleh gumaman pengunjung.

Maya tampak terbelalak, tidak menyangka bahwa kaki tangannya sendiri akan berbalik menyerangnya di depan hakim.

Sulfi, yang tetap berdiri dengan anggun di posisi pembelaannya, menoleh ke arah hakim.

"Yang Mulia, pengakuan Saudara Riko barusan mempertegas adanya niat jahat (mens rea) dan perbuatan jahat (actus reus) yang dilakukan secara bersama-sama dan terencana. Kebencian pribadi dan iming-iming materi telah membutakan nurani mereka untuk melakukan percobaan pembunuhan."

Sulfi kemudian menatap Riko dan Maya secara bergantian.

"Kalian berdua bukan hanya mengkhianati hukum, tapi kalian telah mengkhianati kemanusiaan. Dan hari ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik alasan pengkhianatan cinta atau perintah atasan."

Zaidan yang duduk di barisan saksi menghela napas lega.

Perlahan namun pasti, kebenaran mulai terkuak lebar.

Dengan pengakuan Riko, jeratan hukum bagi Maya dan komplotannya kini semakin kuat, dan Sulfi tidak akan membiarkan mereka lepas dari tuntutan maksimal yang telah ia susun dengan teliti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!