Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Evelyn akhirnya menghembuskan napas lega begitu roda pesawat menyentuh landasan. Getaran halus saat pesawat melambat terasa seperti penutup dari rangkaian hari panjang yang melelahkan. Seminar yang ia ikuti berjalan dengan lancar, bahkan lebih dari yang ia bayangkan, tetapi tetap saja… tubuhnya menuntut istirahat.
Begitu pintu pesawat dibuka, aroma khas udara bandara langsung menyambut. Evelyn merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menggendong tas ransel di bahunya. Langkahnya mantap, meski sedikit berat karena lelah yang belum sempat terbayar.
Ia berjalan mengikuti arus penumpang lain. Wajah-wajah asing berlalu lalang, sebagian tampak bersemangat, sebagian lagi terlihat sama lelahnya seperti dirinya. Sesekali ia melirik ponselnya, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.
Satu pesan dari Nadira membuatnya tersenyum kecil."Udah mendarat? Jangan lupa oleh-oleh… minimal cerita ganteng-ganteng di sana."
Evelyn menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat.“Dasar,” gumamnya lirih.
Setelah mengambil bagasi kecil yang ia titipkan, Evelyn melangkah keluar dari bandara. Suasana di luar jauh lebih ramai. Suara klakson, panggilan sopir taksi, hingga deru kendaraan bercampur menjadi satu.
Seorang sopir taksi mengangkat papan kecil dengan namanya tertulis rapi.
“Dokter Evelyn?” tanya pria itu.
Evelyn mengangguk. “Iya, saya.”
“Silakan, mobilnya di depan,” ujar sopir tersebut ramah.
Evelyn mengikuti langkahnya, lalu masuk ke dalam taksi. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar. Rasanya seperti baru saja menemukan tempat berlindung setelah berhari-hari berlari tanpa henti.
“Ke alamat yang biasa ya, Dok?” tanya sopir itu sambil menyalakan mesin.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan area bandara. Evelyn memandang keluar jendela. Lampu-lampu jalan mulai menyala, langit sudah berubah menjadi jingga keunguan. Jakarta menyambutnya dengan cara yang khas ramai, hidup, dan sedikit… melelahkan.
Namun entah kenapa, ada rasa hangat yang muncul di dadanya.
Pulang.
Ia menutup matanya sejenak, mencoba menikmati perjalanan. Ingatannya melayang pada seminar yang baru saja ia selesaikan—presentasi panjang, diskusi intens, dan beberapa momen canggung yang kini terasa lucu.
Seperti saat ia hampir salah menyebut istilah medis di depan peserta.
“Untung saja cepat sadar,” gumamnya pelan, tersenyum sendiri.
“Maaf, Dok?” tanya sopir yang mendengar samar.
“Ah, nggak apa-apa, Pak. Lagi ngomong sendiri,” jawab Evelyn cepat.
Sopir itu tertawa kecil. “Capek ya habis perjalanan?”
“Lumayan,” jawab Evelyn jujur.
Beberapa saat hening. Hanya suara mesin mobil dan hiruk pikuk jalanan yang menemani. Evelyn kembali membuka ponselnya, kali ini menatap layar lebih lama. Jemarinya sempat mengetik sesuatu… lalu menghapusnya lagi.
Ia menghela napas pelan.
Ada seseorang yang ingin ia hubungi. Tapi entah kenapa, ia ragu.
Akhirnya, ia mengunci ponselnya dan kembali menatap keluar. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan jalanan yang lebih familiar. Semakin dekat ke rumah, semakin terasa nyata kelelahan yang ia tahan sejak tadi.
Namun di balik itu, ada juga rasa rindu yang perlahan mengendap. Taksi berhenti di depan rumahnya. Sopir itu menoleh.
“Kita sudah sampai, Dok.”
Evelyn tersadar dari lamunannya. “Oh… iya. Terima kasih, Pak.”
Ia membayar ongkos, lalu turun dari mobil. Udara malam menyambutnya dengan sedikit lebih sejuk. Evelyn berdiri sejenak di depan rumahnya, menatap pintu yang sudah sangat ia kenal.
Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat.
Sebelum masuk, ia menarik napas panjang.
“Baiklah… kembali ke dunia nyata,” bisiknya.
Tangannya meraih gagang pintu.
Begitu pintu terbuka, aroma rumah yang hangat langsung menyambutnya, perpaduan wangi masakan dan kenyamanan yang tak bisa digantikan tempat mana pun. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, dua sosok sudah berdiri di hadapannya.
“Eve!” seru Vega, ibunya, dengan wajah sumringah.
Di sampingnya, seorang bocah kecil langsung melompat-lompat penuh semangat.
“Onty Eeeevyyyynn!!”
Evelyn mengangkat satu alis, lalu menatap keponakannya dengan tatapan datar yang khas.
“Dih, bocil ini belum pulang juga, Ma,” ucapnya sambil melirik sinis ke arah Azzura.
Vega terkekeh kecil, lalu menyilangkan tangan di depan dada.
“Belum. Sepertinya kakakmu lupa sama anaknya sendiri.”
Evelyn langsung menghela napas panjang dengan dramatis.“Malang sekali. Pasti lagi sibuk bikin anak baru tuh mereka.”
“ONTTYYY!!” teriak Azzura protes keras, pipinya langsung mengembung.
“Nda ya! Daddy cama mommy cedang bekelja! Nda mungkin meleka lupa cama anaknya cendili, yang cantik dan menggemaskan ini!”
Evelyn menatapnya beberapa detik… lalu mencibir. “Percaya diri sekali kamu.”
Tanpa menunggu balasan, Evelyn berjalan melewati mereka dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Tas ranselnya ia lempar begitu saja ke samping. Kepalanya bersandar, matanya terpejam sesaat.
Baru lima detik menikmati ketenangan…
Plop!
Sofa bergoyang saat Azzura naik dan langsung duduk di sampingnya, bahkan tanpa izin. Bocah itu menyusup mendekat, lalu bergelayut manja di lengan Evelyn.
“Onty…” suaranya dibuat seimut mungkin.
Evelyn membuka satu mata, menatap malas.
“Apa lagi?”
“Kita ke mall yuk,” ajak Azzura penuh harap, matanya berbinar.
Evelyn langsung menutup matanya lagi.
“Mau ngapain? Aunty capek. Baru pulang.”
Azzura tidak menyerah. Ia menggoyang-goyangkan lengan Evelyn.
“Kan nda halus cekalang… nanti malam kan bica… tunggu capeknya onty hilang dulu…”
Evelyn menghela napas panjang. “Bahasa kamu itu ya… bikin capeknya nambah, bukan hilang.”
Vega yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Itu anak dari tadi nungguin kamu, Eve. Dari pagi udah cerewet, katanya mau jalan sama aunty.”
Evelyn membuka mata lagi, kali ini menoleh ke arah Azzura yang masih menempel seperti perangko. “Kamu nggak capek ya nungguin orang?”
Azzura menggeleng cepat.“Nda! Kalo cama onty, nda bakal capek!”
Evelyn terdiam sejenak. Tatapannya melembut… walau hanya sepersekian detik. Namun tentu saja, gengsi tetap nomor satu. “Ih, lebay,” gumamnya, pura-pura cuek.
Azzura malah makin semangat. Ia memeluk lengan Evelyn lebih erat.“Jadi ya? Nanti malam kita ke mall ya? Jula mau makan ice cleam… mau main… mau beli… eh, mau liat-liat aja deng!”
Evelyn mengangkat alis. “Liat-liat tapi ujungnya minta dibeliin?”
Azzura nyengir lebar. “Hehe… dikit aja…”
Evelyn menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Ia lalu duduk tegak, meregangkan tubuhnya.
“Ya ampun… hidup aku tuh ya… habis seminar internasional, pulang-pulang langsung jadi babysitter.”
“Aunty bukan babycittel” protes Azzura cepat.
“Onty itu… itu… ATM beljalan!”
Vega langsung tertawa terbahak-bahak.
Evelyn menoleh pelan ke arah Azzura, wajahnya datar tapi auranya mengancam.
“Kamu bilang apa barusan?”
Azzura langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membesar.
“Ups…”
Evelyn menyipitkan mata.
“Pantesan semangat banget ngajak onty ke mall.”
Azzura buru-buru memeluk Evelyn lagi.
“Tapi Jula cayang onty kok! Bukan cuma kalena uang!”
“‘Bukan cuma’ ya? Berarti ada faktor uangnya juga,” balas Evelyn cepat.
Vega makin ngakak di belakang mereka.
Evelyn akhirnya menyerah. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap keponakannya yang masih menatap penuh harap.
“Ya udah. Nanti malam.”
“YEAAAYYY!!” Azzura langsung melonjak di atas sofa.
“Tapi…” lanjut Evelyn cepat.
Azzura langsung diam, tegang.
“Kalau kamu rewel di sana, kita langsung pulang.”
Azzura mengangguk cepat.
“Nda bakal! Jula anak baik! Anak cantik! Anak—”
“Anak paling pede sedunia,” potong Evelyn.
“Iya itu juga,” jawab Azzura polos.
Evelyn akhirnya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
Di tengah rasa lelah yang masih membebani tubuhnya, kehadiran bocah kecil itu entah bagaimana membuat semuanya terasa lebih ringan.
Dan malam ini… sepertinya ia belum benar-benar bisa beristirahat.
Karena petualangan lain sudah menunggu, bersama keponakan kecilnya yang cerewet, manja, dan… sedikit matre.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐