satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan Di Vila
Niken dan Rani yang melihat Bimo berhenti , memberi isyarat pada hadi, Hadi menganguk
"Udah, Bim. Jangan banyak diem. Lari aja. Nanti kalau loe yang duluan sampai, gue traktir es krim deh." ucap Hadi menyemangati Bimo, Bimo yang memang tukang makan berbinar
" Bener yah! gw mau dua" sahutnya bersemangat dan kembali melangkahkan kakinya dengan cepat agar sampai duluan di putaran itu
Tap... tap... tap... Suara langkah kaki Bimo terdengar berat dan lambat. Di teras, Niken dan Rani duduk santai sambil meminum jus buah yang baru saja mereka buat. Mereka menyaksikan tingkah laku ketiga pemuda itu dengan pandangan geli.
Bruugh
"Aduuuuuh"
Terdengar suara benturan keras diikuti erangan kesakitan. Bimo yang terlalu memaksakan diri berlari ternyata kehilangan keseimbangan. Kakinya yang terasa berat itu tersandung oleh kakinya sendiri, membuat tubuhnya yang besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Debu langsung menempel di wajah dan bajunya.
"Hahaha! Hahaha!" Niken dan Rani yang melihat kejadian itu langsung tertawa terbahak-bahak tak bisa menahan diri.
"Bim dapet kodoknya" ucap Rani sambil menunjuk Bimo yang sedang mencoba bangun namun susah bergerak karena beratnya beban.
"Sakit tau! Jangan ketawa dong Kak Niken, Ran! beneran sakit nih!" rengek Bimo sambil duduk di tanah, memegangi lututnya yang sedikit lecet.
Satria yang melihat itu langsung berhenti dan berbalik badan. Ia hendak menghampiri, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Niken dan Rani yang awalnya tertawa, perlahan menutup mulut mereka. Pandangan mereka teralihkan pada Satria.
Satria berdiri tegak, di kakinya dan tangannya terpasang pemberat yang jumlahnya dua kali lipat dari yang dipakai Bimo dan Hadi. Namun, tatapan mata Satria tajam dan fokus. Dengan gerakan yang sangat luwes, Satria berlari kecil menghampiri Bimo.
Tap... tap... tap...
Gerakannya ringan, seolah-olah tidak memakai beban sama sekali. Ia melompat sedikit untuk menghindari gundukan tanah, lalu berhenti tepat di samping Bimo dengan keseimbangan yang sempurna. Tidak terlihat rasa berat atau susah payah sedikit pun dari wajahnya.
" Loe nggak apa-apa, Bim?" tanya Satria sambil mengulurkan tangan.
" Lecet doang, tapi lumayan perih" sahut Bimo sambil menerima uluran tangan Satria
" Dah istirahat dulu sana , obati lecetnya biar ga infeksi" ucap Satria, karena melihat lututnya Bimo mengeluarkan darah
" Iya makasih" Bimo melepas bending yang di pakainya , dan berjalan ke arah teras, Niken mengambil kotak P 3 K, dan mengeluarkan rivanol dan kapas
" Aduuuh, pelan pelan kak?" Bimo langsung merintih saat cairan rivanol di oleskan pada lututnya yang terluka
" Huh, badan doang gede" dengus Niken sambil menekan lebih keras kapas yang di pegangnya ke luka Bimo
" Aduuuuh, Sat pacar loe mau bunuh gw!" teriak Bimo kesakitan, Niken langsung menarik tangannya dan berdiri, mukanya memerah karena teriakan Bimo yang bilang ia pacarnya Satria, ia melirik ke arah satria , saat Satria tersenyum padanya ia menjadi senang dan lega
" Awas loe yah!" ancam Niken dan akan menekan luka Bimo lagi
" Ampuuun!" Bimo berdiri dan langsung berlari,
" braaak"
Bimo yang ketakutan lukanya akan di tekan Niken lagi, langsung berlari tetapi ia lupa jika bendingnya sudah di lepas ia menabrak meja saking cepatnya ia berlari
" aduuuh" Bimo mengaduh sebentar lalu kembali berlari ke kamarnya
" Ha ha ha " semua tertawa melihat kelakuan Bimo
" udah udah ayo latihan lagi" ucap Satria , ia kembali berlari kecil, sedangkan Hadi berjalan pelan dan canggung
" sayang ayo semangat, masak jalannya kaya robot rusak" seru Rani yang melihat Hadi berjalan kaku seperti zombie
" Sayang, ini susah jalannya " sahut Hadi sambil terus berjalan melangkah satu satu, namun saat melihat Satria yang berlari santai membuat ia bengong, bagaimana tidak, Satria memakai bending dua kali lebih berat dari yang ia pakai tapi tetap berlari santai seakan tak memakai apa apa
" loe makan apa Sat?" tanya Hadi saat satria melewatinya
" Besi!" jawab Satria sambil nyengir
" Sue, di tanya bener bener juga" gerutu Hadi
" Kan kita makan bareng terus malah nanya lagi!" sahut Satria sambil terus berlari mengelilingi halaman belakang itu
" He he he, iya yah" Hadi menggaruk kepalanya yang tak gatal
" Sat, aku juga mau ikut latihan dong" Niken yang melihat Satria giat berlatih menjadi ingin berlatih
" Aku juga" ucap Rani
" Boleh, ini kalian pakai yang ukuran setengah kilo dulu yah, nanti kalau udah terbiasa baru di tambah beratnya" ucap Satria sambil memberikan bending dengan bobot setengah kilo
mereka berempat mulai berlatih bersama, Satria mendampingi Niken sedangkan Hadi mendampingi Rani
Di kediaman Sutasoma, setelah beberapa hari Baron memutuskan pulang ke Bandar Lampung, ia harus secepatnya pulang karena malam selasa kliwon tinggal sepuluh hari lagi
" Eyang aku pamit" Baron berpamitan pada Sugandi sesepuh Keluarga Sutasoma
" pergilah, jangan lupa, jika kau harus menyediakan kamar khusus untuk Nyai Mayang" sahut Sugandi
" ya eyang, aku pasti mengingatnya" jawab Baron, setelah berpamitan bersama kuncoro dan ayahnya ia meninggalkan kediaman keluarga Sutasoma, mereka mengambil mobil mereka yang mereka titipkan di Cemoro Kandang
Perjalanan pulang terasa lebih santai tetapi lebih cepat sampai menurut Baron, dulu saat berangkat ia di dorong kursi roda, sekarang ia bisa berjalan dengan gagah dan mempunyai kekuatan
Saat sampai rumah ia langsung menyuruh beberapa tukang menghias sebuah kamar di lantai atas
" Tuan Muda untuk apa menghias kamar ini, apa tuan muda akan menikah?" tanya seorang pekerja
" Ha ha ha tidak hanya untuk live saja" sahut Baron sambil tertawa
" Live? oh yang di media sosial itu yah, ya ya aku mengerti, semangat tuan Muda" sahut Pekerja itu
" Kuncoro mau pulang ke perguruan Naga Hitam kau mau ikut?" tanya Sasmita, saat ia mengunjungi baron yang sedang menghias kamarnya
" aku ikut" jawab Baron bersemangat, di perguruan Naga hitam jelas ia bisa mencari lawan tanding untuk melatih ilmu kesaktiannya
" kalau begitu ayo kita berangkat sekarang juga"
Baron tak sabar untuk segera sampai ke Perguruan Naga Hitam yang tersembunyi di balik air Terjun Way Nyampur
Saat sampai mereka segera menemui Ketua Candra
" Wah , nak Baron kau sudah sembuh?" Ketua candra yang melihat Baron berjalan dengan gagah berseru senang,
" aku sudah sembuh paman, dan juga memiliki kekuatan" Jawab Baron sambil mengepalkan tangan ke atas
" Kau sudah bertemu dengan sesepuh ?" dari arah belakang terdengar suara yang berat, Baron menengok
" Salam kepala keluarga Harya, aku sudah bertemu" baron langsung memberi penghomatan pada Harya
" syukurlah kau bisa bertemu dan sembuh" Harya mengangguk senang Baron menghormatinya
" Ketua Candra , bagaimana dengan misi yang kuberikan" tanya Sasmita
Ketua Candra, terdiam lalu menggelengkan kepala
" Gagal, Jarot dan Sugeng gagal memberi pelajaran, mereka malah terluka parah " jawab Ketua Candra
" kita lihat Jarot dan Sugeng dulu ada yang ingin kutanyakan" ucap Baron, ketua Candra mengangguk dan membawa Baron ke tempat pengobatan Jarot dan sugeng
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁