Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Seseorang
"Aksara! dimana kamu?" Seorang wanita datang memanggil Aksara, langkahnya bak model saat memasuki rumah besar itu. Gaun merah yang ia kenakan berpadu dengan cahaya kristal menggema di ruang tamu luas, menyinari wajahnya yang datang dengan langkah percaya diri.
Tidak hanya itu, wajahnya sangat cantik serta memiliki tubuh yang profesional membuat siapa saja yang memandang pasti terpikat. Sontak para pekerja disana menunduk hormat, seolah mereka semua sudah mengenalnya dan kedatangannya seperti hal yang sudah biasa.
Rara yang baru saja menaiki anak tangga untuk menuju kamar menghentikan langkah. Pandangannya tertuju pada wanita yang baru saja datang itu. Timbul pertanyaan di hatinya.
"itu siapa?" Tanya Rara penasaran sekaligus kagum dengan kecantikan wanita itu.
Michi yang berada disebelah Rara menoleh kebawah. "Oh. Itu Nona Naura, ia salah satu rekan bisnis Tuan sekaligus sahabat Tuan sejak kecil, Nona."
Raut wajah Rara berubah seketika, ia mengalihkan pandangan, dan perlahan kembali menaiki anak tangga. Lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar kedatangan Aksara. Ia menjadi penasaran.
"Ngapain kesini?" Tanya Aksara dengan raut wajah jutek pada Naura.
Naura lantas menjambak rambut Aksara yang tentu saja ini adalah sebuah candaan.
"Menyebalkan! Bisa-bisanya kabur dari rapat, tidak menghargai aku." Rengek Naura dengan wajah cemberut nya.
"Aduh! Lepaskan, Nau. Sakit!"
"Rapat ini sudah aku rencanakan jauh-jauh hari, eh kamu malah menghilang dan digantikan oleh Brian. Dasar!"
"Ayolah! Nanti ketampananku hilang karena rambut yang acak-acakan! Lagian, siapa suruh tiba-tiba menghubungiku?"
"Sengaja mau mengerjaimu, biar kamu kesal." Naura tertawa puas.
"Huh! Dasar! Yasudah, sekarang lepaskan."
"Tidak mau, sebelum kamu kasih alasan kenapa kamu kabur, heh?"
"Lepaskan dulu. Nanti aku beri tahu."
Michi tertawa kecil memperhatikan Aksara dan juga Naura yang bagaikan kucing dan tikus. Sedangkan Rara senyum seperti terpaksa, melihat keakraban dua orang itu.
"Ah! Dari dulu mereka tidak pernah berubah." Ucap Michi menggelengkan kepala.
Rara kembali menaiki anak tangga, ia merasa tidak perlu memperhatikan keakraban Aksara dan Naura yang membuat hatinya menjadi sedikit sakit, walaupun perasaan itupun tanpa ia sadari.
"Rara, tunggu!" Teriak Aksara yang kemudian berjalan ke arah Rara. Naura hanya diam memperhatikan, ia memicingkan alis karena baru menyadari ada orang disana.
"Ada apa?" Tanya Rara dengan tatapan sinis.
Tanpa menjawab, Aksara memegang tangan Rara dan membawa gadis itu turun menemui Naura. "Lepasin!" Protes Rara dengan langkah terburu-buru mengikuti langkah Aksara yang besar-besar.
"Karena ini..." Ucap Aksara dengan wajah seperti sangat membanggakan gadis yang sedang bersamanya kini saat sudah berada di depan Naura.
Naura menatap dengan tatapan penuh tanya. Keningnya mengkerut. Ia bingung apa yang dimaksud Aksara, dan siapa gadis asing ini.
"Siapa? Kok aku baru pertama kali melihatnya?" Kali ini tatapan Naura bergerak dari atas kebawah memperhatikan Rara yang tertunduk tak nyaman.
Rara memalingkan wajah dan tersenyum sinis mendengar pertanyaan Naura. "Kita lihat, si Tuan Muda ini pasti tidak akan pernah mengakui ku di depan orang lain." Benaknya sangat merasa yakin.
"Ini Rara—Istriku." Jawab Aksara dengan nada mantap tanpa ada keraguan sedikitpun, yang membuat mata Rara membulat sempurna, begitu juga Naura. Jantung Rara berdebar kencang, panas menerpa pipinya, ia ingin berlari namun tangan Aksara semakin melekat erat pada tangannya - terasa hangat dan menenangkan.
"I—istri? Kamu bercanda?" Naura tersentak seakan tidak percaya.
"Iya. Kita menikah beberapa hari yang lalu."
"Gila? Serius? Astaga—" Naura memijat keningnya, matanya masih membulat dengan mulut menganga. "Kenapa aku tidak tahu? Kenapa tiba-tiba?"
"Ceritanya panjang, Nau."
"Haduh! Tubuhku tiba-tiba terasa lemas." Ucap Naura yang seperti akan terjatuh, tapi dengan sigap para pelayan menuntun Naura ke sofa dan memberikan wanita itu air minum.
Sementara itu Rara masih tidak menyangka dengan kalimat yang keluar dari mulut Aksara, hingga ia hanya bisa berdiam diri dan tidak mau menatap mata lelaki yang masih menggenggam erat tangannya itu.
"Jangan takut aku tidak mengakui mu di depan orang lain." Ucap Aksara yang seperti bisa membaca isi hati Rara.
"Satu dunia pun akan ku beri tahu." Sambung Aksara semakin membuat Rara tidak bisa berkata-kata.
"Kembali ke kamar dan beristirahat, nanti aku akan menyusul. Aku mau melihat Naura dulu." Ucap Aksara lembut, "Jangan salah paham, aku dan Naura tidak ada hubungan lebih, hanya sebatas bisnis dan sahabat." Aksara menjelaskan panjang lebar, sebelum Rara mempertanyakan hal itu.
Michi datang, dan menggandeng tangan Rara, menuntunnya menaiki anak tangga dengan hati-hati. "Ayo, Nona. Kita kembali ke kamar."